Tanmia Distribusi pakaian layak pakai di Pulau Salura, Pulau Terluar Perbatasan dengan Australia

81 Views

Geografi Indonesia yang tersebar luas dengan lebih dari 18.000 pulau menjadikan negeri ini sangat kaya melimpah. Namun bukan berarti telah merata kesejahteraanya, sisi lain masih banyak akses pulau terpencil yang sulit untuk dijangkau bahkan jaringan internet pun tidak bisa mencapai pulau-pulau tersebut.

Sehingga ketertinggalan dalam berbagai hal menjadikan fenomena yang miris memprihatinkan sampai saat ini. Naasnya sampai sekarang banyaknya penghuni pulau yang rela bertahan dengan sendirinya mencari penghidupan tanpa ada perhatian yang layak dari pemerintah bahkan terbilang masih sebelah mata diperhatikan nasibnya. Bahkan masih jauh dari kata sejahtera para penghuni pulau-pulau terpencil tersebut.

Misi distribusi bantuan Pulau Sumba Tanmia Foundation akhirnya tiba saatnya menuju Pulau Salura. Salura adalah pulau di ujung selatan Pulau Sumba yang menjadi wilayah perbatasan pulau terluar Indonesia dengan Australia. Luas Pulau Salura ini kurang lebih sekitar 620 hektar masuk dalam wilayah kecamatan Karera Kabupaten Sumba Timur yang hanya berjarak 800 Mil saja dari Australia yang terletak jauh di sisi Selatan Pulau Sumba. Kota besar yang terdekat adalah Waingapu dengan jarak 110 KM.

Dari Kota Waingapu menuju Salura perjalanan darat sekitar enam sampai delapan jam untuk bisa sampai ke pelabuhan kampung di Desa Katundu dengan menggunakan bus oto pedesaan ( truk yang biasa mengangkut orang, ternak dan barang ke wilayah pedesaan).

Perjalanan panjang dan melelahkan itu pun dilengkapi dengan jalur terjal yang cukup sulit. Sampai sepertiga perjalanan di bukit Tanarara seterusnya dan setengahnya perjalanan adalah jalan bebatuan yang ekstrem. Namun penatnya perjalanan selalu saja alam menghibur dengan perjalanan menyusuri daratan padang savana Sumba yang sedang hijau-hijaunya saat musim hujan.

Hujan sering kali mengejar datang tapi nampaknya menjauh kembali dihempas angin sehingga kendaraan kami tetap nyaman berjalan sekalipun jok kayu yang keras berjam-jam kami duduki melewati jalan bebatuan yang rusak. Boleh dibilang jalur ke Salura sendiri terdiri dari 30% jalan mulus, 30% setengah mulus dan 30% hancur lebur. Sisa 10% dari perjalanan adalah penyeberangan menuju Samudera Hindia saat menyeberang nanti.

Perjalanan darat pun akhirnya usai di kampung Katundu lalu akan berlanjut dengan kapal kayu menuju Pulau Salura esoknya. Bulan Januari – April adalah musim angin dan gelombang tinggi sehingga jalur laut yang akan menuju seringnya mengombang -ambingkan kapal sehingga kapal penumpang jarang sekali lewat berlabuh kecuali hari-hari pasar tradisional yang buka setiap hari Selasa saja. Jalur ke Salura bisa ditempuh dengan kapal kayu selama satu jam saja lalu akhirnya sampai di bibir pantai Pulau Salura.

Distribusi bantuan pakaian layak pakai Tanmia Foundation berangkat dari Waingapu akhirnya diterima oleh Bapak Sahlan selaku sekretaris desa Salura yang sudah menunggu di Kampung Katundu. Memang sudah sempat berkomunikasi sebelumnya jelang pemberangkatan pengiriman bantuan. “Ada 11 Coli bantuan yang bisa dimuat dalam truk yang selanjutnya akan didistribusikan ke penduduk pulau Salura”, jelas Basyar selaku crew Tanmia yang mengawal hingga lokasi. Tak hanya itu, turut menyambut juga beberapa penduduk yang sedang menunggu kapal menuju Salura. Dari keterangan informasi yang di dapat mayoritas penduduk Pulau Salura sendiri adalah beragama Islam, ada 2 buah masjid dan sekolah dasar serta SMP yang berdiri disana.

“Bantuan akan didistribusikan ke warga dibeberapa dusun di Pulau Salura, hingga saat ini yang tercatat di Pulau Salura ditinggali 618 jiwa yang tersebar dalam 139 keluarga”, menurut keterangan Sahlan, Sekertaris Desa Salura yang menyambut kedatangan Tim Tanmia.

Sahlan yang juga sekali waktu berkunjung ke kota untuk urusan dinas juga memberi keterangan bahwa Pulau Salura hanyalah satu dari tiga pulau yang tercatat sebagai daerah yang berpenduduk. Pulau Kotak (alias Pulau Kambing) dan Pulau Mengkudu adalah dua pulau lainnya yang masih lumayan berdekatan namun tidak berpenduduk.

Sehingga sampai saat ini baru Pulau Salura yang didiami manusia. Pulau Kotak atau lebih ditinggali oleh hewan ternak kambing sedangkan Pulau Mengkudu masih belum berpenghuni. Mengenai kegiatan mata pencaharian penduduk pulau Salura adalah nelayan yang sudah belasan tahun dan hingga saat ini masih tertatih untuk mendapatkan perhatian dan penghidupan yang lebih baik layak penduduk yang berada di pesisir perbatasan lainya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Sumba, NTT

No comments