Ma'had <strong>Tanmia</strong>

Ma'had Tanmia

Ma'had<strong>Al Itqan</strong>

Ma'hadAl Itqan

Sosial & <strong>Da'wah</strong>

Sosial & Da'wah

Husen Laba keluarga muslim satu-satunya di Nggodimeda Rote Tengah

Rote Ndao – Terik panas matahari musim panas di daratan pulau Rote makin menyengat kulit tapi inilah cuaca adanya setiap tahun. Kali ini bertepatan dengan hari tasyrik terakhir Iedul Adha 1440 H tepat pada Rabu ( 14/08/19 ).

Dedaunan lontar yang tinggi di semak-semak tak mengurangi sinar matahari yang menyorot di sepanjang jalanan utama dari Labalain menuju Rote Timur .

Panas tetaplah saja menyengat. Walhasil topi yang menutupi kepala tertinggal sehingga tanpa topi helm pun bisa serbaguna dikenakan. Selain perjalanan ke Oenggae tanpa terlewatkan untuk singgah di Nggodimeda Rote Tengah. Ada apa gerangan ?

“Pulangnya dari Oenggae bisa lewat jalan Rote Tengah tadi, nanti sebelum pasar Nggodimeda tengok kanan. Sebelum jembatan, nanti akan ketemu rumah kayu cat hijau dengan atap seng dan ada penampung air di samping rumahnya,” kata Ahmad Koso ketua MUI Rote yang jumpa di Masjid Nurul Ikhwan Ba’a Lobalain. Beliau menjelaskan proses muallaf keislaman istri Bapak Husen satu-satunya keluarga muslim di Nggodimeda Rote Tengah. Ahmad Koso adalah ketua MUI Rote yang juga masih dalam satu kecamatan Rote Tengah dengan Bapa Husen. Muslim di Rote Tengah hanya ada belasan KK saja dengan jumlah kurang dari 90 jiwa dan tinggal saling berjauhan.

Mengikuti arahan ketua MUI Rote bersama Ust Zul kordinator penyuluh agama di wilayah Rote Ndao akhirnya singgahlah di kediaman Bapak Husen, satu-satunya keluarga muslim yang tinggal di Nggodimeda Rote Tengah. Dari jalanan kejauhan tampaklah tiang bendera dengan rumah cat hijau bertembok kayu.

Sembari meletakan kendaraan dan melepas penutup kepala karena cuaca yang menyengat akhirnya tibalah kami di depan rumah Bapak Husen tempat kami singgah.

Raut wajahnya berseri bahagia ketika mendengar salam kami yang sudah mengucapkan dari halaman rumah.

Memasuki rumahnya begitu sederhana, dengan pembatas dinding dari bambu yang sudah lusuh karena sudah sangking lama nampaknya.

Bapa Husen Laba berasal dari Ende daratan Flores yang sejak tahun 1988 menetap di Rote. Mulanya 1978 beliau tinggal di Kupang tapi seiring waktu karena pekerjaannya sebagai perantau sampailah akhirnya ia mempersunting putri Raja Amalo Rote hingga dengan kesadaran sepenuh hati keyakinanya akhirnya memeluk islam. Sebutlah Mama Vira yang kini bernama Halimah setelah masuk islam. Mulanya banyak tantangan bertahun-tahun ketika istrinya memilih masuk islam dari keluarga besar orang tuanya yang notabenenya trah kerajaaan Amalo Rote namun seiring dengan keteguhan hati istri dan keyakinanya sampai saat ini masih bertahan sekaklipun menjadi muslim satu-satunya di Nggodimeda. Walhasil ketika seiring waktu berjalan menantu-menantunya pun tergerak untuk masuk Islam sebelum menikahi putri-putrinya.

Berjumpa silaturahim di kediamannya seakan menguatkan hati bahwa bisa bertahan hidup ditengah -tengah kondisi seperti itu bukanlah hal yang mudah. Boleh terbilang rawan dan penuh tantangan kita menganggapnya tapi tidak seperti Bapak Husen utarakan sembari menikmati hidangan minum ala kadarnya dirumahnya. Kita bisa membayangkan bagaimana selain menjadi kepala keluarga muslim satu-satunya juga kondisi mata pencaharian nafkahnya yang masih serabutan karena sebelumnya sejak tahun 2000 ia di PHK dari penjaga hutan sebuah perusahaan yang entah bagaimana alasanya sehingga ia diberhentikan sepihak.

Usai shalat dzuhur di Oenggae yang berjarak sekitar 15 KM, di sanalah masjid Arrahman Oenggae biasa ia shalat Jum’at bersama anak lakinya beserta menantunya. Silih berganti ujian tidak menyurutkan semangat keislaman Bapak Husen, seringkali ia wasiatkan pesan Bapaknya ( Muallaf ) sebelum wafat kepada anak-anaknya.
“Kalian harus ingat wasiat kakek-nenek kalian bahwa jangan sampai islam itu terputus dari keluarga kita bagaimanapun keadaannya”, terang Bapak Husen kepada kami. Wasiatnya kepada keluarga dan anak-anaknya untuk tetap memegang ajaran islam adalah wasiat yang tidak bisa ditawar lagi dan benteng yang kokoh terhadap ujian yang datang menerpa.

Kali ini sebelum pulang amanah hewan kurban berupa kambing dari Tanmia Foundation diserahkan untuk disembelih di tempat Bapak Husen dan keluarganya.

Belum usai pengulitan hari sudahlah menjelang senja sudah sampai di sini pertemuan kami dengan Bapa Husen, satu-satunya keluarga muslim di Nggodimeda Rote Tengah.

Mengunjungi kediaman Bapak Husen memang seperti berpijak pada sejengkal “tanah halal” di Nggodi Meda, karena tak sedikit ternak babi berkeliaran di sekitar rumah tetangganya ketika singgah di Nggodi Meda. Bila berkunjung ke Rote Tengah yang wajib dikunjungi para da’i dan asatidz atau pegiat dakwah lainya adalah Bapak Husen. Tetapi tak kalah pentingnya untuk mengunjungi masjid-masjid di seluruh Rote yang sekarang ini berjumlah 11 saja.

Sejak 2003 Pulau Rote memang menjadi kabupaten bagian tersendiri dengan nama Rote Ndao dengan pusat ibukota di Ba’a Lobalain. Dengan terbagi menjadi 10 wilayah kecamatan. Menyapa Bapa Husen di Nggodimeda Rote Tengah seolah mengingat kuatnya kalimat syahadat yang pernah diucap Halima istrinya dihadapan Ketua MUI Rote berapa puluh tahun silam sehingga silaturahim kali ini juga dipertemukan diatas dasar keyakinan iman makna tauhid La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Tanmia Bagikan Nikmat Qurban Untuk Perkampungan Oenggae Muslim Pesisir Pulau Rote

Fajar menyingsing dengan cuaca angin yang masih dingin mulai terasa dan tampak dari kejauhan nyala lampu menara mercusuar Dermaga Pelabuhan laut Ba’a di Pulau Rote pada 14/08/2019. Ini adalah hari tasrik terakhir ke-3 pada bulan Dzulhijjah 1440 H dimana distribusi hewan qurban Tanmia Foundation menyasar pulau Rote. Titik lokasi penyembelihan hewan qurban dipusatkan di warga muslim Oenggae Kecamatan Pantai Baru berada di arah timur dan ditempuh sejauh 25 KM dari pusat dermaga Ba’a pusat kota Kabupaten Rote Ndao.

