Ma'had <strong>Tanmia</strong>

Ma'had Tanmia

Ma'had<strong>Al Itqan</strong>

Ma'hadAl Itqan

Sosial & <strong>Da'wah</strong>

Sosial & Da'wah

Jumat Berkah, Indahnya Berbagi Sedekah di Masjid Ummu Kultsum

Masjid Ummu Kultsum Kebitan Manisrenggo Sragen tidak puas berhenti begitu saja dengan rutinitas yang ada. Kini kegiatan berbagi pun digalakkan sebagai bentuk pelayanan kepada para jamaah usai shalat Jum’at. Salah satunya melalui program Jum’at berkah dengan berbagi nasi / makanan yang selalu siap dibagikan kepada jama’ah usai shalat Jum’at berjamaah.

Alasan pihak Takmir melakukan kegiatan ini pada hari Jumat ujar Habib karena bagian dari cara pelayanan memakmurkan jama’ah masjid dan waktu sedekah yang paling utama yakni di hari Jumat. “Kami memilih hari Jumat untuk membagikan sedekah ini karena bertepatan dengan hari raya jamaah sholat Jum’at,” ujar Habib akrab dipanggilnya.

Memang setiap hari Jumat, pihak takmir menyiapkan menu lengkap dengan lauknya yang disesuaikan sesuai kemampuan yang ada sekaligus dengan minumnya secara cuma-cuma. Menu masakanya pun beragam salah satunya ialah menu soto spesial.

‘’Awalnya, hanya sekitar puluhan porsi saja namun sampai saat ini mencapai 150-an porsi dengan biaya dari pihak masjid dan sumbangan dari warga sekitar sini. Tapi setelah banyak yang tahu, semakin banyak yang menyumbang bahkan dari luar dusun Kebitan,” jelas Mardi salah satu pengurus Masjid.

Gerakan berbagi ini sangat menginspirasi dan menambah semangat para jama’ah untuk lebih memakmurkan masjid sehingga beriringan waktu membuat jumlah peserta shalat rawatib dan shalat Jumat semakin meningkat. Di masjid lainya pun ikut tergerak untuk mengikuti program masjid Ummu Kultsum sedemikan rupa.

‘’Ternyata yang berpartisipasi ingin berbagi untuk ikut bersedekah pun banyak, buktinya porsi makanan yang disediakan makin hari bertambah jumlahnya juga tak sedikit orang yang menitipkan bahan makanan kepada kami selalu ada saja tanpa disangka-sangka. Semoga saja, kegiatan ini bisa istiqomah dan dirasakan manfaatnya bagi kemaslahatan ummat khususnya para jama’ah,” harap Salim menambahkan selaku pengurus takmir masjid setempat.

“Berbagi ini sudah berjalan beberapa bulan setelah adaptasi kebiasaan baru usai pandemi, dan akan terus kami lakukan,” ujar pria yang juga tenaga pendidik di TPQ Raudhatul Jannah itu.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Ketika Allah Menegur Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Al Qur’an Al Karim adalah Kitabut Tarbiyah (Kitab Pendidikan) yaitu mendidik umat islam agar menjadi Khaira Ummah (ummat yang terbaik) sehingga layak ditampilkan untuk seluruh umat manusia, makanya Allah ta’ala berfirman,

(كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ )

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah
[Surat Ali ‘Imran 110]

Begitupula Al-Quran mendidik umat islam agar menjadi umat yang adil, bersikap pertengahan, sehingga mampu memimpin dunia, dipercaya oleh dunia untuk menjadi saksi kebenaran, Allah berfirman ta’ala berfirman,

(وَكَذَ ٰ⁠لِكَ جَعَلۡنَـٰكُمۡ أُمَّةࣰ وَسَطࣰا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَاۤءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَیَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَیۡكُمۡ شَهِیدࣰاۗ)

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
[Surat Al-Baqarah 143]

Umat islam dididik oleh Al Qur’an agar umat ini menjadi pemimpin-pemimpin yang diridhai oleh Allah, yang mengayomi masyarakatnya, memproduksi kebaikan-kebaikan, pemimpin dengan seluruh kesibukannya, tapi tetap mendirikan shalat dan menunaikan zakat, pemimpin walaupun diberikan kekuasaan yang luas tapi mereka tidak memperbudak manusia, justru mengajak mereka untuk menjadi budaknya Allah ta’ala, firman Allah Ta’ala,

(وَجَعَلۡنَـٰهُمۡ أَىِٕمَّةࣰ یَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَیۡرَ ٰ⁠تِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِیتَاۤءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُوا۟ لَنَا عَـٰبِدِینَ)

Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.
[Surat Al-Anbiya’ 73]

Nah, Bagaimana kita menjadi umat islam yang terbaik, bersifat adil dan menjadi pemimpin dunia, yang notabenya faktanya sekarang menjadi lemah, tertindas bahkan terjajah dalam negerinya sendiri? Bagaimana cara Al Qur’an tetap menjadikan kita menjadi umat terbaik?

Diantara caranya adalah dengan metode Al- ‘Itaab (teguran). Al-Quran menegur pemimpin umat islam terbaik yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ini cara Al Qur’an menjadikan kita pribadi-pribadi yang berkualitas, ketika berumah tangga menjadi rumah tangga yang terbaik, ketika kita bermasyarakat memiliki masyarakat terbaik. Nah seperti apa saja teguran Allah kepada Nabi kita shallahualaihiwasallam?
Mari kita lihat teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, hal ini penting untuk kita semua, supaya kita mudah untuk menerima nasehat, manusia yang maksum dan sempurna itu saja masih ditegur oleh Allah, apalagi kita sebagai manusia biasa. Dan teguran itu bukan berarti menurunkan derajat, bahkan mengangkat derajat beliau disisi Allah ta’ala.

a. Nabi pernah ditegur oleh Allah dalam kehidupan rumah tangganya. Rumah tangga Nabi adalah rumah tangga yang terbaik dan ideal, maka suatu saat Nabi akan mengambil sikap yang kurang ideal maka segera turun ayat Al-Quran kepada beliau, meluruskan agar Nabi tetap menjadi teladan terbaik termasuk dalam rumah tangganya. Sebagaimana kisah beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Nah Kenapa nabi ditegur? Karena beliau teladan. Kalau tidak ditegur kehidupan berumah tangga kita akan mengalami permasalahan karena kita kehilangan solusi dari orang yang dijadikan sebagai teladan yaitu Rasulullah shallallahualaihi wasallam. Maka ketika Nabi berada dirumah istri beliau yang bernama Zainab binti Jahsy radhiallaahu anha, beliau disuguhi madu, dan beliau memang senang madu, begitu nabi menikmati madu tersebut ternyata berita ini sampai kepada istri yang lain, yaitu Aisyah dan Hafsah Radhiyallahu anhuma, lalu Hafsah dengan perasaan marah mengatakan wahai Rasulullah ini bau apa? Apakah ini bau maghafir (minuman yang aromanya tidak sedap dan rasanya asam) padahal yang diminum oleh beliau adalah madu. Maka Nabi shallahualaihiwasallam, beliau sedikitpun tidak ingin menyakiti istri beliau, sehingga dalam rangka menyenangkan istrinya beliau bersumpah rela meninggalkan minuman madu yang penting istrinya senang, dalam suasana tersebut, Allah menurunkan ayat yang berisi teguran, Firman Allah Ta’ala,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّبِیُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ تَبۡتَغِی مَرۡضَاتَ أَزۡوَ ٰ⁠جِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ)

Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(At-Tahrim: 1)
(Tafsir Ibnu Katsir)

Nabi shallallahu alaihi wasallam saja seorang kepala rumah tangga terbaik saja masih ditegur oleh Allah, apalagi kita yang tentunya kehidupan rumah tangga kita banyak sekali kekurangan, Nah, ini cara Allah mendidik nabi dan umatnya agar menjadi manusia terbaik dalam segala hal. Oleh karena itu ketika rumah tangga kita dirundung masalah, agar menjadi sakinah mawaddah warrahmah maka solusi nya adalah siap menerima teguran Allah, walaupun suami maupun istri adalah pribadi terbaik.

b. Begitu pula istri-istri nabi juga mendapatkan teguran dari Allah bahkan tegurannya lebih keras dari pada Nabi shallahualaihiwasallam, kita bisa lihat dalam surat At-Tahrim ayat 5, Allah berfirman,

(عَسَىٰ رَبُّهُۥۤ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن یُبۡدِلَهُۥۤ أَزۡوَ ٰ⁠جًا خَیۡرࣰا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَـٰتࣲ مُّؤۡمِنَـٰتࣲ قَـٰنِتَـٰتࣲ تَـٰۤىِٕبَـٰتٍ عَـٰبِدَ ٰ⁠تࣲ سَـٰۤىِٕحَـٰتࣲ ثَیِّبَـٰتࣲ وَأَبۡكَارࣰا)

Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
[Surat At-Tahrim 5]

Ayat ini menyebutkan bahwa teguran Allah kepada istri-istri Nabi sampai tingkat perceraian? Ulama tafsir mengatakan karena kemelut internal rumah tangga yang ada dalam keluarga pemimpin, dalam hal ini nabi itu lebih berbahaya dari pada tantangan ancaman dari luar. Dalilnya adalah rumah tangga Nabi goncang gara-gara madu, maka Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bertanya kepada Umar, karena Umar adalah Ayahnya Hafsah,

فقال قد حدث اليوم أمر عظيم قلت ما هو أجاء غسان قال لا بل أعظم من ذلك وأهول طلق النبي صلى الله عليه وسلم نساءه

“Umar berkata “Telah terjadi masalah besar, Aku bertanya “Wahai Umar! Apa itu? apa datang serangan dari Ghassan? Ghassan adalah Kabilah Arab yang ada di Syam tetapi berafiliasi dengan Romawi. Umar menjawab, tidak bahkan lebih bahaya dari pada serangan Ghassan dan lebih mengerikan, yaitu Rasulullah shallallahualaihi wasallam telah menceraikan istrinya”
(Fathul Bari, Kitab Nikah, Bab Nasehat Ayah kepada Putrinya di saat menikah, hadits no. 4895)

Sehingga kemelut masalah intern seorang pemimpin, Dai, tokoh masyarakat itu lebih bahaya dari pada serangan dari luar, makanya Belanda yang hanya merupakan kekuatan yang kecil mampu menjajah Indonesia selama 3,5 abad karena banyak pribumi (masyarakat intern) yang menjadi pengkhianat dan antek penjajah Belanda, mereka memata-matai para Kiai, Tokoh Perjuangan dan para pahlawan sehingga banyak dari mereka yang gugur akibat perbuatan para pangkhianat bangsa ini, sejatinya musuh dalam selimut inilah yang lebih berbahaya dari pada musuh dari luar.
Nah, apa hikmah kenapa nabi dan istrinya masih ditegur oleh Allah ta’ala.

