Ma'had <strong>Tanmia</strong>

Ma'had Tanmia

Ma'had<strong>Al Itqan</strong>

Ma'hadAl Itqan

Sosial & <strong>Da'wah</strong>

Sosial & Da'wah

Puyang, Inspirasi cahaya islam dan Wakaf Qur’an di Lereng Merbabu

Tidak kalah dengan kota Semarang yang sudah dikenal sebagai ibukotanya Jawa Tengah, sebenarnya kabupaten Semarang menyimpan sekelumit kisah perjalanan perkembangan ummat islam tepatnya di dusun Puyang Desa Tajuk Kecamatan Getasan Lereng Merbabu.

Tanmia Foundation dalam rangka program tebar Qur’an kali ini  menyerahkan wakaf buku Iqra’ sebanyak 200 Eksemplar dan buku referensi lainnya kepada da’i dan para pengurus TPQ yang masih berada di titik-titik wilayah lereng Merbabu. Dusun Puyang Desa Tajuk Getasan adalah salah satu titik diantaranya yang menjadi tujuan.

Muslim di dusun ini hanya sekitar belasan jiwa saja yang terdiri dari 4 KK dan 2 KK nya pun (kepala keluarga) merupakan warga pendatang sedangkan selebihnya beragama Kristen.

Perkembangan Islam di Puyang tidak terlepas dari peran Mbah Panut Mujari (84th), seorang kakek yang sudah lebih dari setengah abad berdiam disini bersama keluarganya.

“Sebuah kebahagiaan bagi saya dan keluarga dikunjungi oleh saudara sesama muslim yang masih memperhatikan keberadaan kami disini”, tutur Mbah Panut Mujari dengan senyum merekah sembari mengelus dadanya menyambut kedatangan kami.

Mushola Baitul Ummah adalah satu-satunya tempat dimana ia bisa banyak berharap untuk menghidupkan syiar Islam dan berkumpul bersama warga muslim Puyang lainya untuk memakmurkannya dg kegiatan belajar dan menguatkan keislamannya.

Suasana shalat berjamaah pun menjadi hal istimewa yang berkesan dan cukup membekas bagi siapapun yang menginjakan kaki disana.

Musholla yang dibangun sejak 2015 adalah swadaya masyarakat dan tidak luput dari peran Ustadz Utsaimin yg dengan buah kesabarannya mendirikan tempat ibadah tersebut selama penantian berpuluh-puluh tahun lamanya.

Ustadz Utsaimin adalah da’i asli setempat yang kesehariannya berkeliling mengajar majelis taklim dan TPQ di wilayah Lereng Merbabu. Tidak berhenti disitu saja, keahliannya juga sebagai mekanik elektronik menjadi profesi pelengkap yang sangat bermanfaat dan semakin mendukung kegiatan perjalanan dakwahnya.

Mengupas perjalanan dakwah di Tajuk yang memiliki sebelas dusun yang letaknya cukup berjauhan menjadi tantangan tersendiri. Seperti kisah Mbah Panut,  dengan  berbagai tawaran yang akan meruntuhkan imanya tak sesekali datang berlalu saja  tapi atas kekuatan-Nya dan kegigihannya ia pertahankan keluarga dan warga muslim lainya untuk terus bertahan dan tidak menyurutkan ghirah para da’i setempat untuk terus bertahan disana. Dusun-dusun tersebut diantaranya adalah Pulihan, Banaran, Kaliajeng, Ngroto, Puyang, Macanan, Tajuk, Cingklok, Sokowolu, Gedong  dan Ngaduman. Pemandangan di dusun-dusun ini didominasi dengan perkebunan sayuran warga dan ternak sapi perah yang menjadi mata pencaharian sehari -hari warga di lereng gunung Merbabu yang masih berdiri dengan tinggi gagahnya.

Berdoa pula semoga sekokoh pasak bumi dan setinggi gunung yang menjulang ke angkasa itulah iman yang kita pertahankan hingga perjumpaan dengan Allah Rabbul’allamiin Rabb seluruh alam jagad semesta. Aamiin..

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Salatiga, Jawa tengah

Wakaf Senter untuk Guru Ngaji dan Jamaah dusun Sonyo, lereng Bukit Manoreh

Maghrib belum tiba, segenap Tim Tanmia Foundation tiba di Kulon Progo (24/6/2020). Dari kejauhan gelap sudah menyelimuti perbukitan lereng Menoreh dan rumah-rumah di Dusun Sonyo Girimulyo Kulon Progo. Pelita lentera minyak tanah yang ada tak dapat menghilangkan pekatnya gulita sekalipun nyala listrik sudah menyala. Listrik jalanan setapak kampung belum mampu menyinari sepenuhnya kegiatan da’i dan aktivitas warga dan anak-anak mengaji saat gelapnya malam tiba. Jarak pemukiman antar warga berjauhan dan masjid setempat juga cukup terjal medanya untuk dijangkau apalagi suasana malam yg gelap tersekat semak-semak pepohonan .

Lampu jalanan menjadi solusi pengganti lentera minyak tanah yang sudah berjalan bertahun-tahun pada masa sebelumnya, tapi seiring dengan harga minyak tanahnya semakin mahal dan sering kali langka ini semakin menyulitkan keadaan. Apalagi kemampuan masyarakat yg mayoritas buruh tidak sepenuhnya mampu lebih-lebih kondisi saat ini. Belum usai disini, lampu penerang jalan setapak kampung pun masih berjauhan jaraknya dan terkadang aliran listriknya dapat menimbulkan masalah baru, yaitu lampu jalanan sering putus dan peralatan  berulangkali rusak.

Berangkat dari keadaan realita yang ada inisiatif untuk membantu dengan hal sederhana melalui wakaf senter penerang jalan.

“Senter penerang jalan sangatlah bermanfaat bagi para da’i dan guru ngaji ketika dibawa ke tempat mengajar di lereng perkampungan Sonyo”, ungkap Haryono dengan senyuman bahagia menerima amanah perlengkapan tersebut.

Tanmia Foundation menyerahkan sejumlah paket senter penerang untuk membantu kegiatan para pengurus masjid, da’i dan warga jamaah majelis taklim untuk menuntut ilmu agar lebih bermanfaat. semoga wakaf tersebut menjadi kebahagiaan amal shalih yang dapat menjadi penerang di yaumil akhir. Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Yogyakarta

Tanmia Foundation : Salurkan Wakaf Quran Motivasi Pembinaan Muallaf Sepanjang Musim

Wakaf Quran ke Penjuru Negeri dari Tanmia Foundation untuk membantu kegiatan pembinaan para Muallaf di pelosok-pelosok masih berlangsung. Beberapa titik daerah di Kulonprogo dan Lereng Merbabu masih menjadi prioritas.

Sebagian daerah baru saja perlahan memulai babak baru “new normal” setelah dilanda masa pandemi sejak awal April lalu.

“Wakaf quran untuk mendukung kegiatan pembinaan muallaf dan kegiatan anak-anak santri mengaji di TPQ diharapkan mampu menjadi bagian syiar merawat keimanan dalam mempelajari Islam dan menjaga keistiqomahan,” ujar Haryono pada pihak Tanmia Foundation.

Haryono yang hari-harinya berprofesi sebagai guru pengajar dan pembina kegiatan muallaf merupakan sosok pemerhati sosial yang tergerak membantu memikirkan nasib khalayak kaum muslimin disekitarnya.

Sebanyak 250 eksemplar Qur’an dan 300 Iqra didistribusikan langsung ke lokasi oleh segenap tim Tanmia Foundation.

Kegiatan wakaf ini adalah jalinan kerja sama merajut perjalanan dakwah dan pembinaan muallaf khususnya di Kulonprogo yang tengah berjalan beberapa tahun terakhir.

Kegiatan wakaf quran yang terus berjalan sepanjang musim setidaknya menghadirkan ruh semangat baru bagi kaum muslimin. Ada nikmat dan rindu yang lama terpendam karena aktivitas beribadah berjamaah di tempat umum sangat terbatas dan harus melewati prosedur yang berlaku dimasa pandemi.

Kegiatan ibadah di ruang umum memang sedikit terbatas namun merawat keimanan dalam rangka lebih mendekatkan diri terus beribadah kepada-Nya adalah proses yang tak boleh ditawar dan berhenti oleh seorang hamba karena semua berada dalam genggaman kuasa dan pengawasan-Nya.

Upaya kegiatan wakaf quran dari Tanmia Foundation setidaknya memotivasi pembinaan muallaf dan kegiatan anak-anak TPQ untuk tetap berlangsung di pelosok-pelosok daerah. Mengalirkan kembali jariyah ilmu dan pahala seluas-luasnya ke daerah-daerah prioritas dan masih membutuhkan perhatian.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Yogyakarta

 

Tebar Qurban untuk masyarakat Muslim Pedalaman NTT

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). QS Al Kautsar:2).

Mengingat sudah dekatnya hari raya Idul Adha 1441 H, maka kami dari Yayasan Islam Attanmia mengajak Bapak dan Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam Ibadah Qurban yang kami selenggarakan dan akan di sebar ke wilayah pelosok yang dihuni minoritas muslim seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu mereka, memberi perhatian serta bagian dari syiar – syiar agama islam untuk menebar rahmat dan manfaat bagi kaum muslimin, in syaa Allah program tebar Qurban ini sangat bermanfaat dan tepat sasaran karena wilayah – wilayah tersebut sudah pernah kami datangi dan kami adakan kegiatan dakwah dan sosial di sana.

Dari pengalaman tahun lalu alhamdulillah sambutan masyarakat sangat baik dan partisipasi masyarakat dalam program ini juga sangat baik, hewan Qurban juga kami kirim ke pulau – pulau dengan menggunakan perahu yang dihuni oleh masyarakat muslim di wilayah NTT, berbekal dengan pengalaman tahun lalu kami berencana untuk mengadakannya kembali pada tahun ini, mudah – mudahan Allah memberikan taufiq, kemudahan dan keberkahan dalam kegiatan mulia ini.

Dengan demikian kami mengajak bapak dan ibu untuk kembali ikut berpartisipasi dalam program ini, untuk rincian harga hewannya adalah sebagai berikut:

🐏 Kambing type A Rp 3.500.000,-

🐏 Kambing type B Rp 2.500.000,-

🐂 Patungan Sapi Rp 3.000.000,-

Atas partisipasi dan perhatiannya kami sampikan Jazakumullah khairan, barakallahu fiekum.

Bukhari Abdul Muid

Ketua Yayasan

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

tebar qurb

Potret Salafus Shalih Ketika Berpisah Dengan Ramadhan

Oleh: Kholid Mirbah, Lc

Tinggal menunggu hitungan jam, kita akan berpisah dengan Ramadhan, bulan suci itu akan pergi meninggalkan kita, kita tidak tahu apakah tahun depan kita bisa kembali bertemu lagi bulan Ramadhan. Setiap detik hari-harinya begitu berharga, setiap hembusan nafas kita bernilai kebaikan di sisi Allah swt, menjaga amalan yang sunnah meningkat status pahalanya seperti menjaga amalan yang wajib, dan banyak sekali manfaat yang kita raup, serta pahala Allah yang dapat kita raih jikalau kita maksimal beribadah di dalamnya. Telah berakhir Bulan Shiyam dan Qiyam, berakhir pula bulan penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, berakhir pula nikmat yang sangat agung dalam hidup ini, yang belum tentu bulan suci tersebut kembali ke pangkuan kita. Sungguh datangnya bulan tersebut merupakan kabar gembira bagi para pendosa untuk meraih ampunan, pengabulan doa, pembebasan api neraka serta curahan kasih sayang Allah begitu terasa pada bulan tersebut.

Sungguh, berpisah dengan Ramadhan meninggalkan kesedihan dalam hati, duka serta nestapa yang mendalam, Bagaimana tidak sedih? Seseorang berpisah dengan kekasihnya untuk selama-lama nya, dan ia tidak tahu apakah nanti akan berjumpa lagi dengannya. Seolah-olah kepergiannya menjadi musibah besar sehingga tak jarang ia merasa sedih, pilu dan kehilangan.
Apakah kita sambut perpisahan itu dengan sikap futur dan malas atau kita sambut perpisahan tersebut dengan sikap yang dicontohkan oleh manusia-manusia terbaik, mereka adalah para salafus shalih kita, generasi terdepan di dalam kebaikan, mereka adalah generasi yang menyelaraskan antara kesungguhan amal dengan ilmu dan perhatian agar diterimanya amal setelah itu serta khawatir jikalau amalan mereka tertolak.

Maka, para salafus shalih telah menunjukkan sebuah kepribadian yang istimewa serta semangat yang membara tatkala mereka memasuki bulan Ramadhan, diantara buktinya sebagaimana yang di jelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali ra,

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان، ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

Enam bulan sebelum Ramadhan menjelang, mereka berdoa dengan giat agar disampaikan kepada bulan agung ini. Sedangkan enam bulan sesudahnya, mereka sangat gigih berdoa agar segenap amalan mereka diterima Allah Subhanahu Wata’ala (Lathâ`ifu al-Ma’arif, 209).

Sungguh mereka menunjukkan kesedihan dan duka yang mendalam ketika ramadhan berada di penghujung bulan, mereka berusaha saling menasehati agar tidak kendor dalam ibadah dan senantiasa istiqomah diatas ketaatan pada bulan-bulan setelahnya, karena semua bulan di sepanjang tahun bagi setiap mukmin adalah musim-musim ibadah, bahkan seluruh umur kita adalah musim-musim untuk melaksanakan ketaatan.

Disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali ra, ketika berkisah tentang kesedihan para salafus shalih yang akan berpisah dengan Ramadhan,

خرج عمر بن عبد العزيز -رحمه الله- في يوم عيد فطر، فقال في خطبته: “أيها الناس، إنكم صمتم لله ثلاثين يومًا، وقمتم ثلاثين ليلة، وخرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم”. وكان بعض السلف يظهر عليه الحزن يوم عيد الفطر، فيقال له: إنه يوم فرح وسرور. فيقول: صدقتم، ولكني عبد أمرني مولاي أن أعمل له عملاً، فلا أدري أيقبله مني أم لا؟

Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz RA keluar rumah di hari Idul Fitri. Dalam khutbahnya beliau menandaskan, “Wahai rakyatku sekalian! Kalian telah berpuasa karena Allah Subhanahu Wata’ala selama tiga puluh hari. Demikian juga telah menunaikan shalat malam tiga puluh hari. Hari ini kalian keluar untuk memohon kepada Allah agar semua amalan diterima.” Pada momen demikian, ada seorang salaf yang menampakkan kesedihan. Kemudian ia ditanya, “Bukankah ini hari kegembiraan dan kesenangan?” Ia menjawab, “Benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba yang Allah perintahkan melakukan amalan. Sedangkan aku tidak tahu apakah amalan itu diterima atau tidak? Itulah yang membuatku sedih.”

ورأى وهب بن الورد قومًا يضحكون في يوم عيد، فقال: إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين، وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين. وعن الحسن قال: إن الله جعل شهر رمضان مضمارًا لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته، فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا، فالعجب من اللاعب الضاحك في اليوم الذي يفوز فيه المحسنون، ويخسر فيه المبطلون.

Fenomena lain yang tak kalah menarik, ketika Wahab bin al-Warad melihat suatu kaum yang tertawa di hari Idul Fitri, ia berkomentar, “Jika puasa mereka diterima, bukan seperti ini kondisi orang yang bersyukur. Jika tidak diterima, maka bukan demikian perbuatan orang yang takut.”
Diriwayatkan dari Al-Hasan ia berkata :”Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai Arena Pacuan, siapa saja yang finish duluan dia yang menang, sedangkan yang tertinggal mereka pasti kalah, maka sangat mengherankan peserta lomba yang hanya tertawa dihari kemenangan bagi orang-orang yang baik dan kekalahan bagi orang-orang jahat.”

Bayangkan! Tertawa di bulan kemenangan saja, menjadi aib tersendiri bagi ulama salaf. Bagi mereka, Idul Fitri bukanlah momentum untuk meluapkan kegembiraan, justru untuk evaluasi diri apakah amalan sepanjang Ramadhan diterima Allah Subhanahu Wata’ala.

Beliau melanjutkan,

وروي عن علي رضي الله عنه أنه كان ينادي في آخر ليلة من شهر رمضان: يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنِّيه، ومن هذا المحروم فنعزِّيه! وعن ابن مسعود أنه كان يقول: من هذا المقبول منا فنهنِّيه، ومن هذا المحروم منا فنعزيه، أيها المقبول، هنيئًا لك! أيها المردود، جبر الله مصيبتك”

Khalifah Keempat Ali RA memiliki kebiasaan unik. Pada akhir malam bulan Ramadhan beliau berseru, “Duhai, siapakah yang diterima amalnya lalu kita beri ucapan selamat kepadanya. Siapa pula yang tidak diterima amalnya, lalu kita berkabung untuknya.”
Begitupula Ibnu Mas’ud berkomentar “siapakah orang yang diterima amalnya lalu kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa yang tidak diterima amalnya lalu kita berkabung untuknya. Wahai orang yang diterima, selamat dan sukses untuk kalian. Wahai orang yan tertolak? Allah telah memperbaiki musibah kalian.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali, 209, 210).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa saat Ramadhan berakhir, mereka merasa sangat kehilangan. Mereka berada dalam kondisi harap-harap cemas apakah amalan-amalan selama Ramadhan diterima Allah. Di samping itu, akhir Ramadhan dijadikan momentum introspeksi diri dan wahana untuk saling menasehati agar tetap beramal kebaikan walau di bulan-bulan lain. Wallâhu a’lam

Potret Kampung Muallaf di Kutuh Kintamani Bangli Bali

Kutuh Kintamani Bangli adalah salah Sudut perkampungan penduduk asli Bali yang sudah turun temurun sejak nenek moyang pendahulunya. Geografisnya yang terjal di lereng pegunungan gunung Batur menjadikan akses ke wilayah tersebut lumayan menyulitkan. Beberapa tahun terakhir ini seiring berjalannya waktu daerah ini bisa mudah untuk menjangkaunya. Secara administratif wilayah ini berada di kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli Provinsi Bali wilayah utara.

Namun beriringan waktu bukan mustahil bagi Allah untuk menurunkan RahmatNya menaunginya dalam pangkuan Islam. Tahun 1982 adalah tahun bersejarah bagi keluarga besar Mustaqim ( nama seorang tokoh muallaf ) yang beserta segenap keluarganya masuk Islam. Berawal dari Irasun ( kakek Mustaqim ) yang sakit menahun tak kunjung sembuh mulanya sampai segala macam cara dilakukan untuk berusaha melepaskan sakit yang dideritanya. Walhasil Qadarullah atas kebesaran Allah, suatu waktu kesembuhan menghampiri kakeknya atas jasa seorang tabib yang notabene masih bergaris keturunan islam dari perkampungan sasak KarangAsem. Singkatnya keluarga besar Irasun bersama Wayan Warsa ( Ayah Mustaqim ) memutuskan untuk masuk Islam.

Prosesi masuk Islamnya pun tergolong luarbiasa, mendiang KH. Habib Adnan Tokoh MUI Bali langsung turun gunung ketika itu. Tahun 1982 masih jalan setapak dilereng pegunungan Batur untuk menuju kampung AnganSari Kutuh sehingga beliau harus ditandu sejauh 15 KM dari jalan utama menuju perkampungan dibalik bukit Gunung Batur Kintamani. Yang juga tak kalah luarbiasa ialah prosesi sunatan massal yang dilakukan setelah mereka masuk islam yakni dengan bersamaan dg putra mereka yang tergolong masih anak-anak ketika itu.

“Alhamdulillah sampai saat ini ada 26 KK yang sudah masuk Islam dengan jumlah lebih dari 80 jiwa”, jelas Mustaqim di Masjid Nurul Iman satu-satunya masjid yang dibangun diatas tanah keluarga besarnya.

Dalam perjalanan ke lokasi kali ini MUI Provinsi Bali, KH Mustafid Amna, LC MA bersama para remaja masjid selain rihlah silaturahim juga mengadakan kajian serta santunan sosial dalam rangka menguatkan ukhuwah tali keimanan.

Melihat wajah keislaman di Kutuh Kintamani Bangli adalah bagian potret kampung muallaf yang masih banyak membutuhkan perhatian dan pembinaan terlebih jauh dari akses lingkungan perkampungan islam sekitarnya.

Bukan mustahil juga seiring dengan gigihnya para da’i dan pemerhati keislaman yang concern untuk menebarkan dakwah islam di pulau Bali akan ada kampung-kampung muallaf baru yang tersinari dengan cahaya kebenaran islam sebagai Rahmatallil’alamiin.

Kepahlawanan Dalam Islam

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Sejarah kehidupan manusia ketika mereka sampai kepada puncak peradaban, menjadi hamba Allah yang merdeka, ketika mereka tidak bisa terjajah lagi itu ternyata tidak lepas dari peran para pahlawan. Krisis yang menimpa dunia ini, termasuk wilayah Indonesia bukan hanya sebatas krisis ekonomi, tapi yang kita khawatirkan adalah krisis kepahlawanan. Masalah besar yang dihadapi oleh umat islam tidak cukup dengan ilmu saja, walaupun ilmu itu penting, tidak cukup untuk mengatasi permasalahan bangsa. Oleh karena itu harus hadir sifat kepahlawanan dalam diri kita. Ketika dunia, terutama Jazirah arab dilanda virus jahiliyah, maka hadirlah Rasulullah menjadi pahlawan dengan berjuang untuk memberantas kejahiliyahan tersebut, ketika beliau meninggal kemudian digantikan oleh Abu Bakar As-Shiddiq ra, muncullah fenomena orang-orang yang murtad, muncul Nabi palsu dan orang-orang enggan membayar zakat setelah Nabi saw wafat, maka Abu Bakar tampil memberantas dan memerangi mereka, karena mereka telah melakukan pengkhianatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya kata Abu Bakar ra,

وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ، فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ المَالِ، وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا كَانُوا يُؤَدُّونَهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهِ

Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah saw, pasti akan aku perangi mereka disebabkan keengganan itu”
[ HR. Al-Bukhari : 7284 dan Muslim : 20 ].

Dalam banyak ayat Allah menyebut perintah zakat berbarengan dengan perintah shalat, ini menunjukkan kewajiban zakat setara dengan kewajiban shalat maka tidak boleh tinggalkan karena perbuatan perbuatan diatas mengancam dapat stabilitas kedaulatan suatu negara, maka Abu Bakar yang biasanya lemah lembut berubah menjadi tegas, memberantas segala penyimpangan tersebut. Inilah cermin sikap kepahlawanan Abu Bakar ra. Ketika masjidil Aqsa yang ada di tanam syam yang mana Nabi dulu melakukan Isra’ kemudian dikuasai oleh orang-orang kafir Romawi, maka muncullah sikap kepahlawanan Umar bin Khattab ra yang mana di zaman kepemimpinan beliau masjidil aqsa dimerdekakan dari para penjajah Romawi.

Begitu pada suatu saat Masjidil Aqsa dirampas kembali oleh orang-orang kafir karena waktu itu kaum muslimin diam saja, maka muncullah pahlawan selanjutnya yang berhasil merebut kembali masjidil aqsa yaitu panglima perang Shalahuddin Al-Ayyubi ra, seorang pejuang islam berkebangsaan kurdi, sehingga kepahlawanan terbuka untuk siapa saja, tidak hanya untuk orang arab saja, tetapi sejarah mengukir banyak pahlawan yang datang dari orang-orang ajam (non arab) yang berhasil membawa islam pada puncak kejayaan.
Maka untuk menghadapi segala permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara maka diperlukan sosok pahlawan yang mampu nerubah bangsa dan negara menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Al-Qur’an dan Sunnah menghadirkan diri kita menjadi para pahlawan di zaman kekinian ini?

1. Melalui Pendidikan Islam yang benar.

Benar itu ukurannya adalah sihhatul masdar (sumbernya benar), sedangkan sumber pendidikan yang pasti benar adalah melalui Al-Qur’an dan sunnah dan pemahaman ulama yang sudah diakui kapasitas keilmuan dan fikrahnya yang benar. Anak-anak kita yang kita sekolahkan di sekolah negeri terkadang kita dapati mata pelajaran agama islam sepekan hanya sekali, maka sebagian mereka banyak yang tidak paham dengan ajaran agama mereka, sehingga bukannya mereka menjadi pahlawan tapi lebih senang tawuran.

2. Pendidikan itu harus bersifat universal atau sempurna.

Jangan sampai pendidikan itu sifatnya hanya setengah-setengah, harus dibina terlebih dahulu akalnya supaya akalnya cerdas. Makanya ayat yang pertama turun ada Iqra’ (bacalah), sehingga kita dan anak-anak kita harus rajin membaca terutama membaca Al-Quran, Sunnah serta ilmu-ilmu yang lain yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Maka kita harus cerdas. Nah, pada hakikatnya pendidikan itu bukan hanya sekedar ilmu dan merubah kemampuan intelektual seseorang, akan tetapi pendidikan itu juga meliputi;

a. Pendidikan ruhiyyah (spiritual).

Kecerdasan manusia tidaklah cukup hanya sebatas cerdas secara intelektual tapi juga harus diiringi cerdas secara spiritual (ruhiyyah), makanya untuk mencapai kecerdasan seperti ini ruh kita harus dididik dengan cara disuplai dengan serangkaian ibadah kepada Allah sehingga hati kita menjadi bersih dari kotoran dosa dan maksiyat makanya untuk mendidik spiritual Nabi saw, Allah memerintahkan beliau untuk memperbanyak qiyamul lail dan membaca Al Qur’an sebagaimana perintah Allah tersebut termaktub dalam Al Qur’an,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ ٱلَّیۡلَ إِلَّا قَلِیلࣰا ۝ نِّصۡفَهُۥۤ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِیلًا ۝ أَوۡ زِدۡ عَلَیۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِیلًا ۝ إِنَّا سَنُلۡقِی عَلَیۡكَ قَوۡلࣰا ثَقِیلًا)

Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan, sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.
[Surat Al-Muzzammil 1 – 5]

b. pendidikan jasadiyyah (fisik).

Setelah kita mendapatkan pendidikan secara spiritual oleh Allah berupa perintah ibadah Qiyamul lail dan membaca Al-Quran serta ibadah-ibadah yang lain, maka selanjutnya Allah memerintahkan kita untuk mentarbiyah fisik kita agar menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, karena bangsa yang lemah mudah dijajah oleh bangsa lain, maka kita harus melatih diri kita, keluarga kita, masyarakat kita agar menjadi pribadi yang kuat secara fisik. Karena dengan memiliki kekuatan secara fisik akan menghadirkan kebaikan dan kecintaan Allah kepadanya, sebagaimana sabda Nabi saw,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قاَلَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلىَ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٍ، اِحْرِصْ عَلىَ ماَ يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَماَ شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan berkata seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu, tetapi katakanlah Allah telah menakdirkan, dan kehendak oleh Allah pasti dilakukan. Sebab kata ‘seandainya’ itu dapat membuka perbuatan setan.” [HR. Muslim].

Maka kita harus senantiasa melakukan berbagai kesiapan dan pelatihan agar fisik kita selalu kuat, karena musuh islam senantiasa mengintai kita dimasa-masa yang lemah untuk menghancurkan kehidupan agama dan negara kita, makanya persiapan kita untuk menjadi pribadi yang kuat secara fisik adalah sebuah kewajiban, sebagaimana firman Allah,

(وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةࣲ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَیۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِینَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ یَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَیۡءࣲ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یُوَفَّ إِلَیۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ)

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizhalimi (dirugikan).”
[Surat Al-Anfal 60]

Jadi kita wajib kita membela negara kita dari musuh-musuh Allah, karena negara adalah amanat dari Allah yang harus kita jaga, jangan sampai kita biarkan kedaulatan negara kita diinjak-injak oleh pihak-pihak yang ingin merongrong kedaulatan negara baik dari dalam maupun luar, maka tidak hanya pembelaan kita terhadap negara melalui lisan saja tetapi harus diiringi dengan tindakan, maka itulah hakikat dari pada kepahlawanan. Maka sejatinya dalam sejarah, para ulama, kiai dan santri berperan aktif dalam membela negara, mereka jujur dalam keimanan mereka kepada Allah, karena mereka mendapatkan tarbiyah yang universal, akal mereka jernih, hati mereka bersih dan fisik mereka kuat. Maka kalau kita ingin memperbaiki negara kita maka tidak cukup hanya dengan ilmu walaupun ilmu itu penting tetapi yang lebih dari itu adalah munculnya jiwa-jiwa kepahlawanan bagi setiap individu negara.

