Tanmia Distribusi Bantuan ke Palu, Sigi Dan Donggala

98 Views

Jumat 2 November Jam 3 pagi team sudah siap – siaga untuk berangkat ke Bandara, menuju Palu, tiket pesawat jauh – jauh hari sudah dipesan, perjalanan ke bandaraap terhambat akibat ada kecelakaan mobil box di toll dalam kota, jalanan macet parah meskipun itu masih jam 4 Pagi, akibatnya kami ketinggalan pesawat dari maskapai yang baru – baru ini tertimpa musibah di laut karawang.

Walau ketinggalan pesawat hati tidak sedih pasti hikmah dibalik peristiwa ini, karena tidak ada tiket langsung kami harus singgah dì Balikpapan kemudian Palu, Sulawesi Tengah.

Alhamdulillah perjalanan aman hingga tujuan , sampai di Palu kami langsung dijemput oleh team lapangan Tanmia yang sudah beberapa hari sebelumnya sudah tiba di lokasi, Tanmia sudah hadir di Lokasi bencana di Palu sejak hari ke 8 pasca gempa bumi dan Likuifaksi yang menimpa 3 Kabupaten di Sulteng.

Tenda – tenda darurat masih berdiri kokoh di tengah tanah lapang dari berbagai organisasi kemanusiaan dari dalam maupun luar negeri yang ikut berempati dan membantu para korban yang jumlahnya sangat banyak, udara yang sangat panas di Palu membuat mereka tidak mampu untuk tinggal di tenda – tenda itu di siang hari, tenda terlihat kosong di siang hari namun padat di malam hari.

Keesokan harinya (sabtu 3 November 2018) kami diajak keliling oleh team lapangan Tanmia ke berbagai wilayah yang terkena dampak gempa, tsunami dan likuifaksi, pemandangan yang sangat mengerikan dan menyayat hati terhampar luas di hapan mata, wilayah Petobo 190 Hektar hilang ditelan lumpur, 17000 orang yang menghuni di sana hilang tanpa bekas, ditambah wilayah itu yang padat penduduk lalu lintas jalanan ramai dan pertokoan dll, semua hilang dalam bilangan detik.

Warga lokal (Palu dan sekitarnya) masih belum berani mendekat ke lokasi karena kepiluan yang menyayat hati, meskipun terlihat sudah ada yang datang silih berganti melihat tempat tersebut, kebanyakan orang datang melihat tempat tersebut dalam keadaan menangis wa bil khusus mereka yang memiliki keluarga di sana, harta benda, kendaraan tidak ada nilainya, bergelimpangan, berhamburan ibarat rongsokan yang tidak bertuan.

Begitu juga dengan kampung Jono Oge terkena likufaksi hanya saja Jono Oge wilayahnya lebih luas, kira – kira 250 Hektar meskipun penduduknya tidak sebanyak Petobo, jono oge kampung yang dihuni cukup banyak warga ini tiba – tiba berubah menjadi ladang jagung dan padi, tidak terlihat satupun bekas bangunan rumah di sana.

Bantuan dari jamaah bapak – bapak dan ibu – ibu in syaa Allah kita salurkan kepada mereka yang membutuhkan, dalam distribusi bantuan kita berkerjasama dengan dai lokal yang memang sudah lebih tau kebutuhan pengungsi agar bantuan tepat sasaran, atas perhatian dan sokongan jamaah sekalian kami sampaikan Jazakumullah khairan Barakallahu fiekum.

No comments