Ma'had <strong>Tanmia</strong>

Ma'had Tanmia

Ma'had<strong>Al Itqan</strong>

Ma'hadAl Itqan

Sosial & <strong>Da'wah</strong>

Sosial & Da'wah

Menjadi Insan Yang Dicintai Allah

Oleh : Kholid Mirbah

Allah ta’ala berfirman,

(قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ)

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[Surat Ali ‘Imran 31]

Diantara nikmat Allah yang sangat besar di dalam kehidupan ini adalah Ni’matul Mahabbah ( Nikmat dicintai oleh Allah), jangankan kita dicintai oleh Allah, bagaimana kehidupan kita sehari-hari dicintai oleh orang-orang yang dekat dengan kita, dicintai oleh suami, istri, orang tua, atasan, masyarakat, maka hidup ini sudah barang tentu kita merasakan kebahagiaan yang luar biasa, itu semua baru makhluk yang mencintainya, lalu bagaimana kalau yang mencintainya adalah sang khaliq (yang menciptakan semuanya). Oleh karenanya mendapatkan cinta Allah adalah energi yang luar biasa dalam kehidupan, tidak ada orang yang memiliki energi yang kuat melebihi orang yang dicintai Allah.
Nah, bagaimana agar kehidupan kita dan orang-orang yang dekat dengan kita dicintai oleh Allah?

1. Mengikuti Rasulullah shallahu alaihi wasallam dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Sebagaimana firman Allah,

(قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ)

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[Surat Ali ‘Imran 31]

Jadi cinta Allah akan kita dapatkan ketika kita mengikuti Rasulullah shallahu alaihi wasallam, ketika kita shalat misalnya kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah, sehingga ungkapan haditsnya adalah,

« صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلي» أخرجه البخاري

“Shalatlah kalian sebagaimana melihat Aku shalat” (HR Al-Bukhari)
Begitu pula ketika kita sedang Haji atau Umroh, kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah, maka ungkapan haditsnya adalah,

خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُم

Artinya: “Ambillah dariku tatacara haji kalian dalam berhaji. (H.R. Muslim)
Begitu pula dalam berumah tangga, berpolitik, berbangsa dan bernegara dan seluruh dimensi kehidupan kita mengikuti Rasulullah sehingga kita dapat meraih kecintaan dari Allah.
Maka perintah untuk mengikuti Rasulullah adalah sebuah kewajiban, sebagaimana firman Allah ta’ala ,

( وَمَاۤ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُوا۟ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ)

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya. [Surat Al-Hasyr 7]

Ini adalah kaidah kehidupan yang harus kita terapkan, kalau kita benar-benar ingin meraih kecintaan dari Allah.
Saking indahnya cinta, seorang filosof mengatakan seandainya semua manusia itu berdiri diatas cinta maka tidak ada lagi yang menuntut keadilan.
Diantara contoh betapa indahnya cinta Ibunda kita Saudah radhiyallahu anha, ketika beliau tau bahwa nabi begitu mencintai Aisyah radhiyallahu anha, begitu mendapat jatah giliran malam dari nabi, maka giliran beliau diberikan kepada Aisyah radhiyallahu anha, kenapa? Karena Saudah ra amatlah besar cinta beliau kepada Rasulullah shallahu alaihi wasallam dan mencintai istri Nabi yang lain yang bernama Aisyah radhiyallahu anha.

Kalau hidup ini didasari cinta, orang tua mencintai anaknya, suami mencintai istrinya, pemimpin mencintai rakyatnya, rakyat mencintai pemimpinnya maka hidup akan terasa indah dan bergairah dan itu kata kuncinya yang paling utama adalah harus mengikuti petunjuk Rasulullah shallahu alaihi wasallam.
Kenapa dizaman ini banyak muncul permasalahan yang sangat merepotkan manusia, terutama umat islam sebabnya adalah fanatik terhadap golongan, sehingga hilang rasa cinta. Hanya karena beda golongan, beda jamaah, beda ormas, sehingga terkadang terjadi perpecahan sehingga suasana persaudaraan sesama umat islam kurang kondusif. Padahal sesama orang mukmin itu bersaudara, Allah swt ingatkan dalam Al-Qur’an bahwa sesama mukmin itu bersaudara, firman-Nya;

(إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةࣱ فَأَصۡلِحُوا۟ بَیۡنَ أَخَوَیۡكُمۡۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
[Surat Al-Hujurat 10]

2. Takwa

Siapapun orang islam yang bertakwa pasti dicintai oleh Allah ta’ala , dalilnya dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِینَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”
[Surat At-Taubah 4]

Kata takwa sering kita dengar dalam khutbah maupun pengajian, nah apa tanda kalau seseorang itu disebut bertakwa sehingga mendapatkan hak untuk dicintai oleh Allah. Para ulama mendefinisikan takwa adalah kamu membangun dinding yang memisahkan kamu dengan azab Allah dengan cara melaksanakan seluruh perintah Allah baik itu berupa perkara yang wajib maupun sunnah dan menjauhi seluruh larangan-Nya baik itu yang berupa haram ataupun makruh, sehingga orang yang bertakwa tidak akan menerjang perkara yang dianggap makruh apalagi yang haram.
Selain itu ada definisi takwa yang lebih aplikatif sebagaimana diutarakan oleh sahabat Nabi shallahu alaihi wasallam yang bernama Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, ketika ditanya oleh Umar tentang hakikat takwa, Wahai Ubay, apa makna takwa?” Ubay yang ditanya justru balik bertanya. “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?”

Umar menjawab, “Tentu saja pernah.” “Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?” lanjut Ubay bertanya. “Tentu saja aku akan berjalan hati-hati,” jawab Umar. Ubay lantas berkata, “Itulah hakikat takwa.”
Sebuah perbincangan yang sarat akan ilmu, maka menjadi orang bertakwa hakikatnya menjadi orang yang amat berhati-hati. Ia tidak ingin kakinya menginjak duri-duri larangan Allah ta’ala.

Generasi terbaik zaman dahulu dimana takwa lebih dominan dari pada fitnah, akan tetapi ketakutan mereka terhadap fitnah sangat perlu kita jadikan sebagai teladan, saking takutnya mereka terhadap fitnah wanita diantara mereka yang bernama Said bin Al-Musayyib, dia berkata, “Tidak ada yang lebih mudah bagi setan untuk menggoda kecuali melalui perempuan.” Kemudian, Said berkata “Tidak ada sesuatu yang lebih aku takutkan daripada perempuan.” Padahal saat itu umurnya sudah lanjut, tua renta dan salah satu penglihatannya telah buta sedangkan yang tersisa pun sudah kabur penglihatannya karena rabun. Sangat besar rasa takwa beliau kepada Allah ta’ala .

Makanya kalau kita ingin dicintai Allah jadilah pribadi yang bertakwa, bahkan saking pentingnya takwa para ulama sepakat bahwa segala ibadah yang kita laksanakan tujuannya bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban tetapi lebih dari itu untuk meraih predikat ketakwaan disisi Allah swt dan menyucikan jiwa manusia, sehingga hati dan fikirannya menjadi jernih dan bersih dari noda-noda dosa. Sehingga kebaikan hati yang merupakan anggota tubuh paling urgen dapat memberikan dampak yang positif kepada anggota tubuh yang lain, sebagaimana sabda Nabi shallahu alaihi wasallam;

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

“Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh jasad, namun apabila segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati!”

Makanya diantara tugas Rasulullah saw diutus ke dunia adalah menyucikan hati dan jiwa kita semua, sebagaimana firman Allah ta’ala,

(كَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا فِیكُمۡ رَسُولࣰا مِّنكُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡكُمۡ ءَایَـٰتِنَا وَیُزَكِّیكُمۡ وَیُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَیُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُوا۟ تَعۡلَمُونَ)

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”
[Surat Al-Baqarah 151]

Bahkan diantara syariat islam yang mungkin dibenci oleh sebagian manusia namun pada hakikatnya dapat mengantarkan kepada takwa adalah syariat Qishas. Apa itu Qishas? Yaitu

أَنْ يُفْعَل بِالْفَاعِل الْجَانِي مِثْل مَا فَعَل

Diperlakukannya pelaku kejahatan sebagaimana dia memperlakukan hal itu kepada korbannya.
Jadi qishash maknanya hukuman bagi pelaku kejahatan yang prinsip dasar ditegakkannya berdasarkan kesetaraan bentuk kejahatannya. Prinsipnya membunuh dibunuh, melukai dilukai, merusak dirusak dan memotong dipotong.
Tentang Qishas, Allah ta’ala berfirman,

(وَلَكُمۡ فِی ٱلۡقِصَاصِ حَیَوٰةࣱ یَـٰۤأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)

Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.
[Surat Al-Baqarah 179]

Dalam ayat tersebut kenapa dalam hukuman Qishas itu ada kehidupan, bukankah orang yang diqishas itu juga dihukum mati ketika ia membunuh? Karena jikalau setiap orang yang membunuh itu diqishas maka orang-orang berfikir dua kali untuk melakukan pembunuhan, khawatir ia terkena qishas juga, sehingga orang tidak mudah menghilangkan nyawa orang lain, akhirnya keamanan hidup manusia akan terjamin. Inilah maksud firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 179 di atas.

3. Santun kepada sesama muslim dan tegas kepada orang kafir.

Allah ta’ala berfirman,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَن یَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَلَا یَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَاۤىِٕمࣲۚ ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [Surat Al-Ma’idah 54].

Dalam ayat diatas secara tegas bahwa diantara sifat-sifat orang-orang yang dicintai oleh Allah adalah lemah lembut dan sopan santun kepada sesama muslim, karena sesama muslim adalah bersaudara, jangankan menzhalimi, bahkan mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati orang beriman saja terlarang.

Rasulullah pernah memberikan teguran jika istrinya mengeluarkan kata-kata tak sedap didengar, Aisyah meriwayatkan, “Aku pernah berkata kepada Nabi, ‘Shafiyah itu orangnya begini begini’ (menurut riwayat lain, ia mengatakan Shafiyah itu pendek). Lalu beliau bersabda, ‘Kau telah mengatakan sesuatu yang seandainya melebur dengan air laut maka leburlah ia”.

Ucapan yang menyakiti orang lain di dalam islam terlarang hukumnya karena islam adalah agama mahabbah (cinta), makanya mengenai pentingnya menjaga ucapan yang baik sampai-sampai Rasulullah menjadikan hal tersebut sebagai standar keimanan manusia, Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari]

Jangan sampai kita menyakiti orang lain baik itu dengan ucapan maupun perbuatan terhadap manusia terlebih lagi terhadap orang-orang beriman apalagi kepada para ulama, orang tua kita dan kepada orang-orang yang berjihad membangun bangsa ini. Maka, menjaga sopan santun dan perasaan seorang mukmin adalah kewajiban yang dapat mengantarkan kecintaan kepada Allah. Jangan sampai terjadi sebaliknya sesama orang islam galak dan tidak sopan justru dengan orang kafir saling bermesraan dan berlemah lembut. Maka ini pertanda dia tidak paham terhadap perintah Allah ta’ala .

4. Berjuang dijalan Allah ta’ala .

Allah memerintahkan agar setiap muslim mau berjuang dijalan Allah di dalam medan kehidupan yang mereka jalani masing-masing agar mereka meraih mahabbah dari Allah swt.
Allah berfirman dalam lanjutan ayat di atas

…فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ …….

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah…
[Surat Al-Ma’idah 54]

Kata jihad, memiliki pengertian yang luas. Jihad dalam arti memerangi orang kafir, hanya merupakan salah satu dari bentuk dan jenis jihad, karena pengertian jihad lebih umum dan lebih luas dari hal tersebut.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan jenis jihad ditinjau dari obyeknya, memiliki empat martabat, yaitu: jihad memerangi nafsu, jihad memerangi setan, jihad memerangi orang kafir dan jihad memerangi orang munafik.
Dalam keterangan selanjutnya, Imam Ibnul Qayyim menambah dengan jihad melawan pelaku kezhaliman, bid’ah dan kemungkaran.
Zaadul Ma’ad fi Khairal ‘Ibaad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdulqadir al Arnauth, Cetakan Ketiga, Tahun 1421H, Muassasat ar Risalah, Bairut (3/9-10)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata.

Sampai-sampai sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya menuntut ilmu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan pedang.”

Karena menjaga syari’at adalah dengan ilmu. Jihad dengan senjata pun harus berbekal ilmu. Tidaklah bisa seseorang berjihad, mengangkat senjata, mengatur strategi, membagi ghonimah (harta rampasan perang), menawan tahanan melainkan harus dengan ilmu. Ilmu itulah dasar segalanya”.

(Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 108)

Jihad merupakan amal kebaikan yang disyari’atkan Allah. Ia menjadi sebab kokoh dan mulianya umat Islam. Sebaliknya, jika kaum Muslimin meninggalkan jihad di jalan Allah, maka mereka akan mendapatkan kehinaan. Dijelaskan dalam hadits yang shahih :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Dari Ibnu Umar, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila kalian telah berjual-beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridha dengan pertanian serta meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian” [HR Abu Dawud].

telaga

Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam Menunggumu di Telaga

Padang mahsyar adalah sebuah tempat pada hari Kiamat yang disiapkan oleh Allah ta’ala untuk mengumpulkan seluruh manusia yang pernah hidup di alam dunia ini, untuk menghadiri proses hisab dan pengadilan akbar, setiap manusia akan memperoleh haknya tanpa ada sedikitpun kezaliman.

Matahari yang sangat dekat jaraknya dengan manusia membuat manusia yang berkumpul itu merasa sangat haus, kelelahan juga ketakutan, semua manusia mencari solusi apa saja yang bisa membuat mereka merasa lebih ringan dalam menghadapi kenyataan di mahsyar.

Salah satu bentuk rahmat Allah di padang mahsyar untuk manusia ialah disiapkan bagi mereka telaga penuh air agar manusia dapat menghilangkan dahaganya, setiap Nabi yang diutus oleh Allah diberikan telaga masing – masing agar para pengikut Nabi- Nabi dapat minum di sana, hal itu seperti hadits berikut ini:

إِنَّ لكلِّ نبيٍّ حوضًا ، وإِنَّهم يتباهَوْنَ أيُّهم أكثرُ وارِدَةً ، وإِنَّي أرجو أنْ أكونَ أكثرَهم واردَةً

Setiap Nabi memiliki Telaga, mereka berbangga ummat siapa yang paling ramai datang ke Telaga itu, aku berharap Telagaku paling banyak yang mendatanginya (HR Tirmidzi, dishahihkan Albany).

Berita tentang telaga Nabi shallahu alaihi wasallam sangat banyak, diceritakan dalam riwayat secara mutawatir (diceritakan oleh banyak perawi) dalam berbagai kita hadits shahih (Ash Shihah), sunan serta masanid.

Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang menyebutkan al-Haudh (telaga) mencapai derajat Mutawatir. Ada lebih dari tiga puluh orang sahabat shallallahu alaihi wa sallam yang meriwayatkannya. Guru kami, Imaduddin Ibnu Katsir, benar-benar telah membahas sanad-sanadnya di bagian akhir kitab sejarah yang besar yang berjudul al-Bidayah wan Nihayah.” (Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 309)

Imam Nawawi berkata: Telaga Nabi shallahu alaihi wasallam adalah hakiki (benar adanya) telah diciptakan oleh Allah ta’ala, ia adalah makhluq yang telah ada sekarang ini.

Syekh Ibu Al Utsaimin berkata:
Telaga Nabi shallahu alaihi wasallam telah ada, Nabi shallahu alaihi wasallam pernah diperlihatkan oleh Allah telaga itu.

عقبة بن عامر: أنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – خرج يومًا فصلى على أهل أحد صلاته على الميت، ثم انصرف إلى المنبر، فقال: “إني فرط لكم، وأنا شهيد عليكم، وإني والله لأنظر إلى حوضي الآن”

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallahu alaihi wasallam keluar menuju shalat jenazah salah seorang sahabat, setelah shalat selesai beliau naik minbar dan bersabda: Aku menunggu kalian, aku menjadi saksi bagi kalian, demi Allah aku melihat Telagaku sekarang ini (HR AlBukhari dan Muslim).

روى مسلم من حديث أبي ذر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – عندما ذكر الحوض قال: ماؤه أشد بياضًا من اللبن، وأحلى من العسل وريحه أطيب من المسك.

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu ia berkata: bahwasanya Nabi shallahu alaihi wasallam menyebut tentang Telaga (Haudh), airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari madu, baunya lebih wangi dari minyak kasturi (HR AlBukhari dan Muslim).

Jumlah gelas yang tersedia di telaga itu sangat banyak, mari kita simak dalam hadits berikut ini:

حديث أنس بن مالك – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: ( إن قدر حوضي كما بين أيله وصنعاء من اليمن، وإن فيه من الأباريق بعدد نجوم السماء ) متفق عليه .

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya perkiraan luas Telagaku seperti antara Shan’a di Yaman dan Ailah (Syiria), sesungguhnya jumlah gelasnya sebanyak bintang di langit (Muttafaq alaih).

Di antara sebab – sebab manusia dapat mendatangi Telaga Nabi shallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut:

1. Berpegang pada Al Quran dan Sunnah, berpegang teguh pada keduanya, dari perbuatan bidah dan dosa besar.

روى الحاكم في المستدرك: من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إني قد تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما: كتاب الله وسنتي، ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض”.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, bahwasanya Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda: aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan pernah sesat bila berpegang pada keduanya, Kitab Allah dan Sunnahku, keduanya (Al Quran dan Sunnah tidak akan berpisah (bersebrangan) hingga datang ke Telagaku.

