Ma'had <strong>Tanmia</strong>

Ma'had Tanmia

Ma'had<strong>Al Itqan</strong>

Ma'hadAl Itqan

Sosial & <strong>Da'wah</strong>

Sosial & Da'wah

Wakaf Tunai Pembangunan Pesantren Tahfizh Al Itqan Lantai 2 Jatirangga – Bekasi

Pada bulan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat Allah ini kami pengurus Yayasan Islam Attanmia mengajak bapak, ibu, saudara, saudari seiman dimana pun berada untuk sama – sama berpartisipasi dalam amal jariyah wakaf tunai pembangunan pesantren kami yang kami beri nama Al Itqan.

⚠ Pesantren ini didirikan untuk mengkader Dai dan Hafizh yang siap untuk menyampaikan ilmu yang telah dimilikinya di berbagai wilayah di tanah air, mengingat kebutuhan Dai, guru Al Quran, imam masjid dan mushalla, masih sangat tinggi maka kami berusaha untuk fokus dalam bidang kaderisasi ini, agar kebutuhan ummat kepada para guru dan imam lambat laun dapat terwujud meskipun pelan – pelan sesuai dengan kemampuan kami.

🥇 Tugas mulia ini tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik tanpa ada bantuan, sokongan dan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat muslim dimanapun mereka berada.

🧰 Dengan demikian kami mengajak bapak, ibu, saudara dan saudariku untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, bersama meraih keberkahan amal jariyah pahalanya mengalir hingga ke akhir masa.

✅ Atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan, Barakallahu fiekum.

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Ketua Yayasan Attanmia
Bukhari Abdul Muid

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
NB.
Mohon bantu share kepada teman, saudara, group, agar semakin banyak yang dapat ikut, raih pula pahala jariyah mengajak orang lain untuk kebaikan, Jazakumullah Khairan.

Sumur Wakaf Tanmia Foundation Untuk Nenek Bahraeni bersama Dua Cucunya Yang Yatim

Dampak bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok akhir Juli 2018 tahun lalu masih saja disusul dg gempa beruntun meskipun dalam skala magnitudo kecil hingga saat ini. Tanmia Foundation sejak awal sudah hadir menyapa dg menyalurkan bantuan apa yang dirasakan warga Lombok yang terkena dampak dengan pelbagai program dari bantuan kemanusiaan darurat hingga bantuan recovery yang masih berlangsung hingga saat ini.

Program wakaf sumur bor Tanmia Foundation sudah berjalan dan dirasakan manfaatnya untuk warga Lombok khususnya di Sambelia Lombok Timur. Pasca Guncangan gempa bermagnitudo 7 beberapa waktu silam banyak mata air sumur yang terganggu sehingga tak sedikit debit air bersih dari sumur-sumur warga atau sumber-sumber air yang dialirkan dari puncak pegunungan dibeberapa wilayah masih belum sepenuhnya normal kembali dan masih membutuhkan waktu normalisasi yang berangsur sebagaimana sediakala.

Pasca gempa sudah hampir 8 bulan dilewati oleh warga namun belum sepenuhnya keadaan yang dihadapi warga sesuai yang diharapkan.
Salah satunya misalnya, pembangunan sumur bor Tanmia Foundation di halaman rumah Ibu Bahraeni Labu Pandan Sambelia yang sampai saat ini belum mendapatkan bantuan rehabilitasi dari pemerintah padahal nyata-nyata keadaanya cukup memprihatinkan.

Rumah panggung sederhana ala kadarnya sudah mulai miring sejak diterpa gempa dan kini hanya bisa tinggal di gubug berugak ( gazebo ) disetiap malamnya. Minimnya kepedulian dan bantuan pun semakin menambah ujian ditengah krisis hidup yang sehari-hari dilaluinya. Ibu Bahraeni hidup bersama anak lelakinya dan juga masih mengasuh kedua cucunya yang yatim karena putra keduanya ( nelayan ) yang meninggal baru-baru ini.

Pasca gempa dan kondisi rumah Ibu Bahraeni yang sampai saat ini masih rawan untuk digunakan dan keadaan sumur yg ala kadarnya kembali menjadi prioritas Tanmia Foundation untuk membantu mengikhtiarkan melalui wakaf sumur bor. Sebelumnya untuk keperluan sehari-hari selama ini mengandalkan air sumur tetangga maupun dari air hujan yang ditampung.

Diharapkan, sumur dapat menjadi sumber air baru bagi keluarga Ibu Bahraeni bersama anak dan cucu-cucunya dan tetangganya.

Sumur bor yang dibuat oleh Tanmia Foundation adalah sumur bor yg kesekian kalinya digali di Kecamatan Sambelia Lombok Timur. Perlu diketahui bahwa daerah kecamatan Sambelia bagian Utara adalah daerah bebatuan dan kering sehingga bila musim kemarau panjang tiba tak sedikit banyak yang mengalami kekeringan dan kekurangan air.

Sampai saat ini, Alhamdulillah pembangunan sumur sudah selesai dan siap digunakan untuk keperluan sehari-hari baik untuk konsumsi maupun kegiatan mengaji anak-anak di rumah Ibu Bahraeni.

“Atas nama keluarga kami mengucapkan terimakasih dan hanya Allah-lah yang dapat membalas semua kebaikan para dermawan yang telah membantu pembangunan sumur bor ini”, ucap Zainal anak sulung Ibu Bahraeni pada tim Tanmia Foundation.

