Penyuluhan Kesehatan Untuk Santri Tahfizh Tanmia

Bismillah washolatu wassalaamu ala Rasulullah..

Menimbang pentingnya ilmu kesehatan dan dasar-dasar pencegahan penyakit khususnya bagi Anak-anak,dengan izin Allah pada hari Ahad,10 maret 2019 Ma’had Tahfizh Qur’an At-tanmia bekerjasama dengan para wali santri menyelenggarakan kegiatan SEMINAR KESEHATAN dengan beberapa Narasumber diantaranya :
1. Dr. Nylvia lamsari sardy. Spm
2. Dr. Shinta dewatha
3. Dr. Fitriani
4. Drg.H.D.Pudjiadi S

Kegiatan penyuluhan meliputi penyuluhan kesehatan tubuh , mata, gigi dan mulut serta mengenalkan makanan sehat untuk anak dalam mencapai gizi yang seimbang.

Kegiatan yang dialaksanakan dari pukul 08.00-12.00 wib, diharapakan dapat memberikan edukasi kesehatan khususnya bagi para siswa/ santri boarding didalam menjaga kesehatan dari penyakit-penyakit yang lumrah penyebarannya diarea umum atau pondok pesantren.

Kami mengucapkan terima kasih kepada para Donatur dan pengurus sehingga kegiatan SEMINAR KESEHATAN dapat terlaksana dengan baik.

Jazakumullah khayran katsiran
Tanmia,10 Maret 2019.

Tanmia Distribusi pakaian layak pakai di Pulau Salura, Pulau Terluar Perbatasan dengan Australia

Geografi Indonesia yang tersebar luas dengan lebih dari 18.000 pulau menjadikan negeri ini sangat kaya melimpah. Namun bukan berarti telah merata kesejahteraanya, sisi lain masih banyak akses pulau terpencil yang sulit untuk dijangkau bahkan jaringan internet pun tidak bisa mencapai pulau-pulau tersebut.

Sehingga ketertinggalan dalam berbagai hal menjadikan fenomena yang miris memprihatinkan sampai saat ini. Naasnya sampai sekarang banyaknya penghuni pulau yang rela bertahan dengan sendirinya mencari penghidupan tanpa ada perhatian yang layak dari pemerintah bahkan terbilang masih sebelah mata diperhatikan nasibnya. Bahkan masih jauh dari kata sejahtera para penghuni pulau-pulau terpencil tersebut.

Misi distribusi bantuan Pulau Sumba Tanmia Foundation akhirnya tiba saatnya menuju Pulau Salura. Salura adalah pulau di ujung selatan Pulau Sumba yang menjadi wilayah perbatasan pulau terluar Indonesia dengan Australia. Luas Pulau Salura ini kurang lebih sekitar 620 hektar masuk dalam wilayah kecamatan Karera Kabupaten Sumba Timur yang hanya berjarak 800 Mil saja dari Australia yang terletak jauh di sisi Selatan Pulau Sumba. Kota besar yang terdekat adalah Waingapu dengan jarak 110 KM.

Dari Kota Waingapu menuju Salura perjalanan darat sekitar enam sampai delapan jam untuk bisa sampai ke pelabuhan kampung di Desa Katundu dengan menggunakan bus oto pedesaan ( truk yang biasa mengangkut orang, ternak dan barang ke wilayah pedesaan).

Perjalanan panjang dan melelahkan itu pun dilengkapi dengan jalur terjal yang cukup sulit. Sampai sepertiga perjalanan di bukit Tanarara seterusnya dan setengahnya perjalanan adalah jalan bebatuan yang ekstrem. Namun penatnya perjalanan selalu saja alam menghibur dengan perjalanan menyusuri daratan padang savana Sumba yang sedang hijau-hijaunya saat musim hujan.

Hujan sering kali mengejar datang tapi nampaknya menjauh kembali dihempas angin sehingga kendaraan kami tetap nyaman berjalan sekalipun jok kayu yang keras berjam-jam kami duduki melewati jalan bebatuan yang rusak. Boleh dibilang jalur ke Salura sendiri terdiri dari 30% jalan mulus, 30% setengah mulus dan 30% hancur lebur. Sisa 10% dari perjalanan adalah penyeberangan menuju Samudera Hindia saat menyeberang nanti.

Perjalanan darat pun akhirnya usai di kampung Katundu lalu akan berlanjut dengan kapal kayu menuju Pulau Salura esoknya. Bulan Januari – April adalah musim angin dan gelombang tinggi sehingga jalur laut yang akan menuju seringnya mengombang -ambingkan kapal sehingga kapal penumpang jarang sekali lewat berlabuh kecuali hari-hari pasar tradisional yang buka setiap hari Selasa saja. Jalur ke Salura bisa ditempuh dengan kapal kayu selama satu jam saja lalu akhirnya sampai di bibir pantai Pulau Salura.

Distribusi bantuan pakaian layak pakai Tanmia Foundation berangkat dari Waingapu akhirnya diterima oleh Bapak Sahlan selaku sekretaris desa Salura yang sudah menunggu di Kampung Katundu. Memang sudah sempat berkomunikasi sebelumnya jelang pemberangkatan pengiriman bantuan. “Ada 11 Coli bantuan yang bisa dimuat dalam truk yang selanjutnya akan didistribusikan ke penduduk pulau Salura”, jelas Basyar selaku crew Tanmia yang mengawal hingga lokasi. Tak hanya itu, turut menyambut juga beberapa penduduk yang sedang menunggu kapal menuju Salura. Dari keterangan informasi yang di dapat mayoritas penduduk Pulau Salura sendiri adalah beragama Islam, ada 2 buah masjid dan sekolah dasar serta SMP yang berdiri disana.

