Berburu Jejak Hewan Qurban di Pedalaman Hutan Muara Lembor

177 Views

Semak-Semak di pesisir muara Nangalili Lembor Selatan di Manggarai Barat menjadi tempat yang nyaman untuk segerombolan ternak Sapi dan kambing di daratan Flores. Mari Menyimak perjalanan Tim Tanmia Foundation berburu hewan qurban ke pedalaman dan bisa menjadi pilihan referensi perburuan tempat berkurban.

Alam Lembor Selatan adalah pemekaran dari Kecamatan Lembor Induk yang baru saja beberapa tahun terakhir. Banyak kalangan menyebut bahwasanya Lembor adalah urat nadi lumbung padi NTT dengan khas hamparan tanaman padi sepanjang musim.

Lembor juga merupakan kawasan muslim mayoritas di daratan Flores berada di wilayah pertengahan antara Labuan Bajo Komodo Manggarai Barat dan Manggarai. Menuju ke Lembor menghabiskan waktu 2 jam perjalanan dari pelabuhan Komodo Labuan Bajo.

Medan perjalanan darat Flores yang didominasi dengan sederetan rimba pegunungan terjal menjadi alam yang eksotis untuk dinikmati meskipun beberapa tahun terakhir labil terjadi nya bencana longsor dan pergerakan tanah , sisi lain pekerjaan ummat islam masih panjang dan didalamnya menyimpan sejuta impian dan harapan generasi penerus ummat dimasa depan mulai dari sekarang.

Dalam perjalanan pencarian hewan qurban ini, Tim Tanmia Foundation ditemani oleh Bang Rifal, guide sekaligus pemilik ternak di Lembor. Perjalanan pengalamannya menjadi penggembala ternak sudah berjalan lebih dari 10 tahun.

Dengan cekatan Bang Rifal menuntun kami menyusuri jalur setapak masuk menuju ke Muara Sungai untuk menyeberang ke dalam semak-semak hutan Muara Nangalili untuk menarik Sapi yang masih liar di hutan. Sesekali ia harus membayar pawang sapi untuk menangkapnya guna mengikat membawanya dengan menutup kepalanya agar jinak untuk bisa dibawa menyeberang ke daratan pemukiman. Berontak dan beringas bila melihat sesuatu yang asing karena bukan tuan-nya itulah sekelumit sapi liar yg tak dirawat oleh tuan-nya. Menjelang hari raya kurban hewan-hewan ini seketika harus diikat dan dijinakkan agar bisa dibawa tuan-nya.

Dengan perburuan mencari ukuran hewan kurban baik sapi maupun kambing yang berukuran besar dan layak rasanya membutuhkan energi ekstra, apalagi suasana Flores yg masih lekat bersahabat dengan alam liar, rasanya mencari hewan kurban yang sesuai dengan kriteria kami inginkan seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami. Jumlahnya terbatas dan tidak banyak sehingga membuat pencarian semakin sulit dan menantang.

Masuk Hutan Muara Nangalili
Setelah kurang lebih 15 menit menyeberangi muara sungai dengan sampan kayu dan masuk ke dalam semak hutan Nangalili akhirnya kami pun berjumpa dengan pawang hewan yang sedang menarik Sapi liar yg sudah kita cari dari hari sebelumnya.

“Sapi dan kambing biasanya tinggal di semak-semak pohon untuk mereka mencari makanan sepanjang harinya. Mereka tinggal dan tidur di sini,” jelas Bang Rifal.

Perjalanan seharian akhirnya berakhir dengan jarum jam menunjukkan pukul 17.30 WITA. Hari mulai gelap dan air sungai muara pun perlahan mulai surut sehingga perjalanan kembali ke daratan pemukiman sampailah bertemu gelap. “Nanti kita tiba di rumah setelah jam 19.00,” kata Bapa Rafi, Kakak Bang Rifal yang memang menemani perjalanan kami mencari hewan di semak-semak hutan muara.

Lelah itu pasti, tapi dengan sabar kami pun menunggu sampai matahari benar-benar tenggelam dan gelap mulai menyelimuti semak-semak hutan muara demi mencari perburuan hewan ternak untuk kurban yang sesuai dengan ukuran yang diharapkan.

Matahari senja pun mulai turun ke peraduannya. Kali ini sapi liar yang sudah ditutup matanya akan dijinakkan agar matanya lebar-lebar dan bersahabat dengan kami. Seperti biasanya sapi dan kambing itu melompat-lompat dan berontak ingin bebas sebagaimana ia dipelihara dialam liarnya karena harus memulai beradaptasi.

Sesuai rencana, sapi tersebut akan dibawa ke pedalaman Warsawe, dimana kampung para muallaf tinggal dipemukiman wilayah Mbeliling.

Hari mulailah gelap menjelang keheningan malam, agenda belumlah usai sampai langkah kaki harus melewati berkilo-kilo jalanan berbatu lepas menuju tempat bermalam.

Perburuan hewan kurban kami dihari kedua sampai di situ saja. Tapi belumlah cukup bagi kami untuk menyerah begitu saja sebelum terjun ke habitatnya, merasakan penat letih rasanya perjalanan yang jauh untuk mendapatkan hewan yang diinginkan. Ini adalah amanah yang harus tertunaikan dan tanggung jawab bukan sekedar asal-asalan saja. Bukan menggampangkan sekedar mudahnya mengambil hewan layaknya di kandang peliharaan. Tapi sudah menjadi amanah yang sepantasnya ditunaikan untuk menjaga amanah para shahibul qurban dan keberlanjutan keberkahan dakwah dimasa depan. Barakalallahufiekum

Ali Azmi
Relawa Tanmia
Nusa Tengga Timur

No comments