Sumur bor yang telah dibangun adalah ladang pahala yang terus mengalirkan keberkahan disetiap karunia sebagian rezeki yang diniatkan dalam program sumur wakaf tersebut. Mari salurkan amal shaleh kebaikan dalam wakaf sumur. Barakalallahufiekum

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lombok Timur, NTB

Dedikasi Perjuangan Guru Anak-anak Muallaf Kampung Kaliuda Pahunga Lodu

Dedikasi Perjuangan Guru Anak-anak Muallaf Kampung Kaliuda Pahunga Lodu

Jauh panggang dari api. Potret kondisi pendidikan yang bisa diperibahasakan untuk membandingkan gambaran sekolah di perkotaan dan pedalaman. Terlebih potret pendidikan anak-anak muallaf di Sumba sebagai kaum minoritas. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi yang mau diharapkan? Sebanyak puluhan anak-anak muslim yang diantaranya banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan serta sangat memprihatinkan.

Alhamdulillah Tanmia Foundation berhasil mengunjungi salah seorang sosok Guru bagi anak-anak muallaf di MIS Al-Jihad Kaliuda Pahunga Lodu.
Mas’ud namanya, terbilang cukup ikhlas dan sabar. Sudah berjalan delapan tahun mengajar di satu-satunya sekolah Madrasah Islam Swasta ( MIS) Al-Jihad di Desa Kaliuda Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, itu dengan upah ala kadarnya.

Mengajar bukan lagi tentang masalah gaji tapi panggilan hati yang membuatnya terus kuat bertahan. Masa depan anak-anak muallaf di pedalaman berada di tangannya. Itu yang jadi pelecut semangat. Menyertai hari-harinya memberi ilmu kepada puluhan murid Madrasah Ibtidaiyah Al-Jihad Kaliuda Pahunga Lodu.

“Mau bagaimana lagi, kalau saya berhenti gara-gara honor gaji, siapa yang nantinya ajar mereka semua. Sementara semangat mereka untuk bersekolah sangat tinggi,” kata Mas’ud, sepekan lalu.

Pengorbanannya tak hanya sampai di situ. Selain diupah ala kadarnya, ia justru harus rela mengeluarkan uang pribadinya untuk menjemput tim Tanmia yang datang untuk membawa pakaian layak pakai untuk dibagikan murid-muridnya.

Mas’ud yang tinggal bersama istrinya memang luarbiasa, bagaimana tidak menjadikan rasa iba terharu bagi Tim Tanmia karena, bertahun-tahun tinggal dibekas masjid lama yang mulai reot bangunannya itu, sementara pihak sekolah belum mampu menyediakannya sampai saat ini.

Sebaliknya, Mas’ud merasa sangat bersyukur karena anak-anak itu masih mau bersekolah, meski kondisinya sehari-harinya seperti itu.⠀
“Saya juga ikhlas menjalani dan tetap bersyukur karena saya yakin tak ada yang mustahil, impian besar masa depan akan terwujud satu hari kemudian, ikhtiar ini tidak akan sia-sia,” urainya lirih sembari tersenyum. Kalimatnya mengandung harap.
Anak-anak muallaf pribumi Kaliuda memang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota tapi selalu menyajikan semangat kebahagiaan tersendiri dalam senyum dan canda tawa riangnya.

Kedatangan Tim Tanmia Foundation untuk membagikan baju layak pakai menjadi hal yang sangat berharga. Padahal disaat sisi yang lain kita tentu menginginkan baju baru yang layak dan bagus buat anak anak kita. Baju yang bersih dan indah. Dan banyaknya pilihan untuk bergonta-ganti karena saking banyaknya. Apalagi sedikit kotor saja terkadang sudah tak terpakai lagi. Bagi kita, kebahagian terhadap anak kita yang memiliki baju bersih dan bahkan sudah terhitung berlebihan.

Namun tidak begitu bagi anak anak muallaf Pedalaman Kaliuda Sumba Timur. Walaupun baju yang terbatas dan juga beberapa terlihat kumal, mereka tetap ingin mengenakan baju identitas muslim selain itu juga untuk menutup aurat mereka bagi anak-anak perempuan.

Meski belum sepenuhnya maksimal, Mas’ud mengapresiasi Tanmia Foundation yang telah turut memberikan perhatianya untuk berbagi ke sekolahnya itu. Dia berharap, dimasa datang akan ada banyak berdatangan dukungan berbagai pihak pada pihak yayasan bisa membantu meningkatkan kualitas termasuk sarana dan prasarana sekolah agar lebih layak, termasuk nasib kesejahteraan para guru yang kini berjumlah 12 orang dan murid sebanyak 65 siswa. Mari kita mudahkan urusan orang lain, semoga Allah mudahkan urusan kita. Aamin

Ali Azmi
Relawan Tanmia

PROSESI KHATAMAN AL-QURAN 30 JUZ

Alhamdulillah wa sholatu wa salaamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Dengan Izin Allah, Ma’had At tanmia kembali melaksanakan KHATAMAN AL-QUR’AN untuk 3 orang santri yang akan membacakan hafalan terakhirnya dihadapan para Asatidzah dan teman-teman seperjuangannya.

Dengan tiada henti memuji Allah, bahwa
Pada hari Kamis,14 Rojab 1440 H
Waktu : pukul 16.00-17.00 wib.
Ananda :
1. Fazlur Fallad Al Farabi (14 thn )

2. Milzam Al-Wafi (15 thn )

3. Yazid Farhan Na’im (15 thn )

Ke tiganya telah menyelesaikan bifadhlillah hafalan Al Qur’an 30 Juz dalam kurun waktu kurang lebih 2,5 thn.