“Bantuan akan didistribusikan ke warga dibeberapa dusun di Pulau Salura, hingga saat ini yang tercatat di Pulau Salura ditinggali 618 jiwa yang tersebar dalam 139 keluarga”, menurut keterangan Sahlan, Sekertaris Desa Salura yang menyambut kedatangan Tim Tanmia.

Sahlan yang juga sekali waktu berkunjung ke kota untuk urusan dinas juga memberi keterangan bahwa Pulau Salura hanyalah satu dari tiga pulau yang tercatat sebagai daerah yang berpenduduk. Pulau Kotak (alias Pulau Kambing) dan Pulau Mengkudu adalah dua pulau lainnya yang masih lumayan berdekatan namun tidak berpenduduk.

Sehingga sampai saat ini baru Pulau Salura yang didiami manusia. Pulau Kotak atau lebih ditinggali oleh hewan ternak kambing sedangkan Pulau Mengkudu masih belum berpenghuni. Mengenai kegiatan mata pencaharian penduduk pulau Salura adalah nelayan yang sudah belasan tahun dan hingga saat ini masih tertatih untuk mendapatkan perhatian dan penghidupan yang lebih baik layak penduduk yang berada di pesisir perbatasan lainya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Sumba, NTT

Distribusi Bantuan Untuk Muallaf di Ngadu Mbolu dan Watuasa Mamboro Sumba Tengah

Sumba Tengah —Sekitar 40 KK Muallaf di Ngadu Mbolu dan Watuasa Mamboro Sumba Tengah menerima bantuan pakaian layak pakai dari donatur Tanmia Foundation, Rabu (28/2/2019). Pakaian tersebut terdiri dari gamis, hijab, dan pakaian dari usia anak-anak hingga dewasa.
“Sebelum didistribusikan, pakaian dipilih yang masih layak, dipilah berdasarkan jenis kelamin dan usia. Pakaian memang sudah bersih disortir , dipacking, dan siap didistribusikan. Kita pastikan pakaian benar-benar layak, bermanfaat, dan aman digunakan,” terang Saiful salah satu crew Tanmia Foundation di Lapangan.

Pakaian layak pakai ini diharapkan dapat membantu para muallaf yang memang masih perlu diperhatikan. Tidak sedikit dari mereka yang keseharianya dengan pakaian seadanya karena situasi dan kondisi yang jauh dari sejahtera. Namun sekalipun demikian, berprinsip menjadi seorang islam tetap menjadi pegangan kuat sebagai bekal yang selalu dipegang erat-erat.

“Alhamdulillah hanya kepada Allah kami berdoa, semoga Allah memberi keberkahan melimpah untuk muhsinin yang memberi bantuan”, ucap
Abdul Kadir Ana Wona salah seorang warga setempat yang sehari-harinya sebagai imam Masjid Al Bahar di Ngadu Mbolu, Umbu Ratu Nggai Barat Mamboro.

Mata pencaharian kehidupan muallaf beraneka ragam, mulai dari cocok tanam, buruh berladang, menggembala ternak dan membuat garam di pesisir sudah menjadi sahabat keseharian yang sudah belasan tahun untuk menyambung hidup bahkan ketika musim kering melanda bahan makanan pun rela mereka simpan di pepohonan agar bisa digunakan ketika musim paceklik.

Kampung Muallaf Watuasa Mamboro adalah wilayah Kabupaten Sumba Tengah yang direspon oleh Tanmia Foundation untuk daerah binaan dan pendistribusian bantuan. Selain distribusi bantuan pakaian layak pakai, tim Tanmia juga melakukan sosialisasi tentang keberadaan kegiatan pesantren Al Itqan yang masih dalam naungan Tanmia Foundation yang bergerak di bidang pendidikan berbasis pesantren untuk menampung para putra-putra terbaik daerah agar mendapatkan pembinaan keilmuan yang lebih baik.

Bercengkerama dengan warga muallaf yang berada di pedalaman jauh dari kata layaknya hidup ideal di perkotaan metropolitan sangat mengetuk pintu relung hati bagi siapapun yang masih punya rasa peduli dan dermawan. Terketuk hatinya untuk membantu mereka tidak hanya dengan pakaian yang layak, bahkan impian sebagai seorang muslim yang luar biasa ialah bagaimana ia bisa mengangkat kehidupan mereka menjadi lebih baik dengan terpenuhinya hak-hak dasar baik sandang, pangan dan papan tempat tinggal yang layak. Sehingga saat ini masih sangat membutuhkan bantuan-bantuan yang terus mengalir untuk menguatkan keislaman mereka agar tidak kembali ke keyakinan “Merapu” keyakinan pada leluhur nenek moyang yang identik dengan animisme dan dinamisme.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

Ekspedisi Bantuan Untuk Muallaf Telah Sampai di Daratan Sumba

Pengangkutan Ekspedisi bantuan Tanmia Foundation akhirnya sampai di Tanah Marapu Waikabubak Sumba Barat pada 27/2/2018. Pengiriman bantuan kemanusiaan berupa pakaian layak pakai ini sebanyak 45 koli ini diangkut dari gudang Tanmia yang berada di Jakarta dan akan didistribusikan ke titik kantong-kantong muallaf di daratan Sumba baik di Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur dan Pulau Salura yang merupakan titik terluar yang berbatasan dengan Laut Australia.

