Kehidupan Yang Baik Dalam Perspektif Al Quran

414 Views

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Allah swt berfirman,

(مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ وَلَنَجۡزِیَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ)

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
[Surat An-Nahl 97]

Saudaraku yang budiman, pada kesempatan kali ini kita akan sama sama menunaikan satu kewajiban kita terhadap Al Qur’an yaitu Al-Mu’ayasyah ma’al Qur’an (mantadabburi Makna Al Quran) yang semoga kita diberikan kemudahan untuk mengamalkan isi kandungan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kenapa kita mengambil tema Al Hayah At- Thayyibah fil Quran atau kehidupan yang baik dalam Al-Qur’an? Apa urgensi nya?

1. Tema ini adalah tema yang diulang ulang didalam Al Qur’an, kata Thayyib, Thayyibun, Thayyibat, adalah kata-kata yang sering diulang-ulang dalam Al-Qur’an Al-Karim, dan yang harus kita pahami tidak, tidak mungkin al Qur’an menyebut kata secara berulang-ulang kalaulah tidak penting, makanya ulama tafsir mengatakan, kalau ada kata atau kalimat disebut secara berulang-ulang dalam Al -Quran itu menunjukkan akan pentingnya kata atau kalimat tersebut untuk direnungi.

2. Dalam rangka melihat realitas kita pada hari ini, dimana dalam satu sisi nikmat keislaman ini perlu kita syukuri, karena jumlah kaum muslimin sekitar 1,7 miliar, logikanya kalau kaum muslimin baik-baik semua seharusnya dunia ini menjadi aman dan baik, karena mereka tampil menjadi orang yang baik-baik, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sebagaimana pujian Allah terhadap mereka termaktub dalam Al-Qur’an, firman Allah swt,

(كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ )

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
[Surat Ali ‘Imran 110]

Tidak sedikit penduduk negara mayoritas islam yang Khabits, kotor, buruk kadangkala lebih dominan dari pada yang Thayyib, maka orang-orang yang beriman harus tampil merubah tatanan dunia menjadi lebih baik, makanya dalam kitab Maa dzaa Khasira dunya bin khithathi al muslimin karya Abu Hasan An-Nadawi Sebuah kitab yang berisi peran islam dalam memimpin dan menguasai dunia, beliau katakan “kalau umat islam mengendor, tidak bergerak maka dunia akan akan rusak” makanya hari-hari ini kita dihebohkan sejenis virus yang menular dan mematikan yaitu virus corona, itu awalnya dikarenakan manusia menerjang larangan Allah swt yaitu mengkonsumsi kelelawar dan sejenisnya yang merupakan makanan yang khabits, padahal perkara itu sudah diingatkan oleh Allah,

“….Yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka…,” [ Al-A’raf 156]

Maka tema kehidupan yang baik perlu kita bahas agar kehidupan kita dijauhkan dari perkara yang kotor.

3. Kehidupan yang baik itu penjelasannya diperinci didalam Al Quran, bukan hanya dijelaskan secara global, maka ini menunjukkan urgensi tema ini untuk dibahas,
Maka kata Thayyib didalam al Qur’an disandarkan dengan perkara yang mulia, diantara contohnya adalah, kalimat thayyibah laa ilaha illa Allah sementara kata khabits disandarkan oleh Allah dengan perkara yang buruk, sebaliknya didalam Al-Qur’an segala tindakan yang buruk, yang bertentangan dengan hukum dan aturan Allah disebut Kalimat khabitsah, maka kita bisa lihat didalam Al-Qur’an Alllah swt berfirman,

(أَلَمۡ تَرَ كَیۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلࣰا كَلِمَةࣰ طَیِّبَةࣰ كَشَجَرَةࣲ طَیِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتࣱ وَفَرۡعُهَا فِی ٱلسَّمَاۤءِ ۝ تُؤۡتِیۤ أُكُلَهَا كُلَّ حِینِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَیَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَتَذَكَّرُونَ ۝ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِیثَةࣲ كَشَجَرَةٍ خَبِیثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارࣲ ۝ یُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِۖ وَیُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّـٰلِمِینَۚ وَیَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا یَشَاۤءُ)

Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat, Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. [Surat Ibrahim 24-27].

Jadi bagi seorang mukmin harus menjadi pribadi yang thayyib sebagaimana pohon yang akarnya kuat dan rantingnya menjulang tinggi ke langit, maka ia akan senantiasa memberikan manfaat berupa buah dan keteduhan sepanjang masa, maka demikianlah seorang mukmin sehingga kebaikan yang ia produksi akan muncul setiap saat untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat nya. Bukan sekedar kebaikan yang bersifat musiman. dan Ini adalah petunjuk Al-Qur’an.

