Expedisi Dakwah Pulau Rinca, Warloka dan Kukusan, NTT

39 Views

Senin pagi 4 desember 2017 habis shalat subuh saat burung – burung sedang asyik berkicau saling menyapa 4 orang team tanmia ditambah awak kapal 2 orang sudah sibuk mempersiapkan diri dan perbekalan yang mereka butuhkan untuk perjalanan ke wilayah kepulauan di sekitar Labuhan Bajo, Ratusan buku Iqraa dan Al Quran sudah disiapkan untuk dibagikan di wilayah kepulauan itu,  dari Labuhan Bajo cuaca terpantau cerah dengan sedikit angin pantai  pagi yang menghembus dengan lembut membelai menyejukkan hati.

Tujuan utama perjalanan kali ini adalah pulau Komodo yang berjarak kira – kira 4 jam dari Labuhan bajo dengan menaiki kapal perahu bot, namun baru sampai Pulau Padar angin mulai terasa menghembus agak kencang, ombak sudah pun mulai bergelombang menggulung, ini adalah sebagai tanda perjalanan kita sulit dan berbahaya ujar sang kapten kapal yang sudah kami daulat sebagai juru bicara dengan orang – orang yang ada di kepulauan, karena sang kapten juga seorang warga kepulauan sehingga masalah komunikasi in syaa Allah aman.

Tidak nekat menerobos terjangan ombak yang cukup besar itu sang kapten mengambil keputusan agar menunda perjalanan menuju Pulau Komodo, kapal langsung balik kanan menuju pulau Rinca, pulau yang dinilai relatif aman untuk perjalanan pagi itu.

Pulau Rinca juga terkenal dengan satwa Komodo-nya, karena Rinca juga taman nasional yang dijaga dan dirawat oleh pemerintah daerah, Taman Nasional Loh Buaya demikian nama wilayahnya, pohon pohon Bakau berdiri kokoh sebagai pembatas laut  untuk menjaga lebih dari 1300 Komodo, Komodo di wilayah ini terkenal lebih ganas, liar dan pasokan makanan buat mereka masih kurang biasanya hewan ini biasanya langganan makan rusa atau kerbau yang berhasil mereka taklukkan, namun tentunya kita berada pada lokasi aman sesuai petunjuk sang Ranger,  tidak setiap saat satwa ini berkeliaran, saat musim kawin antara juli- agustus bersembunyi di lobangnya masing masing.

Pulau Rinca dihuni oleh muslim 100%, dari Labuhan Bajo menuju tempat ini membutuhkan waktu tempuh 3 jam, di pulau ini team Tanmia membagikan 200 iqraa, AlQuran 150, jumlah ini dinilai masih sangat kurang dibandingkan dengan permintaan masyarakat dan jumlah penduduk muslim yang cukup ramai di sana.

Fasilitas kaum muslimin terbilang sangat minim tidak ada toilet bersih dan layak terlihat timba sumur mereka dari kaleng yang sudah berkarat, listrik belum masuk di wilayah ini, guru mengaji masih sangat sulit ditemui, fasilitas sekolah mereka juga masih jauh dari kata layak, perhatian buat mereka dari pemerintah juga terbilang masih sangat terbatas.

Tidak berlama – lama di Rinca kami putar haluan ke pulau Warloka, Warloka dari Labuhan Bajo membutuhkan waktu kira-kira 1 jam 30 menit, Warloka juga dihuni oleh banyak kaum muslimin, saat kapal bot kami menyandar di bibir pantai Warloka kami disambut dengan atraksi anak-anak Warloka yang sedang memanjat kapal yang bersandar di sana, dari atas kapal mereka melompat ke laut, ini adalah acara rutin mereka untuk melatih kemampuan renang dan keahlian untuk menyelamatkan diri saat kondisi laut berbahaya, di Pulau ini team Tanmia membagikan 110 buku Iqraa, 100 Al Quran, keluhan masyarakat di sana sama dengan pulau Rinca tidak ada guru ngaji yang bisa mengajari anak-anak mereka di sana, Listrik juga belum ada di wilayah ini.

Selesai kami membagikan Al Qur’an dan Buku Iqraa di Warloka, perjalanan selanjutnya adalah Pulau Kukusan, Warloka – Kukusan membutuhkan waktu 45 menit, tentunya dengan kondisi laut normal, tidak bergelombang tinggi. Pulau Kukusan terbilang hidup di sana sangat sulit, karena sumber air tawar tidak ada di sana, air tawar mereka tampung dari hujan bila ada hujan yang mengguyur wilayah mereka, air mereka ambil di Labuhan Bajo, sekedar ingin air tawar mereka harus melakukan perjalanan 45 menit dengan perahu bot, bila dapat air tawar mereka tidak mandi dengan air tawar itu 100%, namun mereka mencampurnya dengan air asin, seringnya perbandingannya adalah satu banding satu, satu timba air tawar dicampur dengan satu timba air asin, ini adalah air mandi mereka, karena air tawar sangat langka, mereka tidak bisa mandi setiap hari, apalagi sehari 3 kali mandi, namun mereka hanya bisa mandi 2 hari satu kali saja.

Di Pulau ini juga dihuni oleh mayoritas muslim, sama dengan pulau-pulau lainnya guru ngaji sangat langka di sana, ditambah dengan air tawar yang sulit didapat maka bertambah sulit pula menghadirkan para guru di sana, di pulau ini team kami membagikan Al Quran 150 buah,
Buku Iqraa juga 150 buah, ditambah hadiah kecil berupa kain sarung dan sorban buat tokoh agama dan Imam Masjid, wilayah ini juga tida ada listrik yang menerangi mereka di malam hari, masyarakat hanya menggunakan lampu teplok dengan bahan bakar minyak tanah.

Masuh ada banyak pulau yang belum kami singgahi, padahal sangat penting, diantaranya adalah pulau Mesah perjalanan 2 jam, dari Bajo, Pulau  Papagaran yang berjarak 2 setengah jam dari Labuhan Bajo,  dan Pulau Longos dari bibir pantainya pejalanan  masih 1 jam dengan menelusuri  jalan setapak baru bisa sampai di Longos perjampungan kaum muslimin, in syaa Allah pada kesempatan berikutnya team Tanmia akan menuju pulau – pulau itu untuk bersilaturahmi dan berbagi in syaa Allah.

 

 

No comments