3. Sihhatul Ghayah (orientasi hidup kita harus benar).

Pada hakikatnya shalat, haji, berumah tangga, berbangsa dan bernegara dan segala bentuk ibadah kita hanyalah untuk Allah, Allah ingatkan komitmen kita tersebut dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

(قُلۡ إِنَّ صَلَاتِی وَنُسُكِی وَمَحۡیَایَ وَمَمَاتِی لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ)

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
[Surat Al-An’am 162]

Dalam ayat yang lain, Allah swt juga tegaskan,

(وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
[Surat Adz-Dzariyat 56]

Itulah orientasi hidup kita yaitu Ibadah kita dalam segala dimensi kehidupan diperuntukkan hanya untuk Allah semata.
Pahlawan-pahlawan kita yang atas izin Allah diberikan kemenangan atas Belanda, menumpas PKI yang telah berkhianat kepada negara, itu didalam berjuang membela negara didasari sifat ikhlas mengharap ridha Allah swt, itulah pahlawan sejati, di dalam berjihad di jalan Allah itu orientasi nya semata-mata karena Allah swt. Kalau seandainya semua pahlawan karena merasa berjasa dalam membela negara sehingga tujuan mereka dalam berjuang agar memperoleh simpati dan berebut kursi di pemerintahan maka perjuangan mereka akan menjadi sia-sia di sisi Allah. Maka pahlawan-pahlawan kita semacam KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU, KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, A. Hassan pendiri PERSIS , Ahmad Surkati pendiri Al Irsyad dan semuanya mereka ikhlas berjuang di jalan Allah, maka meski telah meninggal namanya tetap harum dan dikenang hingga sekarang, sehingga setiap orang yang ikhlas berjuang namanya akan selalu harum. Karena kehidupan kita ekonomi, politik, berbangsa dan bernegara kita harus diiringi keikhlasan kepada Allah swt .

4. As-Shidqu (jujur)

Untuk menjadi seorang pahlawan tidaklah mudah, harus memiliki sifat terpuji serta budi pekerti yang luhur diantaranya adalah kejujuran, maka untuk menjadi seorang pahlawan yang dicintai oleh Allah harus jujur terhadap janjinya kepada Allah, sebagaimana firman Allah,

(مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ رِجَالࣱ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَیۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن یَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبۡدِیلࣰا ۝ لِّیَجۡزِیَ ٱللَّهُ ٱلصَّـٰدِقِینَ بِصِدۡقِهِمۡ وَیُعَذِّبَ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ إِن شَاۤءَ أَوۡ یَتُوبَ عَلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya), agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat Al-Ahzab 23 – 24]

Jadi para pahlawan itu mereka adalah orang-orang yang beriman, mereka adalah Rijaal (para tokoh), Allah memilih kata rijaal adalah sebagai bentuk Ziyadatu ats-tsana’ ‘alaihim (pujian yang semakin bertambah) kepada orang-orang yang berjuang dijalan Allah, dan diantara sifat mereka adalah jujur terhadap janjinya kepada Allah, buktinya adalah diantara mereka ada yang menemui ajalnya di jalan Allah sehingga redaksi ayatnya adalah (an-Nahbu) karena matinya bukan mati sembarang akan tetapi mati karena menjadi seorang pahlawan yang berjuang di jalan Allah swt, maka kepahlawanan akan hadir dengan modal kejujuran, dan diantara mereka masih menunggu ajalnya, dan mereka sedikitpun tidak akan merubah janji mereka kepada Allah. Artinya orang yang berjuang dijalan Allah ada yang meninggal dalam medan perjuangan ada pula yang meninggal di dalam rumah, namun walaupun mereka meninggal di rumah mereka tetap pahala mereka dicatat seperti orang yang meninggal dalam medan perjuangan.

Sedangkan orang-orang munafik walaupun mengaku beriman tapi mereka tidak mau berjuang dijalan Allah mereka akan tertimpa siksaan dari Allah swt, maka saking bahayanya sifat nifaq ini sampai-sampai Umar bin Khattab ra, salah seorang sahabat yang dijamin surga, sangat khawatir kalau sifat ini ada di dalam dirinya, beliau sampai bertanya kepada sahabat yang membawa daftar nama-nama orang munafik yang dirahasiakan yaitu Hudzaifah ra, Umar berkata Wahai Hudzaifah, daftar nama-nama orang munafik didalamnya termasuk saya atau tidak? Karena terdesak ia berkata, Pergi Umar! tidak ada namamu di dalamnya. Ibnu Abi Mulaikah berkata,

أدركت ثلاثين صحابيا، كلهم يخافون من النفاق

“Aku jumpai 30 sahabat, mereka semua takut dari sifat nifaq”

Dan diantara orang-orang munafik yang tidak jujur dalam kepahlawanannya, tidak jujur dalam membela negaranya adalah mereka yang selalu benci kepada ajaran islam.

5. Asy-Syaja’ah (Keberanian)

Tidak mungkin seseorang menjadi pahlawan kalau tidak berani, merka harus berani berjuang, menegakkan kebenaran dan menumpas kebathilan, sebagaimana firman Allah,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَن یَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَلَا یَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَاۤىِٕمࣲۚ ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”[Surat Al-Ma’idah 54]

Para pahlawan adalah mereka yang berjuang di jalan Allah serta tidak takut celaan orang yang mencela, maka hakikatnya mereka memiliki sifat keberanian tanpa diiringi rasa takut dan gentar kepada siapapun yang mencelanya.

Semoga diri kita dan keluarga kita diberikan kemudahan untuk menghadirkan sifat kepahlawanan sehingga dapat turut andil dalam membela bangsa dan negara, berkontribusi dalam perbaikan bangsa kita menjadi lebih baik.

Sunnatullah Dalam Perubahan

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَاۤ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ سُوۤءࣰا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
[Surat Ar-Ra’d 11].

Diantara sunnatullah (ketentuan Allah) yang pasti terjadi dalam hidup ini adalah at taghyir yaitu perubahan, kata sunnah maknanya adalah at thariqah al mukhathathah (jalan yang sudah digariskan) dan diantara bentuk sunnatullah berupa perubahan, sehingga perubahan adalah keniscayaan. Contoh, kita dulu pernah muda, kemudian berubah tua. Tetapi dalam islam kita ingin melakukan perubahan yang lebih baik, yang dicintai dan diridhai Allah, sehingga ketika kematian menjemput kita, maka kita mati dalam keadaan terbaik, karena kita sudah berusaha ketika hidup untuk berubah menjadi lebih baik, maka mudah-mudahan kita diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah.

Nah, apa saja faktor yang dapat merubah diri, keluarga, masyarakat kita berubah menjadi lebih baik?
Setelah kita mantadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah maka kita mendapati faktor yang menjadikan diri kita berubah menjadi lebih baik adalah;

1. Ilmu Pengetahuan.

Bangsa Arab dulu berada dalam zaman jahiliyah, setelah datangnya ilmu yang berasal dari Al Qur’an dan Sunnah maka bangsa Arab secara khusus dan kaum muslimin dipenjuru dunia secara umum menjadi umat yang terbaik (khaira ummah).

Maka perbaikan suatu umat hanya bisa terwujud dengan ilmu. Apa yang dimaksud dengan ilmu di dalam Al-Qur’an? Kita tahu kata ilmu serta keturunannya banyak diulang-ulang dalam Al-Qur’an, nah pengertian ilmu, itu adalah setiap ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat itulah ilmu yang wajib dipelajari, itulah ilmu yang menjadikan kita berubah menjadi lebih baik, sehingga di dalam kehidupan ini tidak ada dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama, karena keduanya adalah ilmu Allah yang wajib dipelajari, maka ketika kita rajin mendatangi majelis ilmu maka insyaallah kita akan berubah menjadi lebih baik. Banyak wanita yang belum menutup aurat meskipun mengaku beragama islam, maka ia akan berubah menjadi lebih baik dengan menutup aurat ketika ia rajin menghadiri majelis ilmu. Karena islam mewajibkan setiap wanita yang sudah baligh untuk menutup aurat. Dulu belum tahu tentang shalat yang benar tetapi setelah belajar tata cara shalat Rasulullah maka ia berubah menjadi yang lebih baik.

Dulu banyak remaja yang suka dengan pacaran tetapi setelah mengetahui ilmu tentang larangan Allah untuk mendekati zina, maka mereka mulai tinggalkan pacaran, karena mendekatkan kepada zina. Jadi perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia faktor utamanya adalah ilmu, makanya wahyu yang pertama turun adalah berkaitan dengan perintah membaca agar mendapatkan ilmu karena kunci ilmu adalah membaca, sebagaimana firman Allah kepada Rasulullah saw ketika sedang bertahannus di gua hira,

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِی خَلَقَ ۝ خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ۝ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ۝ ٱلَّذِی عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ۝ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ ۝

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.[Surat Al-‘Alaq 1 -5].

Dalam ayat tersebut kata ilmu sampai diulang tiga kali, ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa melalui membaca dan belajar kita berubah menjadi lebih baik, dulunya kita berada dalam kegelapan, setelah kita bersama Al Qur’an dan ia adalah sumbernya pengetahuan akhirnya kita berada dalam cahaya yang terang, akhirnya kita mengetahui perkara halal dan haram, ibadah dan ketaatan, sunnah dan bid’ah, perkara yang mengantarkan kita ke surga dan perkara yang mengantarkan kita ke neraka, sehingga ilmu itu merubah diri kita menjadi lebih baik. Allah ta’ala berfirman,

(الۤرۚ كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَیۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طِ ٱلۡعَزِیزِ ٱلۡحَمِیدِ)

Alif Lam Ra. (Al-Qur’an ini) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang (islam) dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.[Surat Ibrahim 1].

Nah, untuk menggambarkan betapa pentingnya ilmu di dalam kehidupan sampai-sampai tidak permohonan kita kepada Allah di dalam Al-Qur’an yang minta agar terus ditambah kecuali ditambah ilmu, firman Allah ta’ala,

(وَقُل رَّبِّ زِدۡنِی عِلۡمࣰا)

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ”[Surat Tha-Ha 114].

Karena ilmu sesuatu yang sangat penting, termasuk untuk merubah diri kita menjadi lebih baik.

2. Amal Perbuatan atau kerja.

Kita sebagai anak bangsa, khususnya sebagai generasi muslim, agar bangsa ini menjadi lebih baik dan lebih sejahtera maka kita semua harus menjadi bangsa yang cinta dengan kerja. Orang yang bekerja akan dicintai Allah dan akan berubah menjadi lebih baik, maka, bekerja adalah sebuah kewajiban sebagaimana firman Allah ta’ala dalam Al-Qur’an,

(وَقُلِ ٱعۡمَلُوا۟ فَسَیَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلۡغَیۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَیُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ)

“Dan katakanlah wahai Muhammad, “Bekerjalah kamu, maka pasti Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Surat At-Taubah 105].

Jadi beramal atau bekerja adalah perintah Allah untuk kita semua. Nah amal apa saja yang dapat merubah diri kita menjadi lebih baik? Maka amal yang dapat merubah diri kita menjadi lebih baik syarat nya ada dua, yaitu;

Pertama, amal itu harus shalih, dan pengertian amal shalih yang diterima oleh Allah ada dua hal yaitu amal tersebut didasari dengan ikhlas dan amal tersebut benar, dan barometer kebenaran itu ukurannya mengikuti Rasulullah shallahu alaihi wasallam .

Kedua, adalah dilakukan secara berjamaah, makanya di dalam ajaran islam apa saja yang dikerjakan secara berjamaah pahalanya lebih besar dari pada dikerjakan secara sendiri.
Contohnya shalat berjamaah, mengenai keutamaan shalat berjamaah dalam sebuah hadits
dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda,

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari Muslim).

Bahkan dalam hadits yang lainnya ketika ada seorang buta meminta izin kepada nabi untuk tidak ikut shalat berjamaah di masjid, tapi nabi tetapi memerintahkan nya untuk shalat berjamaah. Sabda Nabi shallahu alaihi wasallam ,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : أَتَى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلٌ أعْمَى ، فقَالَ : يا رَسُولَ اللهِ ، لَيسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَّمَا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ لَهُ : (( هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ )) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : (( فَأجِبْ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Nabi shallahu alaihi wasallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah shallahu alaihi wasallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah shallahu alaihi wasallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503).

Yang aneh dalam fenomena keislaman masyarakat kita banyak yang gak buta tapi tetap tidak shalat berjamaah di masjid, maka agar mereka berubah menjadi lebih baik maka harus diberikan pemahaman yang benar mengenai pentingnya shalat berjamaah di masjid.

Maka tidak mungkin kita berubah menjadi lebih baik secara sendirian. Yang ingin membangun peradaban ini jumlah nya banyak dan yang ingin menghancurkan peradaban itu juga jumlahnya banyak. Makanya kita harus berjamaah, kalau kita ingin membangun rumah sendirian sementara yang ingin merobohkan banyak, maka rumah dipastikan tidak akan bisa berdiri, maka seorang penyair mengatakan,

مَتى يَبلُغ البُنيانُ يَوماً تَمامَه ** إذا كُنت تَبنيهِ وَغَيرك يَهدِمُ

Kapan sebuah bangunan berdiri sempurna kalau kamu sendirian membangunnya sementara orang lain ingin merobohkan.