Sahl bin Sa’d radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ. فَأَقُولُ: سُحْقًا، سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي

“Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di telaga itu. Barang siapa melewatiku, dia akan minum di telaga itu, dan barang siapa berhasil minum darinya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya. Sungguh, beberapa kaum akan berusaha melewatiku. Aku mengenal mereka dan mereka mengenaliku. Kemudian dipisahkan antara aku dan mereka.
Aku katakan, ‘Sesungguhnya mereka dari golonganku!’
Dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu!’
Aku katakan, ‘Amat jauh (telagaku) bagi orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abdil Barr berkata:
Setiap orang yang membuat Bid’ah di dalam agama akan diusir dari Telaga Nabi shallahu alaihi, seperti Khawarij, Syiah Rafidhah dan seluruh sekte, begitu juga dengan orang yang kelewat batas dalam berbuat zalim dan memadamkan kebenaran, serta orang – orang yang terlaknat akibat perbuatan dosa besar.

Imam Al Qurthuby rahimahullah berkata:
Ulama – ulama kita semoga Allah meridhai mereka berkata: Semua orang yang murtad dari agama Allah atau membuat suatu ajaran (ibadah) yang tidak diridhai dan diizinkan Allah mereka akan terusir dan dijauhkan dari Telaga Nabi shallahu alaihi wasallam, yang paling tegas untuk diusir adalah orang – orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin, mencari jalan selain jalan kaum muslimin seperti Khawarij dengan berbagai kelompoknya, Syiah Rafidhah dengan berbagai kesesatannya, begitu juga dengan pemimpin zalim yang kelewat batas zalimnya, pemimpin yang menghancurkan kebenaran, membunuh dan merendahkan para ulama, terang – terangan melakukan dosa besar yang meremehkan dosa kecil.

2. Tidak membantu dan mendukung pemimpin yang zhalim.

عن كعب بن عجرة أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال له: “أعاذك الله من إمارة السفهاء، قال: وما إمارة السفهاء؟ قال: أمراء يكونون بعدي لا يهتدون بهديي ولا يستنون بسنتي، فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم، فأولئك ليسوا مني ولست منهم، ولا يردون على حوضي، ومن لم يصدقهم بكذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فأولئك مني وأنا منهم وسيردوا على حوضي”.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam telah bersabda,’Hai Ka’ab bin ‘Ujrah, semoga Allah melindungi kamu dari imaarat al-sufahaa` (kepemimpinan orang-orang bodoh).’ Ka’ab bin Ujrah bertanya,”Apa itu imaarat al-sufahaa` wahai Rasulullah ?’ Rasulullah shallahu alaihi wasallam menjawab,”[Imaarat al-sufahaa` itu] adalah para pemimpin yang akan datang setelah aku. Mereka itu tidak berteladan dengan petunjukku dan tidak bersunnah dengan sunnahku. Maka barangsiapa yang membenarkan perkataan mereka (Imaarat al-sufahaa`), dan membantu kezaliman mereka, maka dia tidak termasuk golonganku dan aku pun bukan termasuk golongannya, dan dia tidak akan mendatangi aku di telagaku (di Hari Kiamat kelak). Namun barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka, dan tidak membantu kezaliman mereka, maka dia termasuk golonganku dan aku pun termasuk golongannya, dan dia akan mendatangi aku di telagaku (di Hari Kiamat kelak).” (HR Ahmad, Al-Musnad, Juz III, hlm. 111, nomor 14.481).

3. Bersabar terhadap segala ujian yang menimpa di dunia

روى البخاري ومسلم من حديث أنس بن مالك: أن النبي – صلى الله عليه وسلم -: “سترون بعد أثرة شديدة، حتى تلقوا الله وروسوله – صلى الله عليه وسلم – على الحوض”.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu ia berkata: bahwasanya Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda: Setelah aku tiada nanti engkau akan melihat pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri, hingga kalian bertemu dengan Allah dan RasulNya di Telaga (HR AlBukhari dan Muslim).

4. Selalu menjaga Wudhu

عن حذيفة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – عندما ذكر الحوض قال: “والذي نفسي بيده إني لأذود عنه كما يذود الرجل الإبل الغريبة عن حوضه قالوا: يا رسول الله أوتعرفنا؟ قال: نعم، تردون علي الحوض غرًا محجلين من آثار الوضوء ليست لأحد غيركم”.

Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallahu alaihi wasallam ketika beliau bercerita tentang Telaga beliau bersabda: demi jiwaku berada ditanganNya Sesungguhnya aku benar – benar menjaga Telagaku dari orang yang tidak berhak minum di dalamnya seperti seorang di antara kalian menjaga onta orang lain agar tidak minum di tempat air kalian, wahai Rasulullah apakah nanti engkau akan mengenal kami? Beliau bersabda: iya aku mengenal kalian, kalian akan datang ke telagaku dengan tubuh bercahaya dari bekas air wudhu kalian, cahaya itu tidak dimiliki kecuali oleh kalian ummatku. (HR Muslim).

Mudah – mudahan kita termasuk orang yang ditunggu Nabi shallahu alaihi wasallam di telaganya untuk menikmati nikmatnya air telaga beliau, Aamiin ya rabbal alamin.

Cahaya Qur’an di Tengah Lautan, Minat Baca Anak-anak Pulau Simuk Meningkat di Saat Pandemi

Segala hiruk pikuknya pandemi pun tak lantas berhenti menghilang begitu saja di jantung keramaian kota. Suasana keheningan Pulau Simuk yang berada di kawasan pulau terluar Indonesia pun tersibak. Keberadaanya di pesisir paling barat Sumatera Utara pun tergoncang dari hening sunyinya. Ternyata dampak pandemi pun jauh menembus daratan Simuk yang berada di tengah-tengah lautan samudera hindia ini.

Padahal mulanya hanya dirasakan di Tello sebagai pusat kecamatan kepulauan Pulau-pulau Batu Timur Nias Selatan. Walaupun demikian, pandemi bukan menjadi momok kekhawatiran yang berlebihan justru memberikan dampak positif bagi meningkatnya minat belajar ngaji bagi anak-anak pulau Simuk untuk datang ke tempat TPQ kesayanganya di Masjid At-Taqwa Pasar Biduk Gobo Baru. Kendati sekolah diliburkan tapi suasana belajar mengaji masih berjalan sebagaimana biasa karena bagaimanapun juga jauh sebelum ada datangnya pandemi pun memang suasana Simuk tetaplah hening sunyi layaknya suasana keterasingan terisolasi dari segala keramaian karena saking jauh jaraknya. Perjalananya pun dengan kapal khusus Simuk sekitar 7-9 jam tergantung cuaca dengan jarak sejauh 80-an Km dari pelabuhan Teluk Dalam pusat ibukota Nias Selatan.

Bertahun-tahun lamanya tanpa ada akses listrik dan komunikasi menjadikan tantangan survive tersendiri bagi penduduk setempat bertahan. Adanya listrik dari genset rumahan sekarang pun baru-baru saja menyinari lorong-lorong perkampungan dan nyalanya pun masih sangat terbatas pada waktu-waktu tertentu dengan hitungan jam saja. Sehingga kondisi pandemi demikian bukan hal yang membuat kaget bagi warga muslim Simuk hanya berkisar 50-an KK saja dari 1400-an jiwa ( Non muslim ) se-kecamatan Simuk.

Adanya peraturan kebijakan belajar saat pandemi membuat anak-anak dan orang dewasa memiliki waktu yang cukup luang untuk dimanfaatkan mengaji dan membaca buku-buku seadanya di serambi ruangan Masjid.

Ismail Garamba, salah satu pengasuh anak-anak TPQ At-Taqwa Pecinta Rasulullah, menyebutkan bahwa masa libur belajar yang diterapkan oleh sekolah saat ini sangat memberi cukup waktu luang bagi anak-anak untuk dimanfaatkan belajar mengaji dan membaca buku. Apalagi masa aktif kembali belajar ke sekolah diwaktu pandemi belum jelas sampai kapan ujung akhirnya.

Menurut Ismail yang juga sebagai tenaga pengajar honorer di salah satu sekolah sudah meliburkan anak-anak sekolah didiknya sejak awal pandemi beberapa bulan silam. Sebagai pengasuh TPQ, ia memang tetap mengadakan kegiatan anak-anak mengaji dan mengajarkan kecintaan membaca buku-buku kepada murid-muridnya yang sekarang berjumlah 30-an anak-anak yang datang rutin tiap harinya.

Selain mengajar ngaji, Ismail juga aktif dalam kegiatan relawan satgas pedesaan yang bertugas mengedukasi warga dan anak-anak untuk menjaga kesehatan selama masa pandemi Covid-19, Senin (21/9/2020).

“Syukur alhamdulilah, sekarang ada anak didik pertama kami yang sudah bisa ikut membantu mengajar sejak awal berdirinya tahun 2007”, tutur Ismail yang menghubungi pihak Tanmia via seluler baru-baru ini.

TPQ At-Taqwa adalah TPQ yang berdiri sejak 2007 atas inisiasi Ustadz Fathul Arifin yang pertama kali datang membuka lahan dakwah dari utusan da’i pengabdian AMCF ( Asian Moslem Charity Foundation ).

Kegiatan TPQ pun termasuk bervariasi, dari kegiatan baca tulis Al-Qur’an, praktek thaharah dan shalat, hafalan juz amma dan doa-doa sehari-hari. Walhasil berbagai jenis buku bacaan dari Tanmia Foundation yang didistribusikan ketika itu menjadi lahapan bacaan anak-anak setiap kali kunjungi, tambah Ismail menyudahi pembicaraanya.

“Selama libur sekolah memang kegiatan TPQ tetap ramai berjalan dan budaya membaca buku yang meningkat, terlihat dengan jumlah anak-anak yang meminjam buku-buku ketika kegiatan TPQ berlangsung” jelas Ismail Garamba.

Sistem peminjaman buku hanya untuk dibaca di tempat saja bukan dibawa ke rumah anak masing-masing karena disamping masih minimnya buku-buku yang ada juga karena satu-satunya solusi agar buku tetap terawat dan terjaga sehingga inilah cara yang tepat untuk tetap mencintai dan membaca buku.

“Kadang sesekali ada kelebihan rezeki saya bawakan hadiah sesuatu untuk anak-anak, kadang makanan, buku tulis, bolpoin serta sejumlah alat lain, agar menambah semangat anak-anak mengaji dan membaca,” cetus Ismail dalam bahagia ceritanya.

Kendati laju perkembangan dakwah di Simuk pun mengalami gelombang pasang surut hingga sekarang tapi kilas balik perjalanan Tim Tanmia Foundation ke Simuk tahun 2019 lalu yang hampir genap setahun ini menjadi kabar yang cukup istimewa. Pilihan mendatangi anak-anak di pesisir Lamolo Simuk ketika itu barulah sangat terasa sekarang ini bahwa pilihan itu sangatlah tepat. Sebab, sebagian besar anak yang belum tersentuh kemajuan teknologi dan gawai itu bisa menambah ilmu dengan kuat berjam-jam duduk ditemani buku menjadi sesuatu hal yang sangat berharga di suasana sunyinya pulau yang terletak dikawasan terluar tersebut. Terlebih pesisir Simuk memiliki hamparan pantai yang masih alami dengan desiran ombak yang mangalun sangat indah. Berdoa semoga Allah memberikan keistiqomahan dan kemudahan disetiap gerak kebaikan dakwah untuk mengetuk pintu langit meneguhkan nurani untuk terus peduli terhadap keimanan saudaranya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wakaf Buku, Bantu Pulihkan Gairah Belajar Santri Saat Pandemi di Muara Enim Sumatera Selatan

Paket Ekspedisi Wakaf Buku Literasi Tanmia Foundation menyemarakan suasana adaptasi kebiasaan baru untuk beberapa lembaga pendidikan di Muara Enim dan Sematang Borang Sumatera Selatan. Sejak dibukanya kegiatan new normal sebagian sekolah sudah berjalan pada September 2020 ini.

“Kegiatan wakaf literasi sangat berperan dalam pemulihan kondisi belajar anak-anak ditengah masa pandemi untuk mendukung peningkatan gairah belajar anak-anak yang lebih baik setelah rehat panjang dan dalam upaya meningkatkan kondisi kesehatan dan pentingnya pengaruh tingkat kecerdasan ada pada bacaan yang mereka baca sehari-hari”, ujar Wiliyan Husen selaku pengasuh pesantren Al Muzakir Ujanmas Muara Enim Sumatera Selatan saat dihubungi pihak Tanmia Foundation.

Wakaf buku-buku literatur yang dikirimkan dimaksudkan untuk menambah perbendaharaan literasi yang merupakan bagian kegiatan Tanmia Foundation dalam rangka menunjang kemajuan pendidikan di beberapa titik tanah air yang sudah diprioritaskan. Hal ini juga dimaksudkan agar lebih berkembangnya dan bertambahnya pembangunan kualitas lembaga pendidikan hingga puncaknya melahirkan generasi penerus yang unggul baik secara akhlak dan akademis.

Buku-buku paket wakaf literasi ini juga ditujukan pada pihak pengelola Rumah Qur’an Lukmanulhakim Sematang Borang Palembang yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan berbasis Qur’an untuk anak-anak yatim dan dhuafa yang sudah berdiri sejak 2017. Ada puluhan anak-anak yang selama ini ditampung atas pembinaan oleh K.H.Drs.Umar Sa’id tokoh masyarakat setempat yang concern pada bidang pendidikan anak-anak.

Fauzan ( muallaf ) selaku pengurus dan pengelola Rumah Qur’an Lukmanulhakim menambahkan, dengan adanya dukungan pembangunan dakwah berbentuk literasi akan semakin mengokohkan stabilitas masyarakat dengan jalinan iman dan sesama hati akan bertaut menguatkan apalagi terjangan pendangkalan iman lewat kristenisasi dan pemurtadan semakin marak di lingkungannya.

Untuk paket buku yang dikirimkan beraneka macam jenis yang sudah dipersiapkan sejak mulai berlangsungnya pandemi. Keberadaan para donatur dan muhsinin sangat berpengaruh dalam mensukseskan kelancaran program Tanmia Foundation dalam menjalankan sinergi dakwah dengan berserikat dalam amal jariyah kebaikan. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

wakaf Al Quran

Wakaf Qur’an di Pesisir Olibeu Oenggae, Jembatan Kemajuan Pendidikan Anak-anak Pesisir Pulau Rote

Laksana urat nadi, inilah Ba’a ibukota kabupaten Rote Ndao yang berada di pesisir Pulau Rote yang hiruk pikuknya mengantarkan setiap jengkal kemajuan di setiap darah kehidupan untuk masyarakat di daratan Rote. Masih minimnya pembangunan infrastruktur selalu meninggalkan jejak pincang pemerataan terutama kesejahteraan masyarakat.

Dari kota pesisir pelabuhan laut Ba’a inilah peradaban kehidupan pulau Rote terbentuk. Kota kabupaten yang dikenal dengan khas Lontar Sasando sebagai khas pulau ini. Letaknya di wilayah paling selatan Indonesia menjadi pulau Rote ini sangat tergantung dengan sentuhan dan dukungan dari daerah luar selama ini.

Tanmia Foundation menyalurkan paket wakaf mushaf Qur’an dan Iqra’ serta buku-buku islami untuk TPQ Ar-Rahman di Dusun Olibeu Oenggae Kecamatan Pantai Baru dengan penyerahan langsung ke Ustadz Mahmud Lelosambi sebagai pendiri sekaligus pengasuh TPQ.( 12/09/2020 ).

“Sejak berdirinya 2006 sampai sekarang ada 70-an santri mengaji di TPQ Ar-Rahman yang berada di kampung pesisir mungil berpenduduk lebih dari 300-an kepala keluarga, inilah potret wajah lain pendidikan anak-anak muslim pemukiman pesisir Pantai Baru Rote perlahan terkuak”, tutur Laode Mailing sesepuh dusun Olibeu yang juga pengurus Masjid setempat dimana kegiatan penyaluran wakaf berlangsung.

Meski hanya berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Ba’a, keadaannya masih memprihatinkan apalagi sekat kesenjangan paling mendasar dari masyarakat di kampung ini adalah akses kesadaran akan pendidikan. Tak sedikit anak-anak yang putus sekolah dan memilih untuk melaut menjadi nelayan saja selebihnya sebagian kecil masih melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP atau pun SMA itupun relatif sangat minim karena bagaimanapun juga realita keadaan yang memaksa mereka.

“Kegiatan penyaluran wakaf Qur’an dan Iqra’ dari Tanmia Foundation setidaknya menjadi jembatan yang akan memajukan lingkungan yang ada sebagai salah satu faktor imbas dari tingkat pendidikan yang rendah dan keadaan sosial yang ada apalagi terjangan ujian pandemi seperti sekarang ini”, tutur Ust Zulkifli penyuluh da’i yang berada di lokasi saat penyerahan wakaf.