Armada truk yang sudah penuh perjuangan telah mengarungi lautan Selat Bali, Selat Lombok, Selat Sumbawa dan bersilang di selat Flores untuk menuju laut Sawu Sumba. Bukan hal mudah untuk menuju lokasi disamping cuaca musim penghujan yang sudah tiba dan gelombang laut yang berubah tak menentu.

“Syukur Alhamdulillah, semua karena kehendak Allah menggerakan rasa peduli dan berbagi terus mengalir untuk kami dari saudara iman kami yang jauh untuk para muallaf di Sumba dan tak saling mengenal sebelumnya”, jelas Saiful salah seorang da’i para muallaf yang menerima ekspedisi di Waikabubak.

Sumba adalah destinasi pulau yang sangat kuat dengan kasta dan tradisi marapu ( kepercayaan leluhur nenek moyang ) yang sudah turun temurun dari ratusan tahun dan lintas generasi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perkembanganya di daratan Sumba tak sedikit lahir kesadaran keislaman para muallaf yang tersebar di berbagai daerah daratan Sumba. Dalam hal ini, Tanmia Foundation turut menyambung menguatkan jalinan ukhuwah dan berbagi kebaikan untuk keberkahan para kaum muslimin di penjuru negeri dengan kemampuan yang ada. Nafas kebaikan tak begitu saja berhenti lantaran tidak saling mengenal sebelumnya tapi sambung menyambung kepedulian terus digalang sekali pun di belahan bumi yang jauh.

Semua sama berjuang berlelah-lelah tapi keikhlasanlah yang menentukan hasil akhir.Karena Imanlah kunci semua penggerak lokomotif kebaikan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

Penerimaan santri Baru Pesantren Al Itqan Jatirangga – Jatisampurna – Bekasi – Jabar

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Segala puji hanya milik Allah rabb semesta alam, shalawat dan salam selalu tercurahkan kepangkuan nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Pesantren Islam Al Itqan adalah Sekolah untuk menghafal Al Quran, mempelajari berbagai disiplin ilmu syari dan ilmu bahasa arab serta memiliki komitmen kuat untuk mengajarkannya kembali kepada masyarakat.

Mulai dari 1 January hingga 28 Maret 2019 membuka pendaftaran santri baru tahun ajaran 2019 – 2020 tingkat SLTA Khusus Putra (ikhwan), dengan kuota maksimal 40 santri, bagi bapak dan ibu yang ingin mendaftarkan putranya dapat datang secara langsung ke pesantren Al Itqan, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Demi mendukung keberhasilan program pendidikan Al Hamdulillah Pesantren telah memiliki guru – guru pendidik yang mumpuni dan dengan kualitas yang sangat baik, diantaranya adalah sebagai berikut:

0.  Al Ustadz Muhammad Aniq. Lc. SS.I. MPd
0.  Al Ustadz Iqbal Subhan Lc. MA
0.  Al Ustadz Muhammad Rofiq Lc
0.  Al Ustadz Bukhari Abdul Muid Lc
0.  Al Ustadz Rival Azwar Lc
0.  Al Ustadz Abu Hanif Lc
0.  Al Ustadz Kholid Mirbah Lc
0.  Al Ustadz Ihsan Isnaini Lc
0.  Al Ustadz Mansur Al Hafizh
0.  Al Ustadz Fadhil Kamil
0.  Al Ustadz Umrawi
0.  Al Ustadz Nur Abduh
0.  Al Istadz Antoni
0.  Al Ustadz Jailul murobbil haq
0.  

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 0813 18236060‬/ ‭0812 99336013‬
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Atas perhatian dan Partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan, Barakallahu fiekum.

Desa Pejem menunggu bantuan Dai

Kamis 7 february Tanmia foundation mendapat kesempatan untuk bersilaturahim ke Dusun Pejem, Desa Gunung Pelawan, kecamatan Belinyu, Bangka belitung, perjalan cukup jauh dari Kota Pangkal Pinang, kira – kira 100 KM dari bandara Depati Amir berdiri, meski perjalanan terhambat sedikit dengan delay hampir satu jam lamanya, namun alhamdulillah perjalan lancar.

Tiba di kota Pangkal pinang langsung disambut oleh Ustadz Ali Muttaqin pendiri sekolah Islam Al Mansyur, lebih 10 tahun sudah beliau berkiprah di Bangka alhamdulillah sudah banyak kegiatan dakwah yang beliau jalankan, dari mendirikan SDIT Al Mansur, mendistribusikan dai, pesantren tahfizh masih dalam perencanaan, in syaa Allah akan berdiri di atas lahan 4000 M2, di dekat kota Pangkal Pinang.

