Mentadabburi Ayat-Ayat Hijrah Dalam Al-qur’an

194 Views

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Diantara ayat-ayat hijrah dalam Al-Qur’an yang dapat kita ambil pelajaran adalah firman Allah swt, surat An-Nisa ayat 97-100, Allah berfirman,

(إِنَّ ٱلَّذِینَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِیمَ كُنتُمۡۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِینَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوۤا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةࣰ فَتُهَاجِرُوا۟ فِیهَاۚ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا ۝ إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِینَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡوِلۡدَ ٰ⁠نِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ حِیلَةࣰ وَلَا یَهۡتَدُونَ سَبِیلࣰا ۝ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ عَسَى ٱللَّهُ أَن یَعۡفُوَ عَنۡهُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَفُوًّا غَفُورࣰا ۝ ۞ وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah), maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat An-Nisa’ 97 – 100]

Pada kesempatan kali ini kita akan menunaikan satu kewajiban kita terhadap Al Qur’an yaitu Al Mu’ayasayatu ma’al Qur’an (berinteraksi dengan Al-Qur’an) Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan untuk mengamalkan dan menerapkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Saudaraku yang budiman, Al-Qur’an adalah Jami’atul Hayah yaitu Universitas Kehidupan yang didalamnya terdapat petunjuk-petunjuk yang mencakup seluruh dimensi kehidupan, terutama petunjuk kehidupan masa kini dan lebih khusus kehidupan kaum muslimin.
Nah, di dalam ayat tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil;

1. Kewajiban untuk bersatu dengan kaum muslimin.

Agar islam dan iman kita diterima Allah, selamat di dunia dan akhirat kita, maka kita harus bergabung dan bersatu padu dengan jamaahnya kaum muslimin, dalilnya adalah sababun nuzul (sebab turunnya ayat), karena diantara faidah mengetahui sababun nuzul memudahkan kita untuk memahami suatu makna al Qur’an. Dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah bersama para sahabatnya ternyata masih ada sebagian kaum muslimin tidak mau bergabung dengan nabi dan para sahabatnya untuk hijrah, tetapi mereka memilih tinggal di Makkah yang saat itu Makkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik. Nah, ketika terjadi perang badar kaum muslimin yang tinggal di Makkah dipaksa oleh orang-orang musyrik untuk berperang melawan orang-orang islam yang ada di Madinah, lalu trunlah ayat ini.
(Tafsir Ibnu Katsir)

Dan hal tersebut juga senada dengan firman Allah, kita diperintahkan agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan kaum muslimin, jangan mudah diadu domba sehingga berperan belah, firman Allah tersebut berbunyi,

(وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِیعࣰا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ۚ)

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”
[Surat Ali ‘Imran 103]

Nah, pertimbangan mereka kenapa tetap tinggal di Makkah? Karena kepentingan hidupnya masih di Makkah, termasuk diantaranya keluarga, ekonomi, jabatan dan lain sebagainya, jadi mereka lebih memilih kehidupan dunia mereka yang ada di Makkah dari pada hijrah bersama Nabi dan para sahabatnya, mereka lebih memilih dunia mereka dari pada taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ketika berperang ternyata banyak diantara mereka yang mati, ketika mati mereka divonis oleh Allah deng tiga vonis besar;

a. Matinya dalam keadaan dzalim,
b. Alasan mereka bahwa mereka kaum dhuafa’ yang tertindas di tolak oleh Allah swt dan,
c. Di Akhirat divonis neraka Jahannam,

Didalam Al-Qur’an Allah menjelaskan vonis yang diterima oleh mereka.

