nabi-ibrahim

Belajar Taqwa Dari Kehidupan Nabi Ibrahim Alaihissalam

377 Views

(إبراهيم عليه السلام دروس وعبر)

Oleh Kholid Mirbah, Lc

Allah swt berfirman,

(إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا وَلَمۡ یَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ ۝ شَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ)

Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah),
dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.
[Surat An-Nahl 120 – 121]

Al Qur’an merupakan kitabul Hidayah (kitab petunjuk) sehingga seluruh yang disampaikan Al-Qur’an kepada ummatnya pada dasarnya adalah petunjuk, termasuk ketika menurunkan kisah para Nabi dan Rasul, serta manusia-manusia terbaik pada dasarnya adalah petunjuk yang datang dari Allah swt.
Nah, di dalam Al-Qur’an petunjuk Allah tidak cukup berupa kalimat-kalimat ikhbariyyah (ungkapan yang bersifat informatif) dan tidak cukup dengan kalimat insyaiyyah (ungkapan yang bersifat instruktif) tetapi didalam Al-Qur’an sangat jelas selain informasi yang benar dan instruksi yang pasti, Allah juga turunkan an-namudzaj al-mitsali (contoh-contoh yang ideal) dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tidak perlu menafsirkannya, karena contohnya sudah jelas, sehingga dengan adanya contoh dari kehidupan yang nyata yang termuat dalam kisah maka hal ini dapat memudahkan kita untuk mengambil pelajaran dan ibrah, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka penting bagi kita untuk belajar dari sebuah kisah yang dengannya kita mendapati inspirasi untuk merubah hidup kita menjadi lebih baik, firman Allah,

(لَقَدۡ كَانَ فِی قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةࣱ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِۗ مَا كَانَ حَدِیثࣰا یُفۡتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصۡدِیقَ ٱلَّذِی بَیۡنَ یَدَیۡهِ وَتَفۡصِیلَ كُلِّ شَیۡءࣲ وَهُدࣰى وَرَحۡمَةࣰ لِّقَوۡمࣲ یُؤۡمِنُونَ)

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
[Surat Yusuf 111]

Diantara contohnya adalah ketika begitu banyak ayat-ayat yang berbicara tentang pentingnya belajar, maka Allah swt tidak hanya sekedar menurunkan ayat-ayat nya yang berbicara tentang ilmu dan kewajiban menuntutnya, serta kewajiban kita agar banyak memohon kepada-Nya supaya ditambah dan ditambah lagi ilmu pengetahuan, sebagaimana firman-Nya,

(وَقُل رَّبِّ زِدۡنِی عِلۡمࣰا)

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ”
[Surat Tha-Ha 114]

Allah swt juga turunkan kisah Musa as yang belajar dengan hamba Allah, seorang guru yang misterius, tidak diketahui namanya, adapun istilah Khidir itu hanya terdapat dalam riwayat hadits, artinya dalam belajar betapa kita harus tawadhu’, tidak harus belajar kepada orang yang terkenal, karena fenomena masyarakat sekarang tidak mau belajar kecuali dengan ustadz yang terkenal dan sering masuk tivi, padahal keterkenalan itu bukanlah ukuran suatu kebenaran, sehingga mereka kehilangan sekian banyak ilmu karena hanya mau belajar kepada guru yang terkenal, berbeda dengan Musa as seorang Nabi sekaligus manusia terbaik di zamannya mau belajar kepada orang yang tidak terkenal dan tidak diketahui asal-usulnya dan perjalanan Musa as untuk menemui gurunya ini memakan waktu sampai ratusan tahun, sebagaimana firman Allah,

(وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَاۤ أَبۡرَحُ حَتَّىٰۤ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَیۡنِ أَوۡ أَمۡضِیَ حُقُبࣰا)

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”
[Surat Al-Kahfi 60]

Dalam tafsir Ibnu Katsir melalui riwayat dari Abdullah bin Amr dijelaskan bahwa dalam ayat tersebut, Allah menggunakan redaksi Huquba yang merupakan jama dari lafadz Haqibah, sedangkan satu Haqibah 80 tahun, kalau jama’ paling sedikit adalah 3, maka 3 × 80 = 240 tahun, itulah gambaran orang yang mencari ilmu membutuhkan waktu yang panjang, sementara sebagian orang ketika belajar tidak selama itu, banyak yang belajar dengan tenaga sisa, waktu sisa dan umur sisa.

