pemuda Al Quran

Hakikat Pemuda Dalam Al Quran

501 Views

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Diantara tema kehidupan yang sangat penting bagi kita semua adalah tema tentang al fityah yaitu pemuda, dimana al Qur’an dan sunnah banyak berbicara tentang pemuda dan perannya dalam kehidupan ini, terutama perannya dalam perjuangan di jalan Allah.

Kenapa kita berbicara tentang pemuda? Jawabannya adalah karena pemuda itu adalah kelompok masyarakat yang paling cepat merespon dakwah, mereka adalah agen perubahan, jadi kalau kita ingin merubah kondisi masyarakat, bangsa, dan negara maka yang dijadikan prioritas adalah perubahan terhadap para pemudanya, maka saking pentingnya keberadaan para pemuda sampai-sampai Bung Karno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”
maka para pemuda harus menjadi pribadi terdepan dalam merubah tatanan masyarakat menjadi lebih baik, makanya dalam redaksi ayat tersebut yang disebut adalah kata fityah, artinya adalah para pemuda, bukan menggunakan redaksi yang lain. Allah swt berfirman,

(نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡیَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَـٰهُمۡ هُدࣰى)

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
[Surat Al-Kahfi 13]

Maksudnya adalah Kami akan ceritakan kepadamu dengan rinci wahai Nabi Muhammad kisah mereka yang penting dan menakjubkan itu dengan sebenarnya, tidak ada keraguan maupun kesamaran agar engkau jelaskan kepada orang-orang yang bertanya dan menjadi pelajaran bagimu dan bagi umatmu. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada tuhan mereka dengan keimanan yang benar, tetapi mereka ditindas oleh penguasa pada masanya maka kami kukuhkan iman mereka dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka kepada jalan yang benar.
(Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI)

Didalam tafsir al Baghawi diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang Raja dan Para rakyatnya yang sama-sama menyembah berhala maka ada sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah risih dengan pemandangan tersebut dan berusaha untuk menasehati mereka mencegah perbuatan mereka, namun akibat perbuatan mereka itu mereka malah dimusuhi oleh sang raja dan rakyatnya, dan hal yang membuat takjub, para pemuda yang sebelumnya belum kenal ini disatukan oleh Allah untuk menjadi pribadi yang kuat dalam mempertahankan keimanan mereka, sehingga karena keimanan tersebut Allah selamatkan mereka dari tipu daya dan kejaran sang raja dan para rakyatnya di dalam sebuah gua yang tersembunyi.
Dalam sebuah hadist, Nabi saw bersabda,

الأرواح جنود مجندة ما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف

Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih. (HR Muslim, No 6376)

Dalam syarahnya, Imam An Nawawi menuliskan, “Ruh-ruh itu saling mengenal karena mereka adalah ciptaan Allah yang sejenis dan hakikatnya isi dunia ini hanyalah keimanan atau keingkaran; mereka yang taat pada Allah akan mudah dipertautkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dengan yang durhaka.”
Begitulah Allah satukan hati para pemuda diatas keimanan dan selamatkan mereka dari ancaman padahal mereka tidak mengenal satu dengan yang lain, akhirnya menjadi saling kenal.

Makanya Ashabul Kahfi mereka adalah fityah, para pemuda. Mereka adalah kelompok paling cepat merespon perubahan. Mereka pemuda yang hanya terdiri 7 orang itu dapat dijadikan contoh keteladanan dalam memperjuangkan keimanan sehingga kisahnya diabadikan dalam Al Qur’an.

Nah, pemuda seperti apakah yang diharapkan agar mampu merubah tatanan suatu masyarakat menjadi lebih baik menurut tinjauan Al-Qur’an,

