SMP Muhammadiyah Warsawe NTT

79 Views

Akad nikah dilangsungkan di samping rumah bapak Abdurrahman tempat kami menginap selama kegiatan di NTT, salah seorang team kami Ust M Aniq Lc, MPd diundang untuk mengisi ceramah khutbah Nikah, acaranya cukup meriyah, tamu datang dari berbagai penjuru, hadir tokoh – tokoh masyarakat, seperti Camat, kepala dinas pendidikan, ketua MUI dan tokoh agama, dll, mendengar penceramah datang dari Jakarta membuat para tamu undangan semakin terpukau dengan isi ceramah dan nasehat perkawinan yang disampaikan.

Sehabis acara nikahan itu kami berangkat ke kampung Warsawe, kecamatan Beliling, Kabupaten Manggarai Barat NTT, perjalanan cukup panjang, dengan medan perbukitan curam dan hutan lebat, hati bertanya apakah ada orang yang tinggal di dalam hutan sana?

Dari awal team lapangan sudah memberi isyarat lampu kuning, sebagai isyarat persiapan dan kehati-hatian bahwa kita akan jalan kaki menuju wilayah sejauh 3 KM dari jembatan rusak, karena mobil tidak bisa masuk ke lokasi, secara umum jarak dari tempat tinggal kami ke lokasi SMP Muhammadiyah Warsawe kira – kira 50 KM.

Setelah meniti jalan cukup panjang, kami tiba di jalan setapak yang kelihatannya kami harus jalan kaki, sepanjang jalan terlihat berdiri megah Gereja dan SD Katolik dan fasilitas keagamaan lainnya, sangat jauh memang perbedaan fasilitas yang dimiliki oleh orang kristen dibandingkan dengan fasilitas yang dimiliki oleh islam yang masih bertahan dalam gubuk reot yang sebagian dindingnya sudah tiada, tidak jarang menjadi tempat menginap kambing di dalamnya.

Sopir kendaraan kami bertanya pada warga dan orang yang lewat di sana perihal jembatan penghubung untuk melintasi sebuah kali yang cukup lebar menuju ke lokasi, apakah jembatan itu sudah diperbaiki? Berita gembira segera kami dapat, jembatan sudah bagus dan siap dilewati mobil, meskipun tumpukan lumpur merah masih menghiasi jembatan baru itu, tidak heran memamg karena ini musim hujan, jalan yang kami lalui pun selalu dihiasi oleh hamparan hujan rintik yang mengiringi perjalanan kami, hingga kami keluar dari wilayah itu.

SMP Muhammadiyah Warsawe tergolong sekolah islam yang sangat memprihatinkan, bagaimana tidak dinding sekolah sebagian sudah runtuh, atapnya seng, pembatas antara ruang kelas hanya beberapa potong kayu yang dipaku sebagai batas tiap ruangan, lantainya hanya tanah, tidak ada bagian gedung itu dibangun dengan semen, ditambah posisi sekolah itu di tengah pemukiman kristen, ada sekitar 50 anak kaum muslimin yang mereka bina di sana, meskipun kondisi sekolah yang sangat memperihatinkan itu sekolah tetap memberikan pendidikan gratis kepada siswanya, dengan pertimbangan agar anak – anak kaum muslimin tidak sekolah di Sekolah Dasar Katolik (SDK).

Namun kondisi yang berat seperti ini harus mereka ambil untuk menjaga kaum muslimin agar terhindar dari pemurtadan yang sangat meraja lela di sana, tentu saja ada pihak yang tidak terperhatikan dengan kadaan seperti ini, yaitu para guru, para guru betul – berkerja keras untuk mempertahankan sekolah dan pendidikan islam ini, di samping mereka juga juga harus mencari nafkah buat keluarga mereka, karena sekolah tidak mampu memberikan gaji guru.

Bapak Ramli sebagai ketua Yayasan memberitahu kami mengenai kondisi para guru, harapan beliau guru – guru yang mengajar di SMP Muhammadiyah Warsawe ini bisa mendapatkan haknya dan bisa hidup lebih layak, meskipun para guru tidak pernah mengeluh namun beliau bisa merasakan kebutuhan para mereka.

Kami dari Yayasan Islam Attanmia yang hadir langsung di lokasi mengajak kaum muslimin secara umum dan organisasi masyarakat Muhammadiyah secara khusus untuk ikut berfikir dan memperhatikan kondisi dan membantu sekolah ini, mengingat ini adalah benteng terakhir ummat islam di sana, bila tidak maka anak – anak itu akan masuk sekolah Katolik semuanya, karena fasilitas pendidikan kaum muslimin tidak mencukupi, semoga Allah menggerakkan hati kita untuk ikut peduli dengan saudara – saudara kita di sana.

No comments

Kirim Email