Begitu pula ketika berbicara tentang ketakwaan Nabi Ibrahim as tidak hanya cukup dengan instruksi tapi dibuktikan dengan pengorbanan beliau yaitu melalui syariat kurban, sehingga takwa itu tidak hanya dipahami melalui pendekatan-pendekatan akademis, tentang definisi dan hakikat takwa, akan tetapi harus diimplemantasikan dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak pendidikan di sekolah islam yang tidak semuanya melahirkan orang-orang yang bertakwa, tidak melahirkan orang-orang yang berkorban di jalan Allah, padahal belajar islam sejak TK sampai sarjana, kita di Indonesia ini tidak kekurangan lembaga pendidikan, namun yang disayangkan mereka terlalu fokus dengan rekreasi ilmu pengetahuan tetapi tidak mengejewantah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu ketika kita belajar islam tidak hanya sekedar berasal dari kalimat-kalimat informatif tetapi harus benar-benar real diterjemahkan dalam realitas kehidupan, yang bisa kita contoh dari kehidupan manusia-manusia terbaik yang akan kita kaji pada pembahasan ini adalah Nabi Ibrahim as.

Saudaraku, Ibrahim as adalah Jami’ah (universitas) yang tidak kering dari silabus atau kurikulum keteladanan dalam kehidupan beliau. Dan seluruh kepribadian beliau adalah menggambarkan kehidupan beliau yang utuh, hamba Allah yang bertakwa dan Tajarrud (totalitas) hidupnya untuk Allah swt.

Nah, Apa saja pelajaran yang bisa sosok pribadi yang bernama Ibrahim as

1. دور الفتى في التغيير إلى الأفضل

(Peran pemuda dalam perubahan menuju yang lebih baik)

Kenapa hal ini penting? Karena ada sebagian masyarakat yang memiliki pemahaman bahwa pemuda itu yang penting mau berubah, walaupun perubahan menuju ke arah keburukan.

Nabi Ibrahim as adalah pemuda yang mempunyai peran dalam merubah masyarakat menjadi lebih baik. Dari mana kita mengetahui ibrahim itu memiliki kekuatan untuk merubah?
Beliau di usia muda yang dalam ayatnya diredaksikan dengan kata (fata) mampu menghancurkan kesyirikan yang sudah mendarah daging di tengah-tengah kaumnya. Beliau hancurkan seluruh patung yang ada di kuil penyembahan kaumnya kecuali patung yang terbesar dengan dalih bahwa yang menghancurkan patung-patung tersebut adalah patung yang terbesar, beliau secara tersirat mengajak kaumnya untuk berfikir bagaimana mungkin patung sebagai benda mati yang tak bisa mendengar dan melihat disembah oleh mereka, yang mana kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an,

(قَالُوا۟ مَن فَعَلَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَاۤ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ ۝ قَالُوا۟ سَمِعۡنَا فَتࣰى یَذۡكُرُهُمۡ یُقَالُ لَهُۥۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ ۝ قَالُوا۟ فَأۡتُوا۟ بِهِۦ عَلَىٰۤ أَعۡیُنِ ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَشۡهَدُونَ ۝ قَالُوۤا۟ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَا یَـٰۤإِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ ۝ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِیرُهُمۡ هَـٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُوا۟ یَنطِقُونَ)

Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zhalim.”
Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.”Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.”
Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.”
[Surat Al-Anbiya’ 59 – 63]

Sehingga dari awal kita harus tahu bahwa para pemuda adalah agen perubahan menuju yang lebih baik, jangan sampai sebaliknya perubahan itu menuju kepada keburukan. Maka kita harus selamatkan pemuda-pemuda kita dari ideologi ideologi sesat yang merusak dan merongrong stabilitas suatu bangsa, karena kebaikan suatu bangsa tolak ukurnya ditentukan oleh para pemudanya. Maka perbaikan para pemuda harus menjadi skala prioritas dalam rangka terwujudnya perbaikan bangsa dan negara.