1. Pemuda yang berlandaskan iman dalam semua sisi kehidupan.

Kenapa demikian? Karena iman itu energi yang luar biasa, tiada energi terkuat melebihi energi keimanan kepada Allah saw, misalnya ketika seseorang sedang merasakan dahaga ditengah ibadah puasa di siang yang sangat terik, lalu dihadapannya ada segelas air dingin yang siap diteguk, dan tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka kekuatan apa yang menahan dirinya untuk minum ditengah puasa? Jawabannya adalah kekuatan iman, makanya ketika Allah berbicara tentang perintah puasa dalam surat Al Baqarah 183, bunyi ayatnya adalah ya ayyuhal ladzina amanu, bukan ya ayyuhannas, karena hanya mereka yang mendasari hati mereka dengan keimanan yang mampu melaksanakan ibadah puasa dengan benar, bukan sembarang manusia.
Nah, dalam sebuah hadits ketika Rasulullah saw menjelaskan 7 golongan manusia yang mendapatkan naungan dan pertolongan pada hari kiamat, diantaranya adalah pemuda yang diajak berzina oleh wanita kaya dan cantik, tetapi menolaknya, maka sudah barang tentu energi keimanan yang mampu mencegahnya dari perbuatan keji tersebut. Karena pemuda secara khusus dan manusia secara umum yang tidak memiliki baju keimanan itulah yang yang mudah jatuh dan selalu diposisikan negatif dalam Al Qur’an, misalnya dalam surat al ‘Ashr, manusia disebut rugi oleh Allah,

(وَٱلۡعَصۡرِ ۝ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ)

“Demi masa,sungguh, manusia berada dalam kerugian”
[Surat Al-‘Ashr 1 – 2]
Kemudian manusia diciptakan dalam keadaan lemah, firman Allah swt,

(یُرِیدُ ٱللَّهُ أَن یُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِیفࣰا)

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”
[Surat An-Nisa’ 28]

Amanah menjadi terbengkalai karena kebodohan dan kedzaliman manusia, firman Allah swt,

(إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَیۡنَ أَن یَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومࣰا جَهُولࣰا)

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”
[Surat Al-Ahzab 72]

Padahal manusia itu dijadikan sebagai Khalifah, kenapa kok disandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik sebagaimana dijelaskan diatas? Karena, selama manusia hanya berbekal dengan sifat kemanusiaannya saja tidak diiringi keimanan, maka dia akan lemah walaupun dia seorang tokoh dalam masyarakat nya, ia akan hina walaupun di mata manusia ia terpandang. Namun manusia ketika berbekal dengan keimanan itulah yang direkomendasikan Allah untuk menjadi para pemimpin perubahan dan merekalah yang beruntung sebaliknya mereka yang melepaskan baju keimanan itulah mereka para pecundang dan yang rugi, makanya diawal surat Al Mukminun, Allah mengkaitkan keberuntungan dengan keimanan bukan sifat kemanusiaan, firman Allah,

(قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ)

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
[Surat Al-Mu’minun 1]

Jadi, kemenangan para pemuda ketika memiliki senjata paling ampuh yaitu keimanan. Maka mereka akan meraih kemenangan dalam peperangan akhir zaman, terutama peperangan pemuda-pemuda muslim melawan pasukan Yahudi di Baitul Maqdis.
Nabi saw bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)

Jadi, ini satu dalil bahwa pemuda yang mampu merubah dunia menjadi lebih baik adalah pemuda yang memiliki keimanan, karena keimanan adalah energi yang luar biasa dahsyat nya melebihi energi energi manusia yang lainnya.

2. Pemuda yang arah hidupnya mengikuti petunjuk Allah.

Hidup kita tidak boleh mengikuti selera dan hawa nafsu, Sungguh seluruh ajaran Nabi itu indah dan benar, maka kita tidak boleh memilah milah tema agama tertentu dengan mengesampingkan tema yang lain tujuannya untuk kepentingan hawa nafsu, misalnya maunya bahas tema poligami dan nikah tapi ketika pembahasan itu terkait jihad ia menolaknya, makanya sampai nabi bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

“Tak akan sempurna iman kalian, hingga hawa nafsu kalian tunduk terhadap risalah yang saya sampaikan.” (HR. Thabrani)

Makanya pemuda pemudi yang dibanggakan dan dimuliakan Allah adalah mereka yang seleranya islam secara kaffah, bukan islam yang mengikuti selera mereka, selama mereka mampu mengikuti petunjuk Allah, maka selama itu pula mereka akan diberi kekuatan untuk merubah tatanan dunia lebih baik lagi.