Hari ini rasa bahagia dan haru disaksikan oleh para Wali ananda santri,mengantarkan mereka ketitik sebuah perjuangan yang cukup berat dan melelahkan, namun Allah balas dengan kebahagiaan yang tiada ternilai dengan Harta dunia apapun.

Ananda Milzam yang dikenal sebagai sosok yang paling dewasa bahkan menjadi ketua ORGANISASI OSMIA di Ma’had at Tanmia dengan kesibukan membantu para asatidzah lainnya, sangat teladan dan tekun dalam mengatur waktu belajar serta menghafalnya. Termasuk Ananda Fazlur dan Yazid adalah anggota dari kepengurusan OSMIA yang nyatanya mampu membuktikan bahwa mereka adalah sosok yang patut diteladani oleh adik-adiknya.

Kami berdo’a semoga kemuliaan akan senantiasa melekat pada diri mereka,kapan dan dimanapun mereka belajar , Semoga Allah berikan kemuliaan kepada para Ayahanda dan Ibunda Ananda atas kesabaran dan jerih payahnya
“ Mahkota dan Jubah kemuliaan semoga kelak Ayahanda dan Ibunda dapatkan di Surga”

Semoga Allah memuliakan para Asatidzah yang telah ikhlas membimbing mereka,
Hanya kepada Allah lah kita memohon segala balasan.

Demikian semoga acara ini dapat memotivasi para Santri serta Ayah dan Bunda sekalian semoga kelak semuanya mendapatkan kemuliaan dari Allah berkat Anak-anak Shalih para penghafal al-Qur’an.

Aamiin yaa Rabbal aalamiin.

Situs Kampung Adat Tarung dan Prai Ijing di Sumba Barat

Puluhan rumah adat yang berderet masih asli terbilang magis, karena kepercayaan mereka menganggap roh leluhur mereka masih ada di sekitar mereka dan menjaga serta mengawasi mereka. Banyak juga dijumpai kubur batu ( megalitikum) yang sudah ratusan tahun berada di depan rumah-rumah di situs kampung adat desa ini. Secara turun temurun mereka menyakini bahwa kubur batu itu adalah leluhur nenek moyang mereka dan setiap yang mati akan di kuburkan satu lubang atau berdekatan berdasarkan keturunan leluhurnya.

Magis dan mengerikan bukan ? Sekali waktu perjalanan kami mendapati upacara adat kematian di kampung ternyata sangatlah sakral dan sarat akan ritual kurban penyembelihan hewan ternak seperti sapi, kerbau, kuda dan tak luput juga babi yang semuanya ditikam sambil diiringi dengan suara genderang musik-musik khas adat Sumba.

Bahkan ternak yang dihabiskan dalam acara kematian mencapai puluhan tergantung dengan adat dan garis keturunanya. Rumah adat Sumba terdiri atas tiga bagian, bagian tingkat pertama untuk hewan peliharaan, bagian tingkat kedua untuk penghuni rumah dan bagian ketiga, atap yang menjulang tinggi untuk menyimpan bahan makanan sekaligus tempat bersemayamnya Marapu yang dipercayai mereka.

Tanah Humba ( Tanah Asli ) masyarakat Sumba pada mulanya dibagi dalam empat golongan yaitu : imam (ratu,) bangsawan (Maramba), orang merdeka (Kabihu), dan hamba (Ata) namun dalam perkembangan golongan imam (ratu) disatukan dengan golongan bangsawan, sehingga hanya ada tiga golongan.
Masing-masing golongan dalam masyarakat Sumba memiliki gelar-gelar tertentu dan gelar tersebutlah yang menunjukan status sosialnya, serta masing-masing golongan memiliki tugas-tugas tersendiri, yakni:

1.   Para bangsawan memakai gelar Umbu atau Tamu Umbu (laki-laki) dan Rambu atau Tamu Rambu (perempuan), mereka mempunyai tugas dan kewajiban untuk melindungi dan memberi kesejahteraan terhadap warga kampungnya.

2.   Orang merdeka memakai gelarKabihu Bokulu (orang merdeka besar) dan Kabihu Kudu (orang merdeka kecil), mereka merupakan rekan kerja para bangsawan, penasihat bangsawan dan juga pemimpin perang.

3.   Hamba memiliki tugas melayani para bangsawan dan juga orang merdeka. Mereka biasa digelar dengan Ata Bokulu (hamba besar) dan Ata Kudu (hamba kecil).

Sumba memang unik dan magis dengan warisan budaya leluhurnya. Islam datang segala keramahan dan konsep rahmatalil’alamin sehingga dengan perlahan berjalan menelusuri lika-liku dakwah di Sumba yang begitu luas jelaslah sentuhan dakwah belum banyak menjangkau disetiap jengkal tanah Marapu ini.

Dakwah membedah pulau Sumba penuh tantangan dan rintangan serta perjuangan lintas generasi. Apalagi di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi yang sudah ada turun temurun. Namun inilah tugas estafet dakwah Islam yang sebenarnya bahwa kelak cahaya dakwah akan bersinar terang benderang di tanah humba. Biidznillah Allahu Musta’an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

Menyapa Da’i Para Muallaf di Kaliuda Pahunga Lodu Sumba Timur

Pahunga Lodu adalah kecamatan paling timur di Sumba Timur. Sesuai namanya Pahunga Lodu menurut arti kata masyarakat Sumba adalah tempat dimana matahari terbit. Pahunga Lodu bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 4 jam dari Waingapu Ibukota Sumba Timur dengan jarak 140 KM.