2. التضحية مقتضى الإيمان

(Pengorbanan itu konsekuensi dari iman)

Jika iman kita benar tandanya adalah kita mau berkorban, orang-orang kafir mereka rela berkorban untuk pemimpin, berhala dan thogut mereka. Orang beriman harus mau berkorban untuk Allah swt mereka harus rela berjuang di jalan Allah sebagai konsekuensi keimanan mereka kepada Allah. Sehingga masing-masing manusia rela berkorban demi meraih ridha tuhan atau zat yang diagungkan oleh mereka. Sebagaimana Allah jelaskan hal tersebut dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

(ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱلطَّـٰغُوتِ فَقَـٰتِلُوۤا۟ أَوۡلِیَاۤءَ ٱلشَّیۡطَـٰنِۖ إِنَّ كَیۡدَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ كَانَ ضَعِیفًا)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.
[Surat An-Nisa’ 76]

Jadi keimanan itu menuntut pengorbanan bahkan pengorbanan terhadap harta dan jiwa sekalian.
Mereka harus rela menginfakkan kekayaan mereka di jalan Allah, jangan sampai kalah dengan orang-orang kafir, mereka rela menggelontorkan kekayaan mereka untuk menghalangi mereka dari jalan Allah dan berpaling dari islam, Sungguh luar biasa pengorbanan mereka!
Pengorbanan tersebut diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an,

(إِنَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ یُنفِقُونَ أَمۡوَ ٰ⁠لَهُمۡ لِیَصُدُّوا۟ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِۚ فَسَیُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَیۡهِمۡ حَسۡرَةࣰ ثُمَّ یُغۡلَبُونَۗ وَٱلَّذِینَ كَفَرُوۤا۟ إِلَىٰ جَهَنَّمَ یُحۡشَرُونَ)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta-harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan,”
[Surat Al-Anfal 36]

Mereka merusak citra islam dengan harta-harta mereka, membeli media massa untuk menyebarkan berita yang menyudutkan islam, menyuap para pejabat untuk mengkriminalisasi ulama dan kaum muslimin, menangkap para dai-dai yang menyuarakan tentang kebenaran dan keislaman yang sejati.
Begitulah sosok dari Nabi Ibrahim as beliau mengorbankan segala potensi dalam dirinya untuk Allah sampai anak laki-laki satu-satunya dari Siti Hajar beliau hendak sembelih dalam rangka melaksanakan perintah Allah swt.

3. كان في إبراهيم وأسرته أسوة حسنة

Ibrahim as dan keluarga beliau merupakan sosok suri teladan yang baik.

Beliau dan keturunan beliau adalah generasi terbaik manusia, bahkan sebagian keturunan beliau menjadi para nabi dan rasul, termasuk Nabi kita Muhammad saw adalah bagian dari keturunan Ibrahim as dari garis Ismail as, sehingga karena itulah beliau mendapatkan julukan Abul Anbiya’ (Bapaknya para Nabi)

Nah, Seperti apa keluarga terbaik di dunia dalam pandangan Allah dan Rasulnya? Marilah kita bercermin keluarga Ibrahim as. Kenapa demikian? karena perbaikan suatu negara diawali kebaikan sebuah keluarga, karena negara muncul dari masyarakat, dan susunan masyarakat itu terbentuk dalam beberapa unit keluarga.

a. Keluarga yang baik ternyata dimulai dari ayah atau kepala keluarga yang baik.

Mari kita lihat kejujuran nabi Ibrahim dalam bertakwa dan melaksanakan perintah Allah swt. Hanya melalui mimpi bahwa beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, langsung intruksi itu disampaikan kepada anaknya. Padahal perintah itu datang lewat mimpi, bukan melalui perantara malaikat jibril. Apa kata nabi Ibrahim kepada anaknya ketika datang perintah itu melalui mimpi beliau? Maka Allah abadikan perkataan beliau dalam Al-Qur’an,

(فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡیَ قَالَ یَـٰبُنَیَّ إِنِّیۤ أَرَىٰ فِی ٱلۡمَنَامِ أَنِّیۤ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ)

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
[Surat Ash-Shaffat 102]