Karena minimnya tingkat SDM setidaknya semakin mempersempit ragam profesi disini. Walhasil, mata pencaharian masyarakat Olibeu Oenggae pun hanya terbatas hanya mengandalkan pada mata pencaharian pertanian berladang bercocok tanam dan perikanan nelayan tradisional skala kecil. Hanya untuk menyambung hidup mencukupi kebutuhan sehari-hari sudah sangat bersyukur. Sehingga apapun bentuk kepedulian kita adalah tanda kebaikan yang akan menyuburkan segenggam iman di hati kita demi mencapai keridhoan Allah semata.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Sirih Pinang Rahasia Kekuatan dan Kekeluargaan Orang Suku Timor

Merangkai perjalanan di daratan pulau Timor belumlah cukup sebelum mengenal sesuatu yang khas di Pedalaman Timor Tengah Selatan yakni budaya makan sirih pinang (Bahasa Dawan: puah manus). Ini bagian dari warisan turun-temurun dari orang Timor yang masih dilakukan sampai hari ini. Makan sirih pinang sudah menjadi bagian yang melekat dari beberapa kegiatan adat yang ada di Timor, seperti di upacara besar gotong royong antar perkampungan, acara pernikahan keluarga maupun upacara kedukaan dan acara-acara lainnya.

Siapapun yang pertama kali menginjakkan kaki di Timor pasti akan mengenal Soe dengan suasana khas hawa dinginnya perbukitan yang bergulung-gulung. Soe juga merupakan pusat ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan sebagai pusat pemerintahan kabupaten tersebut berada. Soe menjadi bagian wilayah terdingin di daratan Pulau Timor dan menjadi kota terdingin ke-3 di Nusa Tenggara Timur setelah Bajawa dan Ruteng yang keduanya berada di Pulau Flores. Wilayahnya yang berada di ketinggian 900-1000 meter dari permukaan laut, sehingga Soe oleh banyak orang dijuluki kota dingin. Dengan udara yang lumayan sejuk, hingga kini Soe adalah penghasil jeruk lokal yang biasa dijumpai sepanjang kanan-kiri jalanan.

Ciri khas utama yang mudah dikenali dari Suku Timor atau Suku Dawan dalam interaksi sosial adalah kebiasaan mengenakan kain tenun ikat daerah berupa selempang atau selimut, serta tradisi mengunyah sirih pinang.

Dalam kebudayaan masyarakat setempat makna kebiasaan mengunyah sirih pinang memiliki pengaruh yang besar yang juga menandakan tanda keakraban dan keramahan lingkungan. Ketika berkunjung bertamu ke rumah-rumah orang misalnya, suguhan paling pertama dari tuan rumah sebelum teh atau kopi adalah sirih pinang. Sehingga Sirih Pinang hal yang tidak bisa dipisahkan dari corak kehidupan masyarakat Timor. Sirih pinang hampir dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional yang ada setiap jadwal hari-hari pasar dalam sepekan , adapun sirih pinang pun dihargai dari 5000-an hingga belasan ribu rupiah.

Di perhelatan acara hajatan, pesta, kedukaan, suguhan pertama menyambut para tamu undangan, pastilah sirih pinang. Setelah jamuan makan, tanda pamit pun pun kembali dengan makan sirih pinang.

“Keberadaan sirih pinang sangatlah nampak ketika warga menggelar hajatan seperti pesta pernikahan. Prosesi sebelum benar-benar sampai pada tahap pernikahan, keluarga kedua calon mempelai biasanya mengadakan pertemuan makan sirih pinang. Salah satu tujuan acara ini yaitu saling mengenalkan dan mengakrabkan sanak keluarga laki-laki dan perempuan” jelas Ustadz Masrin da’i setempat yang menemani perjalanan kami ketika di pedalaman Timor.

Bahkan ketika hari akad pernikahan akan digelar, cara tuan rumah yang akan mengadakan pesta akan mengundang para tamu juga unik, yakni dengan mengirim sepaket sirih pinang kepada setiap calon undangan. Jika calon undangan menerima paket tersebut, maka undangan itu dianggap sah dan si penerima berkewajiban menghadiri pesta pernikahan.

Menjumpai sirih pinang akan mengingatkan pada tradisi kekeluargaan yang sangat kuat bagi masyarakat Timor sekalipun tidak sedikit cahaya hidayah islam telah menerangi warna perkampungan di ujung-ujung lereng bukit namun pertalian kekeluargaan tetap dibangun dengan saling mengundang dan menghargai ketika acara pesta namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip norma keyakinan masing-masing.

Menurut Ustadz Masrin, beberapa orang tetangga sebagian besar mengganggap sirih pinang sebagai candu karena begitu kecanduan makan sirih dan pinang mengatakan bahwa bagi mereka tidak masalah kalau tidak makan nasi asalkan tetap makan sirih dan pinang, karena itu mereka rela menghabiskan puluhan ribu rupiah setiap hari untuk bisa mengkonsumsi hal ini sepanjang hari demi menemani hari-hari mereka bekerja di ladang.

Dalam hal kebiasaan sirih pinang ini, banyak terkandung makna penting bukan sekedar mengunyah isi daging buah pinang dan sirih sebagai pemerah bibir, atau sebagai penguat stamina, tapi bahan-bahan itu merupakan bagian yang mampu mempererat hubungan sosial, membuat orang merasa sebagai satu kesatuan satu sama lain, saling memberi dan menerima, dan terutama saling menghargai baik besar maupun kecil.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Ikat Nikmat Dengan Syukur

Nikmat Allah yang diberikan kepada manusia tidaklah terhingga, karunia yang tidak ada habis – habisnya itu diberikan Allah begitu saja kepada seluruh makhluqNya, manusia, hewan, tumbuhan, jin juga malaikat Allah semua menikmatinya.

Mensyukuri nikmat bukanlah hal mudah, karena godaan dan kelalaian manusia seringkali menghanyutkan manusia sehingga mereka sulit untuk mencari tepian untuk berpegang meraih kesyukuran lalu memegangnya dengan erat agar tidak tenggelam dibawa kencangnya arus dunia.

Derasnya arus ketamakan manusia sudah menjadi rahasia umum faktor besar yang melalaikan manusia dari kesyukuran, syukur yang berarti ‘Terima kasih’ adalah ucapan sekaligus pengakuan kepada Dzat yang telah melimpahkan nikmat tersebut.

Seringkali para ulama memberikan tamsil (permisalan) tentang nikmat, nikmat itu ibarat “Hewan Liar” maka syukur adalah tali pengikatnya, hewan liar memang sukar ditangkap kalau pun ia tertangkap susah pula kita pegang, begitu pula nikamt Allah, ia liar dan sangat – sangat mungkin pergi meninggalkan tuannya pindah kepada orang lain.

Makanya kita tidak hairan bila Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:

قال عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: قَيِّدُوا النِّعَمَ بِالشُّكْرِ

Ikatlah Nikmat dengan Syukur.

Para ulama dan hukama (ahli Hikmah) telah jauh – jauh hari mengingatkan kita semua bahwa tipu daya syaitan sangat kuat wa bil khusus soal mensyukuri nikmat Allah, karena umumnya manusia lupa bersyukur dan tidak menggunakan nikmat sesuai dengan keinginan Allah ta’ala.

Tanpa terasa kita sudah berada di salah satu Bulan Haram, bulan yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, kita sudah masuk di bulan Dzul Hijjah, sebagaimana sudah kita ketahui bersama bahwa di bulan ini ada ibadah hebat dan mulia, yaitu berqurban, sebuah syariat yang terbilang sangat tua, telah diamalkan dari zaman Nabi Adam Alaihi salam, Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam.

Allah ta’ala berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (37) الحج.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Hajj:37).

Imam Ibnu Katsir berkata:
Makna ayat ini ialah, Sesungguhnya Allah mensyariatkan Qurban bagi manusia agar manusia menyebut nama Allah saat menyembelihnya, karena Dia lah Allah yang Maha Memberi rizki kepada manusia, Allah tidak memerlukan daging dan darah hewan tersebut, karena Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun dari manusia. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dari penjelasan ahli tafsir di atas dapat kita fahami bahwasanya salah satu tujuan Qurban ialah untuk mensyukuri nikmat Allah ta’ala.

Imam Qurthuby dalam tafsirnya menyebutkan bahwasanya Allah lah yang telah menundukkan seluruh hewan- hewan yang ada di bumi untuk fasilitas hidup manusia, sehingga manusia dapat memanfaatkannya, sebagai kendaraan, angkutan bahkan sebagai sumber bahan makanan yang lezat bagi mereka, padahal tidak jarang hewan – hewan itu lebih kuat dan lebih besar fisiknya dibandingkan manusia, namun demikian Allah telah menundukkan kekuatan mereka agar dapat manfaatkan dan dinikmati oleh manusia, Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa melakukan itu semua untuk manusia, sehingga atas nikmat ini pula manusia harus bersyukur kepada Allah ta’ala. (Tafsir Qurthubi).

Dalam ibadah Qurban terdapat banyak fadhilah (keutamaan) secara ringkas ada 3:
– Qurban bentuk ketaatan dan ketundukan manusia pada perintah Allah
– Qurban bentuk kesyukuran atas nikmat Allah.
– Qurban adalah kepedulian terhadap masyarakat yang sedang diuji Allah dengan kesulitan rizki, bahan makanan, dll.

Semoga kita diberikan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk selalu mensyukuri nikmat Allah ta’ala sehingga nikmat tersebut menjadi langgeng dan awet dalam kehidupan kita dan anak keturunan kita, jangan sampai lalai bersyukur sehingga nikmat menjadi bencana dan musibah, lihat ucapan Imam Hasan Al Basri:

قال الْحَسَنُ: إِنَّ اللَّهَ لَيُمَتِّعُ بِالنِّعْمَةِ مَا شَاءَ، فَإِذَا لَمْ يُشْكَرْ قَلَبَهَا عَلَيْهِمْ عَذَابًا.

Sesungguhnya Allah melimpahkan nikmat kepada siapa saja yang Ia kehendaki, namun bila Manusia itu tidak bersyukur atas nikmat tersebut maka nikmat itu akan berbalik menjadi Azab (siksa dan musibah).

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita semua untuk beramal shaleh dan menerima amal tersebut sebagai bekal hidup bahagia di akhirat nanti, Aamiin ya rabbal alamin.

bencana

Amalan Amalan Yang Dapat Menolak Bencana

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Sebuah tema yang penting untuk menjadi renungan kita bersama mengingat pandemi yang menimpa negeri kita ini belum berakhir, sebagai mukmin yang baik selain kita memperhatikan asbab kauniyah (sebab-sebab yang sifatnya alamiah) kita juga harus memperhatikan asbab ilahiyyah, tidak cukup seorang mukmin hanya bersandar pada asbab kauniyah, seperti cuci tangan, pakai masker, jaga jarak dan lain sebagainya, akan tetapi pendemi ini membuat ia mengintropeksi diri sejauh mana ibadah yang ia laksanakan kepada Allah, makanya ketika Allah menjelaskan tentang karakteristik tentang Ulul Albab dalam surat Ali-Imran, siapakah mereka Ulul Albab itu? Allah jelaskan,

(إِنَّ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّیۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ ۝ ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
[Surat Ali ‘Imran 190 – 191]

Maka kita merenung apa saja ibadah-ibadah yang dapat menghilangkan bencana di tengah-tengah kehidupan kita, diantaranya adalah:

1. Shalat dengan khusyu’ dan thuma’ninah

Ibadah shalat adalah ibadah paling penting dan agung, bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda,

الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

“Sholat Adalah Tiang Agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya”.

Gambaran betapa pentingnya shalat ini, kita bisa lihat rangkaian turunnya perintah shalat, ketika Allah memerintahkan Nabi untuk melaksanakan ibadah tertentu, biasanya Allah mengutus malaikat Jibril sebagai perantara, tapi begitu perintah shalat terjadi peristiwa yang luar biasa yang kita kenal dengan Isra Mi’raj, Rasulullah saw diperjalankan langsung oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sampai ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat 5 waktu.
Nah, apa kaitan shalat dengan diangkatnya bencana?
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, hadits tentang gerhana, ketika terjadi gerhana di zaman Nabi, saat itu sebagian orang menghubungkannya dengan kematian Ibrahim, putra Rasulullah saw, maka beliau berkhutbah, kata beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah ra,

إن الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ،
لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, jika kalian melihatnya berdoalah, bertakbirlah, lakukanlah sholat, dan bersedekahlah kalian”

Kata Imam Nawawi bahwa redaksi “lakukanlah shalat” ini gambaran betapa shalat itu dapat menolak bencana, karena sesungguhnya gerhana adalah fenomena yang ditakutkan menjadi adzab untuk manusia, maka ketika terjadi gerhana kita diperintahkan untuk menunaikan shalat sehingga dapat menjauhkan manusia dari bencana.

Didalam hadits yang lain, Rasulullah mengkisahkan kisah yang pernah terjadi pada zaman dahulu, dan ini adalah salah satu mukjizat Rasulullah, beliau mengetahui apa yang terjadi zaman dahulu meski beliau tidak bisa membaca maupun menulis, karena diberi petunjuk oleh Allah swt, yaitu kisah pemuda yang bernama Juraij, seorang pemuda yang shalih dari kalangan bani Israil, suatu hari Juraij menunaikan shalat ditempat ibadahnya, lalu ibunya datang dan memanggilnya, akan tetapi dia sibuk dengan shalatnya sehingga tidak mendengar panggilan ibunya, maka ibunya merasa tersinggung, lalu ibunya berdoa dengan mengatakan,

اللهم لا تمته حتى تريه وجوه المميسات

Ya Allah janganlah engkau mewafatkan ia, sampai engkau pertontonkan dia di hadapan wanita-wanita malam. Maka betapa doa seorang ibu adalah mustajab, walaupun doa berisi keburukan dan dalam keadaan sedang marah. Maka pada suatu hari seorang wanita mendatangi Juraij, dia mengajaknya untuk berzina, namun Juraij menolak, lalu wanita tersebut berzina dengan seorang penggembala. Singkat cerita, wanita itupun hamil kemudian melahirkan dan dia mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya Juraij, maka kemudian orang-orang marah akan hal itu, kemudian merobohkan tempat ibadahnya Juraij lalu iapun diseret dan iapun ditonton oleh wanita-wanita malam, persis seperti doa ibunya tadi, kemudian di hadapkan kepada seorang raja, lalu iapun ditanyai “Kenapa kamu menghamili wanita ini? Juraij mengatakan “Aku tidak menghamili wanita itu, akan tetapi wanita itu mengatakan bahwa bayi itu adalah anakku, maka seketika Juraij berwudhu dan menunaikan shalat, setelah dia shalat, dia usap kepala bayi yang masih merah tadi, maka atas izin Allah bayi itupun bisa berbicara, ketika bayi itu ditanya Wahai anak kecil siapakah ayahmu? Maka bayi itu menjawab “Ayahku adalah seorang penggembala”, maka Rasulullah mengkisahkan ada 3 bayi yang bisa berbicata diwaktu kecil yaitu bayinya Isa bin Maryam, bayi di zaman Juraij, dan bayi yang sedang disusui oleh ibunya di zaman bani Israil.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyampaikan ketika mengomentari hadits ini bahwa ini dalil betapa seseorang ketika ingin segera terlepas dari bencana maka hendaknya dia menunaikan ibadah shalat.

Dalil selanjutnya yang menunjukkan bahwa shalat adalah amalan yang dapat menghilangkan bencana adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang mengkisahkan tentang Ibrahim beserta istrinya yang bernama Sarah, ketika beliau dan istrinya hendak menuju sebuah daerah, yang mana di daerah tersebut ada dipimpin seorang Raja yang dzalim, dan raja tersebut gemar merampas wanita-wanita cantik yang ia temui, dan Sarah termasuk wanita yang berparas cantik, maka untuk menyelamatkan Sarah, nabi Ibrahim melakukan tauriyah (menyampaikan kalimat yang maknanya banyak, biasanya orang memahami makna yang dekat, padahal yang dimaksud adalah makna yang jauh), Ibrahim mengatakan Hadzihi Ukhti (ini adalah saudari perempuanku), maka raja tadi mengira bahwa Sarah adalah adik atau kakaknya Ibrahim, padahal maksud Nabi Ibrahim adalah Al Ukhuwwah fiddin (persaudaraan di dalam agama) maka semua orang beriman laki-laki dan perempuan adalah saudara, dia makna ini yang dimaksud Ibrahim as, meskipun sebenarnya nabi Ibrahim tidak sampai berbohong, akan tetapi beliau tetap memohon ampun kepada Allah, makanya ketika para ulama menjelaskan ayat:

(وَٱلَّذِیۤ أَطۡمَعُ أَن یَغۡفِرَ لِی خَطِیۤـَٔتِی یَوۡمَ ٱلدِّینِ)

dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.”
[Surat Asy-Syu’ara 82]

Kenapa Nabi Ibrahim sampai berkata seperti itu? Diantara sebabnya adalah karena beliau merasa pernah berbohong yaitu karena beliau pernah mengatakan Hadzihi Ukhti, lalu meminta ampun kepada Allah atas perbuatannya tersebut.
Maka Sarah ketika berhadapan dengan Raja dzalim tersebut, ketika Raja tersebut hendak menyentuh Sarah, tiba-tiba tangannya bergetar tidak dapat menjangkau sarah, apa sebabnya? Karena sebelumnya Sarah menunaikan shalat dan berdoa kepada Allah agar dilindungi dari Raja yang dzalim tersebut, maka akhirnya raja tersebut meminta maaf, dan meminta kepada Sarah untuk mendoakan kebaikan untuknya, bahkan akhirnya raja itu memberikan budak yang bernama Hajar kepada Sarah.
Jadi, shalat dengan khusyu dan thuma’ninah dapat menghilangkan bencana.