Haji Laode Mailing selaku imam Masjid Arrahman Oenggae Pantai Baru bersama penduduk bajo pesisir sudah bersiap-siap sejak pagi untuk bergotong royong melakukan penyembelihan qurban sapi dari Tanmia Foundation.

Oenggae adalah pemukiman muslim yang berada diantara mayoritas Kristen Protestan di Kecamatan Pantai Baru.

“Muslim di sini lebih kurang sejumlah 116 KK dengan jumlah mencapai 400 jiwa”, ucap Mahmud salah seorang muallaf yang sejak 1990 tinggal di Oenggae. Mata pencaharian penduduk Oenggae sebagian besar adalah melaut karena sudah turun temurun sejak dulu. Melaut dilautan lepas bukan dalam hitungan hari lagi mereka melainkan berminggu-minggu bahkan bulan karena mereka berburu ikan maupun hasil laut lainya berpindah-pindah. Naasnya bila cuaca buruk tak sedikit dari mereka yang tak kembali pulang entah bagaimana nasibnya.
Usai prosesi penyembelihan hewan bersama warga langsung dibagikan ke warga Oenggae hingga menjelang waktu Dzuhur tiba.

Sebelum pulang meninggalkan Oenggae tak lupa kami mengunjungi rumah Mama Zaini Casova ( 70th ) dan Mama Hanija Lembang ( 70th), keduanya adalah janda yang ditinggal sudah bertahun-tahun melaut oleh suaminya yang belum tahu keberadaannya.

“Alhamdulillah terima kasih sudah mampir di gubug kami membawakan daging kurban, ucap Mama Zaini dengan wajah senyum merekah sembari kami pamit pulang.

Pada umumnya warga muslim di pulau Rote memilih tinggal di pesisir-pesisir daripada warga Kristen atau Katolik yang tinggal di daratan atau pegunungan. Warga Muslim di Rote diperkirakan hanya 5 % dengan jumlah tertinggi berada di Lobalain dan terendah di Rote Tengah dan Selatan.

Pulau Rote adalah bagian kepulauan Rote yang masuk dalam wilayah Kabupaten Rote Ndao. Dengan Pulau Ndana Rote Barat Daya sebagai wilayah tugu perbatasan paling selatan perbatasan Indonesia dengan Australia.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Distribusi hewan qurban untuk warga pesisir Nangahale Talibura Maumere

Distribusi hewan qurban Tanmia Foundation pada hari tasrik ke 2 Iedul Adha 1440 H untuk Nusa Tenggara Timur tidak berhenti sampai di ujung barat pulau Flores di Komodo Manggarai Barat saja tapi menyasar juga ke Maumere Sikka, bagian wilayah timur daratan Flores.

Menempuh lintas trans Flores selagi pagi masih buta tim Tanmia Foundation menuju jalanan trans Flores untuk mengejar waktu agar sampai di Ende lanjut Maumere. Medan berkelok menanjak inilah jalanan khas Flores yang membentang membelah pegunungan rimba yang lebat.

Titik-titik rawan longsor harus dilewati tapi mau apalagi inilah jalan satu-satunya trans daratan Flores dari ujung Labuan Bajo hingga Larantuka.

Ajaib Subhanallah perjalanan menuju Maumere, usai melewati Bajawa-Ende yang dikenal berkelok terjal melintasi pegunungan tinggi danau Kelimutu Wolowaru semua terasa terbayar sekalipun harus terlewatkan moment untuk singgah karena kendaraan kami harus berpacu dengan waktu agar sampai di Maumere sebelum gelap.

Walhasil Alhamdulillah, singkatnya bersama Tim Kompak Maumere menuju lokasi pemotongan hewan kurban di Masjid Baitul Muhajirin, Dusun Likong Gete Desa Nangahale Kecamatan Talibura Kab. Sikka Flores NTT.

Syukur alhamdulillah dua ekor kambing super dapat dipotong di lokasi dan dibagikan untuk masyarakat muslim yang sebagian besar nelayan yang mendiami pesisir “,ucap Hainul Rashid da’i yang hari-harinya mengajar di sekitar Maumere.

Distribusi hewan qurban Tanmia Foundation kali ini adalah untuk pertama kalinya di Maumere Sikka. Hal ini sekaligus momen keberkahan yang bisa menguatkan ukhuwah dan memperkokoh benteng keimanan sesama kaum muslimin yang notabenenya tinggal sebagai minoritas di wilayah Kabupaten Sikka.

Berdasarkan data BPS Sikka 2018 hanya 12 % saja jumlah warga muslim yang berada di semua wilayah Sikka.

Semoga Allah menerima amal shalih disetiap niat dan derap langkah para shohibul qurban dan semua yang terkait dengan lautan nikmat keberkahan. Aamiin

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Warga Bajo Pesisir Pulau Longos NTT Menikamati Daging Qurban

Salah satu sasaran distribusi Qurban Tanmia Foundation selain daerah daratan pedalaman juga daerah pesisir kepulauan yang minim akses. Berdasarkan kriteria tersebut, distribusi hewan juga menjangkau Pulau Longos Manggarai Barat dengan melangsungkan penyembelihan tiga ekor kambing untuk warga kampung Bajo pesisir yang mayoritas nelayan.

Musim angin dan cuaca yang tak menentu membuat para nelayan tidak melaut dan biasanya lebih memilih bekerja serabutan atau menggunakan waktu untuk memperbaiki perahu sampan kayu atau bercocok tanam berladang di semak belukar pulau sebisanya.

Kampung Bajo yang terletak di pesisir pulau Longos ini tergolong minim. Listrik hanya hidup beberapa jam saja semalam sehingga siangnya padam, air kebutuhan konsumsi pun payau dan asin terkadang di beberapa titik pemukiman warga, begitu juga akses jaringan selular hanya ada titik-titik tertentu bisa didapat sehingga komunikasi agak terhambat.

Demikian kondisi masyarakat bajo yang notabene nelayan pesisir yang hidup ala kadarnya, tampak dari rumah penduduk masih terbuat dari belahan bambu yang sudah terkikis lapuk dan lusuh. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pendidikan pun sangat rendah. Anak-anak usai sekolah dasar tak jarang membantu melaut kebanyakan dan tidak melanjutkan sekolah setelah  lulus sekolah dasar. Sehingga mereka sudah bekerja untuk membantu orang tua memenuhi nafkah kebutuhan ekonomi keluarga.

Penyembelihan berlangsung mulai ba’da ashar hingga menjelang maghrib. Anak-anak pesisir pun dengan kepolosannya ikut antusias membantu penyembelihan sampai pendistribusian.

” Kaum ibu terbiasa ketika ada idul kurban menyiapkan bumbu untuk selanjutnya memasak daging bersama-sama di tungku tradisional dengan bahan bakar kayu kering lalu mengundang tetangga pesisir makan bersama”, terang Amran kepada crew Tanmia Foundation.