Perjalanan ke Dusun Pejem kami diantar oleh beberapa orang ustadz dan Lazis Muhammadiyah yang diwakili oleh bapak Umar dani, beliau menemani perjalanan kami hingga ke lokasi, wilayah dusun Pejem memang lokasi terujung pulau bangka, masyarakat di wilayah ini masih ada sekitar 30 persen yang belum memiliki agama, masyarakat adat di dusun ini ada 2 suku, Lom dan Lah. Dari makna harfiyah dalam arti bahasa bangka kata “Lah” berarti sudah, dan “Lom” berarti Belum, maksudnya suku Lom adalah belum beriman (islam), dan Lah sudah beriman (islam).

Dahulunya masyarakat suku ini enggan untuk membaur dengan masyarakat yang sudah modern, seringnya mereka menutup diri layaknya suku Badui dalam di Jawa barat, namun sekarang mereka sudah membaur dengan masyarakat, mereka juga tidak memiliki pakaian adat, sehingga kita tidak lagi menemukanciri khas atau rumah adat mereka yang terbuat dari kayu dan atap dari daun nipah, meskipun masih terlihat satu dua rumah adat mereka di tengah dusun itu.

Gerakan dakwah di tempat ini terbilang sangat minim, karena posisinya yang cukup jauh dari pusat kota, namun alhamdulillah jalan hingga ke lokasi sangat bagus aspal halus sehingga tidak perlu hawatir soal hambatan di jalan menuju lokasi.

Di masjid dusun ini ada seorang Dai muda ustadz Ramdhani asal palembang yang sengaja diutus oleh kampus beliau di Palembang untuk berdakwah di dusun ini, alhamdulillah banyak kegiatan yang beliau tangani, dari mengajar santri TPQ, kajian bapak – bapak, kajian ibu – ibu, hingga pembinaan Muallaf dari suku Lom, perjuangan beliau di tempat ini terbilang besar, lokasinya yang sangat jauh dari kota sehingga sinyal handphone pun jadi barang amat langka di tempat ini, kehadiran beliau di tempat ini dirasakan oleh masyarakat sangat besar manfaat dan faedahnya.

Kami tiba di dusun Pejem jam 2 siang, kami temui ustadz ramdhani di rumah pak RT dusun tersebut, tempat beliau tinggal, alhamdulillah kami disambut dengan baik, rambutan khas dusun ini dan teh menjadi jamuan kami di tempat itu.

Dalam obrolan santai siang itu banyak masukan dan saran dari sang ustadz untuk Tanmia untuk program kegiatan dakwah dan sosial di masa yang akan datang, pada akhir pertemuan itu kami distribusikan Al Quran wakaf untuk masyarakat sekitar, mudah – mudahan menjadi amal jariyah buat kita semua. Aaminn ya rabbal alamin.

Perjuangan Anak-anak Sekolah di Pedalaman Ujung Kulon Menempuh Sekolah Idaman

Sejenak menelisik perjuangan yang ditempuh oleh anak-anak sekolah di perkampungan Rancecet Ranca Pinang Ujung Kulon serasa menggugah nurani untuk mengetuk rasa peduli.

Tak sedikit anak-anak di sana banyak yang terpaksa putus sekolah karena pelbagai alasan, dari soal akses hingga biaya. Banyak dari mereka memutuskan bekerja membantu berkebun orang tua di ladang ataupun di sawah. Padahal, usia mereka selayaknya masih di bangku sekolah. Mendapatkan pendidikan yang layak sangat lah berat, karena akses untuk menuju sekolah sangat sulit di lalui oleh kendaraan, hanya dengan cara berjalan kaki mereka menuju ke sekolah dengan melalui jalanan yang berlumpur.

Semua itu ternyata tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan ilmu, berangkat subuh pulang sore dengan membawa perbekalan nasi yang terselip di tas ranselnya sudah tidak menjadi persoalan bagi mereka yang penting masih bisa merasakan menuntut ilmu di sekolah dan mendapatkan bekal ilmu pengetahuan untuk asa cita harapan masa depan mereka layaknya anak-anak yang tinggal di perkotaan. Kondisi serba ala kadarnya sederhana tak mengurangi kegigihan dalam menuntut ilmu, dengan raut wajah yang ceria gembira selalu menghiasi suasana ketika sampai disekolah bertemu dengan guru teman-temannya.

Relawan Tanmia Foundation mencoba berbagi cerita bercengkerama dengan dua orang siswa Madrasah Ibtidaiyah Al Huda, bernama Eji Maulana dan Suher yang sekarang duduk di bangku kelas 6 dan kelas 5, setiap hari harus berangkat sekolah jam 6 pagi-pagi buta selepas subuh supaya sampai sekolah tepat waktu dengan jadwal masuk, mereka bercerita keluh kesahnya selama menempuh perjalanan menuju sekolah.

“Kebiasaan sejak awal masuk sekolah setiap datangnya musim hujan tiba, sepatu di tenteng ditangan dan baju seragam sekolah di masukan ke dalam tas karena jalanan menuju sekolah penuh lumpur dan tidak ada tempat berteduh”, ungkap Eji yang akrab disapa kawan sebangkunya di sekolah.

kebiasaan mereka sudah menjadi kebiasaan setiap hari karena ada kekhawatiran sepatu dan baju seragam kotor selama menempuh perjalanan yang berlumpur, ketika mereka sudah sampai ke sekolah barulah mereka memakai baju seragam dan sepatu, begitu pula sepulangnya sekolah.