2. Membiasakan diri membaca Istighfar.

Siapa saja yang rajin membaca istighfar melalui lisannya dan dihadirkan lewat hatinya, maka Allah akan jauhkan ia dari segala bencana dan malapetaka, Allah swt berfirman,

(وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِیُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِیهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ یَسۡتَغۡفِرُونَ)

Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.
[Surat Al-Anfal 33]

Sahabat Abu Musa Al Asyari saat itu mengatakan: Dulu kami punya dua pengaman, (pengaman dari adzab Allah), yaitu hadirnya Rasulullah ditengah-tengah kami dan istighfar, dan ketika Rasulullah wafat, maka pengaman itu hanya tersisa satu yaitu istighfar, jikalau istighfar hilang ditengah kehidupan kami niscaya kami akan binasa.
Ayat ini menjadi dalil betapa pentingnya membiasakan istighfar ditengah kehidupan kita, bahkan bisa menjadi sebab diangkatnya suatu bencana.

Imam Ibnu Qudamah dalm kitabnya Attawwabin mengkisahkan sebuah peristiwa yang pernah terjadi dizaman Nabi Musa as, ketika hari itu terjadi bencana, yaitu paceklik yang luarbiasa dasyatnya, sehingga sawah, kebun banyak yang mati kekeringan, hewan ternak banyak yang mati karena kehausan, dimana-mana manusia banyak yang mati karena kelaparan. Maka disebutkan oleh beliau,

Suatu ketika, Allah swt memerintahkan Nabi Musa as untuk mengumpulkan semua orang di ladang sehingga terkumpul 70.000 bani Israil dan diharapkan semua yang ada di sana berdoa kepada Allah untuk minta diturunkan hujan.
Setelah perintah itu dilaksanakan, hujan tetap saja tidak turun. Padahal, semua yang hadir di lapangan tersebut memohon dengan sungguh-sungguh bahkan beberapa sampai menangis.

Kemudian, Nabi Musa as bertanya pada Allah swt, “Ya Allah, kami sudah melakukan apa yang Engkau minta, tetapi kenapa masih tidak hujan?”. Allah kemudian berfirman, “ada seorang hamba diantara kalian yang menentangku selama 40 tahun. Jika kalian mengeluarkannya dari lingkungan kalian, akan Ku turunkan hujan kepada kalian.

Setelah mengetahui jawaban Allah swt, Setelah itu Nabi Musa as berkata, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Tuhannya selama 40 tahun, keluarlah dari lingkungan kami ! Karenamu, Allah mencegah hujan dari kami.”
Mengetahui apa yang disampaikan Nabi Musa, orang yang tidak meminta ampun pada Allah swt merasa paling berdosa. Ia kemudian sesegera mungkin meminta ampun dan bertobat pada Allah dari lubuk hatinya yang terdalam.
“Ya Allah, Apa yang harus aku lakukan. Jika aku masih tetap berada diantara mereka, Allah akan mencegah hujan itu karenaku. Namun jika aku keluar, maka terbukalah semua aibku dihadapan Bani Israil. Duhai Tuhanku, aku bermaksiat kepada-Mu dengan segala kemampuan-Ku. Aku berani menentang-Mu dengan kebodohanku. Dan kini aku datang dengan segala penyesalan untuk bertaubat kepada-Mu. Maka terimalah taubatku. Dan jangan engkau cegah air hujan itu dari mereka karenaku…” kata orang tersebut.

Setelah itu, rintik-rintik air hujan mulai menetes ke tanah. Membasahi tanah dan tubuh umat Nabi Musa as. Hujan itu turun dengan sangat deras.
Semua yang ada di ladang tampak sangat bahagia dengan turunnya hujan ini. Beberapa bahkan berteriak-teriak menyebut nama Allah saking bahagianya.

Saat hujan turun dengan derasnya, Nabi Musa as bertanya pada Allah swt, “Apa yang mengubah ketetapan-Mu, Ya Rab?”. Kemudian Allah SWT berkata pada Nabi Musa AS, “Hujan ini tidak turun karena orang tersebut sekarang dia sungguh-sungguh memohon pengampunan.”
Setelah itu, Nabi Musa as kembali bertanya pada Allah, “Ya Allah, siapa orang tersebut? Aku ingin melihatnya, aku ingin bertemu dengannya.”
Sesungguhnya seorang yang membuat-Ku mencegah (air hujan), dia lah yang membuat-Ku menurunkannya.”
Nabi berkata, “Tuhanku, jelaskan kepadaku tentang hal itu.”
Allah menjawab, “Wahai Musa, Aku menutupi aibnya ketika dia bermaksiat. Bagaimana Aku akan membongkar aibnya ketika dia telah bertaubat?”

Maka berdasarkan kisah ini sebagian ulama berpendapat bahwa diantara tanda taubat diterima oleh Allah adalah aib nya ditutupi oleh Allah swt.
Maka ini sebuah pelajaran bagaimana istighfar itu dapat mengangkat suatu bencana, maka marilah kita perbanyak istighfar kepada Allah swt.
Imam Hasan Al Bashri mengatakan:

أكثروا من الإستغفار في بيوتكم وفي طرقكم وفي أسواقكم، وفي مجالسكم فإنكم لاتدرون متى تنزل المغفرة

“Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, jalan-jalan, pasar-pasar, tempat-tempat duduk kalian, karena kalian tidak tahu kapan ampunan Allah datang kepada kalian”

3. Memperbanyak berzikir kepada Allah.

Diantara salah satu amalan yang dapat menolak bencana adalah banyak berzikir kepada Allah swt, ibadah zikir adalah ibadah yang sangat agung, bahkan satu-satunya ibadah yang diperintahkan untuk dikerjakan sebanyak-banyaknya. Firman Allah swt,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكۡرࣰا كَثِیرࣰا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةࣰ وَأَصِیلًا)

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
[Surat Al-Ahzab 41 – 42]

Apa hubungan zikir dengan menolak bencana? Di dalam salah satu riwayat hadits tentang gerhana, melalui Abdullah ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah, tidak akan terjadi gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, ketika kalian melihat gerhana maka berzikir lah kepada Allah” (HR Bukhari)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini bahwa salah satu faidah hadits ini bahwa diantara cara menolak bala’ adalah dengan banyak berzikir kepada Allah. Ibadah zikir sangat disukai Allah, bahkan diberikan pahala yang sangat besar dan tidak terukur oleh pandangan kita, diantaranya disebutkan dalam hadits Rasulullah:

وعَنْ أَبي أيوبَ الأنصَاريِّ  عَن النَّبيّ ﷺ قَالَ: مَنْ قالَ لا إلهَ إلاَّ اللَّه وحْدهُ لاَ شَرِيكَ لهُ، لَهُ المُلْكُ، ولَهُ الحمْدُ، وَهُو عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ، عشْر مرَّاتٍ: كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أرْبعةَ أَنفُسٍ مِن وَلِد إسْماعِيلَ متفقٌ عليهِ.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari ra, Rasulullah saw bersabda Barang siapa yang mengucapkan,

لا إلهَ إلاَّ اللَّه وحْدهُ لاَ شَرِيكَ لهُ، لَهُ المُلْكُ، ولَهُ الحمْدُ، وَهُو عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ،

Sebanyak 10 kali, maka pahalanya seperti memerdekakan 4 budak dari keturunan bani Israil. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits yang lain, juga Nabi saw bersabda:

(( كلمتان خفيفتان على اللسان ، ثقيلتان في الميزان ، حبيبتان إلى الرحمن ، سبحان الله وبحمده ، سبحان الله العظيم ))

“Ada dua kalimat yang sangat ringan bagi lisan (untuk mengucapkannya), sangat berat nanti dalam Mizan (timbangan), dicintai oleh Ar-Rohman, dua kalimat itu adalah:

(( سبحان الله وبحمده ، سبحان الله العظيم ))

“Maha suci Allah Dzat yang Maha Terpuji, Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah ra.
Mari kita basahi lisan kita dengan dzikrullah terlebih lagi ditengah pandemi corona seperti ini, mudah-mudahan dengan dzikir kita wabah ini segera diangkat oleh Allah swt.

4. Doa dengan merendahkan diri.

Doa adalah Silahul Mu’min (senjatanya orang beriman), maka jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah doa, ada perkara perkara besar di zaman dahulu itu selesai dengan berdoa kepada Allah swt. Ada orang diuji dengan tidak memiliki keturunan, yaitu Nabi Zakaria as, dan ini berlangsung dalam waktu yang lama, beliau berdoa selama 60 tahun sejak pernikahan beliau agar diberi keturunan oleh Allah, lalu disisa usia beliau Allah kabulkan doanya, harapan beliau diabadikan oleh Allah swt dalam surat Maryam, Allah berfirman:

كۤهیعۤصۤ ۝ ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَبۡدَهُۥ زَكَرِیَّاۤ ۝ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَاۤءً خَفِیࣰّا ۝ قَالَ رَبِّ إِنِّی وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّی وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَیۡبࣰا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِیࣰّا ۝ وَإِنِّی خِفۡتُ ٱلۡمَوَ ٰ⁠لِیَ مِن وَرَاۤءِی وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِی عَاقِرࣰا فَهَبۡ لِی مِن لَّدُنكَ وَلِیࣰّا ۝ یَرِثُنِی وَیَرِثُ مِنۡ ءَالِ یَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِیࣰّا ۝ یَـٰزَكَرِیَّاۤ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَـٰمٍ ٱسۡمُهُۥ یَحۡیَىٰ لَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ مِن قَبۡلُ سَمِیࣰّا

“Kaf Ha Ya ‘Ain Shad, (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”
[Surat Maryam 1 – 7]

Bahkan tanda kehamilan istrinya adalah tanda yang ajaib, karena saking hasratnya beliau untuk memiliki anak membuat beliau berpuasa dari bicara selama 3 hari 3 malam, padahal istrinya sebelumnya divonis mandul, akan tetapi dengan berdoa kepada Allah, maka atas izin-Nya Allah berikan kepadanya keturunan disaat manusia mengatakan mustahil punya anak, tapi tidak ada yang mustahil bagi Allah swt.

Demikian kisahnya Nabi Ayyub as, ketika diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat berat, saking beratnya penyakit tersebut, membuat kulitnya makin rusak dan rambutnya makin rontok, bahkan kekayaannya sampai habis seketika, dan ini terjadi sampai 18 tahun lamanya, maka dengan sabar beliau berdoa kepada Allah swt, sebagaimana doa tersebut diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

(وَٱذۡكُرۡ عَبۡدَنَاۤ أَیُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥۤ أَنِّی مَسَّنِیَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بِنُصۡبࣲ وَعَذَابٍ)

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.”
[Surat Shad 41]

Maka Allah perintahkan kepada beliau untuk minum dan mandi, sehingga atas izin Allah beliau sembuh dari penyakitnya. Firman Allah swt,

(ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ هَـٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدࣱ وَشَرَابࣱ)

(Allah berfirman), “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”
[Surat Shad 42]

Demikian pula misalnya doa agar diselamatkan dari musuh sebagaimana yang dialami seseorang yang bernama Abu Muallaq Al Anshari, beliau adalah seorang pedagang yang shalih dan taat beribadah, pada suatu hari ketika dia membawa barang dagangannya ia bertemu seorang perampok, sebagaimana kisah ini disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam Kitab Al Jawabul Kafi. Ketika bertemu dengan perampok di jalan yang sangat sepi, dan perampok itu tidak hanya ingin mengambil hartanya tetapi juga nyawanya, maka dalam kondisi terjepit seperti itu, dia ingat kepada Allah dan meminta izin untuk menunaikan shalat, lalu setelah itu berdoa kepada Allah, tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda dari arah kiblat, membawa sebuah tombak lalu ditusukkan tombak tersebut ke tubuh perampok tadi, hingga seketika meninggal dunia. Maka beliau merasa heran, lalu beliau tanya “Siapakah engkau? Penunggang kuda itu berkata: Aku adalah malaikat dari langit, ketika engkau berdoa dengan doa pertama terdengar seperti gemuruh angin disisiku, berdoa dengan doa kedua terdengar seperti gemerincing senjata, lalu engkau berdoa dengan doa ketiga terdengarlah jelas bahwa ada seseorang hamba Allah yang terdzalimi, aku mendengar jelas doamu dan aku memohon kepada Allah supaya diizinkan untuk menjadi penolongmu, dan Allah pun mengizinkan.

Betapa dasyatnya kekuatan sebuah doa, maka perbanyaklah berdoa kepada Allah agar Allah angkat bencana ini dari tengah-tengah kehidupan kita.

Terkadang seseorang sudah merasa berdoa kepada Allah tapi kenapa belum diijabah oleh Allah, ternyata ada banyak sebab kenapa doa kita belum kunjung dikabulkan Allah swt, bisa jadi karena keyakinan yang lemah dalam hati kepada Allah, kita berdoa tapi tidak disertai dengan keyakinan, apalagi kalau sampai terbesit dalam hati kita sifat was-was bahwa doa kita bisa jadi tidak dikabulkan oleh Allah swt, atau bisa jadi ada yang salah dalam doa kita, bisa jadi isinya mengandung unsur permusuhan, memutuskan silaturrahim dan lain sebagainya, karena perbuatan ini tidak disukai oleh Allah, sehingga doanya tidak dikabulkan, atau bisa jadi kita berdoa dengan tergesa-gesa, atau bisa jadi karena ada penghalang doa kita, diantara penghalang doa adalah maksiyat, makan yang haram, sehingga menghambat doa kita dikabulkan oleh Allah, atau barangkali juga kalau tidak diijabah juga Allah menginginkan agar kita terus-terusan mendekatkan diri kepada Allah. Maka dengan berdoa dengan khusyu dan penuh keyakinan maka insya allah doa kita diijabah oleh Allah..

5. Membiasakan diri dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat terpuji.

Apa hubungan akhlak yang baik dengan diangkatnya bencana? Dalam sebuah hadits tentang permulaan wahyu, ketika nabi bertahannus di gua hira dan bertemu dengan Malaikat Jibril untuk pertama kalinya untuk menerima wahyu pertama, beliau sangat takut dan kepayahan,
Setelah menerima wahyu itu, Rasulullah pulang ke rumah dengan ketakutan. Setibanya di rumah, beliau meminta sang istri, Khadijah untuk menyelimutinya.

“Selimuti aku! Selimuti aku! Aku sangat takut!” kata Rasulullah. Beliau melanjutkan;

لقد خشيت على نفسي قالت له خديجة كلا أبشر فوالله لا يخزيك الله أبدا والله إنك لتصل الرحم وتصدق الحديث وتحمل الكل وتكسب المعدوم وتقري الضيف وتعين على نوائب الحق

“Aku benar-benar khawatir terhadap diriku. Khadijah menghibur beliau: Jangan begitu, bergembirahlah. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, engkau jujur dalam berkata: engkau telah memikul beban orang lain, engkau sering membantu keperluan orang tak punya, menjamu tamu dan selalu membela kebenaran.”

Kata Imam Nawawi, bahwa makna ucapan Khadijah bahwa Allah tidak akan menimpakan keburukan kepadamu disebabkan kebaikan akhlak engkau selama ini.

Seharusnya adanya pandemi ini melatih kemuliaan akhlak kita, kepedulian kita kepada sesama lewat harta dan tenaga kita. Sehingga harapannya bencana ini segera diangkat dari kehidupan kita.

5. Memperbanyak sedekah.

Sedekah adalah amal ibadah yang apabila seseorang tidak mengamalkannya di dunia, maka dia pasti akan menyesal di kehidupan setelahnya, Allah mengkisahkan dibeberapa ayat, diantaranya;

(وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ)

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.”
[Surat Al-Munafiqun 10]

Dalam ayat lain juga disebutkan,

(حَتَّىٰۤ إِذَا جَاۤءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ۝ لَعَلِّیۤ أَعۡمَلُ صَـٰلِحࣰا فِیمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّاۤۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۖ وَمِن وَرَاۤىِٕهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ یَوۡمِ یُبۡعَثُونَ)

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.
[Surat Al-Mu’minun 99 – 100]

Dua ayat diatas menggambarkan bahwa ada perkara yang disesali manusia setelah meninggal dunia adalah sedekah. Apa sebabnya? Karena pada hari itu manusia melihat pahala amalnya, dan ternyata pahala sedekah sangatlah besar disisi Allah swt, karena ada orang dinaungi pada hari kiamat karena sedekahnya, ada orang diselamatkan dari azab karena sedekahnya, ada orang diangkat derajatnya karena sedekahnya, maka setiap orang menyesal kenapa dulu ketika didunia tidak menjadi pribadi yang gemar sedekah, dan diantara keutamaan sedekah adalah dapat menolak bala’. Maka ada seorang ulama besar di abad kedua Hijriyah yaitu Imam Abdullah bin Mubarak, seorang alim, kaya raya sekaligus mujahid fisabilillah, maka satu hari beliau didatangi seseorang, dan orang itu bertanya, bahwa dia sakit di bagian lututnya selama 7 tahun dan sudah berobat kepada para tabib ternama di seantero negeri, namun sakitnya belum kunjung sembuh. Lalu iapun bertanya kepada Abdullah bin Mubarak “Apa yang harus saya lakukan supaya saya bisa sembuh, maka beliau menjawab bersedekahlah kamu dengan cara membangun sumur disebuah wilayah yang sedang dilanda paceklik, yang sangat membutuhkan air minum, maka diikutilah saran beliau tadi, begitu sumur nya jadi ternyata penyakitnya sembuh atas izin Allah.
Jadi gambaran betapa sedekah adalah amalan yang dapat menolak bencana dari tengah kehidupan kita.