Bagi warga pesisir Bajo Pulau Longos menikmati masakan dari daging kurban bersama-sama adalah suatu kebahagiaan yang mereka nantikan. Teriring doa semoga senyum mereka adalah senyum yang mengantarkan kita bertemu di surgaNya. Aamiin Ya Rabbal alamin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Nikmat Hewan Kurban Sapa Muslim Pedalaman di Rahak Poco Golo Kempo Sano Nggoang

Usai Shalat ‘Ied di pedalaman Warsawe Mbeliling Tim Tanmia Foundation bergerak untuk mendistribusikan hewan kurban ke dusun-dusun yang berada di bukit-bukit pedalaman Sano Nggoang dan Mbeliling. Kali ini jalur distribusi menuju dusun Rahak dusun Desa Poco Golo Kempo yang merupakan daerah perbukitan terjal di wilayah Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat. Di desa ini sekitar 25 KK warga muslim asli yang termasuk dalam merupakan salah satu rumpun suku Rahak Kempo bermukim.

Di Desa Poco Golo Kempo, muslim menjadi minoritas. Hanya ada berkisar 25 KK kepala keluarga muslim sampai saat ini. Namun kendati demikian, jumlah tersebut tak mengurangi semangat keislaman dalam laju perkembangan zaman. Subhanallah banyak santri hafidz-hafidz Qur’an berprestasi yang berasal dari Rahak Poco Golo Kempo ini muncul.

“Tak sedikit murid putra-putri kami beberapa tahun terakhir berhasil menjadi hafizh di beberapa pesantren, syukur alhamdulillah kendati kondisi keberadaan kami disini cukup jauh untuk dijangkau dan sebagian besar keluarga asli yang merupakan asal Suku Kempo dan Lembor ,” terang Bapak Nurman bersama istrinya, selaku imam masjid.

Hewan kurban yang didistribusikan untuk warga Rahak Sano Nggoang dan dusun Wae Lambor Golo Tantong Mbeliling sebelumnya diangkut dengan kendaraan menuju lereng perbukitan di mana akan dilakukan penyembelihan di Masjid Hidayatullah, Rahak. Masjid ini memang dijadikan pusat kegiatan ibadah warga muslim di Poco Golo Kempo Sano Nggoang.

Nurman selaku imam Masjid Hidayatullah, menerima kedatangan tim Tanmia dan menghubungi para warga lain untuk membantu proses penyembelihan hingga selesai.

“Kami jadikan Masjid Hidayatullah sebagai pusat tempat pemotongan dan distribusi daging hewan kurban di Poco Golo Kempo. Hal ini mengingat satu-satunya masjid yang ada sekalipun ala kadarnya ketersediaan fasilitas” jelas Nurman Imam Masjid dirumahnya.

Hewan kurban yang di distribusikan tim Tanmia di Mbeliling dan Sano Nggoang ini adalah milik warga lokal yang notabene juga beternak dalam menyambung mata pencaharian mereka sehari-hari. Hewan di sini diternak liar di alam bebas oleh tuan-nya sehingga pada mulanya kami harus menempuh perjalanan melintasi lereng bukit untuk menjerat menangkapnya. Walhasil kebiasaan warga yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan hewan ternak liar cukup membuat kami terperanjat.

Namun demikian inilah adanya kebiasaan masyarakat pedalaman flores. “Dengan Qurban untuk muslim minoritas di pedalaman kita dapat membantu memberdayakan warga peternak lokal karena kebutuhan hewan saat musim kurban lumayan tinggi, tapi hewannya skalanya terbatas” tambah Arman yang juga ikut membantu menangkap hewan qurban kami yang lepas.

Distribusi daging kurban untuk warga muslim dhuafa di dusun-dusun pedalaman setidaknya mampu memberikan kebahagiaan hingga secercah do’a terbaik bagi para Shohibul Qurban yang mendermakan niat mulia untuk berkurban untuk saudara seimanya yang berada pelosok negeri, khususnya Pedalaman Pulau Flores NTT. Kebahagiaan akan hewan kurban adalah kebahagiaan yang tak ternilai yang dirasakan masyarakat pedalaman yang hidup dengan berbagai corak kondisi perekonomian. Kurban Anda bahagiakan mereka. Baarakallahu fiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Lebaran Idul Adha 1440 H : Asa Kebahagiaan di Warsawe Pedalaman Mbeliling Flores NTT

Hari Lebaran Idul Adha 1440 tim distribusi Qurban Tanmia Foundation menyambung asa harapan kaum muslimin di pedalaman Warsawe Mbeliling Manggarai Barat. Malam hari raya serasa bermakna karena esok akan merayakan kebahagiaan bersama-sama melaksanakan shalat Ied di Warsawe Mbeliling.

Malam yang gulita menjadi berkesan betapa nyala listrik sangat berarti disini, karena belum terjangkau dengan aliran listrik. Sehingga genset tenaga surya menjadi benda berharga untuk membantu aktivitas dan ibadah terutama bagi kaum muslimin pedalaman Warsawe yang berjumlah 27 KK dari sekian ratusan mayoritas Katolik dan Protestan.

Pagi shubuh nyala listrik dari tenaga surya menerangi Masjid Uswatun Karima satu-satunya masjid di Warsawe. Alhamdulillah kumandang takbir hari raya bersemarak menggema dari bahagia kaum muslimin yang tinggal di pelosok Warsawe. Serasa mengharukan berjumpa tatap muka bersama kaum muslimin yang notabene minoritas dan bertahan tinggal di pedalaman. Lagi-lagi inilah realita kondisi kaum muslimin yang tinggal di pedalaman dan minoritas.

Kali ini Khotib Iedul Adha, Ustadz Ramly yang memang sehari-hari nya menjadi imam Masjid di Warsawe. Berjumpa dengan raut wajah berseri bahagia kala bertemunya serasa saudara yang lama tak bersua. Ada haru dan rasa yang tak pernah tergantikan. Inilah nikmatnya iman yang luar biasa. Terbayang hari-harinya harus ia jalani menjadi da’i demi dakwah yang ia yakini di pedalaman.

“Belajar dari Nabi Ibrahim Alaihissalam yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan umatnya yang berpegang pada ajaran Tauhid Laa Ilaaha Ilallaah sebagaimana yang dialami sang kekasih Allah dan bapaknya para Nabi. Beliaulah teladan dalam pengorbanan, teladan dalam dakwah, teladan dalam keteguhan dan teladan dalam ketaatan hingga sampailah pada Rasulullah Muhammad Saw”, jelas khutbah Ustadz Ramly dalam khutbah di Masjid Uswatun Karima satu-satunya masjid di Warsawe .

Hari raya Idhul Adha adalah momen yang paling tepat untuk mengambil pelajaran berharga dari kisah-kisah ketauhidan, keyakinan akan sebuah prinsip Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Dan tentu bersyukurlah para ustadz dan dai yang berdakwah di tengah-tengah metropolitan kota-kota besar. Mereka bisa merasakan hidup di tengah fasilitas yang bisa dijangkau.

Tapi tidaklah demikian dengan para dai yang berdakwah di daerah terpencil hingga pedalaman. Jangankan berpikir rupiah, kendaraan mewah, atau penghargaan, seringkali usap air mata menemani mereka ketika melihat langsung kondisi umat Islam di pedalaman.

Bahkan, nyawa pun siap dipertaruhkan demi tegaknya Islam. Singkat cerita pengalaman Ustadz Ramly yang yang berdakwah di Warsawe Mbeliling Manggarai Barat.

