Menggali Lubang Harapan Petobo : Dimanakah Imanmu ?

124 Views

Hiruk pikuk Kelurahan Petobo sirna sekejap setelah dilanda gempa disusul likuifaksi dahsyat. Kejadian ini mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh siapapun. Kelurahan yang diperkirakan seluas 180 Ha lebih dengan jumlah administrasi hak pilih suara tercatat sebanyak 14.000 kini tinggalah kuburan mimpi para korban yang tertimbun lumpur mematikan.

Diperkirakan hanya 4000 jiwa yang sampai hari ini melaporkan keluarganya ke pihak pemerintah yang masih tersisa padahal sudah tiga bulan bencana ini berlalu berjalan. Kini Petobo masih menyisakan derai air mata bagi siapapun yang kehilangan sanak kerabat tercinta yang ditinggalkan.

Pemandangan puing-puing memenuhi setiap jengkal tanah Petobo tanpa tepi. Bersamaan itu pula reruntuhan bangunan menjadi monumen yang berbekas sepanjang masa dikenang sejarah. Material bangunan yang diaduk-aduk bercampur tanah lalu dilipat-lipat lalu ditenggelamkan.

Akhir pekan ini (16/12/2018) ditengah perjalanan ke Donggala relawan Tanmia mencoba mengunjungi Petobo dari jalur Biromaru Sigi walhasil masih saja menjumpai warga yang berusaha mencoba menggali tanah mereka.
“Sebanyak 15 orang keluarga dan kerabat saya belum ditemukan hingga saat ini”,tutur Ibu Yanti yang sedang menggali puing-puing bekas rumahnya di RT 3/ RW 6. Kala itu Yanti sedang diluar sementara keluarga yang lain berada dirumah. Hal yang sama juga dialami Intan tetangganya yang kehilangan suami dan anak bungsunya.

“Saya hanya temukan jasad anak saya yang tak utuh lagi dan masih mengenakan pakaian sekolah ketika diangkat dalam lumpur ketika itu”,ungkap Yanti yang juga menggali-gali bekas rumahnya. Ia juga berusaha bersabar mengais baju-baju milik anak bungsunya yang masih bisa diselamatkan untuk dibawa ke pengungsianya.

Gema merdu suara adzan kini tak terdengar lagi apalagi canda tawa anak-anak mengaji pun hilang. Menara Masjid bersama atapnya tinggalah onggokan yang ditinggal tanpa tuan. Petobo sudah menjadi padang kuburan masal yang hanya terdengar cerita histerisnya. Lalu bencana likuifaksi Petobo salah siapa ? Tak perlu banyak berkata-kata menunjuk siapa tapi cobalah kembali rehat dalam keheningan dan menundukan kepala dengan suara hati yang yang lirih bertaut dengan dzikir padaNya.

Apalagi dengan indahnya diri yang hadir disetiap tiba waktu shalat maka disanalah ada hikmah jawabnya dari Allah Ta’ala Sang Rabb Penguasa Alam.

“Dimana Imanmu kawan?” inilah satu kata penggugah yang mungkin sudah lama ini redup di Petobo. Lantaran terangnya cahaya imanlah semua bisa menghapus pekatnya kemaksiatan dan menghibur rasa kedukaan sekaligus harapan untuk semangat bangkit kembali. Yah tak perlu berlebihan berbuat apa tapi hanya dengan memulai hari-hari baru dengan taat memenuhi panggilan Allah Sang Pemilik Keindahan Alam maka setiap derai air mata ini akan senantiasa memudar. Hasbunallahwanikmalwakiil

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

No comments