Baru sepekan ini relawan Tanmia Foundation berkunjung ke wilayah ini tak lain ialah menyapa dengan kepedulian dalam hal pendidikan. Ada kalanya relawan seperti kami datang meski tidak hanya untuk mengajar, tapi mencoba berbagi empati dengan kemampuan yang ada dan mengabarkan akan informasi keberadaan adanya sekolah yang masih eksis ditengah keterbatasan pedalaman”, tutur Azmi relawan Tanmia dilokasi.

Walhasil, ternyata mereka sedang membutuhkan donasi untuk membantu perlengkapan sekolah murid-murid peserta didiknya dan membangun ruang belajar yang layak. Para orang tua dan guru yang selalu memberi motivasi kepada anak anaknya terus didengungkan agar mereka tidak patah semangat, namun dikalangan para orang tua terkadang ada kekhawatiran terhadap anak anaknya dikala musim penghujan datang, basah kuyup sudah menjadi langganan mereka walau memakai payung, ada juga orang tua yang sengaja menunggu anaknya di di perjalanan karena ada kekhawatiran terhadap anak anaknya, namun semua itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menyekolahkan anak anaknya.

Setelah dibangunkan ruang belajar dengan tiga ruang kelas dengan ukuran satu ruang yang berukuran panjang 3 meter dan lebar 4 meter persegi alhamdulilah bisa sedikit membantu meringankan anak anak sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-huda yang berlokasi di kp Erjeruk desa Rancapinang kec Cimanggu kab Pandeglang Banten. Walaupun keadaan sekolah masih jauh dari kata layak, akan tetapi sedikit mengurangi kekhawatiran para orang tua.

Kebutuhan gedung sekolah, meja dan kursi sebanyak 40 unit menjadi kebutuhan yang sangat mendasar untuk tercapainya proses belajar mengajar yang nyaman.

“Banyak yang memilih putus sekolah karena memang kondisi sekolahnya begini ala kadarnya. Nah yang tersisa saja kami jaga biar tetap lanjut bersekolah. Saat ini kami sudah mulai membangun kelas baru 3 x 4 m yang sedikit layak buat mereka,” kata seorang pengajar, Ustadz Fatoni.

Kegiatan Tanmia Foundation dalam hal ini turut berbagi dan mengabarkan kondisi yang ada di lapangan. Berbagi empati membangun kepedulian untuk mengetuk uluran tangan para dermawan untuk turut membantu meringankan pendidikan bagi anak-anak didik di pedalaman layaknya mereka yang berada di perkotaan.

Relawan memang sesekali datang tanpa sepeser pun pamrih, meski harus berkendara atau berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk bertemu anak-anak tapi ironisnya belum membuka wacana pihak lain sekelas pemerintah untuk hadir memberikan perhatian. Inilah saatnya kita berperan dengan do’a dan tindakan nyata. Berbagi kebaikan itu membahagiakan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Ujung Kolon

Sumur Untuk Rumah Tahfidz Amanah di Tambu Donggala Membantu Pasokan Ketersediaan Air

(Jum’at 11/01/2019) Tanmia Foundation bersama warga dan pengurus Pesantren Rumah Tahfizh Amanah berhasil merehabilitasi fasilitas air yang sempat tersendat beberapa waktu lalu pasca bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala. Rumah cikal bakal pesantren ini berasal dari rumah milik warga yang diwakafkan di Tambu Balaesang Kabupaten Donggala yang memang sudah tidak dihuni lagi setelah bencana.

Dalam waktu dekat ini Pesantren Rumah Tahfizh Amanah siap dipakai kegiatan belajar mengajar dan segera menampung para santri calon penghafal Qur’an yang berada dikawasan terdampak langsung bencana di Kecamatan Balaesang dan Balaesang Tanjung.

“Air menjadi kebutuhan pokok dan mendesak bagi warga dan santri disini, sehingga perlu adanya sumur bor, sebelumnya sudah pernah dibuatkan sumur gali namun macet tertimbun setelah gempa. Sehingga kebutuhan air untuk sementara ini kami ambil dari tempat warga setempat atau menunggu pasokan air tangki yang dengan cara membeli atau dari relawan” kata Naim, selaku pengurus pesantren. Usaha memperbaiki sarana air dengan membuat sumur bor berikut tower penampung air diharapkan dapat membantu memecahkan masalah ketersediaan air.

“Rasa syukur kita haturkan kepada Allah beribu kali dan semoga amal jariyah senantiasa berkah mengalir disetiap tetesnya pada para muhsinin yang telah berkontribusi dalam proyek amal sholeh ini”,ungkap Ustad Ridwan selaku tokoh da’i setempat menyambut serah terima wakaf sumur dari Tanmia Foundation di lokasi pada Jum’at yang penuh barakah ini.

Mari menjadi bagian yang mengalirkan kebaikan untuk hidup yang lebih baik dan penuh berkah kebahagiaan yang hakiki.
Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Distribusi Perlengkapan Sekolah, Anak-Anak korban Tsunami Kebali tersenyum

Tsunami yang terjadi di Banten dan Lampung bukan saja menjadi pemandangan memprihatinkan bagi para korban yang meninggal atau kehilangan kerabat keluarganya saat berada dilokasi. Anak-anak sekolah pun harus diliburkan untuk beberapa saat karena sekolah dan beberapa fasilitas pendidikan yang ada juga terdampak musibah tsunami di Sumur Pandeglang.