Tim Tanmia Foundation dalam Idul Adha 1440 H ini juga mendistribusikan hewan kurban ke polosok-pelosok desa pedalaman pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Salah satunya, distribusi dilakukan di Pulau Flores, tepatnya di desa-desa pedalaman Manggarai Barat dan Sikka Maumere juga kawasan pemukiman muslim dhuafa yang masih berada di pulau-pulau terpencil.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Cara Seorang Muslim Memanfaatkan Waktunya

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

“Waktu yang dimiliki manusia itu adalah umurnya yang sebenarnya, dan dia adalah modal kehidupan yang paling berharga saat sehat dan muqim (aman). Juga modal manusia disaat yang sulit pada kesengsaraan dan kepedihan, dia bergerak sebagaimana gerakan awan, maka barang siapa yang waktunya untuk allah dan karena allah ta’ala maka itulah hidup dan umurnya yang sebenarnya, adapun selainnya maka itu tidak termasuk kehidupannya.”

Sesungguhnya waktu dalam agama islam memiliki tempat yang sangat Agung, tidak terhitung dan tidak terukur. Bahkan emas, perak, uang, dan segalanya tidak bisa membeli waktu untuk kembali walaupun sekejap saja.

Menggunakan waktu pada hal yang bermanfaat adalah sebuah keharusan, karena menggunakan kepada selainnya sudah pasti kerugian.

Seseorang harus bisa memilah dan memilih dari kegiatannya hal yang paling urgent kemudian yang semisalnya. Dan tidak membuang buangnya pada hal yang tidak bermanfaat baik bagi dunianya ataupun akhiratnya.

Bahkan jangan sampai membuang waktu yang sangat berharga tadi kepada hal-hal yang tidak ada dzikirnya kepada allah subhanahu wata’ala apatah lagi bergelimang dalam kemaksiatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَفَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Q.S. Al-Munafiqun : 9]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bahwasannyaorang yang merugi adalah mereka yang lupa dengan dzikrullah dan orang yang beruntung adalah mereka yang selalu ingat kepada allah.

Hal merupakan akibat dari terlalu tenggelamnya seorang hamba kepada dunia dan segala kelezatannya sehingga melupakan akhirat bahkan lalai terhadap kewajibannya sebagai seorang hamba.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْابِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi waktu ashar, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [Q.S. Al-Ashr 1-3]

Surat ini merupakan manhaj, metode, cara yang sempurna bagi seorang muslim dalam mengatur waktunya dan hari-harinya. Dalam surat ini terdapat pelajaran yang sangat penting didalamnya, dan didalamnya allah mengecualikan kelompok yang sedikit yaitu yabg keluar dari lingkarangkerugian, mereka adalah rang yang beriman, mengerjakan kebaikan dan saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.

Dan juga dalam al-qur’an allah subhanahu wata’alamenjelaskan bagaimana seseorang ketika selesai dari suatu pekerjaan:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ. وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” [Q.S. Al Insyirah : 7-8]

Dalam ayat ini Al-Imam At-Thabari rahimahullahmengatakan :

“Para Ahli Ta’wil (Ahli Tafsir) berbeda pendapat dalam tafsir ayat ini, dan yang benar adalah pendapat pertama yaitu, perkataan yang mengatakan : sesungguhnya allah subhanahu wata’ala menjelaskan perintah (untuk) rasulullah shallallahualaihi wasallam agar menjadikan waktu luangnya kepada apa-apa yang menyibukkan kepada hal-hal yang bermanfaat untuk dunianya dan akhiratnya, atau yang mendatangkan kepada kesibukan kepada keduanya, dan kesibukan yang bisa mendekatkan kepada-Nya, dan meminta kepada-Nya hajat-hajatnya, dan tidak ada pengkhususan dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya, baik itu semua waktu luangnya baik dari sholat, jihad, atau perkara dunia dia menyibukkan diri, karena keumuman syarat pada ayat itu, tidak ada pengkhususan pada kondisi ke kondisi yang lain”.

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” [Al-A’la : 17]

Para pembaca yang dirahmati allah tentunya pembahasan tentang pentingnya waktu sangatlah panjang apalagi jika ditambahkan dengan contoh dan yang lainya, atau bahkan bisa bisa menjadi sebuah buku, tidak bisa diringkas menjadi artikel yang pendek kecuali banyak memotong ilmu yang ada.

Akan tetapi kami akan meringkasnya menjadi beberapa poin yang paling penting tentang pengaturan waktu ini :

1. Jangan tunda pekerjaan saat ini hingga hari esok.
2. Ingatlah bahwa waktu yang anda miliki sekarang tidak akan pernah kembali selamanya.
3. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu anda kecuali untuk yang bermanfaat bagi dunia anda dan akhirat anda.
4. Lihatlah bagaimana para ulama dan para salafus shalihmemanfaatkan waktu mereka.
5. Waktu anda adalah saat ini bukan kemarin yang telah berlalu atau besok yang belum terjadi.
6. Waktu adalah diantara hal yang tidak bisa dibeli dengan harta semahal apapun.
7. Penyesalan pasti terjadi dibelakang.
8. Buatlah jadwal kegiatan anda dan petakan dari yang paling penting kemudian yang setelahnya.
9. Muhasabah diri apa yang sudah kita lakukan hari ini.
10. Lihatlah tabel jadwal harian anda sudah beberapa persen terealisasi.

Katakan kepada diri anda kita pasti bisa dan kerjakan hal itu sekarang “DO IT NOW”.

Ditulis oleh
Faqih, Mahasiswa Indonesia di Al Azhar University, Cairo, Mesir

Urgensi Waktu Dalam Hidup Manusia

Ada ungkapan dalam bahasa arab

؟ أليس اليوم هو الغد للأمس

“artinya “ bukankah hari ini adalah besok untuk hari kemarin?”.

Kita sering melihat seseorang atau bahkan diri kita sendiri menunda-nunda pekerjaan yang ingin dikerjakan dengan alasan “ nanti ajalah” atau “ besok kan masih bisa”, taukah anda pemikiran seperti ini akan membuat kita terbuai dengan waktu yang ada yang membuat diri kita bertambah malas, dan juga berpotensi menjadi kebiasaan atau habits, orang yang seperti ini biasanya akan selalu dikejar-kejar yang namanya deadline, mengapa harus menuggu besok? Bukankah hari ini juga telah menjadi hari besok? Dan hari besok juga akan menjadi hari ini, jadi mengapa tidak lakukan hari ini saja?.

Rasulullah sholallahu alaihi wasalam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya “ ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu olehnya : kesehatan dan waktu luang”.

Sering kita dengar fenomenal anak-anak zaman sekarang dari tingkat SD bahkan sampai anak kuliahan yang kecanduan game, ada yang tidak tidur berhari-hari demi menaikkan tingkatan level gamenya, bahkan ada yang lebih parahnya ada yang sampai meninggal dunia karena saraf otaknya berhenti berkerja akibat tidak tidur berhari-hari di warnet. Betapa sia-sianya waktu yang dipakainya.

Begitulah waktu terasa sangat cepat berlalu dan waktulah menentukan jalan hidup ini, apa yang anda lakukan di waktu sekarang itulah yang menentukan anda diwaktu yang akan datang, jika anda menghargai waktu maka waktu juga akan menghargai anda.