Begitu pentingnya petunjuk Allah, walaupun kita seorang muslim, tapi kita diperintahkan untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah, sebagaimana dalam surat Al Fatihah yang sering kita baca berulang-ulang dalam shalat kita, firman Allah

(ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ)

Tunjukilah kami jalan yang lurus
[Surat Al-Fatihah 6]

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud petunjuk dalam ayat tersebut adalah petunjuk mengikuti al Qur’an, As-Sunnah dan islam. Tak ada ulama yang mengatakan ikuti petunjuk guru atau syaikh saya. Karena guru bisa benar bisa salah, sementara islam pasti benar, karena kalau kita mengikuti petunjuk kebenaran islam itu namanya kita mendapatkan petunjuk hidayah, tetapi kalau kebenaran disandarkan pada guru tertentu maka kita terjebak dalam sifat fanatik. Dan sifat itu sangat berbahaya karena terkadang akan memunculkan sifat ujub atau merasa paling benar.

Jadi setiap kita shalat kita diperintahkan untuk minta petunjuk, padahal kita seorang muslim kenapa demikian? Maka para ulama menjelaskan karena kebutuhan kita terhadap islam bukan hanya sebatas ketika kita awal masuk islam tetapi harus kontiniu sesuai dengan kontiniutas ajaran islam, kita butuh islam tidak hanya di masjid saja, dalam kehidupan rumah tangga, politik, ekonomi, berbangsa dan bernegara bahkan sepanjang hayat kita juga butuh islam, karena kalau kita tidak melandaskan keislaman dalam sendi kehidupan kita maka kita bisa jatuh ke sifat ekstrem kanan maupun kiri, ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya,

(وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَ ٰ⁠طِی مُسۡتَقِیمࣰا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِیلِهِۦۚ ذَ ٰ⁠لِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.
[Surat Al-An’am 153]

Didalam tafsir Ibnu katsir disebutkan bahwa maksud ayat ini telah dijelaskan melalui sabda Nabi saw yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud ra,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -قَالَ: خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذَا سَبِيل اللَّهِ مُسْتَقِيمًا”. وَخَطَّ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذِهِ السُّبُل لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ”. ثُمَّ قَرَأَ: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

Abdullah bin Mas’ud Ra., berkata, “Rasulullah Saw, membuat sebuah garis dengan tangannya (di tanah), kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau saw. membuat garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini jalan-jalan lain, tiada suatu jalan pun darinya melainkan terdapat setan yang menyerukan kepadanya.’ Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: ‘dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan­Nya’.” (QS. Al-An’am: 153)

Makanya pemuda yang mampu merubah tatanan dunia menjadi lebih baik adalah pemuda yang diberi hidayah oleh Allah swt. seorang pemuda kalau tidak mengikuti petunjuk Allah, maka dipastikan ia ikut jalannya syetan. Mudah-mudahan kita senantiasa dijaga Allah dari godaan setan yang terkutuk!

3. Pemuda yang memiliki semangat dan kekuatan.

Kenapa demikian? Karena kalau kita urai lafadz al-fityah yang berarti pemuda secara bahasa berasal dari kata al-futuwwu artinya kekuatan, maka sebagian ulama mengatakan bahwa pemuda itu ukurannya bukan hanya sekedar umur dari tahun sekian ke sekian, tapi pemuda adalah ukuran nya semangat dan kekuatan untuk berjuang membangun tatanan dunia lebih baik, walaupun secara angka ia dikategorikan tua. Kekuatan apa yang harus pemuda miliki? Ini dijelaskan dalam firman Allah swt,

(وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةࣲ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَیۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِینَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ یَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَیۡءࣲ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یُوَفَّ إِلَیۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ)

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizhalimi (dirugikan).
[Surat Al-Anfal 60]

Dalam ayat itu perintah bersiap-siap untuk berjuang di jalan Allah menghadapi orang kafir yang berbuat zalim hukumnya adalah wajib dan persiapan itu terbentuk dalam berbagai macam kekuatan (karena redaksi Quwwah dalam ayat tersebut berbentuk nakirah yang bermakna umum) meliputi kekuatan fisik, aqidah, ekonomi dan sebagainya. Mengenai pentingnya menjadi pribadi mukmin yang kuat, khususnya kuat dalam fisiknya didalam sebuah hadits nabi bersabda,

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم)

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim).