(إِنَّ ٱلَّذِینَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَالُوا۟ فِیمَ كُنتُمۡۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِینَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوۤا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةࣰ فَتُهَاجِرُوا۟ فِیهَاۚ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا)

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, [Surat An-Nisa’ 97]

Apa korelasi ayat tersebut dengan kondisi kaum muslimin di dunia ini, terutama dengan kaum muslimin di Indonesia ini?
Al Qur’an diturunkan di Makkah dan Madinah, namun berlakunya untuk seluruh dunia, bukan hanya hanya di tanah Arab saja, itu ditegaskan Allah dalam surat Al-Furqan ayat pertama,

( تَبَارَكَ ٱلَّذِی نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِیَكُونَ لِلۡعَـٰلَمِینَ نَذِیرًا)

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).
[Surat Al-Furqan 1]

Maka Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada semua umat islam dimanapun berada, termasuk umat islam yang ada di bumi Indonesia.
Dalam konteks kekinian, ada diantara kaum muslimin yang tidak mau bergabung dengan jamaah kaum muslimin, malah dia berkumpul dan berkoalisi dengan berbagai macam aliran kepercayaan dan agama, ada kafir, munafik, atheis dan sebagainya.

Maka penting kita untuk kembali kepada Al Qur’an dan sunnah serta nasehat-nasehat para ulama dan tidak mementingkan kehidupan duniawi nya, agar hati kita selalu terpaut kepada jamaahnya kaum muslimin.
Tentang pentingnya berjamaah dan bersatu padu, dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir Rasulullah saw bersabda,

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Berjamaah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab”(HR. Ahmad)

2. Kelemahan tidak bisa dijadikan alasan.

Maka siapapun dia, jangan hanya karena takut kehilangan harta, jabatan dan dunianya, ia rela memilih jalan yang lemah, tidak berani menyuarakan kebenaran, diam ketika terjadi kemungkaran, maka alasan tersebut tidak diterima oleh Allah. Karena orang-orang yang tak mau hijrah dipaksa orang kafir untuk perang akhirnya mereka mati, sehingga di pengadilan Allah, terjadi dialog ia dengan para malaikat, lalu para malaikat pun bertanya, kenapa kalian? Kami dulu kaum yang tertindas di Makkah? Maka malaikat menjawab “Bukankah bumi Allah itu luas, kenapa tidak bergabung untuk hijrah bersama nabi dan para sahabatnya?

Jadi, jangan sampai memilih jalan yang lemah, seandainya ketika dulu nenek moyang kita dijajah Belanda, kemudian para pahlawan dan ulama kita memilih jalan yang lemah agar tidak kehilangan harta dan jabatan yang diberikan Belanda maka niscaya negara kita tidak akan merasakan kemerdekaan hingga hari ini, akan tetapi para ulama dan pahlawan kita lebih memilih berjuang dan mengangkat senjata sehingga negara ini memperoleh kemerdekaan nya.

Jadi alasan lemah itu tidak diterima oleh Allah, sebagaimana orang-orang lemah yang meminta sedikit keringanan kepada para pembesar-pembesar mereka dari azab Allah swt pada hari kiamat, maka pembesar-pembesar mereka tidak sanggup memberikan petunjuk dan memenuhi permintaan mereka, maka pembesar-pembesar serta pengikut mereka yang lemah sehingga tidak berani melawan kedzaliman pembesar-pembesar mereka karena takut kehilangan kepentingan duniawi, mereka dan para pembesar mereka sama-sama masuk neraka, sebagaimana firman Allah,

(وَبَرَزُوا۟ لِلَّهِ جَمِیعࣰا فَقَالَ ٱلضُّعَفَـٰۤؤُا۟ لِلَّذِینَ ٱسۡتَكۡبَرُوۤا۟ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعࣰا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَیۡءࣲۚ قَالُوا۟ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَیۡنَـٰكُمۡۖ سَوَاۤءٌ عَلَیۡنَاۤ أَجَزِعۡنَاۤ أَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِن مَّحِیصࣲ)

“Dan mereka semua (di padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” [Surat Ibrahim 21]

Semuanya tidak bisa keluar dari neraka, bahkan guru besar sekaligus dedengkot orang-orang kafir yang memilih jalan yang lemah disebabkan tergiur kenikmatan dunia yaitu setan, ia sendiri mengaku bahwa dia sendiri tidak bisa menyelamatkan mereka, maka setan sampai berkata kepada mereka “kamu jangan salahkan diri saya, salahkan diri kamu sendiri, karena saya sebenarnya tidak bisa memaksa kalian, saya hanya mengajak kalian, tapi salah sendiri kenapa kalian termakan oleh omongan dan ajakan saya.”
Maka dalam ayat berikutnya Allah mengabadikan momen pidato setan dihadapan manusia pada hari kiamat, Allah swt berfirman,

(وَقَالَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ لَمَّا قُضِیَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِیَ عَلَیۡكُم مِّن سُلۡطَـٰنٍ إِلَّاۤ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۖ فَلَا تَلُومُونِی وَلُومُوۤا۟ أَنفُسَكُمۖ مَّاۤ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَاۤ أَنتُم بِمُصۡرِخِیَّ إِنِّی كَفَرۡتُ بِمَاۤ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّـٰلِمِینَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ)

“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zhalim akan mendapat siksaan yang pedih.” [Surat Ibrahim 22].

3. Manusia akan dikumpulkan bersama dengan yang ia cintai diakhirat,

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah saw bersabda,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ)

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?” Rasulullah bersabda: “Seorang itu beserta orang yang dicintainya. (HR. Muttafaqun alaihi)

Manusia itu makhluk sosial, artinya ia tidak bisa hidup sendiri kecuali mendapatkan uluran tangan dari orang lain, maka hidup ini harus berjamaah, bergabung dengan orang-orang yang jujur terhadap keimanan. Maka hari-hari ini kita dibingungkan dengan kondisi sebagian kaum muslimin, ngakunya agamanya islam tapi kok mesra sekali dengan orang kafir, justru sangat keras terhadap orang islam sendiri hanya karena berbeda pandangan.

Maka Imam Syafi’i ra memberikan petunjuk agar kita tidak dibingungkan dengan kondisi sekarang ini, beliau berkata bahwa ilmu yang pasti benar itu firman dan sabda Rasulullah saw, maka ikutilah keduanya, tapi ucapan saya atau pengamat mungkin salah. Rasulullah saw pernah dimintai oleh orang-orang munafik untuk shalat di masjid yang dibangun oleh mereka, di dalam Al-Qur’an masjid mereka disebut Masjid Dhirar, yang berarti Masjid sumber bencana. Tindakan mereka ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an, firman Allah;

(وَٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ مَسۡجِدࣰا ضِرَارࣰا وَكُفۡرࣰا وَتَفۡرِیقَۢا بَیۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَإِرۡصَادࣰا لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ وَلَیَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَاۤ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَـٰذِبُونَ)

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid dhirar untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).” [Surat At-Taubah 107]

Itulah orang munafik, mereka bagaikan serigala berbulu domba, mereka ngaji bersama nabi, bahkan sampai membangun masjid untuk nabi, akan tetapi segala yang mereka suguhkan untuk umat islam tidak diterima oleh Allah? Karena hati mereka menyimpan kebencian, dendam, dan keinginan yang mendalam untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, termasuk dedengkot mereka, Abdullah bin Ubay bin Salul sangat memusuhi islam dan kaum muslimin.

Nah, ketika nabi hendak shalat di Masjid tersebut ternyata dicegah oleh Allah, sehingga turun ayat berikutnya, firman Allah swt,

(لَا تَقُمۡ فِیهِ أَبَدࣰاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ یَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِیهِۚ فِیهِ رِجَالࣱ یُحِبُّونَ أَن یَتَطَهَّرُوا۟ۚ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِینَ)

“Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid (Quba) yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” [Surat At-Taubah 108]

Sehingga ayat ini secara tegas larangan Allah kepada Nabi agar tidak bergabung bersama Jamaahnya kaum munafikin. Karena mereka bukannya berjuang bersama nabi akan tetapi berusaha untuk memecah belah suara kaum muslimin.

Maka hakikatnya tidak ada permasalahan hidup kecuali sudah ada jawaban di dalam Al-Qur’an, ada kalanya jawabannya dengan nas yang sharih (jelas) atau istinbat (ijtihad), maka sudah barang tentu kaum muslimin diperintahkan untuk bertanya kepada ulama ketika ia mendapati kejahilan dalam persoalan agamanya, maka perintah Allah berbunyi,

( فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [Surat An-Nahl 43]

