Selamat dari Sergapan Lumpur Mematikan Petobo

202 Views

Jelang Maghib Idris, menengok kandang kambing di belakang rumah yg hendak diantar ke rumah kawanya. Tiba-tiba gemuruh suara tanah merekah dan tembok dinding rumahnya terbelah ambruk dengan kerasnya dan listrik mendadak padam seketika.

Tak sempat berfikir panjang memakai sandal, ia berlari menuju jalan, apa dikata aspal juga digulung layaknya karpet dan ia terjatuh terperosok dalam kubangan lumpur yang sangat becek. Tanah-tanah tempat ia berjalan diangkat setinggi atap rumahnya dan dilumat layaknya adonan kue bercampur air. Ia berlari sekuat tenaga menjerit sekerasnya, sembari bertasbih “Subhanallah Yaa Allah” minta tolong kepada siapa saja yang dapat mendengarnya.

Namun, orang-orang di sekitarnya juga menjerit minta tolong. Mereka semua ketakutan luar biasa dan menangis sekerasnya. Dari ujung kampung pun yang terdengar hanya jeritan minta tolong.

“Saya masih sempat mendengar suara azan. Namun tidak meneruskan shalat karena tiba-tiba semua berguncang hebat, tiang-tiang listrik berjatuhan. Tanah pun terbelah bergemuruh, rumah pun tenggelam seketika ambruk hanyut diterjang lumpur, suasana yang sangat gelap mencekam di seluruh wilayah Petobo,” kata Idris, Senin (15/10/2018).

Ia melihat rumahnya ambruk, juga rumah-rumah tetangganya. Tiba-tiba, tempat ia berpijak pelan-pelan meleleh, mencair, dan menjadi kubangan lumpur.
Saat matahari tenggelam dan adzan maghrib baru berkumandang pada sore itu merupakan momen kelam bagi Zailudin dan warga Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong. Gempa besar bermagnitudo 7,7 itu meneror mereka.

Di Petobo, RT 003 , tempat tinggal Leodin panggilan akrabnya, kenangan ini sangat kelam. Jam 21.00 Ia menyaksikan para tetangga, teman sejawat dan keluarganya beberapa orang di antara mereka tenggelam ditelan lumpur yang muncul dari dalam perut bumi. Lubang besar bersama pusaran lumpur seolah menarik semua yang akan berlari malam itu.

Alhamdulillah, Idris dan Leodin sudah bisa merekahkan senyumnya sembari bertukar cerita bersama para relawan yang membuka dapur umum di Panti Pelita Hati. Setengah bulan ia nampak termenung dalam pengungsian Panti Pelita Hati di Desa Pombewe Kec Sigi Biromaru Kabupaten Sigi.

Idris dan Leodin masih bertaut keluarga menjadi saksi korban yang selamat dari likuifaksi bergeser tenggelamnya tanah Kampung Petobo Palu akibat gempa dahsyat 7,7 SR yang mengguncang Palu-Sigi-Donggala pada 28/9.

Puluhan anak-anak yatim masih tercecer di kamp-kamp pengungsi. Mereka harus bertahan dengan sanak keluarga yang mengasuh mereka. hamparan perbukitan desa Loru dan Pombewe Sigi menjadi pemandangan tenda yang tak bertepi.

Musim hujan pun tiba, hari -hari yang becek untuk dilewati. Semoga Allah sabarkan mereka bertahan dipengungsian dan Allah bukakan kedermawanan para donatur muhsinin terus beramal peduli terus berbagi. Aamiin Yaa Rabbana.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu

No comments

Kirim Email