Hamparan padang savana dan pohon lontar yang tumbuh di sela bebatuan kapur bisa terlihat sepanjang perjalanan.

Masjid Al-Jihad Kaliuda adalah salah satu tujuan Tanmia Foundation untuk bertemu silaturahim dengan Ustadz Syufatan, tokoh masyarakat dan sekaligus da’i para muallaf di Sumba Timur.

Sudah sejak 1978 Ustadz Syufatan merintis dakwah di pedalaman timur Sumba yang masih jalan setapak dan dipenuhi semak belukar.

“Bumi Marapu” adalah sebutan lain bagi Tana Humba atau ‘Sumba’. ‘Marapu’ merupakan merupakan kepercayaan asli yang bersumber pada unsur pemujaan arwah nenek moyang yang dianggap sebagai hal yang sangat penting bagi orang Sumba.

Tantangan medan dakwah yang dihadapi ganda selain geografis yang tak bersahabat juga sistem kepercayaan pada leluhur “Marapu” dan adat istiadat kehidupan asli Sumba yang masih mengenal sistem kasta antara kaum hamba dan kaum bangsawan.

Kiprah dakwah Ustadz Syufatan telah menjadi bagian penting banyaknya para orang asli Sumba menjadi muallaf yang akhirnya masuk islam hingga saat ini. Garis keturunan istri beliau adalah orang bangsawan Kalawai Sumba Timur asli yang memiliki peranan cukup penting. Seiring berjalannya waktu Kaliuda menjadi bagian titik umat islam terbesar di kecamatan Pahunga Lodu Sumba Timur.

Mayoritas Sumba baik dari Sumba Barat Daya hingga Sumba Timur terbilang kuat akan situs etnik leluhur dan kaya adat budayanya.

Secara administrasi statistik penduduk asli asli Sumba mayoritas Kristen Protestan dan Katolik tapi sebagian besar masih menganut kepercayaan Marapu yang sudah turun temurun.

Marapu adalah sistem keyakinan yang berdasarkan keyakinan pada pemujaan arwah-arwah nenek moyang leluhur. Marapu artinya ” yang dipertuan atau dipermuliakan”. Melihat lebih dekat tentang orang asli Sumba yang masih menganut Marapu salah satunya bisa mengunjungi situs kampung adat yang sarat akan budaya dan magisnya ini.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

Hadiah Istimewa Itu Bernama Ramadhan

Dosa, kesalahan, kekhilafan serta kealpaan adalah salah satu sebab yang merusak kebahagiaan manusia, membuat manusia hidup susah, dada terasa sumpek, hidup jauh dari kebahagiaan,
sudah barang tentu bahwasanya dosa yang diperbuat oleh manusia akan menggerus kebahagian yang selama ini mendiami hati manusia, hati yang bersih dan dada yang lapang serta kebahagiaan yang sempurna hanya bisa di dapat dalam ibadah dan ketaqwaan.

Bulan Ramadhan bulan mulia, di dalamnya disyariatkan Puasa dan ibadah sunnah lainnya agar manusia lebih dekat dengan dzat yang telah menciptakan dirinya untuk meraih kebahagiaan dunia sebelum akhirat, ini adalah satu bentuk kasih sayang dari Allah untuk hambaNya, ia memberikan solusi bagi mereka yang khilaf dan tenggelam dalam keburukan agar segera balik arah menuju ridha Allah, serta kasih sayang Allah pula bagi hambaNya yang shaleh untuk memperbanyak kebaikan dan tabungan amal akhiratnya.

Salah satu bentuk keistimewaan pula dari Ramadhan adalah Allah ta’ala mengurangi faktor – faktor yang biasanya selalu menghambat manusia dari ketaatan kepadaNya, yaitu setan, setan dikurung, diikat agar tidak mengganggu manusia yang sedang beribadah, sungguh besar kasih dan sayang Allah kepada manusia di bulan Ramadhan, Amalnya dilipat gandakan, gangguannya dihilangkan, dan diberi bonus Lailatul Qadar yang setara dengan kerja ibadah manusia 83 tahun, tabaarakallahu rabbul alamin.

Diantara keistimewaan Ramadhan sesuai dengan hadits – hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam adalah sebagai berikut:

1/ Keberuntungan bagi orang yang berpuasa

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ثَائِرُ الرَّأْسِ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاةِ ؟ قَالَ : ” الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ إِلا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا ” ، فَقَالَ : أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ ؟ قَالَ : ” صِيَامُ رَمَضَانَ إِلا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا ” ، قَالَ : أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الزَّكَاةِ ؟ قَالَ : فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرَائِعِ الإِسْلامِ ، قَالَ : وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا ، وَلا أَنْتَقِصُ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَفْلَحَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ ” أَوْ ” دَخَلَ الْجَنَّةَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ ” .