Di dalam ayat diatas Nabi Ibrahim memanggil anaknya dengan redaksi Bunayya yang artinya panggilan kesayangan dan kemesraan (anakku sayang) ini memberikan pelajaran kepada kita jikalau kita memanggil anak kita maka gunakanlah panggilan terbaik dan menyenangkan hati anak kita, jangan sampai kita tidak jujur dalam memanggil anak kita walaupun sudah diberikan nama yang terbaik, contohnya namanya Abdullah dipanggil Bedul, sama halnya ketika Luqman menasehati anaknya untuk tidak menyekutukan Allah, beliau mengawali nasehat tersebut dengan panggilan kasih sayang yaitu Ya Bunayya, Allah berfirman,

(وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ یَعِظُهُۥ یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ)

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
[Surat Luqman 13]

b. Anak yang taat

Begitu Ismail as mendengar bahwa Allah memerintahkan Ibrahim as untuk menyembelihnya, maka ia langsung mengatakan,

(..قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ)

Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku sayang! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
[Surat Ash-Shaffat 102]

Bagaimana dengan respon ibunya? Ibunya adalah seorang pribadi yang sabar, menerima ujian dari Allah tersebut, dan memang ujian yang diterima oleh keluarga Ibrahim sangatlah besar sampai-sampai Allah jelaskan dalam sebuah ayat,

(إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَـٰۤؤُا۟ ٱلۡمُبِینُ)

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[Surat Ash-Shaffat 106]

Dalam ayat itu sampai-sampai Allah menggunakan 3 alat penegas yaitu inna, lam taukid dan jumlah ismiyah, ini menunjukkan bahwa ujian yang diterima Ibrahim dan keluarganya benar-benar jelas dan nyata, meski demikian mereka tetap bersabar.
Dan ujian ini bukan kali pertama, kita ingat Hajar diajak hijrah dari Mesir ke Syam, lalu ditinggalkan sendirian bersama Ismail yang masih bayi di Hijaz, begitu ia ditinggal Ibrahim di lembah yang tandus, maka ia berkata kepada Ibrahim, Wahai Ibrahim apakah ini perintah Allah atau kemauan kamu sendiri, kok tega kamu tinggalkan aku dan bayiku sendiri? Maka ia menjawab ini adalah perintah Allah, maka seketika itu ia berkata kepada Ibrahim kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan aku. Subhanallah! Betapa tegarnya Hajar terhadap ujian Allah swt.
Ini menunjukkan betapa luar biasa tarbiyah Ibrahim kepada keluarga, sehingga mampu menjadikan keluarganya tegar dalam menghadapi ujian Allah, memang tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala kebaikan diawali dengan tarbiyah.

4. تتطلب التضحية كل الجهد والقوة وليس مع الطاقة والوقت المتبقي.

Pengorbanan itu butuh perjuangan totalitas, bukan dengan tenaga dan waktu sisa.

Orang biasanya sadar betul tentang ingat Allah, ibadah yang maksimal ketika sudah masuk usia pensiun. Fir‘aun itu baru ingat Allah ketika mau mati, maka jangan lah ikuti Fir‘aun tapi ikutilah Ibrahim yang sejak usia muda menjadi orang yang bertaqwa di segala potensi yang dimiliki, baik melalui dirinya, istrinya dan anak-anak nya, semuanya menjadi hamba-hamba Allah yang terbaik.
Maka kalau rumah tangga kita meraih kebahagiaan surgawi, maka kita harus jujur dalam berumah tangga, jujur dalam mendidik istri dan anak-anak kita menjadi pribadi yang beriman dan beramal shalih sehingga akan muncul istilah Al Usrah Al Mitsaliyah (keluarga ideal) dalam kehidupan kita. Karena kalau kita renungi bahwa hamba Allah yang sukses itu bukan yang menjadi baik di sisa tenaga dan usia, tapi yang sukses itu yang benar-benar totalitas berjuang di jalan Allah sepanjang hayatnya, bukan disisa umurnya, kita bisa lihat dalam firman Allah swt.