Makanya kalau ingin membangun tatanan masyarakat dan bangsa lebih baik lagi maka kita harus bekerja bersama sama. Kalau kita ingin memiliki anak yang cerdas maka yang mendidik ayah dan ibu secara bersama sama, tidak sepenuhnya diserahkan kepada guru. Disaat hari-hari biasa maka yang mendidik adalah guru, maka di saat hari libur tugas kedua orang tua yang harus mendidiknya, bukannya lepas tanggung jawab apalagi diajak liburan, sehingga hafalan Al-Qur’an mereka banyak yang hilang dan pelajaran sekolah banyak yang lupa. Boleh berlibur akan tetapi belajar tidak boleh libur, belajar bisa dilakukan dimanapun termasuk di rumah. Jadi hari libur itu digunakan untuk menutup lubang-lubang dan kekurangan kekurangan di sekolah. Kalau target hafalan tidak sampai dalam satu semester mestinya diwaktu liburan diisi untuk menyelesaikan target hafalannya. Maka kita beramal shalih dan dilakukan secara berjamaah. Di negeri manapun pasti terjadi kemungkaran, kalau yang merubah kemungkaran satu orang atau satu ormas tertentu maka kecil kemungkinan kemungkaran itu hilang, tapi kalau banyak orang atau ormas yang dibangun berdasarkan sistem maka kemungkaran tersebut pasti sirna. Oleh karena itulah kita harus berjamaah, karena kalau umat islam tidak berjamaah akan terjadi fitnah dan malapetaka yang besar di dunia ini. Sebagaimana firman Allah,

(وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِیَاۤءُ بَعۡضٍۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةࣱ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادࣱ كَبِیرࣱ)

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. (Wahai orang-orang beriman) Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi dan mendukung), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. [Surat Al-Anfal 73].

Jadi dalam ayat ini Allah mengingatkan seluruh orang beriman di penjuru dunia termasuk di Indonesia agar amal shalih dilakukan secara berjamaah, shalat berjamaah, haji berjamaah, zakat berjamaah, amar ma’ruf nahi munkar berjamaah, kalau tidak berjamaah, maka orang-orang kafir akan bersama-sama akan melakukan kerusakan dan kejahatan secara berjamaah. Maka umat islam agar menjadi lebih baik maka bekerja harus bersama-sama jangan sampai berpecah belah, gara-gara beda ormas, partai atau golongannya.

Karena kita khawatir kalau umat islam asik dengan ormas dan golongan nya, sementara orang-orang kafir bersatu padu, maka umat islam akan kalah.
Jadi amal yang dikerjakan harus shalih, ikhlas, benar dan dikerjakan secara bersama-sama maka umat islam akan berubah menjadi lebih baik.

3. Memanfaatkan seluruh potensi yang ada, baik potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Jangan sampai ada satupun potensi alam dan manusia yang tidak dimanfaatkan. Semua digunakan untuk merubah diri, masyarakat dan negaranya menjadi lebih baik. Kita mulai dari sumber daya alam, kalau kita sebut NKRI adalah negara yang luas daratannya dan dipenuhi sumber daya alam yang melimpah, namun kekayaan tersebut tidak merata karena disamping faktor pemerintah kurang maksimal dalam memeratakan kekayaan tapi yang paling utama karena faktor kemalasan, malas untuk memanfaatkan potensi sumber daya yang ada, padahal nabi shallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang Muslim yang menanam tanaman atau bertani, lalu ia memakan hasilnya atau orang lain dan binatang ternak yang memakan hasilnya, kecuali semua itu dianggap sedekah baginya” (HR. Al Bukhari 2320).

Maka, menanam pohon kemudian berbuah, lalu dikonsumsi khayalak umum bahkan termasuk burung itu saja merupakan sedekah yang berpahala, maka jika itu dilakukan akan terjadi perubahan, tidak ada yang namanya kelaparan jikalau setiap manusia memiliki kesadaran seperti itu, dalam hadits lain disebutkan, dari Anas radhiyallahu anhu dari Rasulullah bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَ فِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Imam Ahmad).

Artinya kita harus memanfaatkan potensi yang ada dan kita tak boleh berorientasi bahwa kita yang menikmatinya saja, mungkin kita yang bekerja namun bisa jadi yang menikmati makhluk yang lain. Jadi ini salah satu hal yang dapat merubah diri kita menjadi lebih baik.
Ketika Rasulullah shallahu alaihi wasallam hijrah dari Makkah ke Madinah, karena intimidasi orang-orang musyrik, beliau melalui jalan yang tidak diketahui banyak orang. Akhirnya bertemu dengan orang kafir bernama Abdullah bin Uraiqiq, ia digunakan oleh nabi untuk menunjukkan jalan ke Madinah yang tidak diketahui banyak orang padahal ia seorang kafir. Artinya orang kafir saja potensinya bisa digunakan untuk membela islam apalagi umat islam, jangan malah sebaliknya umat islam digunakan oleh orang kafir untuk memusuhi umat islam sendiri. Umat islam digunakan untuk memata-matai saudara mereka sendiri dalam pergerakan dakwah dan majelis taklim mereka, maka ini bukannya berubah menjadi lebih baik, justru sebaliknya. Padahal sesama muslim itu bersaudara, Allah berfirman,

(إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةࣱ فَأَصۡلِحُوا۟ بَیۡنَ أَخَوَیۡكُمۡۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ)

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
[Surat Al-Hujurat 10].

4. Dakwah

Yaitu, mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan mengerjakan kebajikan. Allah mewajibkan agar setiap muslim berdakwah, bahkan berdakwah adalah profesi terbaik di sisi Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya,

(وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلࣰا مِّمَّن دَعَاۤ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا وَقَالَ إِنَّنِی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ)

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” [Surat Fushilat 33].

Sehingga setiap manusia yang beramal sebagai aktivis dakwah apapun latar belakang pekerjaannya, maka kita yakin dunia akan berubah menjadi lebih baik.
Al Qur’an turun pertama kali di makkah, sedangkan belum ada yang beriman selain Rasulullah saja, maka nabi mulai berdakwah sehingga ada beberapa orang yang menerima dakwah beliau, diantaranya Khadijah, Abu Bakar, Ali, dan Bilal yang mana mereka meneruskan perjuangan nabi sehingga berkat perjuanganmereka islam tersebar ke penjuru jazirah arab bahkan seluruh pelosok dunia, maka umat manusia yang dulunya gelap gulita merasakan cahaya islam yang terang-benderang, karena mereka militan dalam berdakwah. Seandainya di Indonesia ini tidak ada orang Arab Yaman yang datang ke Indonesia membawa islam, maka barangkali kita masih dalam zaman kegelapan, semua itu dapat terjadi lantaran dakwah. Tentang perintah dakwah Allah swt berfirman,

(وَأَنذِرۡ عَشِیرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِینَ)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat, [Surat Asy-Syu’ara 214].

Jadi masalah kejahilan dalam agama yang kita hadapi bukan karena lembaga pendidikan dan keislaman, karena lembaga tersebut jumlahnya banyak, tapi tidak setiap umat islam mau berdakwah, tidak seperti nabi dan sahabatnya yang militan dalam berdakwah. Abu Dzar begitu masuk islam, akhirnya beliau mendakwahkan ajaran islam kepada Qabilahnya, maka seluruh orang di Qabilahnya masuk islam. Maka orang-orang yang gemar berdakwah di akhirat nanti akan selamat di pengadilan Allah swt padi hari kiamat, karena mereka telah lepas tanggung jawab mereka, sedangkan di dunia mereka menjadi orang-orang yang bertakwa. Dan orang yang tidak berdakwah bahkan menghalang-halangi jalan dakwah diazab oleh Allah, bahkan berubah menjadi kera, terlepas wujudnya seperti kera atau tidak tapi wataknya persis seperti kera, firman Allah,

(وَإِذۡ قَالَتۡ أُمَّةࣱ مِّنۡهُمۡ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابࣰا شَدِیدࣰاۖ قَالُوا۟ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَلَعَلَّهُمۡ یَتَّقُونَ ۝ فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦۤ أَنجَیۡنَا ٱلَّذِینَ یَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوۤءِ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ بِعَذَابِۭ بَـِٔیسِۭ بِمَا كَانُوا۟ یَفۡسُقُونَ ۝ فَلَمَّا عَتَوۡا۟ عَن مَّا نُهُوا۟ عَنۡهُ قُلۡنَا لَهُمۡ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَـٰسِـِٔینَ)

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.”

Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang. Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” [Surat Al-A’raf 164 – 166].

5. Bersyukur

Allah menjanjikan dalam kehidupan ini, siapapun yang bersyukur nikmatnya akan ditambah, sehingga keadaan diri menjadi semakin lebih baik. Ini adalah janji Allah dan janji Allah adalah pasti, firman Allah;

(وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”[Surat Ibrahim 7].

Maka hakikat syukur bukan hanya dengan ucapan seperti kita mengucapkan Alhamdulillah, tapi lebih dari itu syukur yang sempurna adalah rasa berterima kasih kita atas nikmat Allah melalui hati, lisan dan perbuatan.

Apa tandanya kalau kita menjadi pribadi yang bersyukur?

a. Mengakui bahwa nikmat yang didapatkan semata-mata datang dari Allah. Kita sehat itu semata-mata datang dari Allah bukan karena rajin berolahraga, meskipun olahraga itu penting. Perlu diingat semua nikmat yang kita rasakan semata-mata datang dari Allah, akan tetapi manusia tetap wajib ikhtiyar, melakukan usaha untuk meraih nikmat tersebut.

b. Menggunakan seluruh nikmat untuk taat kepada Allah.

Ketika kita diberikan waktu luang, kesehatan, kekayaan maka hendaklah digunakan untuk taat kepada Allah, untuk beribadah, menuntut ilmu agama dan bersedekah.

Seorang Khalifah yang bernama Umar bin Abdul Aziz, sebelum beliau memimpin negara dalam masa krisis, tetapi berkat keshalihan dan keadilannya, negara yang dipimpinnya merasakan keamanan, jangankan manusia bahkan binatangpun merasakan keadilannya. Saking amannya, sampai tidak ada binatang ternak yang dimakan oleh binatang buas, dalam kepemimpinannya yang singkat yaitu masa 2,5 tahun, sulit untuk mencari orang yang berhak menerima zakat. Kenapa demikian? Karena beliau benar-benar mensyukuri nikmat Allah berupa nikmat kepemimpinan, dan menggunakannya dalam rangka semata-mata melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Adapun kufur nikmat adalah menggunakan kenikmatan yang telah Allah berikan pada hal-hal yang tidak diridhai Alllah dan enggan mengucapkan Alhamdulillah. Seseorang sudah diberikan kenikmatan berupa jiwa dan raga yang sehat, waktu yang lapang, rejeki yang banyak, akan tetapi kenikmatan yang diberikan digunakan untuk bermaksiat kepada Allah seperti minum miras, judi dan lain sebagainya.

Kufur nikmat berawal dari ketidaksadaran akan nikmat yang ia dapat bahwa semua fasilitas dunia ini merupakan anugerah Allah kepada hambanya. Sedangkan bahaya kufur nikmat selanjutnya adalah adanya adzab dari Allah. Hal ini seperti yang seperti firman Allah dalam ayat di atas.

(Dinukil dari Kitab Al-Hayah fil Qur’an al-Karim karya Dr. Ahzami Samiun Jazuli, M.A. hal 42-57 cetakan 1 Dar Tuwaiq, Riyadh, 1418 H).

Mentadabburi Ayat-Ayat Hijrah Dalam Al-qur’an

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Diantara ayat-ayat hijrah dalam Al-Qur’an yang dapat kita ambil pelajaran adalah firman Allah swt, surat An-Nisa ayat 97-100, Allah berfirman,

(إِنَّ ٱلَّذِینَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِیمَ كُنتُمۡۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِینَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوۤا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةࣰ فَتُهَاجِرُوا۟ فِیهَاۚ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا ۝ إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِینَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡوِلۡدَ ٰ⁠نِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ حِیلَةࣰ وَلَا یَهۡتَدُونَ سَبِیلࣰا ۝ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ عَسَى ٱللَّهُ أَن یَعۡفُوَ عَنۡهُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَفُوًّا غَفُورࣰا ۝ ۞ وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah), maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat An-Nisa’ 97 – 100]

Pada kesempatan kali ini kita akan menunaikan satu kewajiban kita terhadap Al Qur’an yaitu Al Mu’ayasayatu ma’al Qur’an (berinteraksi dengan Al-Qur’an) Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan untuk mengamalkan dan menerapkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Saudaraku yang budiman, Al-Qur’an adalah Jami’atul Hayah yaitu Universitas Kehidupan yang didalamnya terdapat petunjuk-petunjuk yang mencakup seluruh dimensi kehidupan, terutama petunjuk kehidupan masa kini dan lebih khusus kehidupan kaum muslimin.
Nah, di dalam ayat tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil;

1. Kewajiban untuk bersatu dengan kaum muslimin.

Agar islam dan iman kita diterima Allah, selamat di dunia dan akhirat kita, maka kita harus bergabung dan bersatu padu dengan jamaahnya kaum muslimin, dalilnya adalah sababun nuzul (sebab turunnya ayat), karena diantara faidah mengetahui sababun nuzul memudahkan kita untuk memahami suatu makna al Qur’an. Dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah bersama para sahabatnya ternyata masih ada sebagian kaum muslimin tidak mau bergabung dengan nabi dan para sahabatnya untuk hijrah, tetapi mereka memilih tinggal di Makkah yang saat itu Makkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik. Nah, ketika terjadi perang badar kaum muslimin yang tinggal di Makkah dipaksa oleh orang-orang musyrik untuk berperang melawan orang-orang islam yang ada di Madinah, lalu trunlah ayat ini.
(Tafsir Ibnu Katsir)

Dan hal tersebut juga senada dengan firman Allah, kita diperintahkan agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan kaum muslimin, jangan mudah diadu domba sehingga berperan belah, firman Allah tersebut berbunyi,

(وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِیعࣰا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ۚ)

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”
[Surat Ali ‘Imran 103]

Nah, pertimbangan mereka kenapa tetap tinggal di Makkah? Karena kepentingan hidupnya masih di Makkah, termasuk diantaranya keluarga, ekonomi, jabatan dan lain sebagainya, jadi mereka lebih memilih kehidupan dunia mereka yang ada di Makkah dari pada hijrah bersama Nabi dan para sahabatnya, mereka lebih memilih dunia mereka dari pada taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ketika berperang ternyata banyak diantara mereka yang mati, ketika mati mereka divonis oleh Allah deng tiga vonis besar;

a. Matinya dalam keadaan dzalim,
b. Alasan mereka bahwa mereka kaum dhuafa’ yang tertindas di tolak oleh Allah swt dan,
c. Di Akhirat divonis neraka Jahannam,

Didalam Al-Qur’an Allah menjelaskan vonis yang diterima oleh mereka.