Inilah beberapa amalan yang dapat menghindarkan bencana dari tengah-tengah kehidupan kita, mudah-mudahan kita diberi taufik oleh Allah untuk menjaga ibadah-ibadah tersebut, sehingga dengan izin Allah wabah ini segera diangkat oleh Allah dari tengah-tengah kehidupan kita. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

*Disarikan dari Kajian Subuh 4 Juli 2020 di Al Bilad TKN Cibubur dengan tema Tazkiyatun Nafsi oleh Ustadz Mohammad Aniq, Lc, M.Pd

nabi-ibrahim

Belajar Taqwa Dari Kehidupan Nabi Ibrahim Alaihissalam

(إبراهيم عليه السلام دروس وعبر)

Oleh Kholid Mirbah, Lc

Allah swt berfirman,

(إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا وَلَمۡ یَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ ۝ شَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ)

Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah),
dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.
[Surat An-Nahl 120 – 121]

Al Qur’an merupakan kitabul Hidayah (kitab petunjuk) sehingga seluruh yang disampaikan Al-Qur’an kepada ummatnya pada dasarnya adalah petunjuk, termasuk ketika menurunkan kisah para Nabi dan Rasul, serta manusia-manusia terbaik pada dasarnya adalah petunjuk yang datang dari Allah swt.
Nah, di dalam Al-Qur’an petunjuk Allah tidak cukup berupa kalimat-kalimat ikhbariyyah (ungkapan yang bersifat informatif) dan tidak cukup dengan kalimat insyaiyyah (ungkapan yang bersifat instruktif) tetapi didalam Al-Qur’an sangat jelas selain informasi yang benar dan instruksi yang pasti, Allah juga turunkan an-namudzaj al-mitsali (contoh-contoh yang ideal) dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tidak perlu menafsirkannya, karena contohnya sudah jelas, sehingga dengan adanya contoh dari kehidupan yang nyata yang termuat dalam kisah maka hal ini dapat memudahkan kita untuk mengambil pelajaran dan ibrah, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka penting bagi kita untuk belajar dari sebuah kisah yang dengannya kita mendapati inspirasi untuk merubah hidup kita menjadi lebih baik, firman Allah,

(لَقَدۡ كَانَ فِی قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةࣱ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِۗ مَا كَانَ حَدِیثࣰا یُفۡتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصۡدِیقَ ٱلَّذِی بَیۡنَ یَدَیۡهِ وَتَفۡصِیلَ كُلِّ شَیۡءࣲ وَهُدࣰى وَرَحۡمَةࣰ لِّقَوۡمࣲ یُؤۡمِنُونَ)

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
[Surat Yusuf 111]

Diantara contohnya adalah ketika begitu banyak ayat-ayat yang berbicara tentang pentingnya belajar, maka Allah swt tidak hanya sekedar menurunkan ayat-ayat nya yang berbicara tentang ilmu dan kewajiban menuntutnya, serta kewajiban kita agar banyak memohon kepada-Nya supaya ditambah dan ditambah lagi ilmu pengetahuan, sebagaimana firman-Nya,

(وَقُل رَّبِّ زِدۡنِی عِلۡمࣰا)

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ”
[Surat Tha-Ha 114]

Allah swt juga turunkan kisah Musa as yang belajar dengan hamba Allah, seorang guru yang misterius, tidak diketahui namanya, adapun istilah Khidir itu hanya terdapat dalam riwayat hadits, artinya dalam belajar betapa kita harus tawadhu’, tidak harus belajar kepada orang yang terkenal, karena fenomena masyarakat sekarang tidak mau belajar kecuali dengan ustadz yang terkenal dan sering masuk tivi, padahal keterkenalan itu bukanlah ukuran suatu kebenaran, sehingga mereka kehilangan sekian banyak ilmu karena hanya mau belajar kepada guru yang terkenal, berbeda dengan Musa as seorang Nabi sekaligus manusia terbaik di zamannya mau belajar kepada orang yang tidak terkenal dan tidak diketahui asal-usulnya dan perjalanan Musa as untuk menemui gurunya ini memakan waktu sampai ratusan tahun, sebagaimana firman Allah,

(وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَاۤ أَبۡرَحُ حَتَّىٰۤ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَیۡنِ أَوۡ أَمۡضِیَ حُقُبࣰا)

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”
[Surat Al-Kahfi 60]

Dalam tafsir Ibnu Katsir melalui riwayat dari Abdullah bin Amr dijelaskan bahwa dalam ayat tersebut, Allah menggunakan redaksi Huquba yang merupakan jama dari lafadz Haqibah, sedangkan satu Haqibah 80 tahun, kalau jama’ paling sedikit adalah 3, maka 3 × 80 = 240 tahun, itulah gambaran orang yang mencari ilmu membutuhkan waktu yang panjang, sementara sebagian orang ketika belajar tidak selama itu, banyak yang belajar dengan tenaga sisa, waktu sisa dan umur sisa.

Begitu pula ketika berbicara tentang ketakwaan Nabi Ibrahim as tidak hanya cukup dengan instruksi tapi dibuktikan dengan pengorbanan beliau yaitu melalui syariat kurban, sehingga takwa itu tidak hanya dipahami melalui pendekatan-pendekatan akademis, tentang definisi dan hakikat takwa, akan tetapi harus diimplemantasikan dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak pendidikan di sekolah islam yang tidak semuanya melahirkan orang-orang yang bertakwa, tidak melahirkan orang-orang yang berkorban di jalan Allah, padahal belajar islam sejak TK sampai sarjana, kita di Indonesia ini tidak kekurangan lembaga pendidikan, namun yang disayangkan mereka terlalu fokus dengan rekreasi ilmu pengetahuan tetapi tidak mengejewantah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu ketika kita belajar islam tidak hanya sekedar berasal dari kalimat-kalimat informatif tetapi harus benar-benar real diterjemahkan dalam realitas kehidupan, yang bisa kita contoh dari kehidupan manusia-manusia terbaik yang akan kita kaji pada pembahasan ini adalah Nabi Ibrahim as.

Saudaraku, Ibrahim as adalah Jami’ah (universitas) yang tidak kering dari silabus atau kurikulum keteladanan dalam kehidupan beliau. Dan seluruh kepribadian beliau adalah menggambarkan kehidupan beliau yang utuh, hamba Allah yang bertakwa dan Tajarrud (totalitas) hidupnya untuk Allah swt.

Nah, Apa saja pelajaran yang bisa sosok pribadi yang bernama Ibrahim as

1. دور الفتى في التغيير إلى الأفضل

(Peran pemuda dalam perubahan menuju yang lebih baik)

Kenapa hal ini penting? Karena ada sebagian masyarakat yang memiliki pemahaman bahwa pemuda itu yang penting mau berubah, walaupun perubahan menuju ke arah keburukan.

Nabi Ibrahim as adalah pemuda yang mempunyai peran dalam merubah masyarakat menjadi lebih baik. Dari mana kita mengetahui ibrahim itu memiliki kekuatan untuk merubah?
Beliau di usia muda yang dalam ayatnya diredaksikan dengan kata (fata) mampu menghancurkan kesyirikan yang sudah mendarah daging di tengah-tengah kaumnya. Beliau hancurkan seluruh patung yang ada di kuil penyembahan kaumnya kecuali patung yang terbesar dengan dalih bahwa yang menghancurkan patung-patung tersebut adalah patung yang terbesar, beliau secara tersirat mengajak kaumnya untuk berfikir bagaimana mungkin patung sebagai benda mati yang tak bisa mendengar dan melihat disembah oleh mereka, yang mana kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an,

(قَالُوا۟ مَن فَعَلَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَاۤ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ ۝ قَالُوا۟ سَمِعۡنَا فَتࣰى یَذۡكُرُهُمۡ یُقَالُ لَهُۥۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ ۝ قَالُوا۟ فَأۡتُوا۟ بِهِۦ عَلَىٰۤ أَعۡیُنِ ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَشۡهَدُونَ ۝ قَالُوۤا۟ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَا یَـٰۤإِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ ۝ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِیرُهُمۡ هَـٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُوا۟ یَنطِقُونَ)

Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zhalim.”
Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.”Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.”
Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.”
[Surat Al-Anbiya’ 59 – 63]

Sehingga dari awal kita harus tahu bahwa para pemuda adalah agen perubahan menuju yang lebih baik, jangan sampai sebaliknya perubahan itu menuju kepada keburukan. Maka kita harus selamatkan pemuda-pemuda kita dari ideologi ideologi sesat yang merusak dan merongrong stabilitas suatu bangsa, karena kebaikan suatu bangsa tolak ukurnya ditentukan oleh para pemudanya. Maka perbaikan para pemuda harus menjadi skala prioritas dalam rangka terwujudnya perbaikan bangsa dan negara.

2. التضحية مقتضى الإيمان

(Pengorbanan itu konsekuensi dari iman)

Jika iman kita benar tandanya adalah kita mau berkorban, orang-orang kafir mereka rela berkorban untuk pemimpin, berhala dan thogut mereka. Orang beriman harus mau berkorban untuk Allah swt mereka harus rela berjuang di jalan Allah sebagai konsekuensi keimanan mereka kepada Allah. Sehingga masing-masing manusia rela berkorban demi meraih ridha tuhan atau zat yang diagungkan oleh mereka. Sebagaimana Allah jelaskan hal tersebut dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

(ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱلطَّـٰغُوتِ فَقَـٰتِلُوۤا۟ أَوۡلِیَاۤءَ ٱلشَّیۡطَـٰنِۖ إِنَّ كَیۡدَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ كَانَ ضَعِیفًا)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.
[Surat An-Nisa’ 76]

Jadi keimanan itu menuntut pengorbanan bahkan pengorbanan terhadap harta dan jiwa sekalian.
Mereka harus rela menginfakkan kekayaan mereka di jalan Allah, jangan sampai kalah dengan orang-orang kafir, mereka rela menggelontorkan kekayaan mereka untuk menghalangi mereka dari jalan Allah dan berpaling dari islam, Sungguh luar biasa pengorbanan mereka!
Pengorbanan tersebut diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an,

(إِنَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ یُنفِقُونَ أَمۡوَ ٰ⁠لَهُمۡ لِیَصُدُّوا۟ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِۚ فَسَیُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَیۡهِمۡ حَسۡرَةࣰ ثُمَّ یُغۡلَبُونَۗ وَٱلَّذِینَ كَفَرُوۤا۟ إِلَىٰ جَهَنَّمَ یُحۡشَرُونَ)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta-harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan,”
[Surat Al-Anfal 36]

Mereka merusak citra islam dengan harta-harta mereka, membeli media massa untuk menyebarkan berita yang menyudutkan islam, menyuap para pejabat untuk mengkriminalisasi ulama dan kaum muslimin, menangkap para dai-dai yang menyuarakan tentang kebenaran dan keislaman yang sejati.
Begitulah sosok dari Nabi Ibrahim as beliau mengorbankan segala potensi dalam dirinya untuk Allah sampai anak laki-laki satu-satunya dari Siti Hajar beliau hendak sembelih dalam rangka melaksanakan perintah Allah swt.

3. كان في إبراهيم وأسرته أسوة حسنة

Ibrahim as dan keluarga beliau merupakan sosok suri teladan yang baik.

Beliau dan keturunan beliau adalah generasi terbaik manusia, bahkan sebagian keturunan beliau menjadi para nabi dan rasul, termasuk Nabi kita Muhammad saw adalah bagian dari keturunan Ibrahim as dari garis Ismail as, sehingga karena itulah beliau mendapatkan julukan Abul Anbiya’ (Bapaknya para Nabi)

Nah, Seperti apa keluarga terbaik di dunia dalam pandangan Allah dan Rasulnya? Marilah kita bercermin keluarga Ibrahim as. Kenapa demikian? karena perbaikan suatu negara diawali kebaikan sebuah keluarga, karena negara muncul dari masyarakat, dan susunan masyarakat itu terbentuk dalam beberapa unit keluarga.

a. Keluarga yang baik ternyata dimulai dari ayah atau kepala keluarga yang baik.

Mari kita lihat kejujuran nabi Ibrahim dalam bertakwa dan melaksanakan perintah Allah swt. Hanya melalui mimpi bahwa beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, langsung intruksi itu disampaikan kepada anaknya. Padahal perintah itu datang lewat mimpi, bukan melalui perantara malaikat jibril. Apa kata nabi Ibrahim kepada anaknya ketika datang perintah itu melalui mimpi beliau? Maka Allah abadikan perkataan beliau dalam Al-Qur’an,

(فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡیَ قَالَ یَـٰبُنَیَّ إِنِّیۤ أَرَىٰ فِی ٱلۡمَنَامِ أَنِّیۤ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ)

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
[Surat Ash-Shaffat 102]

Di dalam ayat diatas Nabi Ibrahim memanggil anaknya dengan redaksi Bunayya yang artinya panggilan kesayangan dan kemesraan (anakku sayang) ini memberikan pelajaran kepada kita jikalau kita memanggil anak kita maka gunakanlah panggilan terbaik dan menyenangkan hati anak kita, jangan sampai kita tidak jujur dalam memanggil anak kita walaupun sudah diberikan nama yang terbaik, contohnya namanya Abdullah dipanggil Bedul, sama halnya ketika Luqman menasehati anaknya untuk tidak menyekutukan Allah, beliau mengawali nasehat tersebut dengan panggilan kasih sayang yaitu Ya Bunayya, Allah berfirman,

(وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ یَعِظُهُۥ یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ)

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
[Surat Luqman 13]

b. Anak yang taat

Begitu Ismail as mendengar bahwa Allah memerintahkan Ibrahim as untuk menyembelihnya, maka ia langsung mengatakan,

(..قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ)

Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku sayang! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
[Surat Ash-Shaffat 102]

Bagaimana dengan respon ibunya? Ibunya adalah seorang pribadi yang sabar, menerima ujian dari Allah tersebut, dan memang ujian yang diterima oleh keluarga Ibrahim sangatlah besar sampai-sampai Allah jelaskan dalam sebuah ayat,

(إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَـٰۤؤُا۟ ٱلۡمُبِینُ)

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[Surat Ash-Shaffat 106]

Dalam ayat itu sampai-sampai Allah menggunakan 3 alat penegas yaitu inna, lam taukid dan jumlah ismiyah, ini menunjukkan bahwa ujian yang diterima Ibrahim dan keluarganya benar-benar jelas dan nyata, meski demikian mereka tetap bersabar.
Dan ujian ini bukan kali pertama, kita ingat Hajar diajak hijrah dari Mesir ke Syam, lalu ditinggalkan sendirian bersama Ismail yang masih bayi di Hijaz, begitu ia ditinggal Ibrahim di lembah yang tandus, maka ia berkata kepada Ibrahim, Wahai Ibrahim apakah ini perintah Allah atau kemauan kamu sendiri, kok tega kamu tinggalkan aku dan bayiku sendiri? Maka ia menjawab ini adalah perintah Allah, maka seketika itu ia berkata kepada Ibrahim kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan aku. Subhanallah! Betapa tegarnya Hajar terhadap ujian Allah swt.
Ini menunjukkan betapa luar biasa tarbiyah Ibrahim kepada keluarga, sehingga mampu menjadikan keluarganya tegar dalam menghadapi ujian Allah, memang tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala kebaikan diawali dengan tarbiyah.

4. تتطلب التضحية كل الجهد والقوة وليس مع الطاقة والوقت المتبقي.

Pengorbanan itu butuh perjuangan totalitas, bukan dengan tenaga dan waktu sisa.

Orang biasanya sadar betul tentang ingat Allah, ibadah yang maksimal ketika sudah masuk usia pensiun. Fir‘aun itu baru ingat Allah ketika mau mati, maka jangan lah ikuti Fir‘aun tapi ikutilah Ibrahim yang sejak usia muda menjadi orang yang bertaqwa di segala potensi yang dimiliki, baik melalui dirinya, istrinya dan anak-anak nya, semuanya menjadi hamba-hamba Allah yang terbaik.
Maka kalau rumah tangga kita meraih kebahagiaan surgawi, maka kita harus jujur dalam berumah tangga, jujur dalam mendidik istri dan anak-anak kita menjadi pribadi yang beriman dan beramal shalih sehingga akan muncul istilah Al Usrah Al Mitsaliyah (keluarga ideal) dalam kehidupan kita. Karena kalau kita renungi bahwa hamba Allah yang sukses itu bukan yang menjadi baik di sisa tenaga dan usia, tapi yang sukses itu yang benar-benar totalitas berjuang di jalan Allah sepanjang hayatnya, bukan disisa umurnya, kita bisa lihat dalam firman Allah swt.