4. Allah swt itu maha Pengampun.

Meskipun berjuang dan berhijrah itu sebuah kewajiban, hanya saja Allah memberikan keringanan bagi orang-orang yang benar-benar lemah dan yang memiliki udzur untuk tidak berjuang dan berhijrah, karena keterbatasan fisik dan akal mereka, seperti orang tua, wanita, anak-anak kecil bahkan saat turun ayat ini Abdullah ibnu Abbas berkata “saya termasuk orang-orang lemah karena saat itu saya masih kecil sehingga kewajiban ini gugur bagi mereka dan dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah swt. (Tafsir Ibnu Katsir)
Nah, Golongan-golongan yang dikecualikan oleh Allah untukboleh tidak ikut hijrah, dijelaskan oleh Allah dalam ayat selanjutnya,

(إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِینَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡوِلۡدَ ٰ⁠نِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ حِیلَةࣰ وَلَا یَهۡتَدُونَ سَبِیلࣰا)

“Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah)” [Surat An-Nisa’ 98]

5. Urgensi Hijrah dalam Islam,

Hijrah itu ada dua, yaitu hijrah hissiyah (secara fisik) sepertinya hijrah nya nabi dari Makkah ke Madinah dan hijrah maknawiyyah (secara mental) dan ini berlaku selamanya, yaitu hijrah dari syirik kepada tauhid, hijrah dari bid’ah menuju sunnah, hijrah keberpihakan dari orang-orang kafir menuju orang-orang beriman. Hijrah seperti ini hukumnya wajib, dan hijrah seperti ini tidak harus minta izin kepada orang tua maupun guru, berbeda halnya hijrah keluar negeri atau jihad fi sabilillah, maka harus izin kepada orang tua, namun hijrah dari yang haram ke yang halal, maksiyat ke ta’at itu tidak memerlukan izin. Maka definisi hijrah maknawiyyah sebagaimana disampaikan nabi adalah,

المهاجر من هجر ما نهى الله عنه.

Artinya, “Al-Muhajiru (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kata maa (ما) didalam bahasa arab disebut isim maushul yang paling universal, sehingga segala apa saja yang dilarang oleh Allah harus ditinggalkan, baik itu berupa ucapan perbuatan, pilihan dan keberpihakan, semua tercakup dalam kata maa (ما).

6. Hijrah adalah kemenangan.

Seandainya ada seorang ustadz berdakwah dikampung yang penduduknya masih berkeyakinan kepada klenik, dukun, tumbal dan sebagainya, mereka syirik kepada Allah, lalu karena dakwah ustadz tersebut tidak cocok menurut mereka akhirnya ia diusir, sehingga yang tertulis di media cetak warga tersebut yang menang sedangkan si Ustadz telah kalah karena warga telah berhasil mengusir sang ustadz, namun hal tersebut beda menurut Allah, si Ustadz lah yang menang, karena diusirnya bukan semata-mata mencari nafkah, akan tetapi ia terusir karena berjuang di jalan Allah swt, sebagaimana Allah menceritakan kemenangan Nabi-Nya walaupun diusir oleh kaumnya,
firman Allah dalam Al-Qur’an,

(إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ثَانِیَ ٱثۡنَیۡنِ إِذۡ هُمَا فِی ٱلۡغَارِ إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَیۡهِ وَأَیَّدَهُۥ بِجُنُودࣲ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِیَ ٱلۡعُلۡیَاۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ)

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Surat At-Taubah 40]

Maka janji Allah swt adalah sebuah kepastian, siapapun yang berhijrah dan berjuang dijalan Allah pasti diberikan rizki yang banyak dan tempat yang luas, ini terlihat ketika nabi berada di Makkah pengikutnya tidak lebih dari 100 sebagaimana menurut sejarawan, begitu hijrah pengikut beliau semakin banyak dan menjalar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Maka islam bisa sampai ke Indonesia melalui ajaran hijrah, maka hijrah adalah sebuah kemenangan, dengan hijrah umat islam membangun kedaulatan di Madinah, sehingga seluruh lapisan umat islam bahkan orang-orang kafirpun merasakan keamanan dan ketenangan karena syariat hijrah, sebab hukum dan aturan Allah ditegakkan di dalamnya, sebagaimana janji Allah termaktub dalam Al-Qur’an,

(۞ وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surat An-Nisa’ 100]

No comments