Seiring berjalanya hari dan waktu dilokasi relawan Tanmia Foundation juga mendapatkan informasi tentang keberadaan sekolah yang terisolir lainya yang juga terdampak air gelombang pasang pasca tsunami.

Alhamdulillaah, bersama warga setempat tim Tanmia Foundation akhirnya mengunjungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-Huda di Kampung Rancecet Desa Rancapinang Kec. Cimanggu Ujungkulon Pandeglang. Perjalanan memakan dua jam dengan kondisi jalan berlumpur untuk bisa menuju Rancecet dari pesisir Kec. Sumur Pandeglang.

Berdasarkan informasi warga setempat banyak para pengungsi pesisir yang membawa anggota keluarganya sampai ke bukit-bukit yang lebih tinggi agar aman untuk sementara waktu di Ujung Kulon.

Mengunjungi Madrasah Ibtidaiyah Al-huda adalah sebuah perjuangan dan kebahagiaan para relawan. Bertemu dengan keceriaan para siswa-siswi yang tetap bersabar dan bertahan dengan segala keterbatasan di tempat yang jauh dan sulit untuk dijangkau apalagi kegiatan belajar mengajar mereka sempat tersendat lumpuh beberapa saat akibat darurat bencana.

Belum cukup di sini saja kendati sekalipun berdiri sejak 2009 namun MI Al-Huda sampai saat ini hanya memiliki 3 lokal kelas sederhana saja ‘alakullihal bisa dipakai untuk kegiatan belajar mengajar saja sudah bersyukur.

Seringnya kelas yang terbatas ini harus dipakai saling bergantian untuk keperluan anak-anak kelas jauh sehingga harus bersabar dengan kondisi yang ada.

Melihat kondisi hal tersebut, Tanmia Foundation bersama-sama dg tim relawan dan warga setempat berinisiatif menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah. Sebanyak 80 siswa-siswi reguler dan kelas jauh mendapatkan perlengkapan sekolah berupa alat tulis, buku, alquran, hijab dan aneka perlengkapan lainya.

“Alhamdulillaah, bantuan ini sangat berkesan di hati para murid dan pihak pengelola sekolah, apalagi keadaan sekolah yang sangat sederhana dan lokasi yang jauh sulit dijangkau mustahil untuk dikunjungi kecuali semua karena kehendak Allah Ta’ala saja” ungkap syukur Ustadz Fatoni selaku pengelola sekolah. Di waktu yang sama, bersama Posko kemanusiaan relawan lokal juga berinisiatif berbagi keceriaan ditengah suasana murid memulai masuk belajar di kelas dengan berbaris meneriakan takbir-takbir semangat dan meniupkan balon mainan untuk mencairkan kepenatan suasana yang selama ini ada.

Pihak pengelola sekolah juga masih berusaha untuk mengembangkan kondisi sekolah yang masih sederhana ala kadarnya agar lebih layak lagi sehingga para murid bisa giat dan tetap melanjutkan belajar meskipun dalam suasana keterbatasan. Sejak berdiri pertama kali 2009, belum banyak perubahan yang ada hanya tiga lokal kelas saja adapun guru-guru pengajar juga masih jauh dari kesejahteraan sehingga sangat dibutuhkan dukungan dari pihak manapun demi mendukung majunya proses pendidikan dan kegiatan belajar anak-anak yang lebih baik.

Di sekolah ini pelajaranya pun variatif dari pelajaran diniyah agama, bahasa inggris, matematika dan kreativitas seni lainya.

“Membantu sekolah ini adalah bagian dari bagian program utama untuk memajukan pendidikan dan prioritas di masa pemulihan bencana yang dilakukan Tanmia Foundation bersama posko kemanusiaan relawan lokal, karena kami sadar bahwa pendidikan anak-anak adalah kebutuhan utama yang harus terus ada dan ditingkatkan kualitasnya dengan penunjang belajar agar menjadi terus lebih baik” jelas Ari salah satu relawan Tanmia yang mengantarkan bantuan.

Kegiatan berbagi ini memberikan kegembiraan tersendiri bagi anak-anak dan membawa perubahan semangat agar tetap optimis dimasa depan. Kondisi ditengah pedalaman dan keterbatasan adalah rangkaian proses ujian dan tantangan kesulitan yang tidak boleh menghalangi mereka untuk tetap belajar. Bantuan yang ada adalah kebahagiaan bagi para muhsinin lantaran balasan pahala yang disemai dan kini saatnya mereka senyum kembali untuk menikmati indahnya belajar ditengah sunyi jauhnya Ujung Kulon.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Banten

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) MAHAD TAHFIZH QUR’AN AT-TANMIA USIA DINI THN AJARAN 2019/2020

Alhamdulillah washolatu wassalaamu ‘ala Rasulullah wa ba’du :

Telah kami buka pendaftaran penerimaan santri baru Ma’had Tahfizh Qur’an At-tanmia untuk tahun pelajaran 2019-2020.