Tidak ada manusia di dunia ini yang lebih militan dan bersabar dalam jalan dakwah ini melebihi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tapi kenapa juga masih ditegur oleh Allah? Supaya beliau tidak Ghurur, merasa paling hebat dalam dakwah, supaya dakwah beliau tetap konsisten dan tajarrud (totalitas) untuk Allah, pertimbangan sikapnya adalah berdasarkan wahyu samawi, bukan hawa nafsu, selera maupun kecocokan.

c. Begitupula, suatu saat Nabi berdakwah di Makkah mendakwahi para elite Quraisy dan suatu saat ditengah kesibukan beliau mendakwahi mereka datanglah sahabat beliau Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan berkata Ya Rasulullah! Ajarilah aku dari sebagian yang Allah telah ajarkan kepadamu! Nabipun diam dan tidak memperhatikan permintaannya, lalu permintaannya pun diulang lagi namun juga tidak ditanggapi oleh beliau sehingga hal tersebut membuat nabi tidak senang sehingga sampai beliau bermuka masam dan berpaling, sehingga atas perbuatannya itu beliau ditegur oleh Allah dalam surat Abasa,

(عَبَسَ وَتَوَلَّىٰۤ ۝ أَن جَاۤءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ ۝ وَمَا یُدۡرِیكَ لَعَلَّهُۥ یَزَّكَّىٰۤ ۝ أَوۡ یَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰۤ)

Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?
[Surat ‘Abasa 1 – 4]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Sehingga para ulama mengatakan bagaimanapun cerdasnya manusia dan tingginya kedudukan ia dimata mereka, tetap mereka harus tunduk terhadap timbangan wahyu, maka logika manusia manapun akan membenarkan tindakan nabi berdakwah terhadap elite Quraisy, dengan mengesampingkan Ibnu Ummi Maktum karena memang beliau butuh dukungan dakwah dari para Pembesar dan logikanya kalau Pembesar nya masuk islam diharapkan anak buahnya juga masuk islam. Secara logika memang sangat menguntungkan, tapi ingat wahyu Allah diatas logika manusia. Makanya dalam perkembangannya muncullah sebuah kaidah,

لا اجتهاد في مورد النص

“Tidak boleh ada Ijtihad sementara ada Nash dalam Al-Qur’an maupun Sunnah”
Secerdas apapun manusia dalam berijtihad dan menganalisa masalah tidak boleh sampai hasilnya bertentangan dengan Wahyu.

d. Begitupula suatu saat ketika perang orang-orang munafik meminta izin kepada nabi untuk tidak turut serta berperang bersama beliau, maka Nabi pun memberikan izin kepada mereka dengan beberapa alasan yang dibuat-buat, diantaranya adalah faktor berat meninggalkan keluarga. Nah ketika beliau mengabulkan izin mereka itu, akhirnya beliau ditegur oleh Allah ta’ala dalam Al-Quran,

(عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمۡ حَتَّىٰ یَتَبَیَّنَ لَكَ ٱلَّذِینَ صَدَقُوا۟ وَتَعۡلَمَ ٱلۡكَـٰذِبِینَ ۝ لَا یَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِینَ یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ أَن یُجَـٰهِدُوا۟ بِأَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۗ وَٱللَّهُ عَلِیمُۢ بِٱلۡمُتَّقِینَ ۝ إِنَّمَا یَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ فَهُمۡ فِی رَیۡبِهِمۡ یَتَرَدَّدُونَ)

Semoga Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.
[Surat At-Taubah 43 – 45]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Nah diantara Fiqih dalam memberikan teguran, kalau kita menjadi orang tua, suami guru, direktur ketika kita menegur orang yang menjadi tanggungjawab kita, maka diantara adab menegurnya adalah harus dengan cara yang halus diantaranya dengan mendahului teguran dengan ucapan “semoga Allah memaafkanmu!”

Oleh karena itu siapapun itu ketika ia berstatus manusia pasti pernah melakukan kesalahan, karena adanya sisi kemanusiaannya itulah terkadang dia tidak luput dari kesalahan dan berhak mendapatkan teguran dan nasehat. Secerdas-cerdasnya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii dengan kehebatan logika dan kedalaman ilmunya, beliau tetap tawadhu’ sampai pernah mengatakan,

قولي صواب يحتمل الخطأ وقول غيري خطأ يحتمل الصواب

“Pendapatku benar tapi mungkin ada salahnya, pendapat orang lain salah tapi mungkin ada benarnya”.

e. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditegur oleh Allah karena ia lebih memilih tebusan dari 70 pembesar orang-orang musyrik yang ditangkap di perang Badar seperti yang diusulkan sebagian besar sahabat, termasuk Abu Bakar as-Shiddiq dan tidak mengeksekusi mereka seperti yang diusulkan Umar radhiyallahu anhu. Maka seketika itu turun ayat yang menegur beliau,

(مَا كَانَ لِنَبِیٍّ أَن یَكُونَ لَهُۥۤ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ یُثۡخِنَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ تُرِیدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنۡیَا وَٱللَّهُ یُرِیدُ ٱلۡـَٔاخِرَةَۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمࣱ)

Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
[Surat Al-Anfal 67]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memutuskan hal tersebut dengan beberapa pertimbangan, diantaranya,
1. Masyarakat Islam di Madinah kala itu butuh kekuatan ekonomi untuk menguatkan stabilitas keamanan dan dan kekuatan negara mereka dari ancaman musuh, sehingga beliau lebih memilih tebusan dari pada mengeksekusi mereka.
2. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih senantiasa berharap keislaman mereka dan keislaman keturunan mereka. Oleh karena itu beliau lebih memilih tidak mengeksekusi mereka.

Sementara itu, Allah ta’ala menghendaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memilih untuk mengeksekusi mati mereka. Yang demikian itu karena dengan terbunuhnya pembesar-pembesar musyrikin, kekuatan Islam akan ditakuti, kalimat Allah ta’ala tinggi berkibar tidak terkalahkan, dan mencegah musuh Islam berpikir yang kedua kalinya untuk melakukan invasi militer. Olehnya itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditegur Al-Qur’an karena ijtihad beliau menyalahi apa yang sepatutnya di ambil dalam kasus tersebut.

f. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditegur oleh Allah ta’ala karena menyembunyikan berita Allah ta’ala yang memberitakan bahwa beliau akan menikahi Zainab setelah ditalak suaminya, Zaid bin Haritsah yaitu anak angkatnya sendiri. Yang demikian itu takut dicela musuhnya yang mengharamkan orang tua angkat menikahi istri anak angkat yang telah ditalaknya sesuai dengan adat jahiliah yang berlaku pada saat itu. Namun, ijtihad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini langsung ditegur oleh Allah dalam Al-Qur’an, Firman Allah ta’ala,

(وَإِذۡ تَقُولُ لِلَّذِیۤ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ وَأَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِ أَمۡسِكۡ عَلَیۡكَ زَوۡجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخۡفِی فِی نَفۡسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبۡدِیهِ وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَیۡدࣱ مِّنۡهَا وَطَرࣰا زَوَّجۡنَـٰكَهَا لِكَیۡ لَا یَكُونَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ حَرَجࣱ فِیۤ أَزۡوَ ٰ⁠جِ أَدۡعِیَاۤىِٕهِمۡ إِذَا قَضَوۡا۟ مِنۡهُنَّ وَطَرࣰاۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ مَفۡعُولࣰا ۝ مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ مِنۡ حَرَجࣲ فِیمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِی ٱلَّذِینَ خَلَوۡا۟ مِن قَبۡلُۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قَدَرࣰا مَّقۡدُورًا)

Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.
Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.
[Surat Al-Ahzab 37 – 38]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam hal ini Rasululllah shallahualaihiwasallam seharusnya memberitahu Zaid apa yang telah diwahyukan Allah kepada beliau, tanpa menunda pemberitaan tersebut hanya karena didasari pertimbangan di atas.
kisah teguran ini menanamkan pelajaran-pelajaran besar terhadap umat islam di antaranya:

1. Ayat teguran ini membatalkan adat jahiliah yang memberikan anak angkat hak-hak nasab, seperti: hak waris, hukum nasab, dan yang diakui hanyalah nasab sah yang jelas.

2. Keistimewaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di sini, Zainab radhiyallahu anha dinikahinya tanpa akad dan mahar karena yang menikahkannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah Allh ta’ala secara langsung dari langit.

g. Allah menegur Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang tidak mengucapkan in syaa Allah saat menjanjikan sesuatu.
Sebelumnya, penduduk Makkah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan maksud mencoba menguji kebenaran risalah beliau, tentang masalah ruh, kisah Ashabul Kahfi dan kisah Zulqarnain, untuk menjawab pertanyaan mereka, Nabi Muhammad shallahualaihiwasallam pun berkata, Saya akan menceritakannya kepada kalian besok, tanpa memakai kata-kata In sya Allah”. Maka Alla tegur beliau dengan firman-Nya,

(وَلَا تَقُولَنَّ لِشَا۟یۡءٍ إِنِّی فَاعِلࣱ ذَ ٰ⁠لِكَ غَدًا ۝ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِیتَ وَقُلۡ عَسَىٰۤ أَن یَهۡدِیَنِ رَبِّی لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَـٰذَا رَشَدࣰا)

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,
kecuali (dengan mengatakan), “In sya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.”
[Surat Al-Kahfi 23 – 24]
(Tafsir Al Baghawi)

Tentu saja, firman Allah ta’ala tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi segenap kaum Muslimin tentang pentingnya bersandar pada kehendak-Nya, dengan mengucapkan kalimat `In sya Allah’, ketika menjanjikan sesuatu.

Sumur Harapan Untuk Kemakmuran Masjid Ummu Kultsum Manisrenggo, Klaten

Pihak Takmir Masjid Ummu Kultsum Dusun Kebitan Brajan Manisrenggo Klaten mulanya terus melakukan berbagai upaya untuk menambah debit sumber air bersih dengan penambahan pembangunan instalasi sumur bor. Penambahan ini karena seiring dengan kegiatan masjid yang mulai padat dan debit air yang ada tidak mencukupi sehingga salah satu solusinya menambah titik sumur bor baru dan menambah bak penampungan.

Pada saat yang bersamaan atas derma wakaf para muhsinin yang terhimpun melalui inisiasi Tanmia Foundation dapat menyelesaikan paket pembangunan wakaf sumur bor untuk masjid Ummu Kultsum yang sehari-hari digunakan untuk sekitar 40-an jama’ah. Kegiatan masjid pun cukup beragam sejak dibangun total sejak 2014. Semula masjid Ummu Kultsum bernama Al-Muttaqin namun karena syarat dan ketentuan harus dirubah namanya sesuai dengan kesepakatan muwakif pembangunya sebelum direhab. Selain kegiatan shalat berjamaah kegiatan lain seperti pengajian anak-anak TPQ, majelis taklim ibu-ibu dan bapak-bapak juga disemarakkan dengan kegiatan remaja masjid. Biasanya kegiatan makan bersama usai shalat Jum’at menjadi hal yang sangat menguatkan ukhuwah antar sesama jama’ah lainya.

“Dusun Kebitan memiliki warga sejumlah 45 KK yang termasuk dalam wilayah Desa Nangsri Kecamatan Manisrenggo”, jelas Nur Salim selaku Ketua RT warga setempat.

Proses pembangunan wakaf sumur bor Tanmia Foundation tergolong termasuk dalam kategori pembuatan sumur bor dangkal dibawah kedalaman 20 meter.

“Untuk pengeboran sumur di titik Kebitan Nangsri mencapai kedalaman 18 meter dengan menggunakan pipa ukuran 18 inchi kemudian air disedot dengan pompa semijet untuk ditampung dalam tandon penampungan yang dipasang diatas menara air setinggi 3 meter kemudian siap untuk dialirkan untuk digunakan”, jelas Kandar pemilik mesin bor usai melakukan pengeboran.

Dia menjelaskan, untuk sumur bor yang berada di wilayah Manisrenggo berbeda-beda semua kedalamannya namun biasanya berada diatas kedalaman 15 meter dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

“Pengeboran biasanya akan terkendala dengan adanya batu keras yang sulit ditembus dengan pisau mata bor dan biasanya harus dimasukan bentonite agar bisa meluluhkan batu yang menghalanginya sehingga bor bisa mulus berjalan tanpa ada halangan. Itu yang biasa kita gunakan selama ini”, tambah Kandar.

Bentonit adalah bahan galian yang banyak mengandung mineral yang merupakan salah satu kelompok mineral ( mirip tanah lempung ) yang kaya akan kandungan Na.Kegunaan bentonit juga cukup banyak, antara lain sebagai bahan campuran kosmetik, campuran semen, campuran pembuatan pupuk, sebagai lumpur untuk pengeboran dan masih cukup banyak lain lagi kegunaannya.

Pembangunan wakaf sumur Tanmia Foundation kali ini tergolong lancar meskipun sempat terhenti beberapa saat karena dijumpai batu. Proses pengeboran memakan waktu 6 jam dan ditambah lagi 2 jam untuk proses pembilasan penjernihan usai finishing proses pemasangan pipanisasinya kedalam lubang sumur.

“Kami mengucapkan syukur Alhamdulillah dan bahagia yang luar biasa dengan adanya pembangunan wakaf sumur bor ini sehingga akan lebih membantu kegiatan masjid yang selama ini sudah berjalan”, ungkap Nur Salim dan Sumardi selaku Imam dan Pengurus Takmir Masjid Ummu Kultsum pada pihak Tanmia Foundation dilokasi.

“Harapan jama’ah pun akhirnya terpenuhi dengan dinantikanya sumur bor baru sebagai penambah debit air tambahan. Biasanya air dalam jumlah besar akan sangat dibutuhkan juga ketika pelaksanaan shalat Jum’at yang sekaligus diadakan makan nasi berkah Jum’at kemudian bersih-bersih perabot usai makan bersama. Juga untuk keperluan kegiatan hajatan seperti pernikahan dan acara pengajian akbar yang kerap rutin diadakan. Namun karena pandemi urung dilaksanakan kembali,” pungkas Salim usai serah terima wakaf sumur bor.