(۞ إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَ ٰ⁠لَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ فَیَقۡتُلُونَ وَیُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَیۡهِ حَقࣰّا فِی ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِیلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُوا۟ بِبَیۡعِكُمُ ٱلَّذِی بَایَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ)

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung”
[Surat At-Taubah 111]

Dalam ayat tersebut Allah membeli orang-orang beriman seluruh raga dan hartanya dengan sesuatu yang sangat mahal yaitu surga, jadi untuk mendapatkan surga butuh pengorbanan secara sungguh sungguh totalitas, bukan setengah-setengah.
Oleh karenanya agar kita dapat belajar melakukan pengorbanan totalitas kepada Allah, maka kita diperintahkan mengikuti pengorbanan dan kebaikan-kebaikan Nabi Ibrahim as, sebagaimana perintah ini juga ditunjukkan kepada Nabi kita Muhammad saw. Sehingga menjadikan nabi Ibrahim sebagai tokoh Idola yang diikuti adalah sebuah kewajiban, sebagaimana Allah ingatkan dalam Al Qur’an agar kita mengikuti agama dan kebaikan-kebaikan nabi Ibrahim karena pada dasarnya beliau memiliki uswah hasanah dalam segala dimensi kehidupan. Allah berfirman,

(ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ)

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”
[Surat An-Nahl 123]

Maka saking panjangnya nafas kebaikan dan jasa nabi Ibrahim dalam kehidupan kita, sampai-sampai kita diperintahkan untuk mengingat Nabi Ibrahim dalam shalat kita melalui bacaan shalawat kepada beliau, dan keutamaan tersebut semakin lengkap ketika perintah membaca shalawat kepada Ibrahim as disandingkan dengan shalawat kepada Rasulullah saw, sehingga disebut sebagai shalawat Ibrahimiyyah yang biasa dibaca pada tahiyat akhir dalam shalat, bunyi shalawat tersebut adalah,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وعلى آلِ إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَاركْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل إبراهيم في العالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Makanya diantara musibah yang menimpa amal shalih adalah ketika amal tersebut dilakukan dengan potensi yang tersisa, dan jauh dari prinsip totalitas.
Nabi dan para sahabat, mereka adalah sosok-sosok yang memiliki semangat dan totalitas yang tinggi dalam berjuang di jalan Allah, kita bisa lihat dalam peristiwa perang tabuk, perang yang sangat berat bagi Nabi saw dan para sahabat, karena menghadapi kekuatan yang sangat besar di kala itu yaitu Romawi dan terjadi di musim yang sangat panas, maka untuk itu, Beliau menganjurkan pengumpulan dana.

Pertempuran inilah yang menyebabkan Abu Bakar ra mengorbankan seluruh hartanya, sehingga ketika ia ditanya oleh Nabi SAW, “Apa yang kamu tinggalkan di rumahmu? Ia menjawab, “Kutinggalkan Allah dan Rasul-Nya bersama mereka.”

Umar ra juga telah mengorbankan setengah hartanya. Begitupun dengan Utsman ra yang mengorbankan perlengkapan perang untuk sepertiga pasukan. Beserta sahabat lainnya, menginfakkan lebih dari kemampuan mereka.

Padahal, pada masa itu keadaan para sahabat sedang susah, sehingga seekor unta harus dikendarai oleh sepuluh orang sahabat bergantian. Oleh sebab itu, perang ini pun disebut sebagai Jaysyul-‘Usrah yaitu pasukan kesulitan.

5. وجوب تحقيق التقوى في العبادات لا مجرد اسقاط الواجبات

Kewajiban untuk merealisasikan takwa dalam beribadah kepada Allah, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban.

Segala ibadah yang ditunaikan oleh kaum muslim pada hakikatnya adalah untuk melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa.
dan itulah bekal yang paling utama bagi seorang mukmin untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga Allah memerintahkan kepada kita untuk memperbanyak bekal ketakwaan, melalui serangkaian ibadah yang disyariatkan kepada kita untuk ditunaikan, Allah swt berfirman,

(وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَیۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ یَـٰۤأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ)

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”
[Surat Al-Baqarah 197]

Nah diantara hikmah syariat kurban adalah untuk mengantarkan diri menuju predikat ketakwaan disisi Allah, karena dalam syariat Ibadah kurban kita diajarkan untuk berjuang melawan penyakit bakhil dalam diri kita, dan sebaliknya ibadah kurban melatih kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang dermawan, dan menumbuhkan sifat kepedulian, dan rasa saling berbagi kepada orang lain, sehingga sifat-sifat yang mulia dalam diri orang yang berkurban dapat menjadi wasilah menuju taqwa, karena hanya sifat taqwa yang diterima oleh Allah dari ibadah berkurban. Allah swt berfirman,

(لَن یَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلَـٰكِن یَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ)

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
[Surat Al-Hajj 37]

Kepahlawanan Dalam Islam

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Sejarah kehidupan manusia ketika mereka sampai kepada puncak peradaban, menjadi hamba Allah yang merdeka, ketika mereka tidak bisa terjajah lagi itu ternyata tidak lepas dari peran para pahlawan. Krisis yang menimpa dunia ini, termasuk wilayah Indonesia bukan hanya sebatas krisis ekonomi, tapi yang kita khawatirkan adalah krisis kepahlawanan. Masalah besar yang dihadapi oleh umat islam tidak cukup dengan ilmu saja, walaupun ilmu itu penting, tidak cukup untuk mengatasi permasalahan bangsa. Oleh karena itu harus hadir sifat kepahlawanan dalam diri kita. Ketika dunia, terutama Jazirah arab dilanda virus jahiliyah, maka hadirlah Rasulullah menjadi pahlawan dengan berjuang untuk memberantas kejahiliyahan tersebut, ketika beliau meninggal kemudian digantikan oleh Abu Bakar As-Shiddiq ra, muncullah fenomena orang-orang yang murtad, muncul Nabi palsu dan orang-orang enggan membayar zakat setelah Nabi saw wafat, maka Abu Bakar tampil memberantas dan memerangi mereka, karena mereka telah melakukan pengkhianatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya kata Abu Bakar ra,

وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ، فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ المَالِ، وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا كَانُوا يُؤَدُّونَهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهِ

Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah saw, pasti akan aku perangi mereka disebabkan keengganan itu”
[ HR. Al-Bukhari : 7284 dan Muslim : 20 ].

Dalam banyak ayat Allah menyebut perintah zakat berbarengan dengan perintah shalat, ini menunjukkan kewajiban zakat setara dengan kewajiban shalat maka tidak boleh tinggalkan karena perbuatan perbuatan diatas mengancam dapat stabilitas kedaulatan suatu negara, maka Abu Bakar yang biasanya lemah lembut berubah menjadi tegas, memberantas segala penyimpangan tersebut. Inilah cermin sikap kepahlawanan Abu Bakar ra. Ketika masjidil Aqsa yang ada di tanam syam yang mana Nabi dulu melakukan Isra’ kemudian dikuasai oleh orang-orang kafir Romawi, maka muncullah sikap kepahlawanan Umar bin Khattab ra yang mana di zaman kepemimpinan beliau masjidil aqsa dimerdekakan dari para penjajah Romawi.

Begitu pada suatu saat Masjidil Aqsa dirampas kembali oleh orang-orang kafir karena waktu itu kaum muslimin diam saja, maka muncullah pahlawan selanjutnya yang berhasil merebut kembali masjidil aqsa yaitu panglima perang Shalahuddin Al-Ayyubi ra, seorang pejuang islam berkebangsaan kurdi, sehingga kepahlawanan terbuka untuk siapa saja, tidak hanya untuk orang arab saja, tetapi sejarah mengukir banyak pahlawan yang datang dari orang-orang ajam (non arab) yang berhasil membawa islam pada puncak kejayaan.
Maka untuk menghadapi segala permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara maka diperlukan sosok pahlawan yang mampu nerubah bangsa dan negara menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Al-Qur’an dan Sunnah menghadirkan diri kita menjadi para pahlawan di zaman kekinian ini?

1. Melalui Pendidikan Islam yang benar.

Benar itu ukurannya adalah sihhatul masdar (sumbernya benar), sedangkan sumber pendidikan yang pasti benar adalah melalui Al-Qur’an dan sunnah dan pemahaman ulama yang sudah diakui kapasitas keilmuan dan fikrahnya yang benar. Anak-anak kita yang kita sekolahkan di sekolah negeri terkadang kita dapati mata pelajaran agama islam sepekan hanya sekali, maka sebagian mereka banyak yang tidak paham dengan ajaran agama mereka, sehingga bukannya mereka menjadi pahlawan tapi lebih senang tawuran.

2. Pendidikan itu harus bersifat universal atau sempurna.

Jangan sampai pendidikan itu sifatnya hanya setengah-setengah, harus dibina terlebih dahulu akalnya supaya akalnya cerdas. Makanya ayat yang pertama turun ada Iqra’ (bacalah), sehingga kita dan anak-anak kita harus rajin membaca terutama membaca Al-Quran, Sunnah serta ilmu-ilmu yang lain yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Maka kita harus cerdas. Nah, pada hakikatnya pendidikan itu bukan hanya sekedar ilmu dan merubah kemampuan intelektual seseorang, akan tetapi pendidikan itu juga meliputi;

a. Pendidikan ruhiyyah (spiritual).

Kecerdasan manusia tidaklah cukup hanya sebatas cerdas secara intelektual tapi juga harus diiringi cerdas secara spiritual (ruhiyyah), makanya untuk mencapai kecerdasan seperti ini ruh kita harus dididik dengan cara disuplai dengan serangkaian ibadah kepada Allah sehingga hati kita menjadi bersih dari kotoran dosa dan maksiyat makanya untuk mendidik spiritual Nabi saw, Allah memerintahkan beliau untuk memperbanyak qiyamul lail dan membaca Al Qur’an sebagaimana perintah Allah tersebut termaktub dalam Al Qur’an,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ ٱلَّیۡلَ إِلَّا قَلِیلࣰا ۝ نِّصۡفَهُۥۤ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِیلًا ۝ أَوۡ زِدۡ عَلَیۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِیلًا ۝ إِنَّا سَنُلۡقِی عَلَیۡكَ قَوۡلࣰا ثَقِیلًا)

Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan, sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.
[Surat Al-Muzzammil 1 – 5]

b. pendidikan jasadiyyah (fisik).

Setelah kita mendapatkan pendidikan secara spiritual oleh Allah berupa perintah ibadah Qiyamul lail dan membaca Al-Quran serta ibadah-ibadah yang lain, maka selanjutnya Allah memerintahkan kita untuk mentarbiyah fisik kita agar menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, karena bangsa yang lemah mudah dijajah oleh bangsa lain, maka kita harus melatih diri kita, keluarga kita, masyarakat kita agar menjadi pribadi yang kuat secara fisik. Karena dengan memiliki kekuatan secara fisik akan menghadirkan kebaikan dan kecintaan Allah kepadanya, sebagaimana sabda Nabi saw,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قاَلَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلىَ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٍ، اِحْرِصْ عَلىَ ماَ يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَماَ شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan berkata seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu, tetapi katakanlah Allah telah menakdirkan, dan kehendak oleh Allah pasti dilakukan. Sebab kata ‘seandainya’ itu dapat membuka perbuatan setan.” [HR. Muslim].

Maka kita harus senantiasa melakukan berbagai kesiapan dan pelatihan agar fisik kita selalu kuat, karena musuh islam senantiasa mengintai kita dimasa-masa yang lemah untuk menghancurkan kehidupan agama dan negara kita, makanya persiapan kita untuk menjadi pribadi yang kuat secara fisik adalah sebuah kewajiban, sebagaimana firman Allah,

(وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةࣲ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَیۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِینَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ یَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَیۡءࣲ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یُوَفَّ إِلَیۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ)

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizhalimi (dirugikan).”
[Surat Al-Anfal 60]

Jadi kita wajib kita membela negara kita dari musuh-musuh Allah, karena negara adalah amanat dari Allah yang harus kita jaga, jangan sampai kita biarkan kedaulatan negara kita diinjak-injak oleh pihak-pihak yang ingin merongrong kedaulatan negara baik dari dalam maupun luar, maka tidak hanya pembelaan kita terhadap negara melalui lisan saja tetapi harus diiringi dengan tindakan, maka itulah hakikat dari pada kepahlawanan. Maka sejatinya dalam sejarah, para ulama, kiai dan santri berperan aktif dalam membela negara, mereka jujur dalam keimanan mereka kepada Allah, karena mereka mendapatkan tarbiyah yang universal, akal mereka jernih, hati mereka bersih dan fisik mereka kuat. Maka kalau kita ingin memperbaiki negara kita maka tidak cukup hanya dengan ilmu walaupun ilmu itu penting tetapi yang lebih dari itu adalah munculnya jiwa-jiwa kepahlawanan bagi setiap individu negara.

3. Sihhatul Ghayah (orientasi hidup kita harus benar).

Pada hakikatnya shalat, haji, berumah tangga, berbangsa dan bernegara dan segala bentuk ibadah kita hanyalah untuk Allah, Allah ingatkan komitmen kita tersebut dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

(قُلۡ إِنَّ صَلَاتِی وَنُسُكِی وَمَحۡیَایَ وَمَمَاتِی لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ)

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
[Surat Al-An’am 162]

Dalam ayat yang lain, Allah swt juga tegaskan,

(وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
[Surat Adz-Dzariyat 56]

Itulah orientasi hidup kita yaitu Ibadah kita dalam segala dimensi kehidupan diperuntukkan hanya untuk Allah semata.
Pahlawan-pahlawan kita yang atas izin Allah diberikan kemenangan atas Belanda, menumpas PKI yang telah berkhianat kepada negara, itu didalam berjuang membela negara didasari sifat ikhlas mengharap ridha Allah swt, itulah pahlawan sejati, di dalam berjihad di jalan Allah itu orientasi nya semata-mata karena Allah swt. Kalau seandainya semua pahlawan karena merasa berjasa dalam membela negara sehingga tujuan mereka dalam berjuang agar memperoleh simpati dan berebut kursi di pemerintahan maka perjuangan mereka akan menjadi sia-sia di sisi Allah. Maka pahlawan-pahlawan kita semacam KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU, KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, A. Hassan pendiri PERSIS , Ahmad Surkati pendiri Al Irsyad dan semuanya mereka ikhlas berjuang di jalan Allah, maka meski telah meninggal namanya tetap harum dan dikenang hingga sekarang, sehingga setiap orang yang ikhlas berjuang namanya akan selalu harum. Karena kehidupan kita ekonomi, politik, berbangsa dan bernegara kita harus diiringi keikhlasan kepada Allah swt .

4. As-Shidqu (jujur)

Untuk menjadi seorang pahlawan tidaklah mudah, harus memiliki sifat terpuji serta budi pekerti yang luhur diantaranya adalah kejujuran, maka untuk menjadi seorang pahlawan yang dicintai oleh Allah harus jujur terhadap janjinya kepada Allah, sebagaimana firman Allah,

(مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ رِجَالࣱ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَیۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن یَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبۡدِیلࣰا ۝ لِّیَجۡزِیَ ٱللَّهُ ٱلصَّـٰدِقِینَ بِصِدۡقِهِمۡ وَیُعَذِّبَ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ إِن شَاۤءَ أَوۡ یَتُوبَ عَلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya), agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat Al-Ahzab 23 – 24]

Jadi para pahlawan itu mereka adalah orang-orang yang beriman, mereka adalah Rijaal (para tokoh), Allah memilih kata rijaal adalah sebagai bentuk Ziyadatu ats-tsana’ ‘alaihim (pujian yang semakin bertambah) kepada orang-orang yang berjuang dijalan Allah, dan diantara sifat mereka adalah jujur terhadap janjinya kepada Allah, buktinya adalah diantara mereka ada yang menemui ajalnya di jalan Allah sehingga redaksi ayatnya adalah (an-Nahbu) karena matinya bukan mati sembarang akan tetapi mati karena menjadi seorang pahlawan yang berjuang di jalan Allah swt, maka kepahlawanan akan hadir dengan modal kejujuran, dan diantara mereka masih menunggu ajalnya, dan mereka sedikitpun tidak akan merubah janji mereka kepada Allah. Artinya orang yang berjuang dijalan Allah ada yang meninggal dalam medan perjuangan ada pula yang meninggal di dalam rumah, namun walaupun mereka meninggal di rumah mereka tetap pahala mereka dicatat seperti orang yang meninggal dalam medan perjuangan.

Sedangkan orang-orang munafik walaupun mengaku beriman tapi mereka tidak mau berjuang dijalan Allah mereka akan tertimpa siksaan dari Allah swt, maka saking bahayanya sifat nifaq ini sampai-sampai Umar bin Khattab ra, salah seorang sahabat yang dijamin surga, sangat khawatir kalau sifat ini ada di dalam dirinya, beliau sampai bertanya kepada sahabat yang membawa daftar nama-nama orang munafik yang dirahasiakan yaitu Hudzaifah ra, Umar berkata Wahai Hudzaifah, daftar nama-nama orang munafik didalamnya termasuk saya atau tidak? Karena terdesak ia berkata, Pergi Umar! tidak ada namamu di dalamnya. Ibnu Abi Mulaikah berkata,

أدركت ثلاثين صحابيا، كلهم يخافون من النفاق

“Aku jumpai 30 sahabat, mereka semua takut dari sifat nifaq”

Dan diantara orang-orang munafik yang tidak jujur dalam kepahlawanannya, tidak jujur dalam membela negaranya adalah mereka yang selalu benci kepada ajaran islam.

5. Asy-Syaja’ah (Keberanian)

Tidak mungkin seseorang menjadi pahlawan kalau tidak berani, merka harus berani berjuang, menegakkan kebenaran dan menumpas kebathilan, sebagaimana firman Allah,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَن یَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَلَا یَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَاۤىِٕمࣲۚ ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”[Surat Al-Ma’idah 54]

Para pahlawan adalah mereka yang berjuang di jalan Allah serta tidak takut celaan orang yang mencela, maka hakikatnya mereka memiliki sifat keberanian tanpa diiringi rasa takut dan gentar kepada siapapun yang mencelanya.

Semoga diri kita dan keluarga kita diberikan kemudahan untuk menghadirkan sifat kepahlawanan sehingga dapat turut andil dalam membela bangsa dan negara, berkontribusi dalam perbaikan bangsa kita menjadi lebih baik.

Sunnatullah Dalam Perubahan

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَاۤ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ سُوۤءࣰا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
[Surat Ar-Ra’d 11].