📚 Syarat-syarat pendaftaran :

  1. Calon santri berusia 9-12 thn
  2. Sehat jasmani dan rohani
  3. Mampu membaca Al-quran dengan baik dan benar
  4. Bersedia menempuh pendidikan selama 3 thn
  5. Menyerahkan foto copi Akta Kelahiran 2 lembar
  6. Menyerahkan foto copi Kartu Keluarga 2 lembar
  7. Melengkapi berkas pendaftaran lainnya ( apabila diterima )
  8. Membawa surat rekomendasi dari tokoh /lembaga
  9. Menunaikan biaya pendaftaran

Waktu pendaftaran :
🗓 Hari /tgl : Sabtu-Ahad 02-03 Februari 2019
⏱ Pukul : 08.00-11.30 Wib( sesi pertama )
13.00-16.00 Wib( sesi kedua )

🖨 Tempat pendaftaran :
di Ma’had Tahfizh Quran At-tanmia
Jl Lurah Namat Rt02 Rw 06 kel Jatirangga kec Jatisampurna – Bekasi.

☎ Kontak person yang ddhubungi :
Ust Zainuddin ( ketua PPDB) : +62 823 62057094
Ust Arif Maulana ( wakil Mahad ) :+62 899 8544373
Ust Abda ( Bendahara ) :+62 895 01829654

*) pendaftaran hanya dilaksanakan ditempat

🍀 SELAYANG PANDANG MA’HAD TAHFIZH AT TANMIA

Mahad Tahfizh Quran At -tanmia merupakan sebuah lembaga dakwah non formal yang memilih fokus terhadap pendidikan Al-Quran anak usia dini ,disamping itu Selain berfokus kepada Hafalan Al-quran Mahad Tahfizh Quran At-tanmia memberikan pendidikan dasar-dasar berakidah ahlus sunnah wal jama’ah yang penting diketahui oleh anak-anak seperti Tauhid,Fiqih,sirah,Tahsin,Adab dan hafalan matan-matan tajwid.

Dengan harapan Mahad Tahfizh Quran At tanmia mampu mencetak kader-kader ilmuan islam yang berakhlakul karimah yang mampu berkhidmat kepada umat manusia sebagaimana para pendahulunya dari kalangan Salafu As- shalih.

•┈┈┈••❁🍀☘🍀❁••┈┈┈•

Informasi :
🏠 Ma’had Tahfizh Quran At-tanmia jl Lurah Namat rt02 rw06 kelurahan Jatirangga Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi 17434

Call /Whatapp center :
📱082117912070

Tanmia Distribusi Bantuan Kemanusiaan Ke Posko-Posko Pengungsian Sumur Pandeglang

Estafet perjalanan tibalah di Sumur Pandeglang Banten. Usai distribusi bantuan ke Way Muli dan Pulau Sebuku – Pulau Sebesi Lampung Selatan tim Tanmia Foundation langsung terjun ke lokasi warga di pengungsian kampung Legon Sumber Jaya Sumur Pandeglang yang menjadi korban amukan tsunami pada 22/12/2018.

Akses ke Kecamatan Sumur dari jalur pesisir Tanjung Lesung yang sempat terputus sudah bisa dilewati setelah jembatan sementara dipasang sudah sepekan ini. Kecamatan Sumur Pandeglang merupakan salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.

Jalan ke lokasi lewat pesisir masih belum sepenuhnya lancar ada beberapa ruas yang harus bergantian karena sempit, kondisi jalan yang juga berlubang dan becek kubangan berlumpur menambah sederet kesulitan ke lokasi. Bahkan Januari ini sudah memasuki cuaca musim hujan yang cukup lebat sehingga menjadi kewasapadaan tersendiri bagi para relawan dan warga saat ini.

Distribusi Tanmia Foundation menuju Kampung Legon RT 16 yang berada di Desa Sumber Kecamatan Sumur. Sebanyak 90 KK terdampak dengan 30 KK kehilangan tempat tinggal menjadi sasaran distribusi paket logistik bantuan kemanusiaan Tanmia Foundation. Logistik bahan pokok, sarana kebersihan dan perlengkapan rumah tangga disiapkan untuk dibagikan melalui perangkat dusun setempat yang berkordinasi dg relawan Tanmia. Dusun Legon adalah salah satu dari sekian kampung yang terkena tsunami cukup parah di Kecamatan Sumur.

Lokasi pengungsian di wilayah ini masih menggunakan terpal seadanya selain itu juga terkendala kurangnya tenda untuk pengungsi yang sudah berkeluarga berjumlah banyak.

“Ada sekitar 30 KK rumah warga kami yang hanyut diterjang tsunami, sekarang tersebar tinggalnya, baik di tenda, di rumah kerabat dan berpindah ke luar daerah karena trauma” jelas Mang Edong warga Legon saat ditemui relawan dirumah anaknya. Mang Edong termasuk kehilangan rumahnya yang hanyut beserta isinya setelah digulung tsunami malam itu, kini ia menumpang sementara dirumah anaknya yang berada di tetangga kampung dusun sebelahnya.

Sebulan berjalan pasca bencana persediaan logistik termasuk over supply ke titik-titik tersebut, itu tak lain peran dan kerjasama berbagai pihak relawan dg pemerintah dapat berjalan baik dg masayarakat setempat.

Kendati demikian, selalu ada saja titik-titik lokasi yang minim diperhatikan dan terkadang akurasi yang kurang tepat sasaran prioritasnya.