(إِنَّ ٱلَّذِینَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِیمَ كُنتُمۡۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِینَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوۤا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةࣰ فَتُهَاجِرُوا۟ فِیهَاۚ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا)

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, [Surat An-Nisa’ 97]

Apa korelasi ayat tersebut dengan kondisi kaum muslimin di dunia ini, terutama dengan kaum muslimin di Indonesia ini?
Al Qur’an diturunkan di Makkah dan Madinah, namun berlakunya untuk seluruh dunia, bukan hanya hanya di tanah Arab saja, itu ditegaskan Allah dalam surat Al-Furqan ayat pertama,

( تَبَارَكَ ٱلَّذِی نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِیَكُونَ لِلۡعَـٰلَمِینَ نَذِیرًا)

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).
[Surat Al-Furqan 1]

Maka Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada semua umat islam dimanapun berada, termasuk umat islam yang ada di bumi Indonesia.
Dalam konteks kekinian, ada diantara kaum muslimin yang tidak mau bergabung dengan jamaah kaum muslimin, malah dia berkumpul dan berkoalisi dengan berbagai macam aliran kepercayaan dan agama, ada kafir, munafik, atheis dan sebagainya.

Maka penting kita untuk kembali kepada Al Qur’an dan sunnah serta nasehat-nasehat para ulama dan tidak mementingkan kehidupan duniawi nya, agar hati kita selalu terpaut kepada jamaahnya kaum muslimin.
Tentang pentingnya berjamaah dan bersatu padu, dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir Rasulullah saw bersabda,

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Berjamaah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab”(HR. Ahmad)

2. Kelemahan tidak bisa dijadikan alasan.

Maka siapapun dia, jangan hanya karena takut kehilangan harta, jabatan dan dunianya, ia rela memilih jalan yang lemah, tidak berani menyuarakan kebenaran, diam ketika terjadi kemungkaran, maka alasan tersebut tidak diterima oleh Allah. Karena orang-orang yang tak mau hijrah dipaksa orang kafir untuk perang akhirnya mereka mati, sehingga di pengadilan Allah, terjadi dialog ia dengan para malaikat, lalu para malaikat pun bertanya, kenapa kalian? Kami dulu kaum yang tertindas di Makkah? Maka malaikat menjawab “Bukankah bumi Allah itu luas, kenapa tidak bergabung untuk hijrah bersama nabi dan para sahabatnya?

Jadi, jangan sampai memilih jalan yang lemah, seandainya ketika dulu nenek moyang kita dijajah Belanda, kemudian para pahlawan dan ulama kita memilih jalan yang lemah agar tidak kehilangan harta dan jabatan yang diberikan Belanda maka niscaya negara kita tidak akan merasakan kemerdekaan hingga hari ini, akan tetapi para ulama dan pahlawan kita lebih memilih berjuang dan mengangkat senjata sehingga negara ini memperoleh kemerdekaan nya.

Jadi alasan lemah itu tidak diterima oleh Allah, sebagaimana orang-orang lemah yang meminta sedikit keringanan kepada para pembesar-pembesar mereka dari azab Allah swt pada hari kiamat, maka pembesar-pembesar mereka tidak sanggup memberikan petunjuk dan memenuhi permintaan mereka, maka pembesar-pembesar serta pengikut mereka yang lemah sehingga tidak berani melawan kedzaliman pembesar-pembesar mereka karena takut kehilangan kepentingan duniawi, mereka dan para pembesar mereka sama-sama masuk neraka, sebagaimana firman Allah,

(وَبَرَزُوا۟ لِلَّهِ جَمِیعࣰا فَقَالَ ٱلضُّعَفَـٰۤؤُا۟ لِلَّذِینَ ٱسۡتَكۡبَرُوۤا۟ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعࣰا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَیۡءࣲۚ قَالُوا۟ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَیۡنَـٰكُمۡۖ سَوَاۤءٌ عَلَیۡنَاۤ أَجَزِعۡنَاۤ أَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِن مَّحِیصࣲ)

“Dan mereka semua (di padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” [Surat Ibrahim 21]

Semuanya tidak bisa keluar dari neraka, bahkan guru besar sekaligus dedengkot orang-orang kafir yang memilih jalan yang lemah disebabkan tergiur kenikmatan dunia yaitu setan, ia sendiri mengaku bahwa dia sendiri tidak bisa menyelamatkan mereka, maka setan sampai berkata kepada mereka “kamu jangan salahkan diri saya, salahkan diri kamu sendiri, karena saya sebenarnya tidak bisa memaksa kalian, saya hanya mengajak kalian, tapi salah sendiri kenapa kalian termakan oleh omongan dan ajakan saya.”
Maka dalam ayat berikutnya Allah mengabadikan momen pidato setan dihadapan manusia pada hari kiamat, Allah swt berfirman,

(وَقَالَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ لَمَّا قُضِیَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِیَ عَلَیۡكُم مِّن سُلۡطَـٰنٍ إِلَّاۤ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۖ فَلَا تَلُومُونِی وَلُومُوۤا۟ أَنفُسَكُمۖ مَّاۤ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَاۤ أَنتُم بِمُصۡرِخِیَّ إِنِّی كَفَرۡتُ بِمَاۤ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّـٰلِمِینَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ)

“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zhalim akan mendapat siksaan yang pedih.” [Surat Ibrahim 22].

3. Manusia akan dikumpulkan bersama dengan yang ia cintai diakhirat,

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah saw bersabda,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ)

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?” Rasulullah bersabda: “Seorang itu beserta orang yang dicintainya. (HR. Muttafaqun alaihi)

Manusia itu makhluk sosial, artinya ia tidak bisa hidup sendiri kecuali mendapatkan uluran tangan dari orang lain, maka hidup ini harus berjamaah, bergabung dengan orang-orang yang jujur terhadap keimanan. Maka hari-hari ini kita dibingungkan dengan kondisi sebagian kaum muslimin, ngakunya agamanya islam tapi kok mesra sekali dengan orang kafir, justru sangat keras terhadap orang islam sendiri hanya karena berbeda pandangan.

Maka Imam Syafi’i ra memberikan petunjuk agar kita tidak dibingungkan dengan kondisi sekarang ini, beliau berkata bahwa ilmu yang pasti benar itu firman dan sabda Rasulullah saw, maka ikutilah keduanya, tapi ucapan saya atau pengamat mungkin salah. Rasulullah saw pernah dimintai oleh orang-orang munafik untuk shalat di masjid yang dibangun oleh mereka, di dalam Al-Qur’an masjid mereka disebut Masjid Dhirar, yang berarti Masjid sumber bencana. Tindakan mereka ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an, firman Allah;

(وَٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ مَسۡجِدࣰا ضِرَارࣰا وَكُفۡرࣰا وَتَفۡرِیقَۢا بَیۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَإِرۡصَادࣰا لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ وَلَیَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَاۤ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَـٰذِبُونَ)

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid dhirar untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).” [Surat At-Taubah 107]

Itulah orang munafik, mereka bagaikan serigala berbulu domba, mereka ngaji bersama nabi, bahkan sampai membangun masjid untuk nabi, akan tetapi segala yang mereka suguhkan untuk umat islam tidak diterima oleh Allah? Karena hati mereka menyimpan kebencian, dendam, dan keinginan yang mendalam untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, termasuk dedengkot mereka, Abdullah bin Ubay bin Salul sangat memusuhi islam dan kaum muslimin.

Nah, ketika nabi hendak shalat di Masjid tersebut ternyata dicegah oleh Allah, sehingga turun ayat berikutnya, firman Allah swt,

(لَا تَقُمۡ فِیهِ أَبَدࣰاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ یَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِیهِۚ فِیهِ رِجَالࣱ یُحِبُّونَ أَن یَتَطَهَّرُوا۟ۚ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِینَ)

“Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid (Quba) yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” [Surat At-Taubah 108]

Sehingga ayat ini secara tegas larangan Allah kepada Nabi agar tidak bergabung bersama Jamaahnya kaum munafikin. Karena mereka bukannya berjuang bersama nabi akan tetapi berusaha untuk memecah belah suara kaum muslimin.

Maka hakikatnya tidak ada permasalahan hidup kecuali sudah ada jawaban di dalam Al-Qur’an, ada kalanya jawabannya dengan nas yang sharih (jelas) atau istinbat (ijtihad), maka sudah barang tentu kaum muslimin diperintahkan untuk bertanya kepada ulama ketika ia mendapati kejahilan dalam persoalan agamanya, maka perintah Allah berbunyi,

( فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [Surat An-Nahl 43]

4. Allah swt itu maha Pengampun.

Meskipun berjuang dan berhijrah itu sebuah kewajiban, hanya saja Allah memberikan keringanan bagi orang-orang yang benar-benar lemah dan yang memiliki udzur untuk tidak berjuang dan berhijrah, karena keterbatasan fisik dan akal mereka, seperti orang tua, wanita, anak-anak kecil bahkan saat turun ayat ini Abdullah ibnu Abbas berkata “saya termasuk orang-orang lemah karena saat itu saya masih kecil sehingga kewajiban ini gugur bagi mereka dan dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah swt. (Tafsir Ibnu Katsir)
Nah, Golongan-golongan yang dikecualikan oleh Allah untukboleh tidak ikut hijrah, dijelaskan oleh Allah dalam ayat selanjutnya,

(إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِینَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡوِلۡدَ ٰ⁠نِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ حِیلَةࣰ وَلَا یَهۡتَدُونَ سَبِیلࣰا)

“Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah)” [Surat An-Nisa’ 98]

5. Urgensi Hijrah dalam Islam,

Hijrah itu ada dua, yaitu hijrah hissiyah (secara fisik) sepertinya hijrah nya nabi dari Makkah ke Madinah dan hijrah maknawiyyah (secara mental) dan ini berlaku selamanya, yaitu hijrah dari syirik kepada tauhid, hijrah dari bid’ah menuju sunnah, hijrah keberpihakan dari orang-orang kafir menuju orang-orang beriman. Hijrah seperti ini hukumnya wajib, dan hijrah seperti ini tidak harus minta izin kepada orang tua maupun guru, berbeda halnya hijrah keluar negeri atau jihad fi sabilillah, maka harus izin kepada orang tua, namun hijrah dari yang haram ke yang halal, maksiyat ke ta’at itu tidak memerlukan izin. Maka definisi hijrah maknawiyyah sebagaimana disampaikan nabi adalah,

المهاجر من هجر ما نهى الله عنه.

Artinya, “Al-Muhajiru (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kata maa (ما) didalam bahasa arab disebut isim maushul yang paling universal, sehingga segala apa saja yang dilarang oleh Allah harus ditinggalkan, baik itu berupa ucapan perbuatan, pilihan dan keberpihakan, semua tercakup dalam kata maa (ما).

6. Hijrah adalah kemenangan.

Seandainya ada seorang ustadz berdakwah dikampung yang penduduknya masih berkeyakinan kepada klenik, dukun, tumbal dan sebagainya, mereka syirik kepada Allah, lalu karena dakwah ustadz tersebut tidak cocok menurut mereka akhirnya ia diusir, sehingga yang tertulis di media cetak warga tersebut yang menang sedangkan si Ustadz telah kalah karena warga telah berhasil mengusir sang ustadz, namun hal tersebut beda menurut Allah, si Ustadz lah yang menang, karena diusirnya bukan semata-mata mencari nafkah, akan tetapi ia terusir karena berjuang di jalan Allah swt, sebagaimana Allah menceritakan kemenangan Nabi-Nya walaupun diusir oleh kaumnya,
firman Allah dalam Al-Qur’an,

(إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ثَانِیَ ٱثۡنَیۡنِ إِذۡ هُمَا فِی ٱلۡغَارِ إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَیۡهِ وَأَیَّدَهُۥ بِجُنُودࣲ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِیَ ٱلۡعُلۡیَاۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ)

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Surat At-Taubah 40]

Maka janji Allah swt adalah sebuah kepastian, siapapun yang berhijrah dan berjuang dijalan Allah pasti diberikan rizki yang banyak dan tempat yang luas, ini terlihat ketika nabi berada di Makkah pengikutnya tidak lebih dari 100 sebagaimana menurut sejarawan, begitu hijrah pengikut beliau semakin banyak dan menjalar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Maka islam bisa sampai ke Indonesia melalui ajaran hijrah, maka hijrah adalah sebuah kemenangan, dengan hijrah umat islam membangun kedaulatan di Madinah, sehingga seluruh lapisan umat islam bahkan orang-orang kafirpun merasakan keamanan dan ketenangan karena syariat hijrah, sebab hukum dan aturan Allah ditegakkan di dalamnya, sebagaimana janji Allah termaktub dalam Al-Qur’an,

(۞ وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat An-Nisa’ 100]

Kedamaian Dalam Tinjauan Al Quran

Oleh: Kholid Mirbah, Lc

Allah swt berfirman,

(۞ وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِیَنفِرُوا۟ كَاۤفَّةࣰۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةࣲ مِّنۡهُمۡ طَاۤىِٕفَةࣱ لِّیَتَفَقَّهُوا۟ فِی ٱلدِّینِ وَلِیُنذِرُوا۟ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوۤا۟ إِلَیۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ یَحۡذَرُونَ)

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
[Surat At-Taubah 122]

Ayat diatas berbicara tentang kewajiban kita semua untuk memahami agama islam secara mendalam. Apa urgensinya kita mendalami islam secara mendalam?

1. bahwa pahala menuntut ilmu agama itu setara dengan jihad di jalan Allah.

Didalam ayat 122 surat At Taubah tersebut Allah swt mewajibkan kaum muslimin untuk tafaqquh fiddin, begitu pentingnya belajar agama sampai-sampai kaum muslimin tidak boleh berangkat berjihad semuanya, padahal jihad dijalan Allah adalah amal yang paling utama setelah beriman kepada Allah, akan tetapi begitu pentingnya belajar ilmu agama islam secara mendalam, maka kaum muslimin dibagi tugas, ada yang berjihad di jalan Allah, ada yang mempelajari islam secara mendalam, ini menunjukkan keutamaan mendalami ilmu agama sama dengan berjihad di jalan Allah swt sehingga menuntut ilmu hukumnya wajib sebagaimana halnya dengan berjihad di jalan Allah swt.

2. karena kebaikan manusia adalah terletak pada sejauh mana pemahaman nya terhadap islam secara mendalam,

sebagaimana disampaikan oleh Mu’awiyah ra, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Lafadz من (man) itu maknanya umum, bisa laki-laki maupun perempuan, mutsanna (dua orang) dan jama’ .
Jadi tanda kebaikan seseorang disisi Allah adalah ketika seseorang baik itu personal maupun kelompok faham dalam urusan agama, bukan hanya mengerti dan tau saja akan tetapi pengetahuan yang dibarengi dengan pemahaman yang mendalam, karena makna yufaqqihhu itu berasal dari akar kata faqqaha yufaqqihu adalah al fahmu ad daqiqu yaitu pemahaman yang mendalam, jadi kalau Allah berkehendak kebaikan dalam diri seseorang itu maka Allah akan fahamkan ia dalam persoalan agamanya dengan pemahaman yang mendalam.
Kenapa kebaikan dikaitkan dengan pemahaman islam secara mendalam? Karena kebenaran kita dalam hidup ini tidak lepas dari pemahaman kita terhadap islam, contoh orang yang shalat nya benar, maka ia harus faham bagaimana shalatnya Rasulullah, makanya bunyi haditsnya adalah,

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat” (HR al-Bukhari).
Begitu pula orang yang ingin mendapatkan predikat haji yang mabrur yang mana balasannya adalah surga dari Allah maka hajinya harus mengikuti Rasulullah saw, maka bunyi haditsnya adalah,

خذوا عني مناسككم

“Ambillah dariku tatacara haji kalian dalam berhaji.” (H.R. Muslim, Ahmad, Baihaqi, An-Nasai. Abu Dawud dari jabir)

Begitupula pula rumah tangga akan menjadi baik-baik di dunia maupun akhirat ketika ia didalam membangun rumah tangga berlandaskan pemahaman islam secara benar. Maka didalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita harus berlandaskan pemahaman islam yang benar, maka kita diperintahkan untuk masuk islam secara menyeluruh, makanya bunyi ayatnya,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِی ٱلسِّلۡمِ كَاۤفَّةࣰ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
[Surat Al-Baqarah 208]

3. Kita ini pasti akan menjadi pemimpin, seorang ayah akan menjadi pemimpin bagi keluarganya, seorang ibu akan menjadi pemimpin bagi anak-anak nya, maka sewajarnya harus faham fiqih imamah, seorang suami harus faham fiqih kepemimpinan, terutama anak-anak kita yang akan berumah tangga nanti, maka khawatir rumah tangga nya tidak benar bila tidak di landasi oleh ilmu, maka ketika ia berumah tangga, bukannya meneladani rumah tangga Nabi dan para Sahabatnya, justru mengikuti gaya rumah tangga artis dan bintang film yang terkadang hilang akan sarat keteladanan.

Begitupula ketika seseorang hendak menjadi pemimpin entah itu presiden atau menteri, maka harus faham islam terlebih dahulu, sehingga ketika ia memimpin dipastikan cara memimpinnya benar, dalilnya adalah ungkapan dari Umar bin Khattab ra, kata beliau;

تفقهوا قبل أن تسودوا

“Belajarlah islam secara mendalam sebelum kamu menjadi pemimpin”(Riwayat Bukhari)

Kenapa demikian? Karena pemimpin itu tanggung jawabnya lebih besar, nah kalau dia tidak memiliki pemahaman islam yang mendalam dalam kepemimpinan, bagaimana nanti ia akan mempertanggungjawabkan tugasnya di hadapan Allah swt nanti. Makanya penting sekali untuk faham islam terlebih dahulu sebelum menjadi seorang pemimpin.

Diantara fenomena yang baik di dalam negara kita ini, adalah banyaknya lembaga-lembaga pendidikan al Qur’an, anak-anak SD sudah banyak yang hafal al Qur’an, hanya saja kedua orang tua nya justru malas-malasan ketika diajak untuk belajar al Qur’an padahal pendidikan yang baik itu adalah keteladanan sebelum mendidik, mengajak dan memberikan nasihat.

Nabi ketika mengajak umat manusia untuk menjadi pribadi yang amanah maka ia terlebih dahulu menjadi seorang Al Amiin, makanya ketika beliau berdakwah meskipun dimusuhi tapi banyak yang masuk islam gara-gara keteladanan yang beliau berikan. Kalau seandainya para pemimpin, dari tingkat cabang sampai pusat terdepan dalam ibadah nya, terdepan dalam menutup auratnya, terdepan dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya, terdepan dalam menjauhi perkara yang haram, lalu kebaikan tersebut diikuti oleh rakyatnya maka yang akan turun di dalam kehidupan kita adalah keberkahan dari Allah swt, tetapi kalau itu tidak terjadi yang turun adalah azab Allah, sebagaimana firman Allah swt,

(وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰۤ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوۡا۟ لَفَتَحۡنَا عَلَیۡهِم بَرَكَـٰتࣲ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذۡنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ یَكۡسِبُونَ)

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
[Surat Al-A’raf 96]

4. Orang yang faham islam secara mendalam lalu diamalkan adalah orang yang terbaik, sebagaimana dialog nabi dengan sahabatnya, ketika beliau ditanya tentang manusia terbaik, beliau bersabda;

خياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام إذا فقهوا.

“Sebaik-baik kalian dimasa jahiliyyah adalah manusia yang terbaik didalam Islam jika ia memiliki pemahaman islam secara mendalam.(Dishahihkan Oleh Syaikh Al Albani)”
Maka inilah yang mendasari kenapa kita harus memahami islam secara mendalam.

Nah, diantara slogan yang sedang didengung-dengungkan hari ini oleh negara kita dan negara-negara lain adalah slogan kedamaian. Dalam agama islam damai itu bukan hanya sekedar slogan atau pencitraan semata tetapi harus menjadi sebuah kenyataan yang diterapkan ditengah kehidupan manusia. Kata damai itu termasuk istilah agama, dalam Al-Qur’an kita akan jumpai kata-kata yang memiliki makna damai, diantaranya adalah kata as-silmi, as-salam, al ithmi’nan, al-amnu, maka hakikatnya Al-Qur’an adalah sumber kedamaian bukan kitab suci teroris yang dikumandangkan oleh musuh-musuh islam hari ini.
Bagaimana diri kita, rumah tangga, masyarakat, bangsa dan negara kita senantiasa merasakan kedamaian, bagaimana petunjuk al Qur’an menghadirkan kedamaian ditengah kehidupan manusia?

1. Kedamaian itu terwujud ketika ada iman.

Jangan bermimpi diri kita, keluarga kita merasakan kedamaian kalau tidak beriman, walaupun ada iman tapi ternodai dengan syirik, pasti dia tidak merasa damai dan aman, sebagaimana firman Allah,

(ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ)

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.
[Surat Al-An’am 82]

Dari ibnu Mas’ud ra, (ia berkata) :

لما نزلت هذه الآية قالوا :

Ketika turun ayat ini maka (para shahabat) berkata:

فأينا لم يظلم نفسه ؟

Maka siapakah dari kami yang tidak menzhalimi dirinya?

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Maka bersabda Rasulullah saw,

ليس بذلكم ، ألم تسمعوا إلى قول لقمان : إن الشرك لظلم عظيم

Tidaklah seperti itu (pemahaman ayat tersebut), bukankah engkau mendengar perkataan luqman: ‘Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezhaliman yang besar”
Jadi masyarakat dinegara manapun, mereka akan merasakan kedamaian dan keamanan apabila mereka memiliki iman.
Jadi iman itulah yang memberikan rasa aman, karena kalau tidak ada iman orang itu tidak akan aman walaupun kaya, berkedudukan tinggi dan memiliki segalanya. Karena kunci kedamaian hanyalah iman.

2. Orang yang merasakan kedamaian adalah orang yang memasuki ajaran islam secara utuh atau secara kaffah

Allah swt berfirman,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِی ٱلسِّلۡمِ كَاۤفَّةࣰ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ)

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
[Surat Al-Baqarah 208]

Ada orang yang mengaku beragama islam tapi takut dengan sebagian terhadap ajaran islam itu sendiri, seperti syariat poligami yang ditakuti oleh sebagian wanita kita, itu disebabkan ketika orang poligami penerapannya tidak utuh, ia semangat untuk nambah istri, tetapi dalam melaksanakan kewajiban nya sebagai suami tidak semangat, terkadang karena kesibukan ia dengan istri-istri nya akhirnya jatah ibadah sunnah nya menjadi berkurang, semangat jihadnya menjadi kendor,

Sesungguhnya ajaran islam akan terlihat damai dan sejuk ketika diamalkan secara keseluruhan namun ketika diamalkan sepotong potong akan menjadi seram, contohnya poligami ditakuti oleh ibu-ibu, jihad ditakuti bapak-bapak, pembagian warisan secara islam yang terkadang tidak disukai ahli waris dari kalangan wanita.

Sehingga agar ajaran ajaran tersebut tidak ditakuti oleh sebagian kaum muslimin, maka hendaknya mereka diberikan pemahaman tersebut secara utuh.
Nah, hakikatnya sebelum kita mempelajari islam, segala sesuatu diciptakan Allah dalam keadaan indah, karena Allah maha indah sehingga ciptaan juga indah, bahkan Allah mencintai keindahan, dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Rasulullah saw bersabda,

إن الله جميلٌ يحب الجمال..

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan”,…(HR. Muslim)

Perumpamaannya seperti ini, ketika ada wanita yang cantik, hafal quran, kaya, sempurna anggota tubuhnya maka banyak laki-laki rebutan untuk mendapatkannya namun ketika seandainya terjadi kejahatan terhadap diri wanita tersebut, ia dibunuh kemudian anggota tubuhnya dipotong-potong, maka orang-orang yang dulunya memperebutkannya akan lari darinya. Seperti itulah islam, kalau islam itu utuh, seluruh ajarannya pelajari dan dipraktekan secara sempurna, maka akan terlihat indah, namun kalau dipotong-potong, dipilah-pilah, hanya diinginkan bagian yang enak saja dan sesuai selera manusia maka islam akan terlihat cacat.

Maka islam bukan hanya masalah poligami dan nikah saja yang dikaji, tapi jihad, kewajiban mencari nafkah, juga wajib dikaji dalam majelis-majelis ilmu, kenapa demikian? Karena ajaran islam itu bersifat realistis (nyata), karena ketika syariat jihad diturunkan oleh Allah kepada Nabi saw di Madinah, maka seluruh umat islam yang laki-laki wajib menyambut seruan tersebut, sehingga banyak laki-laki yang meninggal dalam setiap medan jihad, sehingga jumlah laki-laki dan wanita tidak sebanding maka banyak jumlah wanita, sehingga ketika jumlah laki-laki dan wanita itu tidak sebanding, maka ada tiga kemungkinan yang terjadi,

a. ada perempuan yang tidak nikah sepanjang masa karena tidak kebagian suami, nah wanita dalam keadaan ini itu bertentangan dengan fitrah, karena Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, maka kalau ini terjadi maka ia telah menabrak firtahnya.

b. Manusia secara kodrat nya membutuhkan pelampiasan nafsu biologis kepada lawan jenisnya, ketika tidak punya istri yang sah sementara dia manusia biasa, maka berpotensi terjadi pelacuran perzinahan.

c. Melampiaskan kebutuhan biologisnya melalui jalan yang sah, terhormat dan berpahala dengan suaminya yang sah, walaupun lewat jalur poligami. Dan inilah satu-satunya alternatif jalur yang dihalalkan oleh Allah swt.
Maka pasti ada hikmah dibalik setiap syariat Allah swt, meski sebagian manusia tidak suka dengannya.
Maka kalau kita ingin damai, maka kita harus masuk islam secara kaffah.

3. Banyak berzikir kepada Allah.

Tidak ada perintah Allah yang dituntut untuk dikerjakan secara berulang-ulang selain zikir, Allah swt berfirman,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكۡرࣰا كَثِیرࣰا)

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,
[Surat Al-Ahzab 41]

Dan orang yang banyak berzikir dipastikan hatinya selalu tenang dan tentram, sebagaimana firman Allah swt,

(ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَتَطۡمَىِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَىِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ)

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan (berzikir) mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.[Surat Ar-Ra’d 28]

Dalam ayat tersebut lagi-lagi orang beriman hati selalu tenang dan damai sedangkan hati orang-orang kafir munafik akan selalu dihantui rasa ragu dan khawatir. Zikir kepada Allah dapat berupa membaca tasbih, tahlil, istighfar bahkan membaca al-Quran juga termasuk zikir, karena nama lain al Qur’an adalah Az-Zikr. Sebagaimana firman Al-Qur’an,

(إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ)

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.
[Surat Al-Hijr 9]

Maka hendaknya rumah-rumah kita jadikan sebagai tempat berzikir, tempat tempat yang kita singgahi dibacakan zikir, agar hati kita senantiasa diberi kedamaian dan ketenangan oleh Allah.