Maka mari kita lihat realitas kehidupan manusia sekarang ini, kita lihat ada sebagian kaum muslimin rajin shalat berjamaah, sedekah, puasa, qiyamul lail hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, namun setelah itu ia meninggalkan semua ibadah tersebut pada bulan-bulan lain, maka kebaikan yang kita lakukan harus setiap saat, bukan hanya musiman.

Namun sebaliknya, Syirik dan kufur itu diperumpamakan sebagai kalimat yang kotor, diibaratkan sebagai pohon kering yang tumbang sehingga mengganggu perjalanan seseorang, bahkan dalam ayat yang lain dikatakan sebagai sesuatu yang najis, sebagaimana firman Allah swt,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسࣱ فَلَا یَقۡرَبُوا۟ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَـٰذَاۚ وَإِنۡ خِفۡتُمۡ عَیۡلَةࣰ فَسَوۡفَ یُغۡنِیكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۤ إِن شَاۤءَۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِیمٌ حَكِیمࣱ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
[Surat At-Taubah 28]

Maka aneh kalau ada seorang yang mengaku mukmin mesra terhadap kafir padahal ia najis disisi Allah, tapi justru keras terhadap saudaranya sesama mukmin hanya karena beda pandangan.
Dalam berumah tangga, kita mendoakan pasangan yang telah menikah dengan doa keberkahan dengan harapan agar keluarga yang ia bangun meraih berbagai kebaikan dan kebahagiaan tapi jangan berharap memiliki rumah tangga yang thayyib, kalau suaminya tidak thayyib, istrinya tidak thayyibah, maka tidak ada jaminan orang mukmin yang ibadahnya baik, namun dalam kehidupan rumah tangga belum tentu thayyib, makanya ketika Aisyah ra dituduh berzina oleh orang-orang munafik, maka Al-Qur’an turun membebaskan tuduhan keji tersebut, Nah bagaimana redaksi ayat tersebut? Allah berfirman,

(ٱلۡخَبِیثَـٰتُ لِلۡخَبِیثِینَ وَٱلۡخَبِیثُونَ لِلۡخَبِیثَـٰتِۖ وَٱلطَّیِّبَـٰتُ لِلطَّیِّبِینَ وَٱلطَّیِّبُونَ لِلطَّیِّبَـٰتِۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا یَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةࣱ وَرِزۡقࣱ كَرِیمࣱ)

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”
[Surat An-Nur 26]

Maka rumah tangga kita hendaknya kita perhatikan, anak-anak kita harus kita didik menjadi generasi yang thayyib, anak perempuan kita harus kita didik sehingga menjadi anak yang thayyibah dengan harapan akan mendapatkan jodoh yang thayyib, sehingga tercipta keluarga yang bahagia dunia dan akhirat, karena surga tidak menerima kecuali yang thayyib.
Dan tidak mungkin rumah tangga itu akan thayyib kecuali aqidahnya harus benar.

3. Thayyib didalam aspek makanan, minuman, rumah dan segala aspek kehidupan manusia. Jadi makanan dan minuman yang haram itu memiliki efek yang negatif bagi tubuh manusia, terutama diakhirat nanti, Nabi saw bersabda,

كل لحم نبت من حرام فالنار أولى به

“Setiap daging yang tumbuh dari hal yang haram maka dia lebih pantas untuk api neraka” (HR. Baihaqi)

Makanya didalam pengadilan Rasulullah saw pernah berkata, bisa jadi saya memutuskan hukum peradilan bisa salah, karena saya manusia hanya menghukumi yang zahir saja, karena si fulan pandai bersilat lidah dan beragumen sehingga dia memenangkan peradilan meskipun ia yang bersalah karena makan hak saudaranya, tapi walaupun ia menang, pada dasarnya ia telah makan api neraka.