Maka contohlah nabi, beliau adalah sosok yang kuat seolah olah bumi itu dilipat untuknya saking cepatnya nabi berjalan, beliau pernah mengalahkan Rukanah, jagoan gulat yang terkenal di Makkah. Makanya didalam islam segala makanan atau perkara yang buruk bagi kesehatan dilarang oleh Allah, karena berpotensi membahayakan fisik kita, sebagaimana sabda nabi yang sudah kita hafal bersama,

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Maka seorang pemuda harus rajin menjaga kekuatan dan kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, jangan sampai mengkonsumsi rokok atau hal-hal yang buruk lainnya, karena itu membahayakan dirinya dan orang lain. Maka pemuda harus kuat karena diantara makna pemuda itu adalah Al -Quwwah (Kekuatan).

Nah diantara sosok pemuda islam yang namanya harum terukir dalam tinta emas sejarah, karena kekuatannya yang disegani baik itu kekuatan fisik, akal, maupun mentalnya adalah,

a. Usamah bin Zaid (18 tahun). Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
b. Zaid bin Tsabit (13 tahun). Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul saw. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.
e. Muhammad Al Fatih (22 tahun). Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.
f. Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun). Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.
g. Muhammad Al Qasim (17 tahun). Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya. Dan banyak sekali semisal mereka.

4. Mampu lolos melewati berbagai tantangan dan ujian, terlebih lagi, di zaman modern ini tantangan para pemuda islam semakin berat, diantara tantangan mereka adalah,

a. Teknologi

Di dalam islam tidak ada larangan untuk memakai kecanggihan teknologi masa kini, hanya saja hukum pemakaian teknologi tergantung pada illat atau kegunaan nya, kalau digunakan untuk ketaatan bernilai ibadah, sebaliknya kalau digunakan maksiyat bernilai dosa, maka hendaknya kecanggihan teknologi hendaknya diperuntukkan sebagai sarana untuk berjuang di jalan Allah swt.

b. Hiburan.

Ketika orang tua kita zaman dulu kalau mau nonton hiburan, mereka biasanya pergi ke gedung bioskop, pertunjukan wayang kulit dan lain sebagainya. Namun hiburan zaman sekarang sudah ada dalam rumah kita masing-masing. Kita diperangi oleh musuh Allah bukan hanya diluar tetapi dalam rumah kita juga diperangi lewat tayangan hiburan TV yang tidak mendidik, konten-konten video yang tak bermoral
Nah, di dalam Muktamar Yahudi Internasional ketika membahas tentang strategi untuk menghancurkan islam, ada seorang pemimpin dari mereka berkata, “sungguh seonggok biduan wanita dan secangkir minuman keras untuk menghancurkan umat islam lebih dahsyat dari pada bom atom yang diledakkan di Hirosima dan Nagasaki. Dan terutama fitnah wanita memang sangat dahsyat dampaknya. Fitnah dahsyat yang menghancurkan bani Israel setelah fitnah harta adalah fitnah wanita. Maka untuk mengkonter fitnah-fitnah yang berbahaya tersebut hendaknya setiap penghuni rumah harus disuplai dengan nutrisi Al-Qur’an dan kebutuhan agama yang benar, makanya kita dianjurkan ketika memasuki rumah baru untuk membaca Az Zahrawain yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran supaya tidak diganggu oleh setan jin maupun setan manusia.

c. Jauh dari kehidupan perjuangan

Karena para pemuda banyak yang tergoda dengan hiburan dalam rumah, sehingga mereka mulai malas untuk bergerak dan berjuang, mereka kehilangan sosok yang bisa dijadikan keteladanan karena kesibukan mereka dengan dunia mereka, sehingga tidak sempat untuk mempelajari kehidupan salafus shalih yang berisi tentang perjuangan dan dakwah mereka, maunya malas-malasan dan bersantai ria dirumah, tidak siap bahkan tidak mau mengemban dakwah perjuangan. Beruntung lah orang tua yang memiliki anak-anak muda yang shalih dan shalihah, hidupnya dihabiskan di masjid, menghadiri satu kajian ke kajian keislaman yang lain. Sehingga dengan berkumpul dengan kawan kawan yang shalih langkah kaki kita akan diringankan dalam bergerak dan berjuang di jalan Allah, namun sebaliknya apabila perjuangan dilakukan sendiri, maka akan ia cenderung gagal dalam perjuangan karena mudah diganggu oleh setan, sabda Rasulullah saw,

عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .من سرته حسناته وساءته سيئاته فذلكم المؤمن

“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkanlah perpecahan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi)

One comment