Pernahkah anda mendengar pepatah inggris mengatakan “ Time is money” waktu adalah uang, sebagai seorang muslim jelas kita tidak boleh memfokuskan diri hanya pada uang saja,tetapi terlepas dari itu, perlu anda ketahui bahwa barang siapa yang menyia-nyiakan waktu dalam kehidupannya berarti ia sedang menyia-nyiakan uang. Sebab, membuang waktu sama seperti membuang kesempatan anda untuk mendapatkan uang, jika hari ini adalah waktu anda untuk berkerja dan dari pekerjaan ini anda biasanya anda menghasilkan uang sebesar Rp.2.000.000 sementara anda justru bersantai-santai membuang waktu dengan percuma, maka sama saja anda sedang sembuang uang dua juta tersebut. Karena itulah pola pikir anda dalam menghargai waktu akan berakibat pada kondisi finansial anda.

Imam Hasan Al Bashri mengatakan :

يَا ابْنَ آدَمَ, إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ, إِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Artinya” wahai manusia sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari hilang, maka hilang pula sebagian dirimu.”

Begitulah kehidupan, setiap bertambahnya umur seseorang berarti berkurang waktu kehidupannya di dunia ini, oleh sebab itu para ulama terdahulu tidak pernah menyia-nyiakan waktunya mereka sedikitpun, Imam nawawi rahimahullah yang namanya sangat fenomenal, buku-buku yang ditulisnya sampai berjilid-jilid padahal beliau wafat di usia muda. Beliau memakai waktu hidupnya dengan sebaik mungkin untuk menuntut ilmu sampai lupa mencari pasangan hidup.

Atau imam Syafi`i yang tidurnya jarang nyenyak karena setiap beliau memejamkan mata sejenak ada fawaid-fawaid yang muncul di benaknya dan ia langsung menulisnya dan itu terus berlanjut hingga subuh.

Imam Al Ghozali pernah berkata di dalam kitabnya Bidayatul Hidayah:

Artinya” waktu-waktumu adalah umurmu, dan umurmu adalah harta yang paling berharga, dengannya engkau bisa menggapai kenikmatan abadi di sisi Allah ta`ala, setiap nafas dari setiap hembusan nafasmu adalah permata yang sangat berharga yang tidak tergantikan apabila telah hilang maka ia tidak akan kembali.

Maka jangan menjadi seperti orang bodoh yang senang dengan bertambah umur dan hartanya setiap hari padahal umurnya semakin berkurang.

Maka mulai sekarang bangunkan kesadaran dalam diri anda bahwa menghargai waktu itu sangatlah penting. Kesandaran ini penting karena ia akan menyelamatkan anda dalam setiap langkah yang akan anda lakukan selanjutnya.ketika anda mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, pada akhirnya anda akan mampu mengendalikan waktu dengan sebaik-baiknya.

Oleh : Al fath, Mahasiwa Indonesia di Al Azhar University, Cairo, Mesir.

Sumber :
• Kitab Qimatuz Zaman `indal Ulama
• kata-kata motivasi

Hargailah Perjuangan Kedua Orang Tua

Kita semua adalah pemimpin, sebagaimana seorang Bapak adalah pemimpin dalam rumah tangga terutama memimpin Istri dan Anak-anaknya, siapa yang tidak bisa memimpin keluarganya maka bersiaplah kepemimpinanmu akan di pertanggung jawabkan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana Allah berfirman;

يَأَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا قُوْ أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ نَاراً وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
‘’Wahai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah Manusia dan Batu’’,.(QS. At-Tahrim:6).

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhuma dan Para Ulama Salaf rahimahullah berkata, ‘’jika engkau mendengar Allah berfirman  dalam al-Qur’an ‘Hai orang-orang yang beriman’, maka perhatikanlah ayat itu dengan telingamu, karna itu merupakan kebaikan yang ia perintahkan kepadamu, atau keburukan yang Dia melarangmu darinya’’. (Tafsir Ibnu Katsir).

Terus gimana caranya supaya kita menjaga diri kita dan keluarga dari api neraka?
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata: maksud Allah menjaga diri kita dan keluarga dari api neraka yaitu untuk selalu mengajari keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allah yang dengannya akan menjaga diri mereka dari api neraka.

Di sinilah perjuangan seorang bapak untuk selalu mendidik Anak-anaknya, hormatilah perjuangan Ayahmu karna dia telah membesarkanmu dan mengajarimu kepada kebaikan, tidak ada di dunia ini seorang Ayah akan menuntun Anak-anaknya kepada keburukan, di dalam hati kecil Mereka ingin sekali menjadikan Putra Putrinya menjadi Shalih dan Shalihah, dan janaganlah kita memarahi dan benci kepada kedua orangtua kita disebabkan karna mereka di lahirkan dalam keadaan faqir terhadap ilmu dan harta, yang mana dengan keadaan seperti itu Mereka tidak bisa mendidikmu menjadi pribadi yang pintar, seharusnya dirimulah yang harus selalu berfikir dan semangat dengan di berikannya serba kekurangan kepada kedua Orang tuamu supaya dirimulah yang harus menjadikan dirinya terangkat martabatnya disebabkan dirimu yang selalu giat dalam belajar, banggakanlah ayah dan ibumu denagan kelebihanmu masing-masing, meskipun dirimu tidak mempunyai apa-apa untuk di berikan kepadanya setidaknya taatilah keduanya sebelum mereka akan meninggalkan dirimu selamanya,.

Janagnlah kita berkecil hati disebabkan karna mereka lulusan SD,SMP,SMA. Akan tetapi jadikanlah dirimu sebagai Anak yang akan mengangkat martabatnya, jangan sampai dirimu setelah mendapatkan ilmu yang jauh lebih faham dari orang tuamu malah menjadikan dirimu lebih rendah dari Ayah dan Ibumu.

Dan sadarlah Wahai saudarakau sesungguhnya di dalam darahmu mengalir keringat Ayahmu, meskipun Dia tidak menyusuimu akan tetapi setetes susu ASI dari Ibumu yang kamu minum darinya, semuanya ituh Adalah dari keluh kesah Ayahmu, dan jangan pernah kita sampai menyakiti perasaannya ataupun membuat kedua orangtua kita menangis atas sebab sikapmu yang kurang menghormati dan tidak taat kepadanya,, sesungguhnya Allah telah memrintahkan kepada kita untuk selalu taat kepadanya setelah kita mentaati allah, karna ridhonya Allah berada di dalam ridhonya kedua orang tua,

عن عبد الله بن عمر قال:رِضاَ الرَّبُّ فِيْ رِضَا الوَالِدِ وَسَخَطَ الرَّبُّ فِيْ سَخَطِ الوَالِدِ (رواه الترمذى:1899)
Artinya; Dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar ia berkata: Ridhonya Allah berada di dalam ridhonya kedua orangtua, Dan murkanya Allah berada di dalam murkanya orang tua. (HR. Attirmidzi:1899).