Dari Thalhah radhiyallahu anhu ia berkata: Ada seorang Arab badui yang rambutnya acak – acakan datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang shalat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Beliau menjawab, “Shalat lima waktu kecuali jika kamu ingin menambah sholat yang lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku puasa yang diwajibkan Allah kepadaku”. Beliau menjawab, ”Puasa di bulan Ramadhan, kecuali apabila kamu mau melakukan puasa lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku zakat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Lalu lelaki itu berkata, “Demi Tuhan yang memuliakanmu. Aku tidak akan menambah dan mengurangi apa yang Allah wajibkan kepadaku barang sedikit pun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia pasti beruntung jika dia jujur.” atau “Dia pasti masuk surga jika dia jujur.”

2/ Pahala puasa diberikan Allah tanpa batas

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ: الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِلَّا الصَّوْمَ. فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ؛ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. ولَخَلُوف فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، وَالصَّوْمُ جُنَّة. وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سابَّه أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صائم” متفق عليه.

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  ‘Semua amalan manusia dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kalinya sampai tujuh ratus kali lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman,  kecuali puasa maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Saya akan membalasnya. Dia meninggalkan tuntutan syahwatnya, tidak makan dan dia tidak minum demi Aku. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh disisi Allâh, aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih wangi daripada aroma kasturi, Puasa itu adalah perisai. Saat salah diantara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berbuat keji dan jangan menyalakan api permusuhan. Jika dia dihina atau diperangi oleh orang lain, hendaknya dia mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa. (Muttafaqun alaih).

3/ Kekhilafan sehari – hari terhapus dengan puasa

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ ، يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ ” .

Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Fitnah (ujian dan kesalahan) seseorang dari keluarganya, hartanya, anaknya, dirinya dan tetangganya ditebus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar. [Muttafaqun’alaih].

4/ Pintu surga Arrayyan khusus hanya untuk yang berpuasa

Sahal radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ (رواه البخاري، رقم  1763 ،  ومسلم، رقم 1947)

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa di hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorang pun memasukinya selain meraka. Lalu dikatakan, ‘Dimana orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun bangkit, tidak ada seorang pun yang masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan tidak seorang pun masuk lagi.” (HR. Bukhari, 1763. Muslim, 1947)

5/ Bulan dimana setan diikat agar orang yang sedang beribadah bisa lebih nyaman

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ من شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فلم يُفْتَحْ منها بَابٌ ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فلم يُغْلَقْ منها بَابٌ …) الحديث ، رواه الترمذي (682) ، وابن ماجه (1642) ، وحسَّنه الألباني في ” صحيح الجامع ” (759).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (Muttafaqun ‘alaihi).

6/ Malaikat Allah menyambut mereka yang berpuasa dengan mulia

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam juga bersabda :

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960).

7/ Dosa yang telah lalu akan dihapus oleh Allah ta’ala.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

8/ Shalat taraweh juga menghapus kesalahan

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat” (muttafaq alaih).

Semoga Allah memberikan kesehatan dan taufiqNya kepda kita agar kita mampu memanfaatkan bulan Ramadhan untuk beramal shaleh dan mandapatkan ridha Allah ta’ala, aamiin ya rabbal alamin.

Menggeluti Perkerjaan dan Usaha untuk mencari ridha Allah ta’ala

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia sebagai salah satu rahmat (kasih sayang) Allah kepada manusia, kehadirannya membawa risalah ilahy untuk mengatur kemaslahatan hidup manusia agar manusia hidup dalam kebaikan dan jauh dari kesulitan, baik dunia maupu akhirat, sehingga sahabat Abu Daz Al Ghifary berkata:

وقال أبو ذر رضي الله عنه: لقد توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما طائر يقلب جناحيه إلا ذكر لنا منه علماً
Tidak ada satu ilmu pun yang tidak diajarkan oleh Rasulullah kepada kami, bahkan burung yang terbang di langit pun Rasulullah telah mengajarkan ilmu tentangnya. (HR Ahmad).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. (HR Muslim).

Dari hadits ini nampak jelas perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya agar berusaha, berkerja untuk mendapatkan apa saja yang bermanfaat bagi kehidupannya, juga memberi isyarat lampu merah bagi orang – orang yang enggan bekerja, mengandalkan orang lain untuk memenuhi hajat hidup sehari – hari.

Meminta – minta dalam kaca mata syariat sangat lah buruk dan dibenci.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنَّ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِى أَمْرٍ لاَ بُدَّ مِنْهُ.))

“Sesungguhnya meminta-minta adalah cakaran yang seseorang mencakar sendiri wajahnya, kecuali seseorang yang meminta kepada pemimpin atau pada urusan yang harus untuk meminta.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

(( مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.))

“Senantiasa seseorang meminta-minta kepada manusia, sampai nanti di hari kiamat wajahnya tidak memiliki daging sedikit pun.” (HR Al Bukhari).

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ.

Beliau bersabda, “Kalau dia keluar mencari nafkah buat anaknya yang masih kecil maka dia juga di jalan Allah, kalau dia bekerja mencukup kedua orang tua yang sudah renta maka dia juga di jalan Allah, kalau dia bekerja mencukupi kebutuhannya sendiri agar terjaga kehormatan maka dia juga di jalan Allah. Tapi kalau dia bekerja untuk riya` dan membanggakan diri maka dia di jalan setan.” (HR Thabrany).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلا مَنْ قُتِلَ ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، ومن سعى على عياله ففي سبيل الله، وَمَنْ سَعَى مكاثِرًا فَفِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ.

“Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut (Setan)” (HR Al Bazzar).

