Ya’ahowu Gerbang Dakwah di Tano Niha Pulau Nias

259 Views

Salam Ya’ahowu Bang, itulah sapaan khas pertama kali terdengar ketika kami menginjakkan kaki Pulau Nias. Ternyata kata Ya’ahowu tertulis bertebaran hampir di pelosok sudut Nias. Ya’ahowu adalah salam dalam arti bahasa Nias. Kata sapaan Ya’ahowu selalu digunakan untuk mengawali dan mengakhiri suatu pembicaraan, baik di acara formal maupun non formal yang bertujuan mengakrabkan antara satu dengan yang lain.

Apabila berbicara tentang Pulau Nias, hal yang terbesit ada dipikiran kita adalah tradisi asli Lompat Batu Nias Selatan di Bawomataluo. Pulau Nias ini merupakan pulau terbesar di antara gugusan pulau-pulau Nias yang berjumlah ratusan di lautan lepas samudera Hindia lepas pantai barat Sumatra.

Asal Masyarakat Nias

Asal usul mayoritas masyarakat Nias (Bahasa Nias : Ono Niha) adalah masyarakat adat yang yang masih kuat dengan tradisi leluhur megalitik ( peradaban batu besar ). Pada mulanya masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik sehingga kuat akan dihubungkan dengan tradisi megalitik yang hingga kini masih terlihat keberadaannya di berbagai tempat daerah tersebut. Tinggalan megalitik tersebar di berbagai pelosok kampung pedalaman di wilayah Pulau Nias. Kebanyakan tinggalan megalitik tersebut berada di area peninggalan Raja Nias diatas bukit-bukit dan di pegunungan pedalaman. Tak heran perkampungan di Nias berada di pedalaman-pedalaman semak rimba yang jaraknya berjauhan satu sama lain. Megalitik Nias adalah tinggalan masa lalu yang berasal dari batu dengan beragam jenis bentuk dan namanya. Namun sejak gempa dahsyat berkekuatan 8,7 SR pada Maret 2005 banyak yg rusak dan berubah.

Berdasar dari situs rumah peninggalan Raja Nias di Bawomataluo memang unik dan klasik bertahan sampai saat ini, namun belum ada sumber pasti yang mengetahui sejak kapan suku Nias mendiami pulau Nias. Sementara peninggalan situs ini sudah turun temurun sampai generasi kelima menurut penduduk asli yang tetap mempertahankan adat dan kebudayaan termasuk atraksi lompat batu dihalaman rumah raja.

Kehidupan dan Mata Pencaharian sehari-hari
Kehidupan mata pencaharian sehari-hari penduduk Nias cukup beraneka ragam, adapun mayoritas masyarakat beraktivitas bertani dan juga mayoritas beternak babi. Hampir diberbagai sudut masyarakat bercocok tanam daun umbi jalar untuk pakanya sehingga populasi babi menjadi populasi ternak terbesar di Nias. Selain itu juga aktivitas membuka ladang hutan untuk berkebun karet, kopra dan coklat adalah ragam pencaharian masyarakat. Adapun masyarakat Nias yg tersebar berada di kepulauan sebagian besar mengandalkan menjadi nelayan tradisional.

Mengenal Nias akan lebih dekat dengan sistem sosial dan sistem marga yang mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga berjumlah puluhan itu umumnya menandakan identitas asal seseorang dari kampung-kampung itu berasal. Misal Laoli, Waruwu, Harefa, Fau,Lafau, Saniago, Halawa dll. Sampai sekarang Suku Nias adalah masyarakat yang hidup secara turun temurun dalam lingkungan adat dg warisan budaya megalitik yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran, sosial, perkawinan sampai kematian.

Muslim di Pulau Nias
Pulau Nias dihuni hampir 1.000.000 jiwa memiliki luas sekitar 5.625 km² dengan penghuni mayoritas Kristen Protestan dan Katolik mencapai 95% sedangkan sisanya beragama islam sebesar 5 % untuk seluruh pulau Nias. Muslim terdiri dari suku Nias asli dan berbagai pendatang lainya seperti Suku Batak, Suku Padang dan Suku Jawa.

Penduduk muslim pada umumnya berada di wilayah-wilayah pesisir dan di seberang kepulauan. Keberadaan Masjid pun sangat jarang dan hanya berada di pusat kecamatan dengan jarak tempuh yang jauh dengan tempat tinggal muslim satu sama lain.
Kendati demikian, jumlah muslim terbesar masih berada di pusat Kota Gunung Sitoli dan sebagian lainya tersebar di beberapa tempat di Nias. Nias terbagi menjadi Nias Utara, Nias Selatan, Nias Barat dan Nias Induk yang sekarang mekar menjadi kota Gunungsitoli.

Nias memang unik dengan segala isi pernak-perniknya, tapi pekerjaan rumah besar yang harus menjadi perhatian besar ialah tantangan perjuangan dakwah Islam dengan segala lika-likunya. Bismillah Ya’ahowu Dakwah di Tano Niha.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Nias

  1. Tolong kirimkan saya no. Hp / wa akhi iksan da’i amcf yang pernah jaga mesjid diladara tuhemberua, saya sudah 10 tahun lbh tak jumpa dia, karna disalah satu foto itu adalah temannya, cuma saya lupa namanya. Syukron wa jazaakallah..

2 comments