Tetapi di zaman yang semaki mendekati kehancuran dan penuh dengan fitnah, banyak keturuanan dari mereka malah menjadikan Ayah dan Ibunya menjadi seperti budak, dan lebih kejamnya lagi mereka malah membunuh Ayah dan Ibunya disebabkan kebencianya terhadap masa lalunya atau orang tuanya tidak menuruti kemauan Anaknya
Wahai saudaraku kita di lahirkan dari rahim seorang Ibu yang mana di saat kita masih di dalam kandungan dan masih bayi sempatkah kita berkata terima kasih dan bersyukur atas lahirnya diri inih? Tentu kita akan menjawabnya mustahil malah tidak akan bisa berkata sepatah katapun, berjalanpun kita tidak bisa yang cuman bisanya menjadikan beban bagi kedua Orang tua kita,.

ingatlah mereka rela tidak pernah tidur semalan hanya karnamu, disebabkan kasih sayangnya mereka terhadapmu yang tidak pernah hilang selamanya, setelah dirimu sudah beranjak dewasa dan baligh di manakah ucapan syukurmu dan hormatmu kepada kedua Orang tuamu? Sudah lupakah bahwa dirimu di lahirkan dari rahim Ibumu? Sudah lupakah bahwa dirimu di besarkan oleh keringat Ayahmu? Tidak sadarkah bahwa dirimu akan menjadi bapak sama seperti Ayahmu,. Kalau dirimu tidak pernah mentaati Ayahmu dan berbakti kepada keduanya maka tunggulah bahwa Anakmu juga nanti akan sepertimu dia tidak akan menghormati dan mentaati segala perintahmu, Kalau kedua orangtuanya tidak pernah di taati bagaimana akan mentaati sang pencipta.

Begitu juga kita semua adalah calon pemimpin dan penerus generasi setelahnya, maka Sebelum kita membangun rumah tangga dan membuat suasana yang baru maka persiapkanlah semaksimal mungkin, terutama seorang Wanita ingat bahwa dirimu akan menjadi guru pertama dari Anak-anakmu, sebagaimana seorang penyair dalam bait syairnya:

الأم مدرسة اذا أعددتَها*أعددتَ شعباً طيّب الأعراق
Artinya: “Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya”

persiapkanlah ilmu sebanyak banyaknya dari sekarang jangan sampai dirimu tergoda dan tergiur di karnakan melihat Orang-orang sudah menikah di usia muda, belum tentu orang yang menikah bisa merasakan kenyamanan dan kebahagiaan, boleh jadi apa yang telah meraka bangun saat inih sedang di landa kehancuran dan penderitaan, maka dari itu persiapkan semaksimal mungkin untuk selalu fokus dalam memikirkan masa depanmu bukan selalu memikirkan masa lalumu.

Wahai kaum Adam ketika dirimu telah menghalakan seorang Wanita maka hormatilah dia sebagaiman kamu selalu menghormati kedua Orang tuamu janganlah berlaku kasar kepadanya, dan jangan pernah membentaknya ketika Istrimu melakukan kesalahan, sesungguhnya Suami yang baik adalah ketika dia marah maka marahnya karna Allah dan ketika dia menasehati Istrinya maka dia akan menasehatinya dengan kesabaran dan kelembutan bukan dengan bentakan yang bisa melukai Istrinya, dan begitu juga seorang Istri yang baik adalah ketika Suaminya pergi maka dia akan menjada kehormatanya dan hartanya, dan ketika suaminya pulang dia kan menyambutnya dengan penuh kecintaan dan tidak akan pernah berjauhan dengan suaminya. Wallahu ‘alam.

Di nukil dari :
1. Tafsir ibnu katsir
2. Al-adabul Mufrod lil imam al hafidz ismail al bukhari
Di tulis oleh: Ade Kamaludin, Mahasiswa Indonesia, Al Azhar University. Cairo, Mesir

10 Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang Harta

Ketahuilah bahwa semua rezeki itu dari Allah Ta’ala. Terkadang Allah luaskan rezeki kepada seseorang, terkadang Allah sempitkan. Tugas kita adalah menerima semua putusan Allah dengan sabar, syukur dan qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah karuniakan. Inilah kunci kebahagiaan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

قد أفلحَ من أسلمَ ، ورُزِقَ كفافًا ، وقنَّعَه اللهُ بما آتاهُ

“Sungguh beruntung orang yang sudah berislam, lalu Allah beri rezeki yang secukupnya, dan Allah jadikan hatinya qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang dikaruniakan kepadanya” (HR. Muslim no. 1054).

Namun kebanyakan kita terkalahkan oleh hawa nafsu sehingga merasa tidak pernah cukup. Demikianlah umumnya manusia, betapapun banyak yang Allah berikan, terasa tidak pernah cukup. Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian)” (HR. Bukhari no.6436 dan Muslim no.1048).

Terkadang, betapapun banyak yang Allah berikan, masih saja seseorang merasa miskin dan kurang. Sehingga hidupnya tidak pernah bahagian karena terkungkung oleh perasaannya yang senantiasa merasa kurang.

Maka, mari kita kenali sebab-sebab seseorang senantiasa merasa miskin dan merasa kurang, semoga kita bisa merenungkan dan mengambil faedah darinya.

Seseorang akan terus merasa miskin dan kurang ketika:

1. Karena tujuan hidup dan ambisi terbesarnya masih mencari dunia, bukan akhirat
Orang yang ambisi terbesarnya adalah dunia, Allah jadikan kefakiran di depan matanya, ia merasa miskin terus. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

“Barangsiapa ambisi terbesarnya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefaqiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, Allah akan memudahkan urusannya, Allah jadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam ia tidak menyangkanya” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 950).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

محب الدنيا لا ينفك من ثلاث : هم لازم و تعب دائم و حسرة لا تنقضي

“pecinta dunia tidak lepas dari 3 hal: kegalauan yang terus-menerus, keletihan yang terus-menerus, dan kekecewaan yang tiada berakhir” (Ighatsatul Lahafan, 1/37).

2. Karena jahil terhadap ilmu agama
Ilmu membuat pemiliknya jauh dari cinta dunia, dan sadar bahwa akhirat adalah tujuan. Allah Ta’ala mengisahkan tentang Qarun:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar“” (QS. Al Qashash: 79-80).

Orang yang berilmu akan paham kekayaan hakiki bukanlah kaya harta benda, namun kekayaan hakiki adalah kaya hati. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu adalah banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati” (HR. Muslim no.6446, Muslim no. 1051).

3. Karena mengikuti bisikan setan dengan melakukan maksiat dan berbuat bid’ah
Karena setanlah yang menakut-nakuti dengan kefakiran lalu menyuruh manusia berbuat maksiat, bid’ah dan kesyirikan demi untuk mencari dunia. Allah Ta’ala berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. Al Baqarah: 268).

Orang yang terbawa oleh bisikan setan ini akan terus merasa kurang dan kurang, sehingga akhirnya ia menjalani jalan-jalan yang haram untuk mendapatkan harta.

4. Karena banyak bergaul dengan orang kaya, kurang bergaul dengan orang miskin
Orang yang banyak bergaul dengan orang-orang kaya, yang memiliki harta lebih banyak darinya, ia akan menganggap remeh nikmat Allah yang ia dapatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu” (HR. Bukhari – Muslim).

Banyak bergaul dengan orang-orang yang miskin dan lemah akan melembutkan hati dan menjauhkan jiwa dari cinta dunia. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata

أنَّ رجلا شكا إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ قسوةَ قلبِه فقال له إنْ أردتَ تَليينَ قلبِكَ فأطعمِ المسكينَ وامسحْ رأسَ اليتيمِ

“Ada seorang yang mengeluhkan kerasnya hatinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda kepada orang tersebut: “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, berilah makanan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Ahmad, 2/ 263, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 854).