Tanmia Foundation sampai saat ini juga melalui program wakaf sumurnya tentu atas dukungan para muhsinin dari berbagai kalangan terus melakukan pembangunan wakaf sumur seperti belum lama ini di Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur juga wilayah lainya yang termasuk dalam kategori daerah-daerah rawan dan masih kesulitan air bersih.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Bagikan Pakaian Layak Pakai ke Warga Parumaan Pulau Dambila

Penggerak Dakwah sekaligus pemerhati da’i dan masyarakat pedalaman wilayah daratan Flores Timur yang tergabung dalam Komunitas persaudaraan antar Masjid yakni Haenul Rashid mendistribusikan Wakaf pakaian layak pakai dari Tanmia Foundation kepada masyarakat pulau Dambila Sikka Maumere Nusa Tenggara Timur. Selasa (17/11/2020 ).

“Kegiatan dakwah dan sosial ini merupakan bentuk peduli atas keprihatinan para da’i terhadap kondisi masyarakat pulau Dambila yang masih dalam taraf jauh dari layak, sehingga wakaf pakaian ini bagian dari peduli urusan sandang yang dibutuhkan oleh warga Dambila yang berada di kampung pesisir pulau-pulau sekitar Sikka Maumere,” Rashid pada Tanmia pada Rabu (18/11/2020).

Pulau Dambila merupakan bagian pulau yang bisa ditempuh selama 1- 2 jam dari pelabuhan kota Maumere yang didalamnya terdiri dari beberapa dusun perkampungan salah satunya ialah Dusun Parumaan. Jika dibandingkan dengan wilayah desa lain, dusun Parumaan C Desa Dambila masuk dalam wilayah Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka yang berada di Pulau Dambila yang tergolong masih kurang mendapatkan perhatian dan penghidupan yang layak. Untuk sekedar sandang saja mereka masih serba kekurangan.

“Sebagian besar masyarakat Kampung Parumaan merupakan warga pribumi yang terdiri dari Suku Maumere, Suku Bajo dan Bugis yang mayoritas notabenenya ialah nelayan tradisional dan bertani ala kadarnya seperti jagung dan kacang serta umbi-umbian. Adapun untuk persawahan padi memang tidak ada sama sekali sehingga laut menjadi ladang mereka sebagai mata pencahariannya biarpun pasang surut hasilnya,” tutur Rashid panjang lebar menggambarkan kondisinya.

Sementara untuk hasil laut biasanya hanya cukup untuk memenuhi makan sehari-hari sehingga untuk kebutuhan sandang mereka terkadang masih membutuhkan uluran tangan pihak lain bahkan sangat memprihatikan bila harus menjelaskan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, Alwi selaku tokoh kampung setempat bersama warga lainya yang menyaksikan warganya menerima bantuan pakaian layak pakai dari Tanmia Foundation di Masjid Al-Fatah Dambila ( berdiri tahun 1998 ) seraya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas perhatiannya dan kepedulianya masih mau memberikan perhatian atas sebagian masalah kesulitan yang dialami warga.

“Ada sekitar 45 KK warga dusun Parumaan C Pulau Dambila yang masih hidup dalam lingkungan keluarga sangat sederhana ala nelayan pesisir”, ungkap Rashid yang menyerahkan serah terima wakaf Tanmia Foundation di lokasi.

“Bapak-bapak Ustadz dan imam masjid begitu peduli dengan kondisi lingkungan sekitar kami, terlebih bantuan pakaian yang diberikan sangat membantu meringankan beban dan membuat kebahagiaan yang tak terkira rasanya bagi warga desanya,” katanya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Jauh Dari Sumber Mata Air, Masjid Ammar Yaafi Mrombok Terima Wakaf Sumur Bor

Saat musim hujan tiba tahun ini hampir tiap rumah warga di Kampung Mrombok Desa Golo Bilas Kecamatan Komodo memasang penampungan air hujan yang turun dari talang untuk digunakan keperluan rumah tangga masing-masing dirumahnya.

Begitu juga dengan datangnya hujan juga sangat membantu keberadaan debit penampungan air Masjid Ammar Yaafi untuk digunakan keperluan beribadah. Seperti beberapa tahun sebelumnya Alhasil, terpaksa pihak Takmir mengambil air bersih dari sumber mata air untuk keperluan masjid dengan menyambung mengalirkan pipa mata air sekitar 500 meter dari perbukitan.

“Saluran pipa dari mata air seringnya tersendat-sendat bahkan putus baik tersumbat karena lumpur maupun terinjak ternak sapi”, pungkas Umar Said selaku Imam Masjid.

Pihak Takmir Masjid Ammar Yaafi beroleh wakaf Sumur atas dukungan para muhsinin dari Tanmia Foundation untuk melakukan kegiatan pengeboran sumur guna mengatasi kendala kesulitan air selama ini. Muhammad Ramli selaku da’i setempat menyebut, program wakaf sumur akan sangat membantu usaha memakmurkan kegiatan jama’ah yang melakukan sholat tiap adzan berkumandang tiba. Ada sekitar satu sampai dua shaf shalat yang dipenuhi oleh 10 sampai 18 jama’ah tiap tiba waktunya sholat.

“Setidaknya wakaf sumur ini dapat dimanfaatkan untuk warga dusun kami sejumlah 40 KK dengan kisaran 90-an jiwa lebih berada di dusun Mrombok sebagai penerima manfaat wakaf sumur yang ditujukan untuk kemakmuran jama’ah masjid ini,” kata Abdul Rahmat salah satu tokoh setempat yang mengungkapkan pesan do’a rasa terimakasihnya pada pihak Tanmia di lokasi ( Senin, 16/11/2020 ).

Sementara itu, berdirinya Masjid Ammar Yaafi bagi 40 KK warga setempat sangat membantu kegiatan masyarakat di kampung tersebut baik dalam menjalankan ibadah setiap waktu maupun juga tiap kegiatan shalat Jum’at yang dimanfaatkan oleh para siswa Tsanawiyah yang jaraknya berdekatan saja hanya 100 meter dari Masjid. Bak masjid pun menjadi sarana penampungan air ketika datangnya musim kering tiba yang menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Ia menambahkan, masjid bukan tidak berusaha menampung air dari mata air dan bisa digunakan untuk keperluan masing-masing warga yang membutuhkan. Tapi karena jarak saluran mata air yang lumayan jauh dan seringkali terkendala berbagai hal menjadikan kesulitan selama ini.

“Lokasi mata air jauh dengan masjid pemukiman warga, membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengadaan pipa dan alat lainnya. Warga hanya menggunakan selang seadanya dengan iuran swadaya. Pernah juga melakukan upaya pengajuan pipanisasi dan pengadaan sumur bor ke pihak pemerintah setempat, namun sampai saat ini belum juga ada realisasi,” pungkasnya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Foundation Salurkan Wakaf Pakaian di Beberapa Pulau Pedalaman Sikka Maumere NTT

Tanmia Foundation bersama elemen pegiat dakwah di daratan Flores Timur terus berupaya menghadirkan kebahagiaan untuk masyarakat di daratan pedalaman Flores Timur. Kali ini wilayah yang dituju ialah Pulau Koja Besar, Pulau koja Kecil, Pulau Dambila, Kampung Paga (daratan-Maumere ) yang sebelumnya masuk dalam daftar assessment daerah yang diprioritaskan untuk pendistribusian paket wakaf pakaian Tanmia Foundation.

“Alhamdulillah, Rabu  (11/11) Paket Wakaf Pakaian dan Mushaf Qur’an kembali ke pedalaman, tepatnya di beberapa titik di Sikka Maumere, mulai dari Kampung Paga menuju Pulau Koja Besar dan Pulau Koja Kecil. Selanjutnya disusul ke Pulau Dambila,” terang Ketua Penggerak Komunitas Dakwah Kompak, Hainul Rashid dalam rilis yang diterima pihak Tanmia.

Ia menambahkan, karena jarak yang membentang cukup jauh, penyaluran wakaf pakaian dan Iqra’ -mushaf Qur’an ini akan berlangsung selama satu – dua pekan di awal bulan November 2020.

Paket wakaf pakaian yang terdiri dari pakaian anak-anak, dewasa dan wanita dikemas rapi dalam kemasan karton dari Tanmia Foundation ini menjadi kebahagiaan dan kesyukuran bagi tokoh setempat atas kepedulian dan perhatianya terhadap para masyarakatnya yang hidup jauh dari kata layak masih berjuang di pedalaman.

“Alhamdulillah, kami atas nama warga dusun Sagandona Paga Barat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Tanmia Foundation atas wakaf dan bantuanya yang sangat membantu kondisi kami. Kami do’akan semoga Allah memberikan amanah ini terus mendapat kepercayaan oleh umat khususnya para muhsinin dan dermawan atas kegiatan dan program pelayanan peduli umat yang dijalankan oleh Tanmia Foundation. Maju dan sukses terus Tanmia Foundation, semoga terus memberikan manfaat dan mashlahat. Aamiin,” ungkap Tokoh Da’i sekaligus Takmir Masjid Baiturrahman Paga, Muhammad Marjan.

Perlu diketahui bahwa Dusun Sagandona Paga Barat memiliki Masjid Baiturrahman yang sudah berdiri sejak tahun 1980 yang dapat memfasilitasi untuk sekitar 70 KK warga setempat. Umat muslim pada umumnya di wilayah Kecamatan Paga terdiri dari pribumi pendatang Jawa, Madura, Bugis, Buton, dll yang sudah berinteraksi bertahun-tahun secara alamiah dengan menjaga toleransi yang tinggi dengan keyakinan masing-masing dengan warga pribumi non muslim. Kendati demikian mereka tetap bergandengan tangan dalam hal muamalah apapun dan aktif dalam kegiatan gotong royong maupun bidang kemasyarakatan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Zuhud Terhadap Dunia

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Dalam beberapa ayat dan hadits disebutkan bahwa Allah ta’ala dan Rasulnya memerintahkan orang-orang beriman untuk bersifat zuhud, yaitu dengan cara memprioritaskan kepentingan Akhirat diatas kepentingan Dunia, firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan,

وَقَالَ الَّذِي آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)

“Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17)

Mengenai zuhud disebutkan dalam sebuah hadits,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya)

Zuhud adalah terminologi agama, agar kita bisa memahami istilah agama dengan benar maka harus dikembalikan kepada sumber ajaran islam yaitu Al Qur’an dan sunnah, ketika ada pemahaman yang berkaitan dengan istilah istilah agama yang tidak dikembalikan pada Al-Quran dan Sunnah, maka sangat mungkin terjatuh pada pemahaman yang keliru, Nah ketika kita berbicara tentang zuhud maka sudah barang tentu orang yang paling zuhud di dunia ini adalah para Nabi dan Rasul karena mereka adalah manusia terbaik, ternyata Nabi dan Rasul tidak semuanya miskin, Nabi Sulaiman alaihissalam kaya bahkan seorang penguasa, Nabi Muhammad shallahualaihiwasallam bukan miskin walaupun pernah miskin, kenapa Nabi juga kaya? Karena didalam islam ketika terjadi jihad dan mendapatkan rampasan perang maka nabi berhak mendapatkannya. Firman Allah dalam Al-Qur’an,

(۞ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَیۡءࣲ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡیَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِینِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِیلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَاۤ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا یَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ یَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرٌ)

Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
[Surat Al-Anfal 41]

Maka setiap perang yang dimenangkan oleh Nabi dan Sahabatnya dan mendapatkan jatah harta rampasan perang disetiap kemenangan tentunya membuat beliau makin kaya. Tetapi kekayaan para nabi, rasul dan salafussalih itu tidak dinikmati di dunia saja tapi bekal untuk akhiratnya. Nabi shallahualaihiwasallam ketika punya banyak harta beliau gunakan untuk menyantuni anak yatim, menikahi janda-janda, dan membantu para sahabatnya yang sedang kesusahan. Begitu pula Abu Bakar as-Shiddiq adalah saudagar kaya raya, begitu pula Umar dan Utsman radhiyallahu anhum kaya raya tetapi kekayaannya tidak digunakan untuk bersenang senang didunia, tetapi digunakan untuk membangun akhiratnya, itulah hakikat zuhud. Abu Dzar radhiallaahu ketika mendefinisikan zuhud mengatakan,

الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَكُونَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدَىِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ

“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”
(HR. Tirmidzi no. 2340 dan Ibnu Majah no. 4100)

Sebagian orang salah paham dengan istilah zuhud. Dikira zuhud adalah hidup tanpa harta. Dikira zuhud adalah hidup miskin.
Kalau kita hidup menyendiri, tanpa harta, meninggalkan dunia itu bukanlah zuhud, bagaimana kita bisa membangun negara dan agama kita, mengatasi permasalahan ummat dengan meninggalkan harta dunia? Tidak mungkin hal ini dapat terjadi. Makanya umat islam harus tampil merubah tatanan kehidupan menjadi lebih baik, bahkan disifati oleh Allah sebagai Khaira ummah. Firman Allah ta’ala,

(كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَـٰبِ لَكَانَ خَیۡرࣰا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ)

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.
[Surat Ali ‘Imran 110]

Sehingga kebaikan kaum muslimin hakikatnya diperuntukkan untuk kemaslahatan ummat, nah kalau zuhud diartikan menyendiri dan meninggalkan harta dunia bagaimana bisa mereka ditampilkan untuk melakukan perbaikan bagi ummat? Maka dalam memaknai zuhud harus kita kembalikan kepada istilah kepada Al Quran dan sunnah supaya tidak terjadi pemahaman yang keliru.