4. Menegakkan keadilan dan menjauhi kedzaliman.

Karena setiap tindak kedzaliman yang terjadi disuatu negeri pasti tidak akan merasa aman penduduknya bahkan terancam. Makanya kenapa Fir‘aun hidupnya merasa tidak aman padahal dia kaya raya dan memiliki kekuasaan? Karena ia senantiasa berbuat zalim kepada Bani Israil, sehingga khawatir Bani Israil menuntut balas atas perbuatannya tersebut, sehingga setiap gerak hidupnya ia merasa tidak tentram. Allah swt berbicara tentang kedzaliman Fir‘aun di dalam Al-Qur’an,

(وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ یَسُومُونَكُمۡ سُوۤءَ ٱلۡعَذَابِ وَیُذَبِّحُونَ أَبۡنَاۤءَكُمۡ وَیَسۡتَحۡیُونَ نِسَاۤءَكُمۡۚ وَفِی ذَ ٰ⁠لِكُم بَلَاۤءࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِیمࣱ)

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir‘aun; mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, dan menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; pada yang demikian itu suatu cobaan yang besar dari Tuhanmu.
[Surat Ibrahim 6]

Sebaliknya keadilan itu membawa kepada ketenangan, maka kita bisa membaca sejarah Khalifah yang kedua yaitu Umar bin Khattab ra yang terkenal dengan keadilan nya, sehingga dengan keadilannya itulah beliau selalu merasa damai tenang, tidak diliputi rasa takut akan ancaman dari rakyatnya. Semasa kekuasaanya, wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.

Dikisahkan bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada Umar bin Khattab.

Menjelang tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.

Sepanjang perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia. Fikirannya sang Kisra merasa rendah diri ketika hendak menemui sang Khalifah.

Kebetulan, saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan kaget, seakan tidak percaya “Ini -demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang aku rasakan kehebatan –Izzah nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”

Umar baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi terciptanya keadilan untuk rakyat.
(Nizham al-Hukumiyah al-Nabawiyyah karya Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani (II/250)

Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan kita berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mudah-mudahan pula bangsa yang kita cintai ini selalu diberikan keamanan oleh Allah swt.

Bahaya Tajassus

Ia merupakan istilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran, suatu kegiatan yang dilarang oleh Al Quran demi mengatur dan menata kehidupan soal masyarakat dan tumah tangga agar mereka bisa hidup tenang, bahagia dan tidak disibukkan oleh hal – hal yang tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan sering kali membahayakan mereka secara individu mau masyarakat.

Tajassus di zaman moderen ini sudah sangat bervariasi, istilahnya juga sudah mengalami perubahan, sarananya dan kemudahannya sudah sangat luar biasa.

Kata Tajassus hanya disebutkan satu kali saja di dalam Al Quran yaitu dalam surat Al Hujarat, makna Tajassus ialah saling memata – matai dan mencari cari kesalahan orang lain, dengan tujuan untuk mencari aib dan keburukan orang, perihal larangan Tajassus disebutkan oleh Allah dalam surat Al Hujarat, ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (12)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujarat: 12).

Menafsirkan ayat ini Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata:
Janganlah kalian mencari – cari aib dan kesalahan orang di antara kalian, dan jangan pula mencari – cari rahasia orang lain, dengan tujuan mencari aib dan kesalahan, cukuplah yang kalian ketahui saja dan tidak perlu mencarinya lebih mendalam.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:
Ayat ini melarang seseorang untuk mencari cari aib dan kesalahan orang lain.

Melakukan Tajassus kepada kaum muslimin dilarang dan haram hukumnya, bahkan Ibnu Hajar Al Haitsami mnganggap Tajassus bagian dari dosa besar, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujarat di atas.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ ‏”‏ ‏.‏

“Wahai orang yang beriman dengan lisannya. Sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kamu semua mengguncing orang-orang Islam dan jangan mencari-cari aurat (keasalahnya). Karena barangsiapa yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan perlihatkan kesalahannya. Dan barangsiapa yang Allah perlihatkan kesalahannya, akan dipermalukan (sampai) di rumahnya.” HR. Abu Dawud, no. 4880 dishohehkan oleh Al-Albany.

وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- أن رسول الله قال :”مَنْ اسْتَمَعَ إلى حديث قَوْمٍ وَهُمْ له كَارِهُونَ أو يَفِرُّونَ منه صُبَّ في أُذُنِهِ الْآنُكُ يوم الْقِيَامَةِ “.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa yang mencuri – curi dengar (nguping) terhadap obrolan orang lain sedangkan mereka tidak sukadengan perbuatan (nguping) itu, maka pada hari kiamat nanti akan ficurahkan timah panas pada telinganya ( karena suka mendengar aib orang). (HR Al Bukhari).

Syaikh Shaleh Al Utsaimin berkata:
Orang yang suka mengintai/ nguping omongan orang sementara orang yang diintai tersebut tidak suka maka pada hari kiamat nanti akan dituangkan timah panas di telanganya karena ia sukan mencari, mengintai dan mendengar aib orang lain. (Syarah Riyadh Shalihin, 6/251-252).

Di atara dampak buruk dari Tajassus ialah
Ia merupakan tanda lemahnya iman, rusaknya akhlaq dan menghabiskan waktu pada sesuatu yang tidak bermanfaat, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata:
Beruntung orang yang menyibukkan diri dengan aibnya sendiri dan tidak sibuk dengan aib dan kesalahan orang lain, celakalah orang yang lupa dengan aibnya sendiri dan sibuk dengan aib orang lain, menyibukkan diri dengan aib diri sendiri adalah tanda manusia suskes di akhirat, menyibukkan diri dengan aib orang adalah tanda ia akan celaka di akhirat.

قال ابن القيم : “طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس، وويل لمن نسي عيبه وتفرغ لعيوب الناس، فالأول علامة السعادة، والثاني علامة الشقاوة”.

Tajassus dapat merusak hubungan kemasyarakatan dan menghancurkan ikatan persaudaraan di antar mereka, membuat dada menjadi sesak dan melahirkan kemungkarang – kemungkaran yang pada akhirnya akan merusak kehidupan (Thariq Al Hijratain, hal :271).

Seperti sabda Nabi shallahu alaihi wasallam :

عن معاوية قال:سمعت رسول الله يقول “إنك إن اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ المسلمين أفْسَدْتَهُم، أو كِدْتَ أن تُفْسِدَهُم”.

Dari Mu’awiyah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya engkau apabila mencari – cari aib dan kesalahan orang pasti kamu akan merusak mereka (masyarakat) atau minimal kami hampir saja merusak mereka (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, Thabrani, Baihaqi dan Abu Ya’la).

Di antara dampak buruk Tajassus disebutkan oleh Syekh Shaleh Al Utsaimin sebagai berikut :

Tajassus itu menyiksa, menyiksa orang yang diintai, perbuatan ini akan menimbulkan kebencian, permusuhan, dan membebani diri dengan sesuatu yang tidak perlu, maka kamu akan menemukan orang yang suka mengintai kesalahan orang sekali kamu lihat dia di sini, besok akan pindah ke sana ke sini, Naudzubillah mindzalik, melirik kesana kemari, sebenarnya ia telah melelahkan dirinya sendiri dalam menyakiti orang lain.

عن أبي هريرة أن رسول الله قال: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ الْحَدِيث ، وَلاَتَحَسَّسُوا وَلآتَجَسَّسُوْا وَلآتَحَاسَدُوا وَلآتَدَابَرُوا وَلآتَبَاغَضُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا (رواه البخارى).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai, janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi dan janganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allah bersaudara.” (HR. Al Bukhari).

يقول الإمام ابن حبان : “الواجب على العاقل مباينة العوام في الأخلاق والأفعال، بلزوم ترك التجسس عَن عيوب الناس، لأن من بحث عن مكنون غيره بُحث عن مكنون نفسه، وربما طمَّ مكنونه على ما بحث من مكنون غيره، وكيف يستحسن مسلم ثَلب مسلم بالشيء الذي هو فيه “.

Imam Ibnu Hibban berkata:
Sudah seharusnya orang yang berakal itu menyelisihi orang awam, dari sisi akhlaq dan perbuatan, tidak mengintai mencari – cari kesalahan orang lain, karena barangsiapa yang membongkar kesalahan orang lain maka suatu hari nanti kesahan dia akan dibongkar orang, atau bisa jadi kebobrokan dia terbuka pula saat membuka kebobrokan orang lain, bagaimana mungkin Seorang muslim mencari aib orang lain sedangkan ia juga memiliki aib yang sama dengan mereka (Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala’, Oleh Ibnu Hibban, hal: 128).

الإمام ابن حبان: ” الواجب على العاقل لزوم السلامة بترك التجسس عن عيوب الناس مع الاشتغال بإصلاح عيوب نفسه، فإن من اشتغل بعيوبه عن عيوب غيره أراح بدنه ولم يتعب قلبه، فكلما اطلع على عيب لنفسه هان عليه ما يرى مثله من أخيه، وأن من اشتغل بعيوب الناس عن عيوب نفسه عمى قلبه وتعب بدنه وتعذر عليه ترك عيوب نفسه، وإن من أعجز الناس من عاب الناس بما فيهم وأعجز منه من عابهم بما فيه…”.

Imam Ibnu Hibban berkata lagi:
Wajib bagi orang yang berakal (waras) mencari jalan selamat dengan tidak mencari – cari kesalahan orang lain dan menyibukkan diri dengan memperbaiki aibnya sendiri, karena barangsiapa yang menyibukkan diri dengan aibnya sendiri maka ia telah memberikan ketenangan untuk dirinya sendiri serta tidak melelahkan hatinya sendiri, kalau ia sibuk urus aibnya sendiri maka ia akan merasa ringan (biasa) kalau dia melihat aib yang sama ada pada orang lain, namun siapa saja yang menyibukkan diri dengan aib orang lain maka mata hatinya akan buta, lelah badannya, dan sangat sulit baginya berlepas dari aib yang ia miliki, manusia yang paling lemah ialah manusia yang merendahkan orang lain dengan satu aib sedangkan ia sendiri tidak mampu berlepas dari aib tersebut. Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala’, Oleh Ibnu Hibban, hal: 125).

قال أبو حاتم : التجسس من شعب النفاق كما أن حسن الظن من شعب الإيمان.

Imam Abu Hatim berkata:
Tajassus adalah bagian dari cabang kemunafikan sedangkan husnu zhan (baik sangka) adalah bagian dari cabang iman. (Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala’, Oleh Ibnu Hibban, hal: 126).

Di antara bentuk Tajassus yang sering terjadi adalah seorang suami atau istri salang memata mati satu sama lain, dengan alasan cemburu, dll.

Syekh Husam Affanah berkata dalam fatwanya:

Diharamkan bagi suami atau istri untuk saling melakukan Tajassus, karena Tajassus dan Su’u Zhan (buruk sangka) adalah penyebab kehancuran rumah tangga, merusak hubungan suami istri, efeknya akan hilang rasa percaya, ketenangan dan ketentraman seperti yang di sebutkan Allah ta’ala dalam surat rum ayat 21.

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

فعن جَابِرٍ رضي الله عنهما قال : (نهى رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلًا يَتَخَوَّنُهُمْ أو يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ) رواه البخاري (5243) ومسلم (715) .

Dari Jabir radhiyallahu anhu berkata:
Rasulullah shallahu alaihi wasallam melarang seseorang untuk sengaja pulang malam hari ke rumahnya dengan tujuan mengungkap penghianatan istrinya atau mencari – cari kesalahannya. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Syaukani berkata: Kalimat pada hadits (يتخونهم) mencari atau berharap menemukan penghianatan dan kesalahan dari istrinya.

Di antara bentuk Tajassus ialah memata – matai Handphone teman – teman, mengintai sosmednya, website yang dikunjungi dan sebagainya untuk mencari kesalahan dan kesilapan saudaranya.

Islam mengatur hubungan sesama manusia dengan baik dan memberikan arahan agar manusia tersebut tidak jatuh dalam kesulitan, pertengkaran dan kehancuran, berbaik sangka, bersikap baik adalah ciri pribadi muslim yang baik akhlaqnya baik pula imannya, mudah – mudahan Allah menjauhkan kita dari sifat Tajassus, suu zhan dan berbagai sifat buruk lainnya.

pemuda Al Quran

Hakikat Pemuda Dalam Al Quran

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Diantara tema kehidupan yang sangat penting bagi kita semua adalah tema tentang al fityah yaitu pemuda, dimana al Qur’an dan sunnah banyak berbicara tentang pemuda dan perannya dalam kehidupan ini, terutama perannya dalam perjuangan di jalan Allah.

Kenapa kita berbicara tentang pemuda? Jawabannya adalah karena pemuda itu adalah kelompok masyarakat yang paling cepat merespon dakwah, mereka adalah agen perubahan, jadi kalau kita ingin merubah kondisi masyarakat, bangsa, dan negara maka yang dijadikan prioritas adalah perubahan terhadap para pemudanya, maka saking pentingnya keberadaan para pemuda sampai-sampai Bung Karno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”
maka para pemuda harus menjadi pribadi terdepan dalam merubah tatanan masyarakat menjadi lebih baik, makanya dalam redaksi ayat tersebut yang disebut adalah kata fityah, artinya adalah para pemuda, bukan menggunakan redaksi yang lain. Allah swt berfirman,

(نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡیَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَـٰهُمۡ هُدࣰى)

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
[Surat Al-Kahfi 13]

Maksudnya adalah Kami akan ceritakan kepadamu dengan rinci wahai Nabi Muhammad kisah mereka yang penting dan menakjubkan itu dengan sebenarnya, tidak ada keraguan maupun kesamaran agar engkau jelaskan kepada orang-orang yang bertanya dan menjadi pelajaran bagimu dan bagi umatmu. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada tuhan mereka dengan keimanan yang benar, tetapi mereka ditindas oleh penguasa pada masanya maka kami kukuhkan iman mereka dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka kepada jalan yang benar.
(Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI)

Didalam tafsir al Baghawi diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang Raja dan Para rakyatnya yang sama-sama menyembah berhala maka ada sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah risih dengan pemandangan tersebut dan berusaha untuk menasehati mereka mencegah perbuatan mereka, namun akibat perbuatan mereka itu mereka malah dimusuhi oleh sang raja dan rakyatnya, dan hal yang membuat takjub, para pemuda yang sebelumnya belum kenal ini disatukan oleh Allah untuk menjadi pribadi yang kuat dalam mempertahankan keimanan mereka, sehingga karena keimanan tersebut Allah selamatkan mereka dari tipu daya dan kejaran sang raja dan para rakyatnya di dalam sebuah gua yang tersembunyi.
Dalam sebuah hadist, Nabi saw bersabda,

الأرواح جنود مجندة ما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف

Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih. (HR Muslim, No 6376)

Dalam syarahnya, Imam An Nawawi menuliskan, “Ruh-ruh itu saling mengenal karena mereka adalah ciptaan Allah yang sejenis dan hakikatnya isi dunia ini hanyalah keimanan atau keingkaran; mereka yang taat pada Allah akan mudah dipertautkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dengan yang durhaka.”
Begitulah Allah satukan hati para pemuda diatas keimanan dan selamatkan mereka dari ancaman padahal mereka tidak mengenal satu dengan yang lain, akhirnya menjadi saling kenal.