Kedua hadits ini menjelaskan kepada kita bahwasanya mereka yang berkerja untuk membiayai hidupnya, keluarganya, orang tuanya mereka semua dianggap fi sabilillah (di jalan yang diridhai Allah), maka upaya manusia untuk memenuhi hajat kebutuhan keluarga dan dirinya adalah bagian dari ibadah yang diridhai Allah, dengan catatan ia mencari rizki tersebut dengan cara yang halal serta tidak mencari rizki dengan cara – cara yang dilarang terlebih dimurkai Allah ta’ala.

Kemudian Rasulullah juga menganjurkan agar berusaha maksimal untuk mencari kemaslahatan hidup manusia

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا»

“Bila kiamat hendak terjadi, dan di tangan salah seorang di antara kalian ada tunas kurma, sekiranya bisa menanamnya sebelum kiamat itu (benar-benar) terjadi, hendaknya ia melakukannya.” (HR Ahmad).

Seluruh perkerjaan harus dikerjakan manusia dengan kulitas yang terbaik.

عن أم المؤمنين عَائِشَةَ بنت الصديق رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وعن أبيها أنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah taala menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu perkerjaan dengan sempurna.” (HR Muslim).

Berusaha dan berkerja dengan baik juga sempurna, menunaikan semua akad perjanjian dan perkerjaan dengan baik adalah ciri manusia yang dicintai oleh Allah ta’ala, semoga Allah menjadikan kita manusia yang bertanggungjawab dalam segala hal sehingga dapat meraih ridha Allah ta’ala.

nyinyir

Jangan Suka Nyinyir

1. Salah satu kata yang viral akhir-akhir ini adalah Nyinyir, dalam KBBI Nyiyir artinya mengulang-ulang perintah atau cerewet, kata lain yang sepadan adalah suka berkomentar dengan konotasi yang kita rasakan selama ini adalah negatif, cenderung merendahkan dan tidak menghargai.

2. Cukup menjadi Syahid akan ketidakbolehan nyinyir adalah Kalam Allah yang begitu agung dalam Surat Al-Hujurat ayat 11 sbagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

3. Sesungguhnya kita telah diingatkan dalam perjalanan umat di kolong langit ini tentang sikap nyinyir yang dicontohkan oleh orang-orang munafiq yang hadir bersama Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa ketika ayat Shadaqah turun, para sahabat mengamalkannya, maka ada seseorang yang bersedekah dengan sesuatu yang banyak, orang-orang munafiq nyinyir dengan berkata :
مرائي
(Muroo-ii), artinya :
“Ah, palingan dia Riya“.

Ada juga yang bersedekah satu sha. (4 Mudd, 1 Mud adalah 3/4 Liter), artinya sahabat ini bersedekah dengan sesuatu yang sedikit, maka orang-orang munafiqpun tetap saja Nyinyir dgn berkata :

إن الله لغني عن صدقة هذا

Artinya :
“Sungguh Allah benar-benar kaya dan tidak butuh sedekah satu sha yang sedikit ini“

Maka turunlah Ayat Allah, Surat At-Taubah ayat 79 :

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya :
“Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan untuk mereka adzab yang pedih.

Lihat Tafsir Ibn Katsir, Surat At-Taubah ayat 79

4. Sangat cocoklah kiranya kita juga merenungkan kata-kata bijak dari Imam Syafii dalam Diwannya yang menasehati kita agar melihat segala sesuatu secara objektif dan rela untuk mengapresiasinya walaupun hal itu berada pada kawan kita yang berpakaian berbeda dengan kita.

وعين الرضا عن كل عيب كليلة كما أنّ عين السخط تبدي المساويا

Artinya :
“Dan pandangan mata cinta akan menutupi segala keburukan, sebagaimana pandangan mata benci akan menampakan kebaikan menjadi keburukan”.

5. A negative mind will never give you a positive life.

Jangan Benci Saudaramu

Sudah menjadi lumrah dalam perjalanan bahtera kehidupan manusia saat mengarungi luasnya lautan kehidupan mendapatkan berbagai macam gelombang yang seringkali tidak sesuai harapan para pelayar, namun inilah realitas kehidupan yang harus diterima dengan lapang oleh setiap insan, ada senang, susah, benci, cinta, permusuhan, maaf, dendam, ikhlas, dll.

Hidup bersama masyarakat umum, berinteraksi, bersosialisasi dan bergaul dengan manusia tentu lebih baik daripada menyendiri, menyepi dan menghindari mereka dalam pergaulan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam,

عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ ».

“Yahya bin Watsab meriwayatkan dari seorang alim dari shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim, jika ia bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.” HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 939.

Hadits ini secara gamblang memberikan gambarang kepada kita bahwasanya bergaul dengan masyarakat dan sabar terhadap gangguan yang barangkali akan ditemui saat berinteraksi dengan mereka jauh lebih baik daripada menyendiri, tidak bergaul dengan dengan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam hidup dalam lingkungan masyarakat yang majemuk, dari sisi agama, bangsa, sosial dan budaya, namun dengan cantik beliau telah memperlihatkan akhlaq yang baik lagi mulia serta menjadi contoh bagi manusia hingga akhir masa, hingga Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dicintai oleh Bilal bin Rabah asal Ethiopia, Hudzaifah dari Yaman, Suhaib dari Romawi, Salman dari Persia, dll.

