Masa Transisi Relawan Silih Berganti Datangi Palu

64 Views

Palu – Sebanyak 17 KK warga asli Petobo yang terdiri dari orang dewasa, Ibu dan anak-anak balita masih berdiam di Posko Panti Asuhan Pelita Hati Pombewe Sigi Biromaru Kab. Sigi.

Ini adalah sebagian potret kecil mereka para pengungsi yang sempat ditangani relawan Tanmia Foundation sebelum berakhir masa tanggap darurat. Saat ini mereka masih menunggu kejelasan tindak lanjut pemerintah kota Palu untuk merelokasi rumah pemukiman Kelurahan Petobo setelah terjadi gempa dan terhempas likuifaksi dahsyat pada 28/9/2018.

Berdasarkan data BNPB pasca bencana gempa dan tsunami diperkirakan, ribuan orang masih tertimbun di Balaroa, Jono Oge dan Petobo. Belum lagi ribuan orang yang masih dinyatakan hilang dalam pencarian pasca tsunami yang menerjang saat acara Palu Nomoni saat itu.

Ada ribuan unit rumah ditelan bumi di Balaroa. Sementara, jumlah rumah yang terkena likuifaksi di Petobo juga diperkirakan sama mencapai ribuan unit dari luas wilayah Petobo mencapai 180 hektar.
Sebagian besar wilayah Balaroa , Jono Oge dan Petobo tertimbun lumpur.

26 Oktober 2018 adalah penetapan masa berakhirnya tanggap darurat akibat gempa dan tsunami yang terjadi di Palu-Sigi-Donggala.

“Sulawesi Tengah memasuki masa transisi darurat ke pemulihan. Masa transisi darurat ini berlangsung selama 2 bulan yaitu 27 Oktober sampai 25 Desember 2018. Jadi belum masuk pasa tahap rehabilitasi dan rekontruksi, menurut Suto Purwo Nugroho Humas BNPB Pusat.

Selama masa transisi darurat ke pemulihan selama 60 hari maka fokusnya adalah melanjutkan semua pemenuhan kebutuhan yang belum selesai selama tanggap darurat, pembangunan huntara, penanganan pengungsi, pendidikan darurat, perbaikan sarana vital, pembersihan puing, pelayanan kesehatan dan lainya.

Ratusan relawan dari berbagai LSM dan NGO kemanusiaan mulai berangsur meninggalkan Palu baik menggunakan pesawat Hercules maupun jalur laut dan darat. Awaludin salah seorang relawan asal Lampung mengatakan, musibah gempa bumi yang terjadi 28 September lalu perlu dijadikan bahan renungan agar manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Kita yang masih hidup melalui kesempatan ini mari kita tingkatkan kadar keimanan kita dan bermohon ampunan kepada sang pencipta agar daerah kita dijauhkan dari malapetaka dan diberikan keselamatan,”ujar Ahmad relawan Siaga Persis asal Bandung sebelum pulang menggunakan pesawat Hercules.
Menurutnya fenomena alam yang terjadi perlu dijadikan bahan introspeksi secara dini apa yang harus dipersiapkan ketika hal itu terjadi “Musibah kemarin adalah cobaan dari Allah SWT untuk menguji kadar keimanan kita.

Oleh karena itu kita harus bermuhasabah, kita tingkatkan kadar keimanan kita kepada Allah SWT,”harapnya. Mari ulurkan tangan kita untuk mereka semampu kita.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu – Sulteng

No comments