Diantara sunnatullah (ketentuan Allah) yang pasti terjadi dalam hidup ini adalah at taghyir yaitu perubahan, kata sunnah maknanya adalah at thariqah al mukhathathah (jalan yang sudah digariskan) dan diantara bentuk sunnatullah berupa perubahan, sehingga perubahan adalah keniscayaan. Contoh, kita dulu pernah muda, kemudian berubah tua. Tetapi dalam islam kita ingin melakukan perubahan yang lebih baik, yang dicintai dan diridhai Allah, sehingga ketika kematian menjemput kita, maka kita mati dalam keadaan terbaik, karena kita sudah berusaha ketika hidup untuk berubah menjadi lebih baik, maka mudah-mudahan kita diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah.

Nah, apa saja faktor yang dapat merubah diri, keluarga, masyarakat kita berubah menjadi lebih baik?
Setelah kita mantadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah maka kita mendapati faktor yang menjadikan diri kita berubah menjadi lebih baik adalah;

1. Ilmu Pengetahuan.

Bangsa Arab dulu berada dalam zaman jahiliyah, setelah datangnya ilmu yang berasal dari Al Qur’an dan Sunnah maka bangsa Arab secara khusus dan kaum muslimin dipenjuru dunia secara umum menjadi umat yang terbaik (khaira ummah).

Maka perbaikan suatu umat hanya bisa terwujud dengan ilmu. Apa yang dimaksud dengan ilmu di dalam Al-Qur’an? Kita tahu kata ilmu serta keturunannya banyak diulang-ulang dalam Al-Qur’an, nah pengertian ilmu, itu adalah setiap ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat itulah ilmu yang wajib dipelajari, itulah ilmu yang menjadikan kita berubah menjadi lebih baik, sehingga di dalam kehidupan ini tidak ada dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama, karena keduanya adalah ilmu Allah yang wajib dipelajari, maka ketika kita rajin mendatangi majelis ilmu maka insyaallah kita akan berubah menjadi lebih baik. Banyak wanita yang belum menutup aurat meskipun mengaku beragama islam, maka ia akan berubah menjadi lebih baik dengan menutup aurat ketika ia rajin menghadiri majelis ilmu. Karena islam mewajibkan setiap wanita yang sudah baligh untuk menutup aurat. Dulu belum tahu tentang shalat yang benar tetapi setelah belajar tata cara shalat Rasulullah maka ia berubah menjadi yang lebih baik.

Dulu banyak remaja yang suka dengan pacaran tetapi setelah mengetahui ilmu tentang larangan Allah untuk mendekati zina, maka mereka mulai tinggalkan pacaran, karena mendekatkan kepada zina. Jadi perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia faktor utamanya adalah ilmu, makanya wahyu yang pertama turun adalah berkaitan dengan perintah membaca agar mendapatkan ilmu karena kunci ilmu adalah membaca, sebagaimana firman Allah kepada Rasulullah saw ketika sedang bertahannus di gua hira,

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِی خَلَقَ ۝ خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ۝ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ۝ ٱلَّذِی عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ۝ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ ۝

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.[Surat Al-‘Alaq 1 -5].

Dalam ayat tersebut kata ilmu sampai diulang tiga kali, ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa melalui membaca dan belajar kita berubah menjadi lebih baik, dulunya kita berada dalam kegelapan, setelah kita bersama Al Qur’an dan ia adalah sumbernya pengetahuan akhirnya kita berada dalam cahaya yang terang, akhirnya kita mengetahui perkara halal dan haram, ibadah dan ketaatan, sunnah dan bid’ah, perkara yang mengantarkan kita ke surga dan perkara yang mengantarkan kita ke neraka, sehingga ilmu itu merubah diri kita menjadi lebih baik. Allah ta’ala berfirman,

(الۤرۚ كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَیۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طِ ٱلۡعَزِیزِ ٱلۡحَمِیدِ)

Alif Lam Ra. (Al-Qur’an ini) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang (islam) dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.[Surat Ibrahim 1].

Nah, untuk menggambarkan betapa pentingnya ilmu di dalam kehidupan sampai-sampai tidak permohonan kita kepada Allah di dalam Al-Qur’an yang minta agar terus ditambah kecuali ditambah ilmu, firman Allah ta’ala,

(وَقُل رَّبِّ زِدۡنِی عِلۡمࣰا)

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ”[Surat Tha-Ha 114].

Karena ilmu sesuatu yang sangat penting, termasuk untuk merubah diri kita menjadi lebih baik.

2. Amal Perbuatan atau kerja.

Kita sebagai anak bangsa, khususnya sebagai generasi muslim, agar bangsa ini menjadi lebih baik dan lebih sejahtera maka kita semua harus menjadi bangsa yang cinta dengan kerja. Orang yang bekerja akan dicintai Allah dan akan berubah menjadi lebih baik, maka, bekerja adalah sebuah kewajiban sebagaimana firman Allah ta’ala dalam Al-Qur’an,

(وَقُلِ ٱعۡمَلُوا۟ فَسَیَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلۡغَیۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَیُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ)

“Dan katakanlah wahai Muhammad, “Bekerjalah kamu, maka pasti Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Surat At-Taubah 105].

Jadi beramal atau bekerja adalah perintah Allah untuk kita semua. Nah amal apa saja yang dapat merubah diri kita menjadi lebih baik? Maka amal yang dapat merubah diri kita menjadi lebih baik syarat nya ada dua, yaitu;

Pertama, amal itu harus shalih, dan pengertian amal shalih yang diterima oleh Allah ada dua hal yaitu amal tersebut didasari dengan ikhlas dan amal tersebut benar, dan barometer kebenaran itu ukurannya mengikuti Rasulullah shallahu alaihi wasallam .

Kedua, adalah dilakukan secara berjamaah, makanya di dalam ajaran islam apa saja yang dikerjakan secara berjamaah pahalanya lebih besar dari pada dikerjakan secara sendiri.
Contohnya shalat berjamaah, mengenai keutamaan shalat berjamaah dalam sebuah hadits
dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda,

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari Muslim).

Bahkan dalam hadits yang lainnya ketika ada seorang buta meminta izin kepada nabi untuk tidak ikut shalat berjamaah di masjid, tapi nabi tetapi memerintahkan nya untuk shalat berjamaah. Sabda Nabi shallahu alaihi wasallam ,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : أَتَى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلٌ أعْمَى ، فقَالَ : يا رَسُولَ اللهِ ، لَيسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَّمَا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ لَهُ : (( هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ )) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : (( فَأجِبْ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Nabi shallahu alaihi wasallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah shallahu alaihi wasallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah shallahu alaihi wasallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503).

Yang aneh dalam fenomena keislaman masyarakat kita banyak yang gak buta tapi tetap tidak shalat berjamaah di masjid, maka agar mereka berubah menjadi lebih baik maka harus diberikan pemahaman yang benar mengenai pentingnya shalat berjamaah di masjid.

Maka tidak mungkin kita berubah menjadi lebih baik secara sendirian. Yang ingin membangun peradaban ini jumlah nya banyak dan yang ingin menghancurkan peradaban itu juga jumlahnya banyak. Makanya kita harus berjamaah, kalau kita ingin membangun rumah sendirian sementara yang ingin merobohkan banyak, maka rumah dipastikan tidak akan bisa berdiri, maka seorang penyair mengatakan,

مَتى يَبلُغ البُنيانُ يَوماً تَمامَه ** إذا كُنت تَبنيهِ وَغَيرك يَهدِمُ

Kapan sebuah bangunan berdiri sempurna kalau kamu sendirian membangunnya sementara orang lain ingin merobohkan.

Makanya kalau ingin membangun tatanan masyarakat dan bangsa lebih baik lagi maka kita harus bekerja bersama sama. Kalau kita ingin memiliki anak yang cerdas maka yang mendidik ayah dan ibu secara bersama sama, tidak sepenuhnya diserahkan kepada guru. Disaat hari-hari biasa maka yang mendidik adalah guru, maka di saat hari libur tugas kedua orang tua yang harus mendidiknya, bukannya lepas tanggung jawab apalagi diajak liburan, sehingga hafalan Al-Qur’an mereka banyak yang hilang dan pelajaran sekolah banyak yang lupa. Boleh berlibur akan tetapi belajar tidak boleh libur, belajar bisa dilakukan dimanapun termasuk di rumah. Jadi hari libur itu digunakan untuk menutup lubang-lubang dan kekurangan kekurangan di sekolah. Kalau target hafalan tidak sampai dalam satu semester mestinya diwaktu liburan diisi untuk menyelesaikan target hafalannya. Maka kita beramal shalih dan dilakukan secara berjamaah. Di negeri manapun pasti terjadi kemungkaran, kalau yang merubah kemungkaran satu orang atau satu ormas tertentu maka kecil kemungkinan kemungkaran itu hilang, tapi kalau banyak orang atau ormas yang dibangun berdasarkan sistem maka kemungkaran tersebut pasti sirna. Oleh karena itulah kita harus berjamaah, karena kalau umat islam tidak berjamaah akan terjadi fitnah dan malapetaka yang besar di dunia ini. Sebagaimana firman Allah,

(وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِیَاۤءُ بَعۡضٍۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةࣱ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادࣱ كَبِیرࣱ)

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. (Wahai orang-orang beriman) Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi dan mendukung), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. [Surat Al-Anfal 73].

Jadi dalam ayat ini Allah mengingatkan seluruh orang beriman di penjuru dunia termasuk di Indonesia agar amal shalih dilakukan secara berjamaah, shalat berjamaah, haji berjamaah, zakat berjamaah, amar ma’ruf nahi munkar berjamaah, kalau tidak berjamaah, maka orang-orang kafir akan bersama-sama akan melakukan kerusakan dan kejahatan secara berjamaah. Maka umat islam agar menjadi lebih baik maka bekerja harus bersama-sama jangan sampai berpecah belah, gara-gara beda ormas, partai atau golongannya.

Karena kita khawatir kalau umat islam asik dengan ormas dan golongan nya, sementara orang-orang kafir bersatu padu, maka umat islam akan kalah.
Jadi amal yang dikerjakan harus shalih, ikhlas, benar dan dikerjakan secara bersama-sama maka umat islam akan berubah menjadi lebih baik.

3. Memanfaatkan seluruh potensi yang ada, baik potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Jangan sampai ada satupun potensi alam dan manusia yang tidak dimanfaatkan. Semua digunakan untuk merubah diri, masyarakat dan negaranya menjadi lebih baik. Kita mulai dari sumber daya alam, kalau kita sebut NKRI adalah negara yang luas daratannya dan dipenuhi sumber daya alam yang melimpah, namun kekayaan tersebut tidak merata karena disamping faktor pemerintah kurang maksimal dalam memeratakan kekayaan tapi yang paling utama karena faktor kemalasan, malas untuk memanfaatkan potensi sumber daya yang ada, padahal nabi shallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang Muslim yang menanam tanaman atau bertani, lalu ia memakan hasilnya atau orang lain dan binatang ternak yang memakan hasilnya, kecuali semua itu dianggap sedekah baginya” (HR. Al Bukhari 2320).

Maka, menanam pohon kemudian berbuah, lalu dikonsumsi khayalak umum bahkan termasuk burung itu saja merupakan sedekah yang berpahala, maka jika itu dilakukan akan terjadi perubahan, tidak ada yang namanya kelaparan jikalau setiap manusia memiliki kesadaran seperti itu, dalam hadits lain disebutkan, dari Anas radhiyallahu anhu dari Rasulullah bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَ فِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Imam Ahmad).

Artinya kita harus memanfaatkan potensi yang ada dan kita tak boleh berorientasi bahwa kita yang menikmatinya saja, mungkin kita yang bekerja namun bisa jadi yang menikmati makhluk yang lain. Jadi ini salah satu hal yang dapat merubah diri kita menjadi lebih baik.
Ketika Rasulullah shallahu alaihi wasallam hijrah dari Makkah ke Madinah, karena intimidasi orang-orang musyrik, beliau melalui jalan yang tidak diketahui banyak orang. Akhirnya bertemu dengan orang kafir bernama Abdullah bin Uraiqiq, ia digunakan oleh nabi untuk menunjukkan jalan ke Madinah yang tidak diketahui banyak orang padahal ia seorang kafir. Artinya orang kafir saja potensinya bisa digunakan untuk membela islam apalagi umat islam, jangan malah sebaliknya umat islam digunakan oleh orang kafir untuk memusuhi umat islam sendiri. Umat islam digunakan untuk memata-matai saudara mereka sendiri dalam pergerakan dakwah dan majelis taklim mereka, maka ini bukannya berubah menjadi lebih baik, justru sebaliknya. Padahal sesama muslim itu bersaudara, Allah berfirman,

(إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةࣱ فَأَصۡلِحُوا۟ بَیۡنَ أَخَوَیۡكُمۡۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ)

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
[Surat Al-Hujurat 10].

4. Dakwah

Yaitu, mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan mengerjakan kebajikan. Allah mewajibkan agar setiap muslim berdakwah, bahkan berdakwah adalah profesi terbaik di sisi Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya,

(وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلࣰا مِّمَّن دَعَاۤ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا وَقَالَ إِنَّنِی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ)

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” [Surat Fushilat 33].

Sehingga setiap manusia yang beramal sebagai aktivis dakwah apapun latar belakang pekerjaannya, maka kita yakin dunia akan berubah menjadi lebih baik.
Al Qur’an turun pertama kali di makkah, sedangkan belum ada yang beriman selain Rasulullah saja, maka nabi mulai berdakwah sehingga ada beberapa orang yang menerima dakwah beliau, diantaranya Khadijah, Abu Bakar, Ali, dan Bilal yang mana mereka meneruskan perjuangan nabi sehingga berkat perjuanganmereka islam tersebar ke penjuru jazirah arab bahkan seluruh pelosok dunia, maka umat manusia yang dulunya gelap gulita merasakan cahaya islam yang terang-benderang, karena mereka militan dalam berdakwah. Seandainya di Indonesia ini tidak ada orang Arab Yaman yang datang ke Indonesia membawa islam, maka barangkali kita masih dalam zaman kegelapan, semua itu dapat terjadi lantaran dakwah. Tentang perintah dakwah Allah swt berfirman,

(وَأَنذِرۡ عَشِیرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِینَ)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat, [Surat Asy-Syu’ara 214].

Jadi masalah kejahilan dalam agama yang kita hadapi bukan karena lembaga pendidikan dan keislaman, karena lembaga tersebut jumlahnya banyak, tapi tidak setiap umat islam mau berdakwah, tidak seperti nabi dan sahabatnya yang militan dalam berdakwah. Abu Dzar begitu masuk islam, akhirnya beliau mendakwahkan ajaran islam kepada Qabilahnya, maka seluruh orang di Qabilahnya masuk islam. Maka orang-orang yang gemar berdakwah di akhirat nanti akan selamat di pengadilan Allah swt padi hari kiamat, karena mereka telah lepas tanggung jawab mereka, sedangkan di dunia mereka menjadi orang-orang yang bertakwa. Dan orang yang tidak berdakwah bahkan menghalang-halangi jalan dakwah diazab oleh Allah, bahkan berubah menjadi kera, terlepas wujudnya seperti kera atau tidak tapi wataknya persis seperti kera, firman Allah,

(وَإِذۡ قَالَتۡ أُمَّةࣱ مِّنۡهُمۡ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابࣰا شَدِیدࣰاۖ قَالُوا۟ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَلَعَلَّهُمۡ یَتَّقُونَ ۝ فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦۤ أَنجَیۡنَا ٱلَّذِینَ یَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوۤءِ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ بِعَذَابِۭ بَـِٔیسِۭ بِمَا كَانُوا۟ یَفۡسُقُونَ ۝ فَلَمَّا عَتَوۡا۟ عَن مَّا نُهُوا۟ عَنۡهُ قُلۡنَا لَهُمۡ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَـٰسِـِٔینَ)

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.”

Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang. Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” [Surat Al-A’raf 164 – 166].

5. Bersyukur

Allah menjanjikan dalam kehidupan ini, siapapun yang bersyukur nikmatnya akan ditambah, sehingga keadaan diri menjadi semakin lebih baik. Ini adalah janji Allah dan janji Allah adalah pasti, firman Allah;

(وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”[Surat Ibrahim 7].

Maka hakikat syukur bukan hanya dengan ucapan seperti kita mengucapkan Alhamdulillah, tapi lebih dari itu syukur yang sempurna adalah rasa berterima kasih kita atas nikmat Allah melalui hati, lisan dan perbuatan.

Apa tandanya kalau kita menjadi pribadi yang bersyukur?

a. Mengakui bahwa nikmat yang didapatkan semata-mata datang dari Allah. Kita sehat itu semata-mata datang dari Allah bukan karena rajin berolahraga, meskipun olahraga itu penting. Perlu diingat semua nikmat yang kita rasakan semata-mata datang dari Allah, akan tetapi manusia tetap wajib ikhtiyar, melakukan usaha untuk meraih nikmat tersebut.

b. Menggunakan seluruh nikmat untuk taat kepada Allah.

Ketika kita diberikan waktu luang, kesehatan, kekayaan maka hendaklah digunakan untuk taat kepada Allah, untuk beribadah, menuntut ilmu agama dan bersedekah.

