Potret Pembuat Arang Kayu di Dusun Muallaf Sonyo Jatimulyo Kulon Progo

80 Views

Perjalanan ke kampung muallaf Sonyo Kulon Progo tak luput dari pemandangan aktivitas sehari-hari mata pencaharian masyarakat, salah satunya pembuat arang kayu dan buruh pengakut batu. Memang sebagian besar warga adalah sebagai pekerja lepas dan buruh serabutan kalau pun bertani hanya sebagian saja yang memiliki lahan.

Perkembangan zaman terus berjalan namun bukan berarti produksi pembuatan arang secara tradisional itu lenyap seketika. Di Dusun Sonyo Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo masih bisa dijumpai sedikit warga yang memproduksi arang secara tradisional di pekarangan rumahnya.

Sebutlah Mbok Ijah saat ini, nenek yang boleh dibilang cukup tua asal Sonyo Jatimulyo ini sehari-harinya mengumpulkan ranting dan batang kayu untuk dibakar dijadikan arang kayu. Sampai saat ini arang kayu masih digunakan digunakan masyarakat sebagai bahan bakar untuk berbagai keperluan.

Semak belukar pegunungan Menoreh yang terjal bukan menjadi halangan bagi si nenek yang usianya telah lanjut untuk sabar menapaki jalanan lereng perbukitan demi mengumpulkan ranting demi ranting tiap harinya. Asa menyambung kehidupan bukan hal mudah karena jalanan bukit berbatu sudah digelutinya bertahun-tahun.

Proses pembuatan arang yang dilakukannya terbilang sederhana dan sangat tradisional. Dengan kayu-kayu ranting-ranting mentah disusun sedemikian rupa dan berjarak rapat membentuk semacam bentuk balok persegi lalu dibawahnya diberi celah sebagai tungku pembakaran tempat api berkobar. Waktu pembakaran pun cukup panjang dan mengharuskan api tetap menyala tanpa jeda.

Bila musim kemarau tiba menjadi kesempatan untuk membuat arang sebanyak-banyaknya karena bila musim hujan tiba, pekerjaannya terganggu karena kayu cenderung basah dan menyulitkan proses pembakaran.

“Kalo musim kering dua hari sudah jadi tapi kalau musim hujan jadi lebih susah, prosesnya semakin lama. Rata-rata bikinnya dua hari tapi kalau hujan sering turun ya mungkin bisa lebih lama,” kata Mbok Ijah.

Kayu yang sering digunakannya sebagai bahan pembuatan arang adalah jenis-jenis kayu keras seperti ranting jati, mahoni dan sonokeling. Kayu keras macam itu akan menghasilkan arang yang awet dipakai dan bara nyala apinya cukup bagus. Dalam sekali pembuatan biasanya dibutuhkan sekubik kayu dan menghasilkan hingga 5-6 karung besar arang. Kayu bisa diperoleh dengan mencari dahan ranting-ranting yang jatuh namun sekarang seringnya harus membeli dikebun warga dengan beraneka variasi harga. Harga arang hanya mencapai Rp.50 ribu per karung yang biasanya dibawa ke para pengepul di wilayah Wates.

“Sebulan dua kali saja bisa membawa arang ke pasar. Biasanya dijual lagi ke pedagang-pedagang yang membutuhkan arang,” ujar Mbok Ijah.

Mbok Ijah adalah salah satu potret warga Sonyo sebagai pembuat arang tradisional di Jatimulyo. Masih banyak warga muallaf Sonyo lainya dan tetangganya yang menekuni pekerjaan yang berbeda. Usianya yang sudah berumur menitipkan pesan bahwa bekerja keras dan perjuangannya tak pernah surut sekalipun membuat arang sudah semakin susah dan arang jarang dipakai karena tergusur oleh jenis bahan bakar minyak maupun gas. Baginya, membuat arang sudah seperti urat nadi yang terus menyambung keperluan hidupnya dan mengasapi dapur rumahnya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

No comments