Maka kita harus menjadi generasi amar ma’ruf nahi munkar, karena kalau kita diam, membiarkan kemungkaran merajalela disekitar kita maka, dampak buruknya tidak hanya menimpa orang-orang yang buruk saja tetapi yang baik mereka juga kena imbasnya, makanya Allah swt telah ingatkan didalam Al-Qur’an,

(وَٱتَّقُوا۟ فِتۡنَةࣰ لَّا تُصِیبَنَّ ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمۡ خَاۤصَّةࣰۖ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ)

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”
[Surat Al-Anfal 25]

Jadi Azab itu akan menimpa kepada seluruh manusia, tidak peduli apakah ia baik ataukah buruk. Kapan itu terjadi? Ketika masyarakat membiarkan kemungkaran merajalela disekitarnya, tidak peduli untuk mencegah agar kemungkaran hilang ditengah kehidupan mereka.
Makanya dalam satu pepatah arab dikatakan,

فاقد الشئ لا يعطيه

Orang yang kehilangan sesuatu tidak bisa memberi sesuatu tersebut.
Maka kehilangan sifat adil itu tidak bisa memberikan keadilan, kehilangan sifat baik tak biasa mendatangkan kebaikan dan seterusnya.

Maka, bagaimana cara agar kita, keluarga kita, masyarakat kita meraih kehidupan yang baik?

1. Dengan beriman dan beramal shalih.

Ini adalah janji Allah, siapa yang beriman dan beramal shalih pasti meraih kehidupan yang baik. Allah berfirman,

(مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ وَلَنَجۡزِیَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ)

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
[Surat An-Nahl 97]

Al Imam At-Thabari ra didalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan makna Hayatan Thayyibatan (kehidupan yang baik) beliau mengutip pendapat para ahli tafsir, memiliki banyak arti,
a. Allah hidupkan mereka didunia dengan rizki yang halal
b. Allah karuniakan mereka sifat qanaah terhadap pemberian Allah swt
c. Hidup dalam keadaan beriman kepada Allah serta patuh terhadap setiap perintah-Nya
d. Kehidupan yang bahagia
e. Kehidupan di surga

Namun perbedaan makna diatas sifat nya hanya variatif, bukan perbedaan yang bersifat saling bertolak belakang, intinya adalah kehidupan yang baik itu adalah kehidupan yang bahagia dunia akhirat karena Allah memberi kecukupan rizkinya sehingga ia dapat totalitas beribadah untuk Allah dan mentaati semua perintah-Nya.

Nah, pembaca yang budiman! Barometer keshalihan didalam islam itu ada dua, yaitu beramal nya karena Allah dan beramal nya benar dan kebenaran itu syarat nya harus mengikuti Rasulullah saw, dalam ayat tersebut diredaksikan dalam bentuk jumlah ismiyah yaitu terdiri dari mubtada’ dan khabar, nah dalam kajian ilmu tafsir jumlah ismiyah itu memiliki makna ats Tsubut wa ad-Dawam yaitu tetap dan terus menerus, artinya keimanan dan keshalihan harus diproduksi dan diperbarui setiap saat, agar ia terus merasakan kehidupan yang baik, sehingga ia benar-benar meraih kebahagiaan hidup hakiki di dunia dan di akhirat.

2. Kebaikan kita itu semata-mata dilakukan karena Allah.

Jangan sampai ketika kita melakukan kebaikan semata mata ingin mendapatkan pujian dari orang lain, Allah ingatkan kita agar beramal kebaikan termasuk menyantuni orang yang membutuhkan dengan makanan harus disertai sifat ikhlas, semata-mata ingin meraih ridha Allah swt. Dalam Al Qur’an Allah berfirman,

(إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِیدُ مِنكُمۡ جَزَاۤءࣰ وَلَا شُكُورًا)

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
[Surat Al-Insan 9]

Karena siapa saja ketika berbuat baik karena mengharap pujian dari manusia, pasti kecewa. Makanya para Ulama memberikan satu nasehat penting,

اتق شر من احسنت اليه

Takutlah kalian kejahatan orang yang kamu telah berbuat baik kepadanya.

Misalnya, terkadang anak-anak yang kita didik dan sekolahkan sampai sarjana lalu menjadi sosok yang mapan bahkan menjadi sukses, terkadang dipuncak kesuksesan nya itu mereka lupa terhadap kita, bahkan berani membangkang terhadap perintah kita.

3. Ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga, maka itu adalah puncak kebaikan dan kebahagiaan hidup tertinggi.

Ketika manusia dimasukkan ke surga maka ia telah menapaki kebahagiaan yang hakiki, tidak ada kebahagiaan apapun yang bisa menandingi kebahagiaan di surga Allah swt. Kebahagiaan yang abadi takkan pernah sirna, sehingga kebahagiaan seperti inilah yang sama sama kita harapkan agar bisa diraih.
Allah swt berfirman,

(كُلُّ نَفۡسࣲ ذَاۤىِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ)

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
[Surat Ali ‘Imran 185].

One comment