Seorang Khalifah yang bernama Umar bin Abdul Aziz, sebelum beliau memimpin negara dalam masa krisis, tetapi berkat keshalihan dan keadilannya, negara yang dipimpinnya merasakan keamanan, jangankan manusia bahkan binatangpun merasakan keadilannya. Saking amannya, sampai tidak ada binatang ternak yang dimakan oleh binatang buas, dalam kepemimpinannya yang singkat yaitu masa 2,5 tahun, sulit untuk mencari orang yang berhak menerima zakat. Kenapa demikian? Karena beliau benar-benar mensyukuri nikmat Allah berupa nikmat kepemimpinan, dan menggunakannya dalam rangka semata-mata melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Adapun kufur nikmat adalah menggunakan kenikmatan yang telah Allah berikan pada hal-hal yang tidak diridhai Alllah dan enggan mengucapkan Alhamdulillah. Seseorang sudah diberikan kenikmatan berupa jiwa dan raga yang sehat, waktu yang lapang, rejeki yang banyak, akan tetapi kenikmatan yang diberikan digunakan untuk bermaksiat kepada Allah seperti minum miras, judi dan lain sebagainya.

Kufur nikmat berawal dari ketidaksadaran akan nikmat yang ia dapat bahwa semua fasilitas dunia ini merupakan anugerah Allah kepada hambanya. Sedangkan bahaya kufur nikmat selanjutnya adalah adanya adzab dari Allah. Hal ini seperti yang seperti firman Allah dalam ayat di atas.

(Dinukil dari Kitab Al-Hayah fil Qur’an al-Karim karya Dr. Ahzami Samiun Jazuli, M.A. hal 42-57 cetakan 1 Dar Tuwaiq, Riyadh, 1418 H).

Mentadabburi Ayat-Ayat Hijrah Dalam Al-qur’an

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Diantara ayat-ayat hijrah dalam Al-Qur’an yang dapat kita ambil pelajaran adalah firman Allah swt, surat An-Nisa ayat 97-100, Allah berfirman,

(إِنَّ ٱلَّذِینَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِیمَ كُنتُمۡۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِینَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوۤا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةࣰ فَتُهَاجِرُوا۟ فِیهَاۚ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا ۝ إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِینَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡوِلۡدَ ٰ⁠نِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ حِیلَةࣰ وَلَا یَهۡتَدُونَ سَبِیلࣰا ۝ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ عَسَى ٱللَّهُ أَن یَعۡفُوَ عَنۡهُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَفُوًّا غَفُورࣰا ۝ ۞ وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah), maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat An-Nisa’ 97 – 100]

Pada kesempatan kali ini kita akan menunaikan satu kewajiban kita terhadap Al Qur’an yaitu Al Mu’ayasayatu ma’al Qur’an (berinteraksi dengan Al-Qur’an) Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan untuk mengamalkan dan menerapkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Saudaraku yang budiman, Al-Qur’an adalah Jami’atul Hayah yaitu Universitas Kehidupan yang didalamnya terdapat petunjuk-petunjuk yang mencakup seluruh dimensi kehidupan, terutama petunjuk kehidupan masa kini dan lebih khusus kehidupan kaum muslimin.
Nah, di dalam ayat tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil;

1. Kewajiban untuk bersatu dengan kaum muslimin.

Agar islam dan iman kita diterima Allah, selamat di dunia dan akhirat kita, maka kita harus bergabung dan bersatu padu dengan jamaahnya kaum muslimin, dalilnya adalah sababun nuzul (sebab turunnya ayat), karena diantara faidah mengetahui sababun nuzul memudahkan kita untuk memahami suatu makna al Qur’an. Dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah bersama para sahabatnya ternyata masih ada sebagian kaum muslimin tidak mau bergabung dengan nabi dan para sahabatnya untuk hijrah, tetapi mereka memilih tinggal di Makkah yang saat itu Makkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik. Nah, ketika terjadi perang badar kaum muslimin yang tinggal di Makkah dipaksa oleh orang-orang musyrik untuk berperang melawan orang-orang islam yang ada di Madinah, lalu trunlah ayat ini.
(Tafsir Ibnu Katsir)

Dan hal tersebut juga senada dengan firman Allah, kita diperintahkan agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan kaum muslimin, jangan mudah diadu domba sehingga berperan belah, firman Allah tersebut berbunyi,

(وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِیعࣰا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ۚ)

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”
[Surat Ali ‘Imran 103]

Nah, pertimbangan mereka kenapa tetap tinggal di Makkah? Karena kepentingan hidupnya masih di Makkah, termasuk diantaranya keluarga, ekonomi, jabatan dan lain sebagainya, jadi mereka lebih memilih kehidupan dunia mereka yang ada di Makkah dari pada hijrah bersama Nabi dan para sahabatnya, mereka lebih memilih dunia mereka dari pada taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ketika berperang ternyata banyak diantara mereka yang mati, ketika mati mereka divonis oleh Allah deng tiga vonis besar;

a. Matinya dalam keadaan dzalim,
b. Alasan mereka bahwa mereka kaum dhuafa’ yang tertindas di tolak oleh Allah swt dan,
c. Di Akhirat divonis neraka Jahannam,

Didalam Al-Qur’an Allah menjelaskan vonis yang diterima oleh mereka.

(إِنَّ ٱلَّذِینَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِیمَ كُنتُمۡۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِینَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوۤا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةࣰ فَتُهَاجِرُوا۟ فِیهَاۚ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا)

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, [Surat An-Nisa’ 97]

Apa korelasi ayat tersebut dengan kondisi kaum muslimin di dunia ini, terutama dengan kaum muslimin di Indonesia ini?
Al Qur’an diturunkan di Makkah dan Madinah, namun berlakunya untuk seluruh dunia, bukan hanya hanya di tanah Arab saja, itu ditegaskan Allah dalam surat Al-Furqan ayat pertama,

( تَبَارَكَ ٱلَّذِی نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِیَكُونَ لِلۡعَـٰلَمِینَ نَذِیرًا)

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).
[Surat Al-Furqan 1]

Maka Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada semua umat islam dimanapun berada, termasuk umat islam yang ada di bumi Indonesia.
Dalam konteks kekinian, ada diantara kaum muslimin yang tidak mau bergabung dengan jamaah kaum muslimin, malah dia berkumpul dan berkoalisi dengan berbagai macam aliran kepercayaan dan agama, ada kafir, munafik, atheis dan sebagainya.

Maka penting kita untuk kembali kepada Al Qur’an dan sunnah serta nasehat-nasehat para ulama dan tidak mementingkan kehidupan duniawi nya, agar hati kita selalu terpaut kepada jamaahnya kaum muslimin.
Tentang pentingnya berjamaah dan bersatu padu, dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir Rasulullah saw bersabda,

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Berjamaah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab”(HR. Ahmad)

2. Kelemahan tidak bisa dijadikan alasan.

Maka siapapun dia, jangan hanya karena takut kehilangan harta, jabatan dan dunianya, ia rela memilih jalan yang lemah, tidak berani menyuarakan kebenaran, diam ketika terjadi kemungkaran, maka alasan tersebut tidak diterima oleh Allah. Karena orang-orang yang tak mau hijrah dipaksa orang kafir untuk perang akhirnya mereka mati, sehingga di pengadilan Allah, terjadi dialog ia dengan para malaikat, lalu para malaikat pun bertanya, kenapa kalian? Kami dulu kaum yang tertindas di Makkah? Maka malaikat menjawab “Bukankah bumi Allah itu luas, kenapa tidak bergabung untuk hijrah bersama nabi dan para sahabatnya?

Jadi, jangan sampai memilih jalan yang lemah, seandainya ketika dulu nenek moyang kita dijajah Belanda, kemudian para pahlawan dan ulama kita memilih jalan yang lemah agar tidak kehilangan harta dan jabatan yang diberikan Belanda maka niscaya negara kita tidak akan merasakan kemerdekaan hingga hari ini, akan tetapi para ulama dan pahlawan kita lebih memilih berjuang dan mengangkat senjata sehingga negara ini memperoleh kemerdekaan nya.

Jadi alasan lemah itu tidak diterima oleh Allah, sebagaimana orang-orang lemah yang meminta sedikit keringanan kepada para pembesar-pembesar mereka dari azab Allah swt pada hari kiamat, maka pembesar-pembesar mereka tidak sanggup memberikan petunjuk dan memenuhi permintaan mereka, maka pembesar-pembesar serta pengikut mereka yang lemah sehingga tidak berani melawan kedzaliman pembesar-pembesar mereka karena takut kehilangan kepentingan duniawi, mereka dan para pembesar mereka sama-sama masuk neraka, sebagaimana firman Allah,

(وَبَرَزُوا۟ لِلَّهِ جَمِیعࣰا فَقَالَ ٱلضُّعَفَـٰۤؤُا۟ لِلَّذِینَ ٱسۡتَكۡبَرُوۤا۟ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعࣰا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَیۡءࣲۚ قَالُوا۟ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَیۡنَـٰكُمۡۖ سَوَاۤءٌ عَلَیۡنَاۤ أَجَزِعۡنَاۤ أَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِن مَّحِیصࣲ)

“Dan mereka semua (di padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” [Surat Ibrahim 21]

Semuanya tidak bisa keluar dari neraka, bahkan guru besar sekaligus dedengkot orang-orang kafir yang memilih jalan yang lemah disebabkan tergiur kenikmatan dunia yaitu setan, ia sendiri mengaku bahwa dia sendiri tidak bisa menyelamatkan mereka, maka setan sampai berkata kepada mereka “kamu jangan salahkan diri saya, salahkan diri kamu sendiri, karena saya sebenarnya tidak bisa memaksa kalian, saya hanya mengajak kalian, tapi salah sendiri kenapa kalian termakan oleh omongan dan ajakan saya.”
Maka dalam ayat berikutnya Allah mengabadikan momen pidato setan dihadapan manusia pada hari kiamat, Allah swt berfirman,

(وَقَالَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ لَمَّا قُضِیَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِیَ عَلَیۡكُم مِّن سُلۡطَـٰنٍ إِلَّاۤ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۖ فَلَا تَلُومُونِی وَلُومُوۤا۟ أَنفُسَكُمۖ مَّاۤ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَاۤ أَنتُم بِمُصۡرِخِیَّ إِنِّی كَفَرۡتُ بِمَاۤ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّـٰلِمِینَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ)

“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zhalim akan mendapat siksaan yang pedih.” [Surat Ibrahim 22].

3. Manusia akan dikumpulkan bersama dengan yang ia cintai diakhirat,

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah saw bersabda,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ)

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?” Rasulullah bersabda: “Seorang itu beserta orang yang dicintainya. (HR. Muttafaqun alaihi)

Manusia itu makhluk sosial, artinya ia tidak bisa hidup sendiri kecuali mendapatkan uluran tangan dari orang lain, maka hidup ini harus berjamaah, bergabung dengan orang-orang yang jujur terhadap keimanan. Maka hari-hari ini kita dibingungkan dengan kondisi sebagian kaum muslimin, ngakunya agamanya islam tapi kok mesra sekali dengan orang kafir, justru sangat keras terhadap orang islam sendiri hanya karena berbeda pandangan.

Maka Imam Syafi’i ra memberikan petunjuk agar kita tidak dibingungkan dengan kondisi sekarang ini, beliau berkata bahwa ilmu yang pasti benar itu firman dan sabda Rasulullah saw, maka ikutilah keduanya, tapi ucapan saya atau pengamat mungkin salah. Rasulullah saw pernah dimintai oleh orang-orang munafik untuk shalat di masjid yang dibangun oleh mereka, di dalam Al-Qur’an masjid mereka disebut Masjid Dhirar, yang berarti Masjid sumber bencana. Tindakan mereka ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an, firman Allah;

(وَٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ مَسۡجِدࣰا ضِرَارࣰا وَكُفۡرࣰا وَتَفۡرِیقَۢا بَیۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَإِرۡصَادࣰا لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ وَلَیَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَاۤ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَـٰذِبُونَ)

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid dhirar untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).” [Surat At-Taubah 107]

Itulah orang munafik, mereka bagaikan serigala berbulu domba, mereka ngaji bersama nabi, bahkan sampai membangun masjid untuk nabi, akan tetapi segala yang mereka suguhkan untuk umat islam tidak diterima oleh Allah? Karena hati mereka menyimpan kebencian, dendam, dan keinginan yang mendalam untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, termasuk dedengkot mereka, Abdullah bin Ubay bin Salul sangat memusuhi islam dan kaum muslimin.

Nah, ketika nabi hendak shalat di Masjid tersebut ternyata dicegah oleh Allah, sehingga turun ayat berikutnya, firman Allah swt,

(لَا تَقُمۡ فِیهِ أَبَدࣰاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ یَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِیهِۚ فِیهِ رِجَالࣱ یُحِبُّونَ أَن یَتَطَهَّرُوا۟ۚ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِینَ)

“Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid (Quba) yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” [Surat At-Taubah 108]

Sehingga ayat ini secara tegas larangan Allah kepada Nabi agar tidak bergabung bersama Jamaahnya kaum munafikin. Karena mereka bukannya berjuang bersama nabi akan tetapi berusaha untuk memecah belah suara kaum muslimin.

Maka hakikatnya tidak ada permasalahan hidup kecuali sudah ada jawaban di dalam Al-Qur’an, ada kalanya jawabannya dengan nas yang sharih (jelas) atau istinbat (ijtihad), maka sudah barang tentu kaum muslimin diperintahkan untuk bertanya kepada ulama ketika ia mendapati kejahilan dalam persoalan agamanya, maka perintah Allah berbunyi,

( فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [Surat An-Nahl 43]

4. Allah swt itu maha Pengampun.

Meskipun berjuang dan berhijrah itu sebuah kewajiban, hanya saja Allah memberikan keringanan bagi orang-orang yang benar-benar lemah dan yang memiliki udzur untuk tidak berjuang dan berhijrah, karena keterbatasan fisik dan akal mereka, seperti orang tua, wanita, anak-anak kecil bahkan saat turun ayat ini Abdullah ibnu Abbas berkata “saya termasuk orang-orang lemah karena saat itu saya masih kecil sehingga kewajiban ini gugur bagi mereka dan dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah swt. (Tafsir Ibnu Katsir)
Nah, Golongan-golongan yang dikecualikan oleh Allah untukboleh tidak ikut hijrah, dijelaskan oleh Allah dalam ayat selanjutnya,

(إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِینَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡوِلۡدَ ٰ⁠نِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ حِیلَةࣰ وَلَا یَهۡتَدُونَ سَبِیلࣰا)

“Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah)” [Surat An-Nisa’ 98]

5. Urgensi Hijrah dalam Islam,

Hijrah itu ada dua, yaitu hijrah hissiyah (secara fisik) sepertinya hijrah nya nabi dari Makkah ke Madinah dan hijrah maknawiyyah (secara mental) dan ini berlaku selamanya, yaitu hijrah dari syirik kepada tauhid, hijrah dari bid’ah menuju sunnah, hijrah keberpihakan dari orang-orang kafir menuju orang-orang beriman. Hijrah seperti ini hukumnya wajib, dan hijrah seperti ini tidak harus minta izin kepada orang tua maupun guru, berbeda halnya hijrah keluar negeri atau jihad fi sabilillah, maka harus izin kepada orang tua, namun hijrah dari yang haram ke yang halal, maksiyat ke ta’at itu tidak memerlukan izin. Maka definisi hijrah maknawiyyah sebagaimana disampaikan nabi adalah,

المهاجر من هجر ما نهى الله عنه.

Artinya, “Al-Muhajiru (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kata maa (ما) didalam bahasa arab disebut isim maushul yang paling universal, sehingga segala apa saja yang dilarang oleh Allah harus ditinggalkan, baik itu berupa ucapan perbuatan, pilihan dan keberpihakan, semua tercakup dalam kata maa (ما).

6. Hijrah adalah kemenangan.

Seandainya ada seorang ustadz berdakwah dikampung yang penduduknya masih berkeyakinan kepada klenik, dukun, tumbal dan sebagainya, mereka syirik kepada Allah, lalu karena dakwah ustadz tersebut tidak cocok menurut mereka akhirnya ia diusir, sehingga yang tertulis di media cetak warga tersebut yang menang sedangkan si Ustadz telah kalah karena warga telah berhasil mengusir sang ustadz, namun hal tersebut beda menurut Allah, si Ustadz lah yang menang, karena diusirnya bukan semata-mata mencari nafkah, akan tetapi ia terusir karena berjuang di jalan Allah swt, sebagaimana Allah menceritakan kemenangan Nabi-Nya walaupun diusir oleh kaumnya,
firman Allah dalam Al-Qur’an,

(إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ثَانِیَ ٱثۡنَیۡنِ إِذۡ هُمَا فِی ٱلۡغَارِ إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَیۡهِ وَأَیَّدَهُۥ بِجُنُودࣲ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِیَ ٱلۡعُلۡیَاۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ)

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Surat At-Taubah 40]

Maka janji Allah swt adalah sebuah kepastian, siapapun yang berhijrah dan berjuang dijalan Allah pasti diberikan rizki yang banyak dan tempat yang luas, ini terlihat ketika nabi berada di Makkah pengikutnya tidak lebih dari 100 sebagaimana menurut sejarawan, begitu hijrah pengikut beliau semakin banyak dan menjalar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Maka islam bisa sampai ke Indonesia melalui ajaran hijrah, maka hijrah adalah sebuah kemenangan, dengan hijrah umat islam membangun kedaulatan di Madinah, sehingga seluruh lapisan umat islam bahkan orang-orang kafirpun merasakan keamanan dan ketenangan karena syariat hijrah, sebab hukum dan aturan Allah ditegakkan di dalamnya, sebagaimana janji Allah termaktub dalam Al-Qur’an,

(۞ وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat An-Nisa’ 100]

Kabar Tanmia Berlangganan