5. Kurang mensyukuri nikmat-nikmat yang kecil
Jika hal-hal kecil tidak disyukuri, maka nikmat-nikmat yang besar tidak akan disyukuri dan terus merasa kurang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَن لا يشكرُ القَليلَ لا يَشكرُ الكثيرَ

“Orang yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia tidak akan bersyukur pada nikmat yang banyak” (HR. Ahmad no. 18449, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.3014).

6. Hati yang sakit dan mati
Sehingga tidak memiliki tawakkal, husnuzhan billah, qana’ah, syukur, dan ibadah-ibadah hati lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Dzar:

أَفَتَرى قِلَّةَ المالِ هو الفقرَ ؟ . قلتُ : نعم يا رسولَ اللهِ ! قال : إنما الغنى غنى القلبِ ، و الفقرُ فقرُ القلبِ

“Apakah kalian menyangka kefakiran itu adalah kekurangan harta?”. Abu Dzar menjawab: “iya wahai Rasulullah”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kekayaan hakiki itulah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati” (HR. Ibnu Hibban no.685, Al Hakim no. 7929, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 827).

Hati yang sehat akan merasakan ketenangan dan manisnya iman, tidak ada perasaan susah karena kurangnya harta. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4).

7. Kurang ibadah
Karena Allah menjanjikan orang yang banyak beribadah akan diberikan rasa lapang di dada dan akan dicegah dari kefakiran. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يقولُ يا ابنَ آدمَ : تَفَرَّغْ لعبادَتِي أملأْ صدركَ غِنًى وأسُدُّ فقرَكَ ، وإِنْ لَّا تفعلْ ملأتُ يديْكَ شُغْلًا ، ولم أسُدَّ فقْرَكَ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Wahai manusia! Habiskan waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kecukupan dan akan Aku tutup kefaqiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka akan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefaqiranmu’” (HR. At Tirmidzi no. 2466, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Maka perbanyaklah ibadah dan ikhlaslah dalam beribadah, niscaya Allah akan berikan kecukupan.

8. Penghasilan atau pekerjaannya haram
Karena harta yang haram tidak ada keberkahan di dalamnya, semua yang didapatkan akan terasa kurang dan sedikit kebaikannya. Contohnya harta riba, Allah Ta’ala berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah menghancurkan harta riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al Baqarah [2]: 276).

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الجنةَ لحمٌ نبت من السُّحْتِ، وكلُّ لحمِ نبت من السُّحتِ ؛ كانتِ النارُ أوْلَى به

“Tidak masuk surga, daging yang tumbuh dari harta haram. Setiap daging yang tumbuh dari harta haram, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no.15284, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah[6/214]).

9. Tidak mau bekerja dan malas
Ketika seseorang tidak mau berusaha dan malas mencari rezeki bagaimana mungkin ia lepas dari kefakiran? Maka bagi laki-laki, tidak boleh malas dan enggan bekerja. Umar radhiyallahu ‘anhu:

يا معشر القراء (أي العباد) ارفعوا رؤوسكم، ما أوضح الطريق، فاستبقوا الخيرات، ولا تكونوا كلاً على المسلمين

“Wahai para pembaca Qur’an (yaitu ahli ibadah), angkatlah kepada kalian (baca: bekerjalah!), sehingga teranglah jalan. Lalu berlombalah dalam kebaikan. Dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Para lelaki kaum Muslimin tidak boleh malas bekerja, karena mereka bertanggung-jawab memenuhi nafkah keluarganya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو

تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah. Namun setiap Mukmin itu baik. Semangatlah pada perkara yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam perkara tersebut), dan jangan malas. JIka engkau tertimpa musibah, maka jangan ucapkan: andaikan saya melalukan ini dan itu. Namun ucapkan: “qadarullah wa maa-syaa-a fa’ala (ini takdir Allah, apa yang Allah inginkan itu pasti terjadi)”. Karena ucapkan “andaikan…” itu akan membuka pintu setan” (HR. Muslim no. 2664).

10. Jarang berdoa
Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan banyak doa-doa agar terhindar dari kefakiran. Diantaranya:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran… ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur… tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau” (HR. Abu Daud no.5092, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau biasa berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)” (HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya).

Dan doa-doa lainnya yang berasal dari Al Qur’an dan Sunnah.

Maka pembaca yang budiman, mari kita kenali dan renungkan poin-poin di atas, dan kita tumpas segera sehingga kita terbebas dari perasaan selalu miskin dan selalu kurang.

Sumber – muslim.or.id

Kelezatan Hidup Dunia

Tiga Pokok Sumber Kelezatan Hidup Dunia

Hidup manusia di dunia merupakan kehendak Allah yang Maha Menciptakan alam semesta, segala sesuatunya tunduk pada kekuasaan dan kehendakNya, berjalan sesuai dengan kehendakNya, manusia diperintahkan untuk berikhtiyar memakmurkan dunia dengan anturan yang dibuatNya pula, namun semua aturan tersebuat sudahpun dibuat untuk kebaikan manusia itu sendiri.

Berbagai macam godaan, ujian serta hiruk pikuk kehidupan pasti akan dihadapi manusia, mulai ia dilahirkan dari rahim ibu yang telah mengandungnya hingga ia tutup sejarah hidupnya dengan kematian, susah dan senang datang silih berganti, sukses dan gagal sudah menjadi cerita harian dalam kehidupan manusia.

Manusia yang diberikan kenikmatan lalu ia mensyukurinya adalah sikap yang paling tepat terlebih bila ia pakai nikmat sebagai alat untuk lebih taat pada Rabbnya, namun bila ujian menimpa, onak dan duri melintang di tengah jalan kehidupan maka tidak ada jalan yang paling Indah untuk mengatasinya kecuali dengan kesabaran, memang hidup manusia mustahil bisa keluar dari dua hal tersebut, sabar dan syukur, sabar kala ujian menyapa dan syukur bila nikmat datang menghampiri.

Namun sering kali keduanya juga ujian, ya nikmat dan musibah sering kali keduanya jadi ujian, hanya saja dengan style yang berbeda, yang satu manis memikat yang satunya pahit menghimpit, yuk lihat firman Allah taala:

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (35) الأنبياء

Dan kami uji kalian dengan ujian yang buruk dan ujian yang baik, dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan (QS Al Anbiya:35).

Imam Ath thabary berkata:
Maksud ayat ini ialah bahwasanya Allah akan menguji manusia dengan nikmat, akankah manusia bisa mensyukurinya, dan manusia akan diuji dengan keburukan akan ia dapat bersabar karenanya?!.

Kesimpulannya bahwa nikmat dan musibah keduanya adalah ujian, namun ujian kesulitan mudah diindentifikasi, namun ujian nikmat susah untuk dikenali, namun di akhir ayat Allah menyebutkan setelah kalian mendapat ujian yang baik dan yang buruk itu akan dikembalikan kepada Allah untuk diberikan balasan, bila berhasil dalam ujian pasti dapat hadiah bila gagal pasti dapat sangsi.

Hidup yang dijalani manusia ini sering kali terlihat tidak sesuai dengan arah hembusan angin hasrat manusia, tidak selalu sesuai dengan harapan, sehingga mungkin terlihat menjadi tidak indah atau malah menderita.

Malik bin Dinar pernah berkata:
Tidak ada yang dapat membuat hidup menjadi nikmat kecuali tiga hal:
1/ Bertemu dengan saudara seiman
2/ Shalat tahajjud dengan Al Qur’an
3/ Menyendiri untuk mengingat Allah ta’ala.
Beliau menyebut tiga hal ini sebagai ruh dunia, dan memang ke tiga faktor ini yang membuat manusia menikmati hidup dengan sempurna.