Sudah menjadi rahasia internal manusia, bahwasanya manusia tidak dalam satu akhlaq, budi pekerti, sopan santun, tabiat, adat istiadat serta pemahaman agama, namun di sinilah barangkali ujian manusia dalam pergaulan bermula, akibat sikap dan tingkah laku orang lain yang tidak sesuai dengan yang ia harapkan terjadi pada dirinya maka terjadilah pertengkaran, keributan, dll.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah pun memberikan arahan bila terjadi hal – hal seperti itu dalam kehidupan manusia dalam sabdanya:

Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia membenci  sebuah sikap (akhlak) istrinya maka ia akan ridha dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain” (HR Muslim).

Meskipun hadits ini berbicara tentang akhlaq dalam rumah tangga, namun cakupan dan hikmahnya tentu multi dimensi, tidak hanya dalam masalah keluarga namun berlaku dalam hubungan sesama manusia, hadits ini seperti rumus dalam bergaul, bila kita tidak menyukai seseorang karena satu sikap dan tingkah lakunya pasti kita akan menyukai sifat dan akhlaqnya yang lain.

Menjauhi, membelakangi, tidak bertegur sapa bukanlah pilihan sikap yang baik, tentu sangat jauh dari tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, barangkali sikap demikian terjadi akibat salah faham, buruk sangka, dan lainnya, namun bermusuhan tentu dilarang Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ.

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. (HR Muslim).

Bersikap lapang dada, memberi maaf, membersihkan hati adalah tuntunan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dalam pergaulan, karena sikap seperti ini memiliki keagungan yang tinggi, Radulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ:صلى الله عليه وسلم أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: ” كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ “، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ، قَالَ: ” هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ.

Dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhu ia berkata, suatu ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Siapakah manusia yang paling mulia?” beliau menjawab, “Setiap Makhmumul Qalbi dan orang yang lisannya jujur,” para sahabat berkata, “Orang yang jujur lisannya kami telah mengerti, namun siapakah Makhmumul Qalbi itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Dia adalah seorang yang yang memiliki  hati yang bertakwa yang suci hatinya dari dendam, permusuhan, dan kedengkian. (HR Ibnu Majah).

Dan ternyata bagi manusia yang memiliki sifat lapang dada, pemaaf, tidak dendam serta menyimpan amarah adalah sifat para penghuni surga, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.
Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’
Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’
Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.
Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.” (Az-Zuhdu, Ibnul Mubarak, hal. 220).

Mari bersihkan hati dari penyakit dan kotorannya, lapangkan dada, maafkan dan berbaik sangka terhadap sesama saudara seiman kita, mudah – mudahan Allah memberikan kasih sayangNya dan memasukkan kita dalam surgaNya.

Keindahannya Tak pernah Dilihat Oleh Mata

Siang hari waktu dhuha kami berniat silaturahim ke rumah teman – teman masa nyantri dahulu, suasana sejuk dan menentramkan hati saat melihat tempat mereka bermukim.

Tempat tinggal terlihat sangat sederhana, hidup dilalui sekedarnya saja, akhirat tujuan utama dan cita – cita tertinggi sebagai destinasi kebahagiaan abadi, mengunjungi rumah orang shaleh membuat hati semakin bersyukur dan yakin akan kebahqgiaan abadi serta tidak tertipu dengan kebagiaan sementara.

Sementara itu, di seberang tempat itu berdiri rumah megah, mewah dan memukau setiap orang yang mencuri pandang ke arahnya bak pemuda belia yang masih nampak sempurna di berbagai aspek fisiknya.

Pemandangan rumah megah dengan berbagai keindahan desain interior dan exteriornya bukanlah hal baru, barangkali sebagian besar di antara kita sudah penah melihatnya atau bahkan memilikinya, hiasan bagian dalam dibuat sedemikian rupa, berikut dengan lampu penerang yang cantik memukau, bagian luarnya juga tak kalah memikat, selain tanaman bunga yang harum semerbak lagi indah juga air mancur dari balik celak – celah batu pula tidak ketinggalan, barangkali secara sepontan muncul dari benak kita sebuah pertnyaan penasaran “seperti inikah istana di Surga”?

Musim liburan akhir tahun seperti ini sebagian besar masyarakat ingin mengahabiskan waktu dengan keluarga, anak – anak, sahabat dan handai taulan, pilihan menuju ke tempat wisata nampaknya sudah disepakati secara aklamasi tanpa ada sedikit pun khilaf (beda pendapat), tujuannya untuk refreshing, mencari suasana baru, udara segar serta pemandangan yang indah, Bila dataran tinggi tentu yang tawarkan adalah Mountain View, bila sungai – sungai bening tentu River View katanya….

Sambil berbincang hangat dengan karib kerabat menikamati kopi kesayangan, makanan khas dan ber – selfi ria hati bertanya apakah indahnya surga seperti ini?!

Untuk menjawab pertanyaan ini
Rasulullah shallahualaihi wasallam bersabda, Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allah ta’ala berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia’.” (Hadits Qudsi ruwayat Al Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah shallahualaihi wasallam menjelaskan bahwa surga yang disiapkan oleh Allah tidak bisa dibayangkan keindahannya dan hati dan akal manusia tidak mampu untuk melakukan imaginasi tentang indah dan menawannya surga tersebut.

Rasulullah bersabda:

وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوتِ

“Adapun hidangan pertama yang dimakan ahlul jannah adalah bagian terlezat dari hati ikan.”

Seorang Yahudi datang menghadap Rasulullah dan mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak mungkin ada yang bisa menjawabnya selain seorang nabi. Ia berkata:

فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: زِيَادَةُ كَبِدِ النُّونِ. قَالَ: فَمَا غَذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا؟ قَالَ: يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا. قَالَ: فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ: مِنْ عَيْنٍ فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا

“Suguhan apakah yang diberikan kepada penduduk jannah ketika memasukinya?” Beliau menjawab, “Bagian terlezat dari hati ikan.” Si Yahudi bertanya lagi, “Hidangan apakah yang diberikan setelahnya?” Rasul menjawab, “Disembelihkan untuk mereka sapi jannah yang mencari makan di tepi-tepi jannah.” Si Yahudi berkata, “Apakah minuman mereka?” “Dari mata air bernama Salsabil.” (HR. Muslim dari Tsauban maula Rasulullah).

Selamat menikmati liburan, hindari ujub, takabbur dan tabdzir, semoga Allah memberikan kesehatan, keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, menikmati surga yang sebenarnya, di dalam surga yang sesungguhnya ada Hidup tanpa Mati, Muda tanpa Tua, Sehat tanpa Sakit dan Bahagia tanpa sedih selamanya.

Sempurnakan Shalat Anda

Hudzaifah ibnu Alyaman adalah sahabat spesial, ia diberi amanah untuk menyimpan rahasia – rahasia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, banyak berita rahasia hanya ia yang tau, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hanya menceritakan kepada beliau dan tidak memberi tahu sahabat – sahabat yang lain.

Umar bin Khathab pernah meminta para sahabat untuk berandai – andai, di antara para sahabat ada yang berkata “seandainya rumah ini penuh dengan emas, maka aku akan sedekahkan semuanya di jalan Allah“ ada juga yang berkata “sendainya rumah ini berisi penuh mutiara maka semua akan aku belanjakan di jalan Allah”, Umar bin Khatab berkata “namun aku berandai bila satu rumah ini penuh dengan pemuda seperti Abdullah bin Rawahah, Muaz bin Jabal dan Khuzaifah ibnu Alyaman untuk aku beri tugas guna kemaslahatan kaum muslimin.

Umar bin Khathab melihat sosok Hudzaifah seorang yang sangat penting sehingga Rasulullah menjadikan beliau sebagai orang menyimpan rahasia – rahasia beliau tentang ummat ini, sehingga Umar bin Khathab bertanya kepada Hudzaifah “apakah namaku disebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bagian dari orang munafiq”?.

Hudzaifah menjawab tidak, namun setelah engkau aku tidak dapat menjamin seorang pun dari mereka.

Dalam satu kesempatan Hudzaifah melihat orang yang sedang shalat namun tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia berkata kepada orang itu “Shalat engkau tidak sah, bila engkau mati maka engkau mati bukan dalam agama fitrah (islam) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (Fathul baari, bab shalat).

Melihat orang yang gerakan shalatnya tidak sempurna mendapat perhatian yang besar dari sahabat Hudzaifah berarti masalah shalat yang ruku’ dan sujudnya tidak sempurna adalah masalah besar, bisa jadi orang yang shalat dengat cara seperti itu tidak mendapatkan pahalanya.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الرجل ليصلي ستين سنة وما تقبل الله له صلاة، لعله يتم الركوع ولا يتم السجود، ويتم السجود ولا يتم الركوع. فقد ذكره المنذري في الترغيب والترهيب، وقال: رواه أبو القاسم الأصبهاني، وينظر سنده ـ وحسنه الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda: Sesungguhnya ada orang yang melaksanakan shalat selama 60 tahun namun Allah tidak menerima shalatnya, bisa jadi ruku’nya sempurna namun ia tidak menyempurnakan sujud, atau bisa jadi sujudnya sempurna namun ruku’nya tidak sempurna. (Dinilai hasan oleh Albany).

وعن أبي عبد الله الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا لا يتم ركوعه, وينقر في سجوده وهو يصلي فقال : ” لو مات هذا على حاله هذه مات على غير ملة محمد !

Dari Abu Abdillah Al Asy’ari ra ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujud seperti ayam mematuk makanan, lalu beliau bersabda: seandainya ia mati dalam kondisi seperti ini maka ia mati bukan dalam agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam. (Dinilai shahih oleh Albani).

يقول عمر بن الخطاب رضي الله عنه
إن الرجل ليشيب في الاسلام ولم يكمل لله ركعة واحدة , قيل : كيف يا أمير المؤمنين قال : لا يتم ركوعها ولا سجودها

Umar bin Khathab berkata: ada seseorang yang rambutnya sampai beruban di dalam islam, namun shalatnya satu rakaat pun tidak sempurna, para sahabat bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Amirul mukminin? Umar berkata : ia tidak sempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Melihat keterangan dari riwayat – riwayat yang telah kami kemukakan menunjukkan bahwasanya shalat dengan baik adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa dielakkan, karena itu menentukan kualitas shalat tersebut, maka sudah semestinya kita belajar gerakan dhalat dengan baik seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, seperti sabda beliau:

“Shalatlah seperti kalian melihat aku shalat”.

Mari kita sampaikan hadits – hadits ini dan ajarkan pada anak – keturunan kita shalat yang baik dan benar, dengan kualitas yang baik seperti yang diajarkan oleh beliau, bagi yang sudah baik mari kita tingkatkan, bagi yang belum mari kita sempurnakan, dimulai dengan belajar shalat lalu diamalkan dengan baik pula.

Kabar Tanmia Berlangganan