Makanya Ashabul Kahfi mereka adalah fityah, para pemuda. Mereka adalah kelompok paling cepat merespon perubahan. Mereka pemuda yang hanya terdiri 7 orang itu dapat dijadikan contoh keteladanan dalam memperjuangkan keimanan sehingga kisahnya diabadikan dalam Al Qur’an.

Nah, pemuda seperti apakah yang diharapkan agar mampu merubah tatanan suatu masyarakat menjadi lebih baik menurut tinjauan Al-Qur’an,

1. Pemuda yang berlandaskan iman dalam semua sisi kehidupan.

Kenapa demikian? Karena iman itu energi yang luar biasa, tiada energi terkuat melebihi energi keimanan kepada Allah saw, misalnya ketika seseorang sedang merasakan dahaga ditengah ibadah puasa di siang yang sangat terik, lalu dihadapannya ada segelas air dingin yang siap diteguk, dan tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka kekuatan apa yang menahan dirinya untuk minum ditengah puasa? Jawabannya adalah kekuatan iman, makanya ketika Allah berbicara tentang perintah puasa dalam surat Al Baqarah 183, bunyi ayatnya adalah ya ayyuhal ladzina amanu, bukan ya ayyuhannas, karena hanya mereka yang mendasari hati mereka dengan keimanan yang mampu melaksanakan ibadah puasa dengan benar, bukan sembarang manusia.
Nah, dalam sebuah hadits ketika Rasulullah saw menjelaskan 7 golongan manusia yang mendapatkan naungan dan pertolongan pada hari kiamat, diantaranya adalah pemuda yang diajak berzina oleh wanita kaya dan cantik, tetapi menolaknya, maka sudah barang tentu energi keimanan yang mampu mencegahnya dari perbuatan keji tersebut. Karena pemuda secara khusus dan manusia secara umum yang tidak memiliki baju keimanan itulah yang yang mudah jatuh dan selalu diposisikan negatif dalam Al Qur’an, misalnya dalam surat al ‘Ashr, manusia disebut rugi oleh Allah,

(وَٱلۡعَصۡرِ ۝ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ)

“Demi masa,sungguh, manusia berada dalam kerugian”
[Surat Al-‘Ashr 1 – 2]
Kemudian manusia diciptakan dalam keadaan lemah, firman Allah swt,

(یُرِیدُ ٱللَّهُ أَن یُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِیفࣰا)

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”
[Surat An-Nisa’ 28]

Amanah menjadi terbengkalai karena kebodohan dan kedzaliman manusia, firman Allah swt,

(إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَیۡنَ أَن یَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومࣰا جَهُولࣰا)

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”
[Surat Al-Ahzab 72]

Padahal manusia itu dijadikan sebagai Khalifah, kenapa kok disandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik sebagaimana dijelaskan diatas? Karena, selama manusia hanya berbekal dengan sifat kemanusiaannya saja tidak diiringi keimanan, maka dia akan lemah walaupun dia seorang tokoh dalam masyarakat nya, ia akan hina walaupun di mata manusia ia terpandang. Namun manusia ketika berbekal dengan keimanan itulah yang direkomendasikan Allah untuk menjadi para pemimpin perubahan dan merekalah yang beruntung sebaliknya mereka yang melepaskan baju keimanan itulah mereka para pecundang dan yang rugi, makanya diawal surat Al Mukminun, Allah mengkaitkan keberuntungan dengan keimanan bukan sifat kemanusiaan, firman Allah,

(قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ)

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
[Surat Al-Mu’minun 1]

Jadi, kemenangan para pemuda ketika memiliki senjata paling ampuh yaitu keimanan. Maka mereka akan meraih kemenangan dalam peperangan akhir zaman, terutama peperangan pemuda-pemuda muslim melawan pasukan Yahudi di Baitul Maqdis.
Nabi saw bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)

Jadi, ini satu dalil bahwa pemuda yang mampu merubah dunia menjadi lebih baik adalah pemuda yang memiliki keimanan, karena keimanan adalah energi yang luar biasa dahsyat nya melebihi energi energi manusia yang lainnya.

2. Pemuda yang arah hidupnya mengikuti petunjuk Allah.

Hidup kita tidak boleh mengikuti selera dan hawa nafsu, Sungguh seluruh ajaran Nabi itu indah dan benar, maka kita tidak boleh memilah milah tema agama tertentu dengan mengesampingkan tema yang lain tujuannya untuk kepentingan hawa nafsu, misalnya maunya bahas tema poligami dan nikah tapi ketika pembahasan itu terkait jihad ia menolaknya, makanya sampai nabi bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

“Tak akan sempurna iman kalian, hingga hawa nafsu kalian tunduk terhadap risalah yang saya sampaikan.” (HR. Thabrani)

Makanya pemuda pemudi yang dibanggakan dan dimuliakan Allah adalah mereka yang seleranya islam secara kaffah, bukan islam yang mengikuti selera mereka, selama mereka mampu mengikuti petunjuk Allah, maka selama itu pula mereka akan diberi kekuatan untuk merubah tatanan dunia lebih baik lagi.

Begitu pentingnya petunjuk Allah, walaupun kita seorang muslim, tapi kita diperintahkan untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah, sebagaimana dalam surat Al Fatihah yang sering kita baca berulang-ulang dalam shalat kita, firman Allah

(ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ)

Tunjukilah kami jalan yang lurus
[Surat Al-Fatihah 6]

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud petunjuk dalam ayat tersebut adalah petunjuk mengikuti al Qur’an, As-Sunnah dan islam. Tak ada ulama yang mengatakan ikuti petunjuk guru atau syaikh saya. Karena guru bisa benar bisa salah, sementara islam pasti benar, karena kalau kita mengikuti petunjuk kebenaran islam itu namanya kita mendapatkan petunjuk hidayah, tetapi kalau kebenaran disandarkan pada guru tertentu maka kita terjebak dalam sifat fanatik. Dan sifat itu sangat berbahaya karena terkadang akan memunculkan sifat ujub atau merasa paling benar.

Jadi setiap kita shalat kita diperintahkan untuk minta petunjuk, padahal kita seorang muslim kenapa demikian? Maka para ulama menjelaskan karena kebutuhan kita terhadap islam bukan hanya sebatas ketika kita awal masuk islam tetapi harus kontiniu sesuai dengan kontiniutas ajaran islam, kita butuh islam tidak hanya di masjid saja, dalam kehidupan rumah tangga, politik, ekonomi, berbangsa dan bernegara bahkan sepanjang hayat kita juga butuh islam, karena kalau kita tidak melandaskan keislaman dalam sendi kehidupan kita maka kita bisa jatuh ke sifat ekstrem kanan maupun kiri, ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya,

(وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَ ٰ⁠طِی مُسۡتَقِیمࣰا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِیلِهِۦۚ ذَ ٰ⁠لِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.
[Surat Al-An’am 153]

Didalam tafsir Ibnu katsir disebutkan bahwa maksud ayat ini telah dijelaskan melalui sabda Nabi saw yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud ra,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -قَالَ: خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذَا سَبِيل اللَّهِ مُسْتَقِيمًا”. وَخَطَّ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذِهِ السُّبُل لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ”. ثُمَّ قَرَأَ: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

Abdullah bin Mas’ud Ra., berkata, “Rasulullah Saw, membuat sebuah garis dengan tangannya (di tanah), kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau saw. membuat garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini jalan-jalan lain, tiada suatu jalan pun darinya melainkan terdapat setan yang menyerukan kepadanya.’ Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: ‘dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan­Nya’.” (QS. Al-An’am: 153)

Makanya pemuda yang mampu merubah tatanan dunia menjadi lebih baik adalah pemuda yang diberi hidayah oleh Allah swt. seorang pemuda kalau tidak mengikuti petunjuk Allah, maka dipastikan ia ikut jalannya syetan. Mudah-mudahan kita senantiasa dijaga Allah dari godaan setan yang terkutuk!

3. Pemuda yang memiliki semangat dan kekuatan.

Kenapa demikian? Karena kalau kita urai lafadz al-fityah yang berarti pemuda secara bahasa berasal dari kata al-futuwwu artinya kekuatan, maka sebagian ulama mengatakan bahwa pemuda itu ukurannya bukan hanya sekedar umur dari tahun sekian ke sekian, tapi pemuda adalah ukuran nya semangat dan kekuatan untuk berjuang membangun tatanan dunia lebih baik, walaupun secara angka ia dikategorikan tua. Kekuatan apa yang harus pemuda miliki? Ini dijelaskan dalam firman Allah swt,

(وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةࣲ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَیۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِینَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ یَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَیۡءࣲ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یُوَفَّ إِلَیۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ)

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizhalimi (dirugikan).
[Surat Al-Anfal 60]

Dalam ayat itu perintah bersiap-siap untuk berjuang di jalan Allah menghadapi orang kafir yang berbuat zalim hukumnya adalah wajib dan persiapan itu terbentuk dalam berbagai macam kekuatan (karena redaksi Quwwah dalam ayat tersebut berbentuk nakirah yang bermakna umum) meliputi kekuatan fisik, aqidah, ekonomi dan sebagainya. Mengenai pentingnya menjadi pribadi mukmin yang kuat, khususnya kuat dalam fisiknya didalam sebuah hadits nabi bersabda,

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم)

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim).

Maka contohlah nabi, beliau adalah sosok yang kuat seolah olah bumi itu dilipat untuknya saking cepatnya nabi berjalan, beliau pernah mengalahkan Rukanah, jagoan gulat yang terkenal di Makkah. Makanya didalam islam segala makanan atau perkara yang buruk bagi kesehatan dilarang oleh Allah, karena berpotensi membahayakan fisik kita, sebagaimana sabda nabi yang sudah kita hafal bersama,

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Maka seorang pemuda harus rajin menjaga kekuatan dan kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, jangan sampai mengkonsumsi rokok atau hal-hal yang buruk lainnya, karena itu membahayakan dirinya dan orang lain. Maka pemuda harus kuat karena diantara makna pemuda itu adalah Al -Quwwah (Kekuatan).

Nah diantara sosok pemuda islam yang namanya harum terukir dalam tinta emas sejarah, karena kekuatannya yang disegani baik itu kekuatan fisik, akal, maupun mentalnya adalah,

a. Usamah bin Zaid (18 tahun). Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
b. Zaid bin Tsabit (13 tahun). Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul saw. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.
e. Muhammad Al Fatih (22 tahun). Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.
f. Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun). Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.
g. Muhammad Al Qasim (17 tahun). Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya. Dan banyak sekali semisal mereka.

4. Mampu lolos melewati berbagai tantangan dan ujian, terlebih lagi, di zaman modern ini tantangan para pemuda islam semakin berat, diantara tantangan mereka adalah,

a. Teknologi

Di dalam islam tidak ada larangan untuk memakai kecanggihan teknologi masa kini, hanya saja hukum pemakaian teknologi tergantung pada illat atau kegunaan nya, kalau digunakan untuk ketaatan bernilai ibadah, sebaliknya kalau digunakan maksiyat bernilai dosa, maka hendaknya kecanggihan teknologi hendaknya diperuntukkan sebagai sarana untuk berjuang di jalan Allah swt.

b. Hiburan.

Ketika orang tua kita zaman dulu kalau mau nonton hiburan, mereka biasanya pergi ke gedung bioskop, pertunjukan wayang kulit dan lain sebagainya. Namun hiburan zaman sekarang sudah ada dalam rumah kita masing-masing. Kita diperangi oleh musuh Allah bukan hanya diluar tetapi dalam rumah kita juga diperangi lewat tayangan hiburan TV yang tidak mendidik, konten-konten video yang tak bermoral
Nah, di dalam Muktamar Yahudi Internasional ketika membahas tentang strategi untuk menghancurkan islam, ada seorang pemimpin dari mereka berkata, “sungguh seonggok biduan wanita dan secangkir minuman keras untuk menghancurkan umat islam lebih dahsyat dari pada bom atom yang diledakkan di Hirosima dan Nagasaki. Dan terutama fitnah wanita memang sangat dahsyat dampaknya. Fitnah dahsyat yang menghancurkan bani Israel setelah fitnah harta adalah fitnah wanita. Maka untuk mengkonter fitnah-fitnah yang berbahaya tersebut hendaknya setiap penghuni rumah harus disuplai dengan nutrisi Al-Qur’an dan kebutuhan agama yang benar, makanya kita dianjurkan ketika memasuki rumah baru untuk membaca Az Zahrawain yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran supaya tidak diganggu oleh setan jin maupun setan manusia.

c. Jauh dari kehidupan perjuangan

Karena para pemuda banyak yang tergoda dengan hiburan dalam rumah, sehingga mereka mulai malas untuk bergerak dan berjuang, mereka kehilangan sosok yang bisa dijadikan keteladanan karena kesibukan mereka dengan dunia mereka, sehingga tidak sempat untuk mempelajari kehidupan salafus shalih yang berisi tentang perjuangan dan dakwah mereka, maunya malas-malasan dan bersantai ria dirumah, tidak siap bahkan tidak mau mengemban dakwah perjuangan. Beruntung lah orang tua yang memiliki anak-anak muda yang shalih dan shalihah, hidupnya dihabiskan di masjid, menghadiri satu kajian ke kajian keislaman yang lain. Sehingga dengan berkumpul dengan kawan kawan yang shalih langkah kaki kita akan diringankan dalam bergerak dan berjuang di jalan Allah, namun sebaliknya apabila perjuangan dilakukan sendiri, maka akan ia cenderung gagal dalam perjuangan karena mudah diganggu oleh setan, sabda Rasulullah saw,

عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .من سرته حسناته وساءته سيئاته فذلكم المؤمن

“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkanlah perpecahan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi)

Kabar Tanmia Berlangganan