Saudara seiman memberikan nasehat, arahan bahkan peringatan untuk kebaikan hidup akhirat kita, ini sangat penting karena manusia sulit berlepas dari aib, cacat, salah, lalai dll.

Umar bin Khattab berkata:
Tidak ada Karunia Allah yang lebih besar setelah “Islam” bagi manusia melebihi “saudara seiman”, maka bila seorang di antara kalian melihat ada kasih sayang dari saudaranya kepada dirinya maka hendaklah ini menjaga persaudaraan itu.

Tahajjud dengan Al Quran merupakan nikmat yang tidak terhingga, manusia melantunkan firman rabbnya di tengah malam, saat hening dan penuh ketenangan, Allah memberikan cahaya kepada wajah mereka, dan ketentraman dalam jiwa mereka.

Kenikmatan ini yang diizinkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam untuk kita boleh iri dari seseorang yang Memilikinya,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَاحَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَيْنِ رَجُلٌ أَتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ اَعْطَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda :”tidak dibenarkan hasad (iri hati), kecuali terhadap dua orang; seseorang yang dikaruniai oleh Allah (kemampuan manghafal/membaca) Al-Qur’an, lalu ia membacanya pada waktu malam dan siang. Dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakannya pada waktu malam dan siang”.(HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i).

Dalam hadits ini disebutkan hanya ada Dua nikmat yang dimiliki manusia yang boleh kita iri hati melihat nikmat itu, iri hati lalu kita berusaha untuk mewujudkannya dalam kehidupan kita, kelihatannya nikmat tahajjud dengan Al Quran sama dengan nikmat membelanjakan harta di jalan Allah, hanya saja yang satu bersifat Virtikal (hablumminallah) dan yang satu lagi bersifat Horizontal (hablum minannas).

Kemudian Zikir adalah hubungan komunikasi antara manusia dengan Allah, komunikasi dengan Dzat yang telah menciptakan manusia, kekasih hati manusia, sehingga hidup sedemikian nikmat mana kala selalu ada komunikasi dengan Dzat yang kita cintai, yang telah memberikan nikmat kepada manusia baik di dunia dan di akhirat nanti in syaa Allah.

Tatkala syarian islam sudah banyak diamalkan orang tetap saja Rasulullah shallahu alaihi wasallam menganjurkan agar jangan sampai mengesampingkqn dzikir, seperti dalam riwayat berikut ini:

Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata,

جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم فقال: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »

“Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Semoga Allah memberikan kepada kita Taufiq dan inayah agar kita semua dapat menikmati hidup di dunia dalam bimbingan dan Karina dari Allah, aamiin ya rabbal alamin.

Kebebasan Dalam Kacamata Islam

Kebebasan secara umum merupakan hak dari masing-masing individual, yang mana hal tersebut tidak bisa dibantahkan dan diusik oleh pihak manapun, lawan kata dari “kebebasan” disini adalah “perbudakan”. Umar bin Khatthab r.a. pernah berkata;

((مَتَى اسْتَعْبَدْتُمُ النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ أَحْرَارًا))

“Akankah kalian hendak memperbudak manusia, sedangkan ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan bebas (bukan budak).”

Dalam hal ini, bukan berarti kita hidup sebebas-bebasnya tanpa aturan yang mengiringi dan menuntun kita menuju jalan yang tentunya akan menyelamatkan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Karena sejatinya, ketika kita melepaskan diri dari aturan-aturan agama Islam dengan dalih kebebasan, sama saja kita menjebloskan diri kita dalam penjara hawa nafsu dan perangkap setan, yang akan mengantarkan kita menuju kesengsaraan yang sesungguhnya kelak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam balutan mutiara hikmahnya;

((الْمَحْبُوْسُ مَنْ حَبِسَ قَلْبَهُ عَنْ رَّبِّهِ تَعَالَى وَالْمَأْسُوْرُ مَنْ أَسِرَهُ هَوَاهُ))

“Orang yang dipenjara adalah orang yang terpenjara (terhalangi) hatinya dari Rabbnya (Allah) ta’ala, dan orang yang tertawan (terbelenggu) adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya.”

Kita juga adalah makhluk sosial, yang tidak bisa hidup sendirian dan membutuhkan orang yang berada di sekitar kita, mereka pun membutuhkan aturan-aturan dalam memaknai kebebasan itu sendiri, demi terciptanya kehidupan yang lebih manusiawi dan membedakan antara manusia dan hewan.

Sedangkan dalam hal ini, Islam sudah menetapkan sebuah prinsip umum yang mengatur hubungan antar sesama manusia, dan berlaku kaidah ((لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَار)) yaitu tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Maka dengan ini, Islam mengajarkan kita agar tidak mengganggu hak-hak orang lain dengan dalih kebebasan.

Begitu juga kebebasan dalam beragama, hal ini termasuk makna kebebasan yang bersifat umum, karena setiap manusia memiliki hak untuk memilih agama yang ia yakini. Allah ta’ala berfirman;

((لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ….))
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam),” (QS. Al-Baqarah [2] : 256).

Keterpaksaan dalam beragama menghasilkan di dalamnya orang-orang munafik yang tidak beriman, sedangkan Islam sangat membenci sifat dari kemunafikan.

Justru apabila hidup kita diiringi dengan Tauhid (Islam), maka hal itulah yang membebaskan manusia dari perbudakan atau penghambaan diri kepada makhluk yang tidak punya kemampuan untuk memberikan manfaat maupun bahaya kepada dirinya.

Orang-orang yang mengagung-agungkan kebebasan sebagai slogan dalam hidupnya, dan berusaha mencari-cari dalih untuk mendiskreditkan Islam dan mengesankan bahwa aturan dalam Islam itu adalah belenggu yang mengekang kebebasan manusia.

Padahal kalau ditelisik lebih dalam, dalil yang mereka gaungkan justru membantah pemahaman mereka dan justru bukan mendukungnya.

Seperti salah satu Hadist Nabi Muhammad shallallahu alaihi wsallam yang mereka jadikan dalih, bahwa aturan-aturan dalam Islam mereka anggap sebagai belenggu.

((الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ))
“Dunia ini adalah penjara (bagi) orang-orang yang beriman dan surga (bagi) orang-orang kafir.” (HR. Muslim no.2956).

Apabila dipahami secara bahasa, memang benar apa yang mereka maksud, akan tetapi justru penafsiran yang benar adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya “Badaai’ul Fawaaid” (3/696), Orang yang beriman di dunia ini, keimanannya yang kuat menghalangi dia untuk memperturutkan hawa nafsunya yang diharamkan oleh Allah ta’ala, sehingga dengan keadaan ini seolah-olah ia hidup dalam penjara, atau dengan kata lain, dunia ini adalah tempat untuk orang-orang yang memenjarakan hawa nafsunya dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah ta’ala.

Berbeda dengan orang kafir yang hidup bebas memperturukan hawa nafsunya, sehingga dianggap bahwa dunia ini adalah surga bagi mereka. Wallahu a’lam bisshowab.

Oleh : Muhammad Munib Asmuni

Sumber :
1. Al-Azhar Magazine
2. http://www.muslim.or.id

Kabar Tanmia Berlangganan