Begitupula Jihad itu istilah agama, dan agama itu adalah Rahmat dari Allah ta’ala, karena Allah berfirman,

(وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةࣰ لِّلۡعَـٰلَمِینَ)

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
[Surat Al-Anbiya’ 107]

Sementara sebagian orang yang tidak faham mengkaitkan jihad dengan teroris, karena jihad itu adalah ajaran Allah dan ajaran Allah itu penuh kasih sayang Sementara teroris bertentangan dengan ajaran Allah ta’ala, maka pemahaman seperti harus diluruskan.
Allah ta’ala berfirman,

(۞ فَلۡیُقَـٰتِلۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِینَ یَشۡرُونَ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا بِٱلۡـَٔاخِرَةِۚ وَمَن یُقَـٰتِلۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ فَیُقۡتَلۡ أَوۡ یَغۡلِبۡ فَسَوۡفَ نُؤۡتِیهِ أَجۡرًا عَظِیمࣰا)

Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Dan barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya.
[Surat An-Nisa’ 74]

Apa korelasi Jihad dengan zuhud?
Berjuang dijalan Allah adalah amalan paling utama setelah iman, dan berjuang itu membutuhkan harta, maka orang yang berjihad tidak akan kikir dengan hartanya karena yang ia bela adalah akhiratnya, makanya umar bin Khattab dalam perang tabuk menginfakkan separuh hartanya untuk berjihad, dan ia mengira ia telah berinfak paling banyak sehingga bisa mengalahkan Abu Bakar, akan tetapi ternyata Abu Bakar berinfak dengan seluruh hartanya untuk berjihad. Beliau tidak khawatir jatuh miskin, justru Allah ta’ala setelah itu membuat beliau menjadi semakin kaya, maka tak ada sejarahnya orang itu bangkrut gara-gara berinfak, justru setelah itu hartanya akan semakin melimpah karena Allah jadikan hartanya menjadi berkah. Itulah korelasi antara Zuhud dengan Jihad, jadi orang yang zuhud itu tidak hanya berpangku tangan saja tapi dia harus berjihad, bergerak dalam rangka membela agama Allah dan menolong orang-orang yang kesusahan. Allah ingatkan hal tersebut dalam ayat berikutnya,

(وَمَا لَكُمۡ لَا تُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَٱلۡمُسۡتَضۡعَفِینَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡوِلۡدَ ٰ⁠نِ ٱلَّذِینَ یَقُولُونَ رَبَّنَاۤ أَخۡرِجۡنَا مِنۡ هَـٰذِهِ ٱلۡقَرۡیَةِ ٱلظَّالِمِ أَهۡلُهَا وَٱجۡعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِیࣰّا وَٱجۡعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِیرًا)

Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zhalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.”
[Surat An-Nisa’ 75]

Jadi banyak orang-orang yang lemah dan tertindas dari berbagai golongan yang dibebaskan oleh orang-orang yang zuhud dengan hartanya, Abu Bakar, Umar, Utsman adalah sekelompok kecil manusia-manusia terbaik yang mereka zuhud terhadap harta, bahkan Umar sang khalifah pernah memikul sendiri makanan untuk rakyatnya diberikan kepada fakir, miskin dan Janda-janda yang anaknya menangis karena kelaparan, ketika sahabatnya ingin menggantikan untuk memikul makanan tersebut maka Umar radhiallaahu berkata kepadanya, Apakah kamu berani menanggung dosa saya? Saya wajib membantu rakyat saya karena saya adalah pemimpin yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang saya pimpin di pengadilan Allah nanti. Kalau ada pemimpin negara seperti Umar yang begitu zuhud terhadap dunia maka rakyatnya akan tenang. Karena beliau tidak berani menumpuk-numpuk kekayaan untuk dirinya sendiri, tapi untuk membangun dunianya dan akhiratnya. Inilah yang dimaksud zuhud.

Maka, hakikat orang zuhud itu adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja, namun hasil yang ia dapatkan digunakan untuk berjuang dijalan Allah ta’ala. Jadi orang yang zuhud di menaruh uangnya ditangan bukan dihati, karena jika uang ditaruh dihati, ketika ia kehilangan uangnya ia akan merasakan sakit hati, namun kalau ia menaruhnya ditangan, maka begitu ia kehilangan uangnya hatinya tetap tegar, seperti itulah zuhud, sehingga zuhud bisa diraih siapa saja baik itu orang kaya maupun miskin. Karena orang zuhud sadar betul bahwa akhiratnya ditentukan oleh dunianya. Kita banyak beramal maka insya allah kita akan meraih surga, tapi sebaliknya tanpa beramal didunia maka neraka menjadi tempat kembalinya. Nauzubillah min dzalik! Karena islam adalah agama dunia dan akhirat.

Al Quran lebih kuat dari perancis

Al Quran Lebih Kuat Dari Perancis

Senasib dengan Indonesia negeri Al Jazair di daratan Afrika Utara itu juga merasakan pahitnya penjajahan bangsa eropa atas mereka yang lebih dari 100 tahun lamanya, dalam hal ini Perancis yang punya ambisi menjajah mereka dari 1830-1962 tepat 132 tahun, menjarah, merampas harta, kehormatan dan nyawa, kala itu Al Jazair masih di bawah Kesultanan Turki Utsmani, saat itu kesultanan Turki Utsmani dalam keadaan yang sangat lemah, sebenarnya eropa sudah niat ingin menjajah Al Jazair sejak zaman Napoleon Bonaparte.

Upaya untuk menundukkan orang – orang islam di Al Jazair tidak ada henti – hentinya, namun usaha mereka selalu gagal karena perjuangan rakyat dan para ulama untuk mengusir para penjajah selalu dilakukan yang pada akhirnya perancis hengkang dari Al Jazair, orang – orang perancis sadar betul bahwasanya yang membuat Al Jazair bertahan pantang menyerah adalah Al Quran, bahasa Arab dan para ulama yang memimpin ummat, usaha untuk menjauhkan masyarakat dari Al Quran, bahasa Arab dan Para Ulama selalu diupayakan Perancis, agar misi penjajahan ini langgeng di bumi Al Jazair.

Dalam acara mengenang 100 tahun penjajahan Perancis atas Al Jazair, dibuatlah acara cukup meriyah, mengundang para pejabat, konglomerat, pengusaha, tokoh masyarakat tak lupa wartawan juga diundang hadir, acara heboh ini juga mengundang gubernur Perancis Robert Lacoste dan jajarannya yang memimpin penjajahan di Al Jazair, acara super meriyah ini sudah lama dipersiapkan mengingat Perancis sudah begitu lama menduduki Al Jazair, masyarakat Perancis sendiri dan dunia ingin tau apa yang dilakukan Perancis selama ini di sana dan apa pula hasil yang mereka diperoleh selama ini.

Untuk memperlihatkan kesuksesan mereka di Al Jazair yang digembar gemborkan selama ini bahwasanya mereka telah berhasil di sana, berhasil menjajah dan memisahkan pemuda Al Jazair dari Al Quran dan bahasa Arab, mereka melakukan persiapan untuk acara megah ini selama 11 tahun, Perancis memilih 10 orang Pemudi Al Jazair untuk dibawa ke Perancis dan dimasukkan ke Sekolah negeri Perancis, kemudian mereka dididik, diberi pakaian ala Perancis, diajarkan bahasa Perancis juga, wal hasil setelah usaha keras selama 11 tahun itu ke sepuluh wanita al Jazair itu sudah dianggap seperti orang perancis tulen dan fasih berbahasa Perancis.

Hari ‘pertunjukkan’ tiba, tempat acara sudah siap, tamu sudah duduk rapi siap mengikuti acara dan menerima laporan hasil jajahan selama 100 tahun serta ‘pertunjukkan’ yang nanti akan ditampilkan untuk meyakinkan masyarakat dan dunia bahwasanya mereka benar – benar telah berhasil menjajah Al Jazair dan menjauhkan Al Quran dan simbul – simbul islam dari hati rakyat dan pemuda Al Jazair.

Acara yang sangat dinantikan tiba, ke Sepuluh wanita Al Jazair diminta naik panggung, seluruh hadirin juga panitia kaget bukan kepalang ibarat disambar petir di siang bolong, ke Sepuluh wanita Al Jazair itu tampil di atas panggung mengenakan hijab sempurna seperti yang dipakai wanita muslimah di Al Jazair, sepontan ruang acara menjadi riyuh dan heboh, semua orang menoleh kanan kiri bingung melihat kenyataan di hadapan mata mereka, orang-orang saat itu bertanya dengan penasaran kepada sang Gubernur yang mengatur penjajahan di Al Jazair, kenapa Kesepuluh wanita ini berpakaian seperti ini?!
Dalam keadaan bingung dan sangat malu sang Gubernur berkata kepada halayak ramai, “Apa yang bisa aku lakukan kalau Al Quran lebih kuat dari Perancis?!”. Kejadian ini dilansir harian Al Ayyam, edisi 7780, 6 Desember 1962.

Peristiwa yang baru – baru ini heboh di Perancis karikatur yang menghina Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam dan keluarganya juga menggambarkan api permusuhan mereka kepada Islam belum juga padam, namun di sisi lain terjadi sesuatu yang membuat president Perancis Emanuel Macron terdiam ketika ia menebus seorang biara wati asal Perancis Sophie Petronin yang mereka kirim ke Mali Africa untuk melakukan misi kristenisasi, ia ditangkap oleh pejuang islam di Mali, diperlakukan dengan baik dan hormat, ia mendengar bacaan Al Quran, menelitinya dan pada akhirnya ia menyatakan diri masuk Islam, sesaat tiba di Perancis dan kala itu disambut langsung oleh President Perancis Emanuel Macron ia langsung mengumumkan bahwasanya ia telah memilih islam dan mengganti namanya menjadi Maryam Petronin, kepulangannya kali ini bukan hanya untuk melihat keluarga katanya namun lebih dari itu ia ingin mengajak seluruh keluarganya baik yang di Perancis atau di luar Perancis untuk masuk islam dan menikmati indahnya Islam.

Sang President yang sedari tadi dengan antusias menyambut kedatangannya mulai nampak melempem, lesu tidak bersemangat, pidato penyambutan yang sudah disiapkan pun tidak jadi disampaikan meski wartawan juga sudah standby menunggu lama.

Ini adalah salah satu dari sekian banyak kisah mereka yang hijrah dari kemusyrikan dan kekufuran menuju indahnya islam yang menunjukkan begitu dahsyatnya kekuatan Al Quran, jauh lebih kuat dari Perancis dan negeri – negeri lainnya yang berusaha untuk membuat citra Islam tidak baik, yang terjadi malah sebaiknya.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS. Ali Imran: 54).

Islam Menghapus Jahiliyah

Islam secara bertahap menghapus tradisi jahiliyah yang telah berurat berakar dalam pada khusus suku Quraisy dan Jazirah Arab pada umumnya, yangdimotori oleh Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam dan dilanjutkan oleh keluarga dan sahabatnya. Sebagaimana yang diketahui, umur Rasulullah shallahu alaihi wasallam terlalu dini meninggalkan Islam, yaitu hanya dua puluh tiga tahun mendakwakan ajaran Islam, di Mekkah sepuluh tahun dan tiga belas tahun di Madinah. Sehingga pasca meninggal beliau tradisi jahiliyah masih belum hilang sepenuhnya dalam diri umat. Maka dari itu, sahabat dan keluarganya mengambil alih dalam artian melanjutkan dan mengembangkannya.

Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam adalah nabi terakhir yang paling sempurna diantara ciptaan Allah dan yang dicintai Allah. Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabi’ul awwal tahun Gajah atau pada tahun 571 M. kota Mekkah merupakan tempat berdirinya Masjidil Haram (Ka’bah), yang dibangun oleh nabi Ibrahim. Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam, berasal dari suku yang palingberpengaruh di Mekkah, yaitu suku Quraysh. Keluarga Nabi shallahu alaihi wasallam berasal dari cabang Quraysh yang dinamakan Banu Hashim. Dinamakan Banu Hashim,

Memasuki masa remaja, Rasulullah shallahu alaihi wasallam mulai berusaha nenarik rejeki dengan mengembala kambing. Rasulullah shallahu alaihi wasallam pernah bertutur tentang dirinya “Aku dulu mengembala kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath”. Selama masa mudanya, Allah telah memelihara dari penyimpangan yang biasa dilakukan oleh pemuda seumurannya, misalnya berhura-hura dan permainan nista lainnya.

Pada suatu waktu paman Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam, Abu Thalib menasehatinya untuk bergabung dengan Kafilah dagang milik Khadijah. Nabi Muhammad mendengarkan nasehat pamannya, dan akhirnya ia pun ikut bergabung dikafilah dagang tersebut. Khadijah sendiri mulai tertarik dengan kepribadian Nabi.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam menikahi Sayyidah Khadijah pada umur 25 tahun, sementara Khadijah sendiri 40 tahun. Namun, ada sebagian sejarawan menyebutkan bahwa Khadijah berusia 25 tahun, dan yang lainnya lagi menyatakan 28 tahun.

Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallahu alaihi wasallam ke tengah-tengah masyarakat Arab yang tidak bisa membaca dan menulis di negeri Hijaz sana. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS al-Jumu’ah ayat: 2.

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Penulis Jundi
Aceh Tamiang

Kecemburuan Dalam Masalah Agama (Ghiroh Fiddin)

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Al-Imam Ibnu Qayim Al Jauziyyah di dalam kitab nya al Jawabul al kafi liman Sa’ala ‘ani Ad-dawa As-Syafi mengatakan sesungguhnya diantara prinsip dalam beragama adalah memiliki sifat cemburu maka orang yg tak punya cemburu dalam agama maka sama halnya dia tidak punya agama, kecemburuan terhadap agama dapat menghidupkan hati dan hidupnya hati bisa menghidupkan fisik manusia, namun sebaliknya matinya hati menyebabkan fisik manusia juga mati, sehingga ia tidak bisa melawan keburukan sekalipun.
Jadi inti dari agama ini adalah cemburu (ghirah) terhadap agama, sehingga ketika agamanya dinistakan ia pasti tidak ridha, Namun sebaliknya ketika agama ia dinistakan ia biarkan saja tanpa ada rasa kepedulian sedikitpun, maka saja orang seperti ini sama saja tidak punya agama.

Kalau kita mendengar agama islam ini di hina oleh orang kafir itu bukan hal yang baru, bahkan di zaman dulu sudah ada, Orang orang kafir zaman Nabi menghina dengan mengatakan bahwa Al Quran adalah sebuah kebohongan, Sebagaimana Allah katakan dalam surat Al Furqan

وَقَالَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوۤا۟ إِنۡ هَـٰذَاۤ إِلَّاۤ إِفۡكٌ ٱفۡتَرَىٰهُ وَأَعَانَهُۥ عَلَیۡهِ قَوۡمٌ ءَاخَرُونَۖ فَقَدۡ جَاۤءُو ظُلۡمࣰا وَزُورࣰا

Dan orang-orang kafir berkata: “Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (Al Furqon:4).

Lalu dengan tegas Allah membantah tuduhan orang Kafir tersebut, bahwa Al Quran adalah kebenaran yang datang dari Allah swt
Dalam surat Al Haqqah Allah swt berfirman

‎إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ﴿٤٠﴾؅

40. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,

‎وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ ﴿٤١﴾؅

41. dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.

‎وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ ﴿٤٢﴾؅

42. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.

َ(تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

43. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.

Namun yang aneh adalah ketika ada seorang mengaku beriman menjadi pembela si kafir yang menghina agama ini. Orang seperti ini tidak memiliki kecemburuan dalam agama.
Sebagaimana ucapan ibnu Mubarak

ﺃَﺑُﻨَـﻲَّ ﺇﻥَّ ﻣِـﻦَ ﺍﻟﺮِّﺟَـﺎﻝِ ﺑَﻬِﻴﻤَـﺔً
ﻓﻲ ﺻُـﻮﺭَﺓِ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟﺴَّﻤﻴﻊِ ﺍﻟﻤُﺒْﺼِﺮِ
ﻓَﻄِـﻦٌ ﺑِﻜُـﻞِّ ﻣُﺼِﻴﺒَـﺔٍ ﻓﻲ ﻣَـﺎﻟِـﻪِ
ﻭﺇِﺫَﺍ ﻳُﺼَـﺎﺏُ ﺑِﺪِﻳﻨِـﻪِ ﻟَﻢْ ﻳَﺸْﻌُـﺮِ ‎

“Wahai anakku, di antara manusia itu ada yang bersifat bagaikan binatang.
Dalam bentuk seorang yang mampu mendengar dan memperhatikan.
Ia akan merasa berat, jika terjadi musibah yang menimpa pada harta bendanya.
Namun jika musibah itu menimpa agamanya, ia tiada merasa apapun”.

Prinsip kecemburuan agama ada 3 macam

. الغيرة في الدين مبدء من مبادئ الإيمان

1. Kecemburuan agama merupakan prinsip dasar keimanan seseorang.

روى البخاري في صحيحه عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن لله يغار وإن المؤمن يغار، وغيرة الله أن يأتي العبد ما حَرَّم الله عليه

Dari hadis Abu hurairah radhiyallahu anhu Rasul shallahualaihiwasallam bersabda ” seorang mukmin itu pencemburu. Dan Allah adalah zat yang maha pencemburu, dan kecemburuan Allah tatkala hambanya melakukan apa yang diharamkan oleh Allah kepadanya.

Allah cemburu Jikalau ada Seorang Mukmin Ketika beribadah fikiran ya terganggu dengan urusan kerjanya, Allah cemburu kalau ada kaum muslimin lebih sibuk dengan urusan dunia nya dari pada akhiratnya. Sehingga kalau kita memiliki kecemburuan dalam agama atau akhirat kita maka iman kita benar. Begitu pula sebaliknya. Iman itu kadang bertambah dan berkurang begitupula ghirah terhadap agama itu bisa naik dan turun. Orang yang bila agamanya diinjak injak lalu ia marah berusaha memeranginya maka berarti ghirahnya terhadap agama tinggi, namun sebaliknya ketika orang itu banyak bermaksiat kepada Allah itu dapat menghilangkan kecemburuan terhadap agama. Sehingga ini adalah salah satu strategi Kaum musyrik untuk menghilangkan cemburu terhadap agama adalah membuat mereka sibuk dan lalai dari perintah Allah yang mengakibatkan mereka bermaksiyat kepada allah. Kita menyaksikan orang tua zaman dahulu bila punya anak gadis maka ketika sudah baligh, ia perintahkan kepadanya pakai hijab, karena rambut adalah bagian dari aurat yang wajib ditutup. Sehingga wanita zaman orang tua kita dulu kalau hijabnya tersingkap terkena terpaan angin dan terlihat auratnya oleh orang lain , ia pun langsung lari sekencang kencang nya sembunyi kerumah, takut kalau dilihat lebih banyak orang, sehingga dosanya bertambah banyak karenanya. ini menunjukkan semangat ghirah yg tinggi dalam menjaga agamanya, Sungguh fenomena yang sangat jauh dengan zaman sekarang.

Begitpula fenomena penghinaan terhadap agama kita hari-hari ini semakin berani dan terang-terangan, bahkan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat biasa tetapi sampai ke ranah para petinggi Negara, sebut saja Presiden Prancis Emmanuel Macron yang baru baru ini secara terang-terangan telah melecehkan Islam dan menghina Nabi Muhammad shallahualaihiwasallam dengan menyetujui publikasi kartun yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad shallahualaihiwasallam. Sehingga membuat banyak orang marah dan terjadi seruan boikot produk Prancis di banyak negara, terutama dengan penduduk Muslim sebagai mayoritasnya. Maka, kemarahan umat Islam adalah bentuk ghirah dan cinta mereka kepada Baginda Nabi yang mulia. Sayangnya sebagian penguasa Muslim tidak bisa bertindak tegas menanggapi hal ini. Beliau menggambarkan hal ini berbeda dengan yang pernah dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II. Khalifah pada masa dinasti Utsmaniyah ini, pernah mengancam Prancis agar menghentikan untuk menggelar teater yang menghina Rasulullah. Dan Prancis gentar lalu menghentikan pada saat itu juga.

Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin, menunjukkan ghirah tinggi membela agamanya dari ulah penistaan orang-orang yang membenci Islam sebagai konsekuensi keimanan kepada Allah ta’ala. Ulama besar Buya Hamka Rahimahullah juga mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirahnya ketika agamanya dilecehkan. Beliau menyamakan orang-orang yang demikian seperti orang yang sudah mati. “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan”.

Pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ada seorang pria yang amat marah karena istrinya terus menerus menghina Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Kemudian sang suami membunuhnya. Ketika Nabi mengetahui hal ini, beliau bersabda; “Saksikanlah bahwa darah perempuan yang tertumpah itu sia-sia (tidak ada tuntutan)!” (HR Abu Dawud).

Demikianlah, Islam mengajarkan kepada kaum mukmin, agar membuktikan kecintaannya kepada Allah ta’ala dan RasulNya, melebihi kecintaan kepada siapapun dan apapun. Kecintaan itu harus ditunjukkan dengan ghirah untuk mencintai seluruh syariat yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengamalkannya, membela dan memperjuangkan agar terterapkan secara kaffah dalam kehidupan umat. Dengan begitu, umat Islam akan tampil menjadi umat terbaik dan Islam mampu diwujudkan sebagai rahmatan lil’alamin

الغيرة في الدين فهي من خصائص هذه الأمة

2. Kecemburuan terhadap agama merupakan karakter yang dimiliki umat ini.

Diantara sosok yang menjadi tauladan kepada kita yang disebutkan namanya dalam Al Quran, adalah Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Muhammad shallahualaihiwasallam.

Nabi ibrahim rela bermusuhan dengan ayahnya karena prinsip kecemburuan dalam agama yang beliau pegang. Ia tidak rela kemusyrikan melanda ayah dan umatnya. Kisah tersebut Allah Abadikan dalam surat As Saffat (85-98) Bahkan beliau rela menempuh resiko yang besar yaitu dibakar hidup hidup oleh kaumnya, sehingga Allahpun juga cemburu terhadap ujian yang ditempuh nabi ibrahim sehingga menjadikan api yg digunakan untuk membakarnya menjadi dingin. Begitupula Rasul kita seorang pencemburu, ketika peristiwa fath makkah beliau cemburu ketika melihat berhala di sekeliling Ka’bah lalu beliau hancurkan seluruh berhala ditempat tersebut sebanyak 360 buah sambil membaca ayat؅

(وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا)

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [Surat Al-Isra’ 81]

Begitu pula kita kenal seorang Sahabat bernama Hanzalah radhiyallahu anhu, seorang pengantin baru begitu setelah malam pertama dengan istrinya, Pada paginya ia mendengar seruan jihad melawan kaum kafir untuk membela agama Allah, maka seketika langsung beliau tinggalkan istrinya sehingga belum sempat untuk mandi junub tatkala ia syahid di medan perang Rasul shallahualaihiwasallam melihat diri jasad Hanzalah Basah kuyup, padahal tidak turun hujan saat perang tersebut, dan ternyata setelah diamati para malaikat datang untuk mengurus dan menandakan jenazah ya, Sehingga beliau Mendapatkan Julukan غسيل الملائكة “Yang di mandikan para malaikat

Kita ingat Kisah Seorang Muslimah di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, suatu hari ada wanita muslimah datang ke Pasar Bani Qainuqa’ untuk suatu kebutuhan yang ia perlukan. Ia menghampiri salah satu pedangang Yahudi, kemudian melakukan transaksi jual beli dengannya. Namun orang Yahudi berhasrat membuka cadar yang dikenakan sang muslimah karena ingin melihat wajahnya. Muslimah itu berusaha mencegah gangguan yang dilakukan Yahudi ini. Tanpa sepengetahuan wanita itu, datang lagi lelaki Yahudi di sisi lainnya, lalu ia tarik ujung cadarnya dan tampaklah wajah perempuan muslimah tersebut. Wanita ini pun berteriak, lalu datanglah seorang laki-laki muslim dengan ghirah tinggi membelanya. Terjadilah perkelahian antara muslim dan Yahudi dan terbunuhlah Yahudi yang mengganggu muslimah tadi. Melihat hal itu, orang-orang Yahudi tidak tinggal diam. Mereka mengeroyok laki-laki tadi hingga ia pun terbunuh.
Sehingga mendengar hal tersebut membuat nabi shallahualaihiwasallam marah sehingga beliau mengutus pasukan besar untuk mengepung Perkampungan Bani Qainuqa dan mengusir Seluruh penduduknya.

Bahkan tidak hanya itu Binatang yang tak berakal pun saja punya ghirah yang tinggi terhadap agama Allah ta’ala disebutkan dalam Kitab Ad Durar al Kaminah Karya ibnu Hajar al Asqalani, diceritakan “Suatu hari diadakan pesta besar-besaran untuk merayakan seorang pemuka Mongol yang murtad masuk kristen. Dalam acara itu ada seorang pendeta Kristen bercerita dan dalam ceramah ya ia menjelek-jelekan Nabi Muhammad, tiba-tiba seekor anjing pemburu meloncat, menyerang dan menggigit pendeta.
Beberapa orang berusaha melepaskan gigitan itu, dan anjing tersebut kembali tenang, setelah berhasil sebagian hadirin berkata: “Ini terjadi karena kamu menghina Nabi Muhammad”
Pendeta menjawab: “Tidak, ini karena anjing tadi marah dan salah paham ketika aku mengangkat tangan dikira akan memukulnya”
Pendeta itupun melanjutkan khutbahnya dan kembali menghina Nabi Muhammad. Pada saat yang bersamaan anjing itu berhasil memutus tali yang mengikatnya, secepat kilat dia melompat dan menggigit leher sang pendeta hingga meninggal.
Sekitar 40 ribu orang mongol yang hadir di acara itu ramai-ramai masuk Islam….
Subhanallah…seekor anjing saja cemburu ketika Nabi dijelekkan, tidak bisa diam dan berusaha sekuat tenaga untuk membela beliau, Apalagi kita sudah barang tentu harus punya kecemburuan yang lebih terhadap Nabi kita, karena diantara kewajiban seorang muslim terhadap Nabinya membela kehormatannya. Maka ia akan marah, ia akan bela sampai titik darah penghabisan jikalau ada seseorang yang berani menistakan Nabinya.

الغيرة في الدين تدل على حياة القلوب وصلاحها

3. Kecemburuan terhadap agama itu dalil hidupnya hati dan baiknya hati.

Dalam satu hadits pernah disebutkan,

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﺍﻟﺨﺪﺭﻱ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﻨﻜﺮﺍ ﻓﻠﻴﻐﻴﺮﻩ ﺑﻴﺪﻩ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻠﺴﺎﻧﻪ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﺿﻌﻒ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ

Dari Abu Said Al Khudry berkata bahwa Rasul shallahualaihiwasallam telah bersabda, barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangannya kalo tidak mampu ia rubah dg lisannya dan kalau tidak mampu lagi maka hendaknya dg hatinya, dan ini adalah selemah lemahnya iman.

Jadi ketika seorang muslim melihat kemungkaran dan ia tidak kuasa apapun untuk merubahnya, maka minimal dengan tidak ridha adanya kemungkaran dalam hatinya dan ini menunjukkan ia masih punya ghirah dalam hatinya, sehingga hal tersebut merupakan pertanda akan hatinya masih terdapat cahaya kebenaran. Karena umat ini akan menjadi umat yang terbaik manakala ketika memiliki ghirah terhadap agama, berusaha mencegah kemungkaran yang terjadi disekitarnya Sebagaimana Allah swt berfirman :

(كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah, Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (Ali Imran 110).

Namun sebaliknya umat terburuk adalah ketika tidak punya ghirah ketika agamanya dirusak dan dinistakan, sehingga Umat seperti Ini patut mendapat laknat dari Allah Sebagaimana laknat yang di alami Bani Israel, Allah mengabadikan kelakuan mereka dalam Surat Al Maidah, 78-79.

(لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُون

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

Al Hafidz Ibnu Katsir didalam kitab tafsirnya menjelaskan Allah ta’ala melaknat orang orang kafir dari kalangan Bani Israel karena mereka senantiasa bermaksiat
terhadap Allah dan Nab-nabi mereka yaitu Daud dan Isa alaihimassalam sehingga mereka mendapatkan Laknat diseluruh kitab samawi, dalam Zabur taurat injil dan Al Quran Nah apa sebab mereka mendapat Laknat?

Dalam Ayat selanjutnya beliau jelaskan bahwa tatkala mereka bermaksiat kepada Allah maka para ulama mereka berkata bertakwalah kalian kepada Allah, lalu ucapan mereka tidak didengar oleh kaumnya, Akhirnya ulama mereka capek dan berhenti mendakwahi mereka, lalu para ulama pun mulai datang ke majelis orang orang bermaksiat tadi tapi tidak melarangnya hanya sekedar menyaksikannya bahkan sebagian dari ulama tersebut malah ikut gabung dalam maksiat tersebut, Sehingga hal ini membuat Allah murka dan menurunkan siksa kepada mereka.
Allah murka terhadap mereka karena mereka tak punya kecemburuan terhadap agama mereka dengan membiarkan kaumnya dengan sesuka hati melanggar larangan Allah swt.
Semoga kita diberi istiqamah dalam memelihara ghirah fiddin ini. Amin

*Disarikan ceramah dari Al Ustadz Muhammad Aniq, Lc, MA
dengan perubahan*

Ikat Nikmat Dengan Syukur

Nikmat Allah yang diberikan kepada manusia tidaklah terhingga, karunia yang tidak ada habis – habisnya itu diberikan Allah begitu saja kepada seluruh makhluqNya, manusia, hewan, tumbuhan, jin juga malaikat Allah semua menikmatinya.

Mensyukuri nikmat bukanlah hal mudah, karena godaan dan kelalaian manusia seringkali menghanyutkan manusia sehingga mereka sulit untuk mencari tepian untuk berpegang meraih kesyukuran lalu memegangnya dengan erat agar tidak tenggelam dibawa kencangnya arus dunia.

Derasnya arus ketamakan manusia sudah menjadi rahasia umum faktor besar yang melalaikan manusia dari kesyukuran, syukur yang berarti ‘Terima kasih’ adalah ucapan sekaligus pengakuan kepada Dzat yang telah melimpahkan nikmat tersebut.

Seringkali para ulama memberikan tamsil (permisalan) tentang nikmat, nikmat itu ibarat “Hewan Liar” maka syukur adalah tali pengikatnya, hewan liar memang sukar ditangkap kalau pun ia tertangkap susah pula kita pegang, begitu pula nikamt Allah, ia liar dan sangat – sangat mungkin pergi meninggalkan tuannya pindah kepada orang lain.

Makanya kita tidak hairan bila Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:

قال عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: قَيِّدُوا النِّعَمَ بِالشُّكْرِ

Ikatlah Nikmat dengan Syukur.

Para ulama dan hukama (ahli Hikmah) telah jauh – jauh hari mengingatkan kita semua bahwa tipu daya syaitan sangat kuat wa bil khusus soal mensyukuri nikmat Allah, karena umumnya manusia lupa bersyukur dan tidak menggunakan nikmat sesuai dengan keinginan Allah ta’ala.

Tanpa terasa kita sudah berada di salah satu Bulan Haram, bulan yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, kita sudah masuk di bulan Dzul Hijjah, sebagaimana sudah kita ketahui bersama bahwa di bulan ini ada ibadah hebat dan mulia, yaitu berqurban, sebuah syariat yang terbilang sangat tua, telah diamalkan dari zaman Nabi Adam Alaihi salam, Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam.

Allah ta’ala berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (37) الحج.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Hajj:37).

Imam Ibnu Katsir berkata:
Makna ayat ini ialah, Sesungguhnya Allah mensyariatkan Qurban bagi manusia agar manusia menyebut nama Allah saat menyembelihnya, karena Dia lah Allah yang Maha Memberi rizki kepada manusia, Allah tidak memerlukan daging dan darah hewan tersebut, karena Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun dari manusia. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dari penjelasan ahli tafsir di atas dapat kita fahami bahwasanya salah satu tujuan Qurban ialah untuk mensyukuri nikmat Allah ta’ala.

Imam Qurthuby dalam tafsirnya menyebutkan bahwasanya Allah lah yang telah menundukkan seluruh hewan- hewan yang ada di bumi untuk fasilitas hidup manusia, sehingga manusia dapat memanfaatkannya, sebagai kendaraan, angkutan bahkan sebagai sumber bahan makanan yang lezat bagi mereka, padahal tidak jarang hewan – hewan itu lebih kuat dan lebih besar fisiknya dibandingkan manusia, namun demikian Allah telah menundukkan kekuatan mereka agar dapat manfaatkan dan dinikmati oleh manusia, Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa melakukan itu semua untuk manusia, sehingga atas nikmat ini pula manusia harus bersyukur kepada Allah ta’ala. (Tafsir Qurthubi).

Dalam ibadah Qurban terdapat banyak fadhilah (keutamaan) secara ringkas ada 3:
– Qurban bentuk ketaatan dan ketundukan manusia pada perintah Allah
– Qurban bentuk kesyukuran atas nikmat Allah.
– Qurban adalah kepedulian terhadap masyarakat yang sedang diuji Allah dengan kesulitan rizki, bahan makanan, dll.

Semoga kita diberikan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk selalu mensyukuri nikmat Allah ta’ala sehingga nikmat tersebut menjadi langgeng dan awet dalam kehidupan kita dan anak keturunan kita, jangan sampai lalai bersyukur sehingga nikmat menjadi bencana dan musibah, lihat ucapan Imam Hasan Al Basri:

قال الْحَسَنُ: إِنَّ اللَّهَ لَيُمَتِّعُ بِالنِّعْمَةِ مَا شَاءَ، فَإِذَا لَمْ يُشْكَرْ قَلَبَهَا عَلَيْهِمْ عَذَابًا.

Sesungguhnya Allah melimpahkan nikmat kepada siapa saja yang Ia kehendaki, namun bila Manusia itu tidak bersyukur atas nikmat tersebut maka nikmat itu akan berbalik menjadi Azab (siksa dan musibah).

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita semua untuk beramal shaleh dan menerima amal tersebut sebagai bekal hidup bahagia di akhirat nanti, Aamiin ya rabbal alamin.

bencana

Amalan Amalan Yang Dapat Menolak Bencana

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Sebuah tema yang penting untuk menjadi renungan kita bersama mengingat pandemi yang menimpa negeri kita ini belum berakhir, sebagai mukmin yang baik selain kita memperhatikan asbab kauniyah (sebab-sebab yang sifatnya alamiah) kita juga harus memperhatikan asbab ilahiyyah, tidak cukup seorang mukmin hanya bersandar pada asbab kauniyah, seperti cuci tangan, pakai masker, jaga jarak dan lain sebagainya, akan tetapi pendemi ini membuat ia mengintropeksi diri sejauh mana ibadah yang ia laksanakan kepada Allah, makanya ketika Allah menjelaskan tentang karakteristik tentang Ulul Albab dalam surat Ali-Imran, siapakah mereka Ulul Albab itu? Allah jelaskan,

(إِنَّ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّیۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ ۝ ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
[Surat Ali ‘Imran 190 – 191]

Maka kita merenung apa saja ibadah-ibadah yang dapat menghilangkan bencana di tengah-tengah kehidupan kita, diantaranya adalah:

1. Shalat dengan khusyu’ dan thuma’ninah

Ibadah shalat adalah ibadah paling penting dan agung, bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda,

الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

“Sholat Adalah Tiang Agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya”.

Gambaran betapa pentingnya shalat ini, kita bisa lihat rangkaian turunnya perintah shalat, ketika Allah memerintahkan Nabi untuk melaksanakan ibadah tertentu, biasanya Allah mengutus malaikat Jibril sebagai perantara, tapi begitu perintah shalat terjadi peristiwa yang luar biasa yang kita kenal dengan Isra Mi’raj, Rasulullah saw diperjalankan langsung oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sampai ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat 5 waktu.
Nah, apa kaitan shalat dengan diangkatnya bencana?
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, hadits tentang gerhana, ketika terjadi gerhana di zaman Nabi, saat itu sebagian orang menghubungkannya dengan kematian Ibrahim, putra Rasulullah saw, maka beliau berkhutbah, kata beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah ra,

إن الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ،
لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, jika kalian melihatnya berdoalah, bertakbirlah, lakukanlah sholat, dan bersedekahlah kalian”

Kata Imam Nawawi bahwa redaksi “lakukanlah shalat” ini gambaran betapa shalat itu dapat menolak bencana, karena sesungguhnya gerhana adalah fenomena yang ditakutkan menjadi adzab untuk manusia, maka ketika terjadi gerhana kita diperintahkan untuk menunaikan shalat sehingga dapat menjauhkan manusia dari bencana.

Didalam hadits yang lain, Rasulullah mengkisahkan kisah yang pernah terjadi pada zaman dahulu, dan ini adalah salah satu mukjizat Rasulullah, beliau mengetahui apa yang terjadi zaman dahulu meski beliau tidak bisa membaca maupun menulis, karena diberi petunjuk oleh Allah swt, yaitu kisah pemuda yang bernama Juraij, seorang pemuda yang shalih dari kalangan bani Israil, suatu hari Juraij menunaikan shalat ditempat ibadahnya, lalu ibunya datang dan memanggilnya, akan tetapi dia sibuk dengan shalatnya sehingga tidak mendengar panggilan ibunya, maka ibunya merasa tersinggung, lalu ibunya berdoa dengan mengatakan,

اللهم لا تمته حتى تريه وجوه المميسات

Ya Allah janganlah engkau mewafatkan ia, sampai engkau pertontonkan dia di hadapan wanita-wanita malam. Maka betapa doa seorang ibu adalah mustajab, walaupun doa berisi keburukan dan dalam keadaan sedang marah. Maka pada suatu hari seorang wanita mendatangi Juraij, dia mengajaknya untuk berzina, namun Juraij menolak, lalu wanita tersebut berzina dengan seorang penggembala. Singkat cerita, wanita itupun hamil kemudian melahirkan dan dia mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya Juraij, maka kemudian orang-orang marah akan hal itu, kemudian merobohkan tempat ibadahnya Juraij lalu iapun diseret dan iapun ditonton oleh wanita-wanita malam, persis seperti doa ibunya tadi, kemudian di hadapkan kepada seorang raja, lalu iapun ditanyai “Kenapa kamu menghamili wanita ini? Juraij mengatakan “Aku tidak menghamili wanita itu, akan tetapi wanita itu mengatakan bahwa bayi itu adalah anakku, maka seketika Juraij berwudhu dan menunaikan shalat, setelah dia shalat, dia usap kepala bayi yang masih merah tadi, maka atas izin Allah bayi itupun bisa berbicara, ketika bayi itu ditanya Wahai anak kecil siapakah ayahmu? Maka bayi itu menjawab “Ayahku adalah seorang penggembala”, maka Rasulullah mengkisahkan ada 3 bayi yang bisa berbicata diwaktu kecil yaitu bayinya Isa bin Maryam, bayi di zaman Juraij, dan bayi yang sedang disusui oleh ibunya di zaman bani Israil.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyampaikan ketika mengomentari hadits ini bahwa ini dalil betapa seseorang ketika ingin segera terlepas dari bencana maka hendaknya dia menunaikan ibadah shalat.

Dalil selanjutnya yang menunjukkan bahwa shalat adalah amalan yang dapat menghilangkan bencana adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang mengkisahkan tentang Ibrahim beserta istrinya yang bernama Sarah, ketika beliau dan istrinya hendak menuju sebuah daerah, yang mana di daerah tersebut ada dipimpin seorang Raja yang dzalim, dan raja tersebut gemar merampas wanita-wanita cantik yang ia temui, dan Sarah termasuk wanita yang berparas cantik, maka untuk menyelamatkan Sarah, nabi Ibrahim melakukan tauriyah (menyampaikan kalimat yang maknanya banyak, biasanya orang memahami makna yang dekat, padahal yang dimaksud adalah makna yang jauh), Ibrahim mengatakan Hadzihi Ukhti (ini adalah saudari perempuanku), maka raja tadi mengira bahwa Sarah adalah adik atau kakaknya Ibrahim, padahal maksud Nabi Ibrahim adalah Al Ukhuwwah fiddin (persaudaraan di dalam agama) maka semua orang beriman laki-laki dan perempuan adalah saudara, dia makna ini yang dimaksud Ibrahim as, meskipun sebenarnya nabi Ibrahim tidak sampai berbohong, akan tetapi beliau tetap memohon ampun kepada Allah, makanya ketika para ulama menjelaskan ayat:

(وَٱلَّذِیۤ أَطۡمَعُ أَن یَغۡفِرَ لِی خَطِیۤـَٔتِی یَوۡمَ ٱلدِّینِ)

dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.”
[Surat Asy-Syu’ara 82]

Kenapa Nabi Ibrahim sampai berkata seperti itu? Diantara sebabnya adalah karena beliau merasa pernah berbohong yaitu karena beliau pernah mengatakan Hadzihi Ukhti, lalu meminta ampun kepada Allah atas perbuatannya tersebut.
Maka Sarah ketika berhadapan dengan Raja dzalim tersebut, ketika Raja tersebut hendak menyentuh Sarah, tiba-tiba tangannya bergetar tidak dapat menjangkau sarah, apa sebabnya? Karena sebelumnya Sarah menunaikan shalat dan berdoa kepada Allah agar dilindungi dari Raja yang dzalim tersebut, maka akhirnya raja tersebut meminta maaf, dan meminta kepada Sarah untuk mendoakan kebaikan untuknya, bahkan akhirnya raja itu memberikan budak yang bernama Hajar kepada Sarah.
Jadi, shalat dengan khusyu dan thuma’ninah dapat menghilangkan bencana.

2. Membiasakan diri membaca Istighfar.

Siapa saja yang rajin membaca istighfar melalui lisannya dan dihadirkan lewat hatinya, maka Allah akan jauhkan ia dari segala bencana dan malapetaka, Allah swt berfirman,

(وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِیُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِیهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ یَسۡتَغۡفِرُونَ)

Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.
[Surat Al-Anfal 33]

Sahabat Abu Musa Al Asyari saat itu mengatakan: Dulu kami punya dua pengaman, (pengaman dari adzab Allah), yaitu hadirnya Rasulullah ditengah-tengah kami dan istighfar, dan ketika Rasulullah wafat, maka pengaman itu hanya tersisa satu yaitu istighfar, jikalau istighfar hilang ditengah kehidupan kami niscaya kami akan binasa.
Ayat ini menjadi dalil betapa pentingnya membiasakan istighfar ditengah kehidupan kita, bahkan bisa menjadi sebab diangkatnya suatu bencana.

Imam Ibnu Qudamah dalm kitabnya Attawwabin mengkisahkan sebuah peristiwa yang pernah terjadi dizaman Nabi Musa as, ketika hari itu terjadi bencana, yaitu paceklik yang luarbiasa dasyatnya, sehingga sawah, kebun banyak yang mati kekeringan, hewan ternak banyak yang mati karena kehausan, dimana-mana manusia banyak yang mati karena kelaparan. Maka disebutkan oleh beliau,

Suatu ketika, Allah swt memerintahkan Nabi Musa as untuk mengumpulkan semua orang di ladang sehingga terkumpul 70.000 bani Israil dan diharapkan semua yang ada di sana berdoa kepada Allah untuk minta diturunkan hujan.
Setelah perintah itu dilaksanakan, hujan tetap saja tidak turun. Padahal, semua yang hadir di lapangan tersebut memohon dengan sungguh-sungguh bahkan beberapa sampai menangis.

Kemudian, Nabi Musa as bertanya pada Allah swt, “Ya Allah, kami sudah melakukan apa yang Engkau minta, tetapi kenapa masih tidak hujan?”. Allah kemudian berfirman, “ada seorang hamba diantara kalian yang menentangku selama 40 tahun. Jika kalian mengeluarkannya dari lingkungan kalian, akan Ku turunkan hujan kepada kalian.

Setelah mengetahui jawaban Allah swt, Setelah itu Nabi Musa as berkata, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Tuhannya selama 40 tahun, keluarlah dari lingkungan kami ! Karenamu, Allah mencegah hujan dari kami.”
Mengetahui apa yang disampaikan Nabi Musa, orang yang tidak meminta ampun pada Allah swt merasa paling berdosa. Ia kemudian sesegera mungkin meminta ampun dan bertobat pada Allah dari lubuk hatinya yang terdalam.
“Ya Allah, Apa yang harus aku lakukan. Jika aku masih tetap berada diantara mereka, Allah akan mencegah hujan itu karenaku. Namun jika aku keluar, maka terbukalah semua aibku dihadapan Bani Israil. Duhai Tuhanku, aku bermaksiat kepada-Mu dengan segala kemampuan-Ku. Aku berani menentang-Mu dengan kebodohanku. Dan kini aku datang dengan segala penyesalan untuk bertaubat kepada-Mu. Maka terimalah taubatku. Dan jangan engkau cegah air hujan itu dari mereka karenaku…” kata orang tersebut.

Setelah itu, rintik-rintik air hujan mulai menetes ke tanah. Membasahi tanah dan tubuh umat Nabi Musa as. Hujan itu turun dengan sangat deras.
Semua yang ada di ladang tampak sangat bahagia dengan turunnya hujan ini. Beberapa bahkan berteriak-teriak menyebut nama Allah saking bahagianya.

Saat hujan turun dengan derasnya, Nabi Musa as bertanya pada Allah swt, “Apa yang mengubah ketetapan-Mu, Ya Rab?”. Kemudian Allah SWT berkata pada Nabi Musa AS, “Hujan ini tidak turun karena orang tersebut sekarang dia sungguh-sungguh memohon pengampunan.”
Setelah itu, Nabi Musa as kembali bertanya pada Allah, “Ya Allah, siapa orang tersebut? Aku ingin melihatnya, aku ingin bertemu dengannya.”
Sesungguhnya seorang yang membuat-Ku mencegah (air hujan), dia lah yang membuat-Ku menurunkannya.”
Nabi berkata, “Tuhanku, jelaskan kepadaku tentang hal itu.”
Allah menjawab, “Wahai Musa, Aku menutupi aibnya ketika dia bermaksiat. Bagaimana Aku akan membongkar aibnya ketika dia telah bertaubat?”

Maka berdasarkan kisah ini sebagian ulama berpendapat bahwa diantara tanda taubat diterima oleh Allah adalah aib nya ditutupi oleh Allah swt.
Maka ini sebuah pelajaran bagaimana istighfar itu dapat mengangkat suatu bencana, maka marilah kita perbanyak istighfar kepada Allah swt.
Imam Hasan Al Bashri mengatakan:

أكثروا من الإستغفار في بيوتكم وفي طرقكم وفي أسواقكم، وفي مجالسكم فإنكم لاتدرون متى تنزل المغفرة

“Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, jalan-jalan, pasar-pasar, tempat-tempat duduk kalian, karena kalian tidak tahu kapan ampunan Allah datang kepada kalian”

3. Memperbanyak berzikir kepada Allah.

Diantara salah satu amalan yang dapat menolak bencana adalah banyak berzikir kepada Allah swt, ibadah zikir adalah ibadah yang sangat agung, bahkan satu-satunya ibadah yang diperintahkan untuk dikerjakan sebanyak-banyaknya. Firman Allah swt,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكۡرࣰا كَثِیرࣰا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةࣰ وَأَصِیلًا)

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
[Surat Al-Ahzab 41 – 42]

Apa hubungan zikir dengan menolak bencana? Di dalam salah satu riwayat hadits tentang gerhana, melalui Abdullah ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah, tidak akan terjadi gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, ketika kalian melihat gerhana maka berzikir lah kepada Allah” (HR Bukhari)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini bahwa salah satu faidah hadits ini bahwa diantara cara menolak bala’ adalah dengan banyak berzikir kepada Allah. Ibadah zikir sangat disukai Allah, bahkan diberikan pahala yang sangat besar dan tidak terukur oleh pandangan kita, diantaranya disebutkan dalam hadits Rasulullah:

وعَنْ أَبي أيوبَ الأنصَاريِّ  عَن النَّبيّ ﷺ قَالَ: مَنْ قالَ لا إلهَ إلاَّ اللَّه وحْدهُ لاَ شَرِيكَ لهُ، لَهُ المُلْكُ، ولَهُ الحمْدُ، وَهُو عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ، عشْر مرَّاتٍ: كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أرْبعةَ أَنفُسٍ مِن وَلِد إسْماعِيلَ متفقٌ عليهِ.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari ra, Rasulullah saw bersabda Barang siapa yang mengucapkan,

لا إلهَ إلاَّ اللَّه وحْدهُ لاَ شَرِيكَ لهُ، لَهُ المُلْكُ، ولَهُ الحمْدُ، وَهُو عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ،

Sebanyak 10 kali, maka pahalanya seperti memerdekakan 4 budak dari keturunan bani Israil. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits yang lain, juga Nabi saw bersabda:

(( كلمتان خفيفتان على اللسان ، ثقيلتان في الميزان ، حبيبتان إلى الرحمن ، سبحان الله وبحمده ، سبحان الله العظيم ))

“Ada dua kalimat yang sangat ringan bagi lisan (untuk mengucapkannya), sangat berat nanti dalam Mizan (timbangan), dicintai oleh Ar-Rohman, dua kalimat itu adalah:

(( سبحان الله وبحمده ، سبحان الله العظيم ))

“Maha suci Allah Dzat yang Maha Terpuji, Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah ra.
Mari kita basahi lisan kita dengan dzikrullah terlebih lagi ditengah pandemi corona seperti ini, mudah-mudahan dengan dzikir kita wabah ini segera diangkat oleh Allah swt.

4. Doa dengan merendahkan diri.

Doa adalah Silahul Mu’min (senjatanya orang beriman), maka jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah doa, ada perkara perkara besar di zaman dahulu itu selesai dengan berdoa kepada Allah swt. Ada orang diuji dengan tidak memiliki keturunan, yaitu Nabi Zakaria as, dan ini berlangsung dalam waktu yang lama, beliau berdoa selama 60 tahun sejak pernikahan beliau agar diberi keturunan oleh Allah, lalu disisa usia beliau Allah kabulkan doanya, harapan beliau diabadikan oleh Allah swt dalam surat Maryam, Allah berfirman:

كۤهیعۤصۤ ۝ ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَبۡدَهُۥ زَكَرِیَّاۤ ۝ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَاۤءً خَفِیࣰّا ۝ قَالَ رَبِّ إِنِّی وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّی وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَیۡبࣰا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِیࣰّا ۝ وَإِنِّی خِفۡتُ ٱلۡمَوَ ٰ⁠لِیَ مِن وَرَاۤءِی وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِی عَاقِرࣰا فَهَبۡ لِی مِن لَّدُنكَ وَلِیࣰّا ۝ یَرِثُنِی وَیَرِثُ مِنۡ ءَالِ یَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِیࣰّا ۝ یَـٰزَكَرِیَّاۤ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَـٰمٍ ٱسۡمُهُۥ یَحۡیَىٰ لَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ مِن قَبۡلُ سَمِیࣰّا

“Kaf Ha Ya ‘Ain Shad, (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”
[Surat Maryam 1 – 7]

Bahkan tanda kehamilan istrinya adalah tanda yang ajaib, karena saking hasratnya beliau untuk memiliki anak membuat beliau berpuasa dari bicara selama 3 hari 3 malam, padahal istrinya sebelumnya divonis mandul, akan tetapi dengan berdoa kepada Allah, maka atas izin-Nya Allah berikan kepadanya keturunan disaat manusia mengatakan mustahil punya anak, tapi tidak ada yang mustahil bagi Allah swt.

Demikian kisahnya Nabi Ayyub as, ketika diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat berat, saking beratnya penyakit tersebut, membuat kulitnya makin rusak dan rambutnya makin rontok, bahkan kekayaannya sampai habis seketika, dan ini terjadi sampai 18 tahun lamanya, maka dengan sabar beliau berdoa kepada Allah swt, sebagaimana doa tersebut diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

(وَٱذۡكُرۡ عَبۡدَنَاۤ أَیُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥۤ أَنِّی مَسَّنِیَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بِنُصۡبࣲ وَعَذَابٍ)

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.”
[Surat Shad 41]

Maka Allah perintahkan kepada beliau untuk minum dan mandi, sehingga atas izin Allah beliau sembuh dari penyakitnya. Firman Allah swt,

(ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ هَـٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدࣱ وَشَرَابࣱ)

(Allah berfirman), “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”
[Surat Shad 42]

Demikian pula misalnya doa agar diselamatkan dari musuh sebagaimana yang dialami seseorang yang bernama Abu Muallaq Al Anshari, beliau adalah seorang pedagang yang shalih dan taat beribadah, pada suatu hari ketika dia membawa barang dagangannya ia bertemu seorang perampok, sebagaimana kisah ini disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam Kitab Al Jawabul Kafi. Ketika bertemu dengan perampok di jalan yang sangat sepi, dan perampok itu tidak hanya ingin mengambil hartanya tetapi juga nyawanya, maka dalam kondisi terjepit seperti itu, dia ingat kepada Allah dan meminta izin untuk menunaikan shalat, lalu setelah itu berdoa kepada Allah, tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda dari arah kiblat, membawa sebuah tombak lalu ditusukkan tombak tersebut ke tubuh perampok tadi, hingga seketika meninggal dunia. Maka beliau merasa heran, lalu beliau tanya “Siapakah engkau? Penunggang kuda itu berkata: Aku adalah malaikat dari langit, ketika engkau berdoa dengan doa pertama terdengar seperti gemuruh angin disisiku, berdoa dengan doa kedua terdengar seperti gemerincing senjata, lalu engkau berdoa dengan doa ketiga terdengarlah jelas bahwa ada seseorang hamba Allah yang terdzalimi, aku mendengar jelas doamu dan aku memohon kepada Allah supaya diizinkan untuk menjadi penolongmu, dan Allah pun mengizinkan.

Betapa dasyatnya kekuatan sebuah doa, maka perbanyaklah berdoa kepada Allah agar Allah angkat bencana ini dari tengah-tengah kehidupan kita.

Terkadang seseorang sudah merasa berdoa kepada Allah tapi kenapa belum diijabah oleh Allah, ternyata ada banyak sebab kenapa doa kita belum kunjung dikabulkan Allah swt, bisa jadi karena keyakinan yang lemah dalam hati kepada Allah, kita berdoa tapi tidak disertai dengan keyakinan, apalagi kalau sampai terbesit dalam hati kita sifat was-was bahwa doa kita bisa jadi tidak dikabulkan oleh Allah swt, atau bisa jadi ada yang salah dalam doa kita, bisa jadi isinya mengandung unsur permusuhan, memutuskan silaturrahim dan lain sebagainya, karena perbuatan ini tidak disukai oleh Allah, sehingga doanya tidak dikabulkan, atau bisa jadi kita berdoa dengan tergesa-gesa, atau bisa jadi karena ada penghalang doa kita, diantara penghalang doa adalah maksiyat, makan yang haram, sehingga menghambat doa kita dikabulkan oleh Allah, atau barangkali juga kalau tidak diijabah juga Allah menginginkan agar kita terus-terusan mendekatkan diri kepada Allah. Maka dengan berdoa dengan khusyu dan penuh keyakinan maka insya allah doa kita diijabah oleh Allah..

5. Membiasakan diri dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat terpuji.

Apa hubungan akhlak yang baik dengan diangkatnya bencana? Dalam sebuah hadits tentang permulaan wahyu, ketika nabi bertahannus di gua hira dan bertemu dengan Malaikat Jibril untuk pertama kalinya untuk menerima wahyu pertama, beliau sangat takut dan kepayahan,
Setelah menerima wahyu itu, Rasulullah pulang ke rumah dengan ketakutan. Setibanya di rumah, beliau meminta sang istri, Khadijah untuk menyelimutinya.

“Selimuti aku! Selimuti aku! Aku sangat takut!” kata Rasulullah. Beliau melanjutkan;

لقد خشيت على نفسي قالت له خديجة كلا أبشر فوالله لا يخزيك الله أبدا والله إنك لتصل الرحم وتصدق الحديث وتحمل الكل وتكسب المعدوم وتقري الضيف وتعين على نوائب الحق

“Aku benar-benar khawatir terhadap diriku. Khadijah menghibur beliau: Jangan begitu, bergembirahlah. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, engkau jujur dalam berkata: engkau telah memikul beban orang lain, engkau sering membantu keperluan orang tak punya, menjamu tamu dan selalu membela kebenaran.”

Kata Imam Nawawi, bahwa makna ucapan Khadijah bahwa Allah tidak akan menimpakan keburukan kepadamu disebabkan kebaikan akhlak engkau selama ini.

Seharusnya adanya pandemi ini melatih kemuliaan akhlak kita, kepedulian kita kepada sesama lewat harta dan tenaga kita. Sehingga harapannya bencana ini segera diangkat dari kehidupan kita.

5. Memperbanyak sedekah.

Sedekah adalah amal ibadah yang apabila seseorang tidak mengamalkannya di dunia, maka dia pasti akan menyesal di kehidupan setelahnya, Allah mengkisahkan dibeberapa ayat, diantaranya;

(وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ)

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.”
[Surat Al-Munafiqun 10]

Dalam ayat lain juga disebutkan,

(حَتَّىٰۤ إِذَا جَاۤءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ۝ لَعَلِّیۤ أَعۡمَلُ صَـٰلِحࣰا فِیمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّاۤۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۖ وَمِن وَرَاۤىِٕهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ یَوۡمِ یُبۡعَثُونَ)

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.
[Surat Al-Mu’minun 99 – 100]

Dua ayat diatas menggambarkan bahwa ada perkara yang disesali manusia setelah meninggal dunia adalah sedekah. Apa sebabnya? Karena pada hari itu manusia melihat pahala amalnya, dan ternyata pahala sedekah sangatlah besar disisi Allah swt, karena ada orang dinaungi pada hari kiamat karena sedekahnya, ada orang diselamatkan dari azab karena sedekahnya, ada orang diangkat derajatnya karena sedekahnya, maka setiap orang menyesal kenapa dulu ketika didunia tidak menjadi pribadi yang gemar sedekah, dan diantara keutamaan sedekah adalah dapat menolak bala’. Maka ada seorang ulama besar di abad kedua Hijriyah yaitu Imam Abdullah bin Mubarak, seorang alim, kaya raya sekaligus mujahid fisabilillah, maka satu hari beliau didatangi seseorang, dan orang itu bertanya, bahwa dia sakit di bagian lututnya selama 7 tahun dan sudah berobat kepada para tabib ternama di seantero negeri, namun sakitnya belum kunjung sembuh. Lalu iapun bertanya kepada Abdullah bin Mubarak “Apa yang harus saya lakukan supaya saya bisa sembuh, maka beliau menjawab bersedekahlah kamu dengan cara membangun sumur disebuah wilayah yang sedang dilanda paceklik, yang sangat membutuhkan air minum, maka diikutilah saran beliau tadi, begitu sumur nya jadi ternyata penyakitnya sembuh atas izin Allah.
Jadi gambaran betapa sedekah adalah amalan yang dapat menolak bencana dari tengah kehidupan kita.

Inilah beberapa amalan yang dapat menghindarkan bencana dari tengah-tengah kehidupan kita, mudah-mudahan kita diberi taufik oleh Allah untuk menjaga ibadah-ibadah tersebut, sehingga dengan izin Allah wabah ini segera diangkat oleh Allah dari tengah-tengah kehidupan kita. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

*Disarikan dari Kajian Subuh 4 Juli 2020 di Al Bilad TKN Cibubur dengan tema Tazkiyatun Nafsi oleh Ustadz Mohammad Aniq, Lc, M.Pd

Kabar Tanmia Berlangganan