(۞ إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَ ٰ⁠لَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ فَیَقۡتُلُونَ وَیُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَیۡهِ حَقࣰّا فِی ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِیلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُوا۟ بِبَیۡعِكُمُ ٱلَّذِی بَایَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ)

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung”
[Surat At-Taubah 111]

Dalam ayat tersebut Allah membeli orang-orang beriman seluruh raga dan hartanya dengan sesuatu yang sangat mahal yaitu surga, jadi untuk mendapatkan surga butuh pengorbanan secara sungguh sungguh totalitas, bukan setengah-setengah.
Oleh karenanya agar kita dapat belajar melakukan pengorbanan totalitas kepada Allah, maka kita diperintahkan mengikuti pengorbanan dan kebaikan-kebaikan Nabi Ibrahim as, sebagaimana perintah ini juga ditunjukkan kepada Nabi kita Muhammad saw. Sehingga menjadikan nabi Ibrahim sebagai tokoh Idola yang diikuti adalah sebuah kewajiban, sebagaimana Allah ingatkan dalam Al Qur’an agar kita mengikuti agama dan kebaikan-kebaikan nabi Ibrahim karena pada dasarnya beliau memiliki uswah hasanah dalam segala dimensi kehidupan. Allah berfirman,

(ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ)

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”
[Surat An-Nahl 123]

Maka saking panjangnya nafas kebaikan dan jasa nabi Ibrahim dalam kehidupan kita, sampai-sampai kita diperintahkan untuk mengingat Nabi Ibrahim dalam shalat kita melalui bacaan shalawat kepada beliau, dan keutamaan tersebut semakin lengkap ketika perintah membaca shalawat kepada Ibrahim as disandingkan dengan shalawat kepada Rasulullah saw, sehingga disebut sebagai shalawat Ibrahimiyyah yang biasa dibaca pada tahiyat akhir dalam shalat, bunyi shalawat tersebut adalah,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وعلى آلِ إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَاركْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل إبراهيم في العالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Makanya diantara musibah yang menimpa amal shalih adalah ketika amal tersebut dilakukan dengan potensi yang tersisa, dan jauh dari prinsip totalitas.
Nabi dan para sahabat, mereka adalah sosok-sosok yang memiliki semangat dan totalitas yang tinggi dalam berjuang di jalan Allah, kita bisa lihat dalam peristiwa perang tabuk, perang yang sangat berat bagi Nabi saw dan para sahabat, karena menghadapi kekuatan yang sangat besar di kala itu yaitu Romawi dan terjadi di musim yang sangat panas, maka untuk itu, Beliau menganjurkan pengumpulan dana.

Pertempuran inilah yang menyebabkan Abu Bakar ra mengorbankan seluruh hartanya, sehingga ketika ia ditanya oleh Nabi SAW, “Apa yang kamu tinggalkan di rumahmu? Ia menjawab, “Kutinggalkan Allah dan Rasul-Nya bersama mereka.”

Umar ra juga telah mengorbankan setengah hartanya. Begitupun dengan Utsman ra yang mengorbankan perlengkapan perang untuk sepertiga pasukan. Beserta sahabat lainnya, menginfakkan lebih dari kemampuan mereka.

Padahal, pada masa itu keadaan para sahabat sedang susah, sehingga seekor unta harus dikendarai oleh sepuluh orang sahabat bergantian. Oleh sebab itu, perang ini pun disebut sebagai Jaysyul-‘Usrah yaitu pasukan kesulitan.

5. وجوب تحقيق التقوى في العبادات لا مجرد اسقاط الواجبات

Kewajiban untuk merealisasikan takwa dalam beribadah kepada Allah, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban.

Segala ibadah yang ditunaikan oleh kaum muslim pada hakikatnya adalah untuk melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa.
dan itulah bekal yang paling utama bagi seorang mukmin untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga Allah memerintahkan kepada kita untuk memperbanyak bekal ketakwaan, melalui serangkaian ibadah yang disyariatkan kepada kita untuk ditunaikan, Allah swt berfirman,

(وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَیۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ یَـٰۤأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ)

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”
[Surat Al-Baqarah 197]

Nah diantara hikmah syariat kurban adalah untuk mengantarkan diri menuju predikat ketakwaan disisi Allah, karena dalam syariat Ibadah kurban kita diajarkan untuk berjuang melawan penyakit bakhil dalam diri kita, dan sebaliknya ibadah kurban melatih kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang dermawan, dan menumbuhkan sifat kepedulian, dan rasa saling berbagi kepada orang lain, sehingga sifat-sifat yang mulia dalam diri orang yang berkurban dapat menjadi wasilah menuju taqwa, karena hanya sifat taqwa yang diterima oleh Allah dari ibadah berkurban. Allah swt berfirman,

(لَن یَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلَـٰكِن یَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ)

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
[Surat Al-Hajj 37]

No comments