Permasalahan dilokasi bencana memang kompleks, selain kebutuhan dasar yang terbatas juga dampak sosial yang ditimbulkan. Tak sedikit menjumpai anak-anak dibawah umur menjadi peminta-minta sepanjang jalanan menuju Kecamatan sumur padahal seharusnya ada tindakan arahan antisipasi sosial dampak sebelumnya.

Kini terlihat warga nelayan sekitar pesisir masih membersihkan puing-puing rumah dan memperbaiki kapal-kapalnya untuk bersiap berlayar melaut kembali. Pasca tsunami memang masih sepinya tingkat konsumsi ikan, ini sangat beralasan karena warga masih cemas dengan masih banyaknya puluhan orang yang dinyatakan hilang sampai saat ini belum ditemukan oleh BNPB diperkirakan bisa saja dilahap ikan-ikan dikedalaman laut.

Dari data yang dilansir BNPB hingga pertengahan Januari sebanyak 437 orang meninggal dunia dan puluhan lainya belum diketemukan setelah kejadian ini. Sementara kerugian ekonomi juga masih dalam pendataan dan diperkirakan hingga angka trilyunan rupiah.

Pantauan dari para relawan bahwasanya beberapa hari terakhir ini logistik ( Sembako ) terus berdatangan untuk dikirim ke posko-posko dapur umum yang berada di lokasi pengungsian.

Di samping itu, tenda darurat pengungsian, dapur umum, rumah sakit lapangan, serta tim medis juga terus dimaksimalkan untuk membantu para korban terdampak karena belum tersedianya hunian sementara.

Jumlah ini sangat mungkin bertambah seiring dengan proses evakuasi dan pendataan yang masih terus dilakukan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Tanmia Berbagi Qur’an Wakaf Untuk Semangat Santri Pesantren Pedalaman Lampung Tengah

Pesisir Rajabasa Kalianda Lampung Selatan mendadak menjadi trending topic global pasca terjadinya bencana tsunami pada 22/12/2018.

Selain dikenal menjadi daerah kawasan wisata pesisir yang elok Rajabasa pun ternyata memiliki gunung Rajabasa yang indah dan sayang bila dilewatkan.
Tanmia Foundation kembali menyebarkan al-Qur’an di wilayah pesisir Rajabasa ( 19/1/2019) untuk para korban tsunami juga untuk pesantren yang berada di pedalaman Lampung.

Pesantren Tahfizh Hidayatullah Bandar Jaya Kabupaten Lampung Tengah menjadi salah satu tujuan distribusi wakaf qur’an.

Sebanyak 50 eksemplar al-Qur’an diserahkan ke SMP Integral Lukman Al Hakim pondok pesantren Hidayatullah, Jalan Lintas Timur, Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah.

Secara simbolis, al-Qur’an wakaf tersebut diserahkan oleh Tanmia Foundation langsung kepada pengasuh santri Pesantren Hidayatullah Ustadz Awaludin.

“Kami di sini sangat berterima kasih sekali, karena dengan adanya al-Qur’an tadi, semoga bermanfaatlah bagi kami,” ujar Awaludin kepada Tanmia Foundation usai acara serah terima.

Menurut Awaludin, al-Qur’an wakaf itu nantinya akan langsung digunakan dalam proses kegiatan belajar menghafal yang menjadi pokok kurikulum pesantren yang bermanfaat untuk kemajuan pesantren di tengah-tengah masyarakat Bandar Jaya Lampung Tengah.

“Ini kan al-Qur’an dan terjemahannya, mungkin nantinya para santri akan menggunakan ini (kalau) mau mengetahui artinya sebelum mereka terjun ke dakwah, atau mau kultum, jadi mereka mencari-cari dari terjemahnya tersebut. Biar mereka mengerti,” tambahnya.

Ustadz Khoirudin yang turut menemani tim Tanmia Foundation berkesempatan mengisi tausiyah dengan berharap, al-Qur’an tersebut bisa benar-benar difungsikan untuk proses kegiatan belajar dan penunjang dakwah.

“Program wakaf al-Qur’an untuk para korban langsung dan para korban terdampak akibat bencana tsunami Selat Sunda ini menjadi program yang merekatkan hati kepada umat ini, sehingga nantinya mereka bisa tergugah untuk membangun masyarakat yang Islam,” harap Khoirudin.

Pesantren Hidayatullah Lampung Tengah ini diberdiri sejak 2015 yang berada diatas tanah dan gedung wakaf dari seorang muhsinin yang letaknya ditengah rimba perkebunan kelapa sawit. Di pesantren ini sudah berlangsung kegiatan pendidikan SMP hingga SMK.

Di  Kompleks yang jauh dari jalan lintas timur trans sumatera ini memang masih rawan dari segi sikon keamanananya dari dulu. Setelah pesantren ini berdiri dan gencar berdakwah, situasi banyak berubah sehingga banyak orang menitipkan anak-anaknya untuk masuk pesantren.
Kali ini bukan sekedar bercerita tentang tsunami di pesisir Rajabasa Kalianda.

Melainkan melengkapi berbagi bercerita tentang perjalanan, silaturahim dan berbagi bersama para pegiat dakwah serta perjuangan para ustadz-ustadz yang bertahan di pedalaman yang semoga dalam rangka ketaatan dan membumikan qur’an serta mencari keridhaan-Nya semata. Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung