Masjid Pulau Kukusan NTT “Belum Bercahaya”

Pulau Kukusan, adalah sebuah pulau dari sekian banyak pulau yang berada sekitar Labuhan Bajo, NTT, tahun lalu team Tanmia sempat berkunjung membawa ratusan Al Quran, buku iqro’ dan buku panduan shalat ke pulau ini, sambutan masyarakat sangat baik dan antusias, kedatangan team disambut seperti menyambut saudara mereka yang datang dari perantauan, kebanyakan aktivitas warga di sini adalah nelayan yang setiap harinya mereka mencari ikan, menuju pulau ini terbilang tidak mudah, tidak ada jalan lain kecuali hanya dengan menggunakan sampan kayu, yang setiap harinya hilir mudik ke tempat mereka.

Di pulau ini ada fasilitas ibadah kaum muslimin seperti masjid untuk kegiatan ibadah mereka sehari- hari, warga di sini juga memiliki Madrasah, namun sayangnya Madrasah mereka tanpa ada guru yang siap mengajari putra – putri mereka, beberapa kali ada guru yang didatangkan ke pulau ini namun tidak ada diantara mereka yang mampu bertahan lama, hanya dalam bilangan hari saja mereka sudah menyerah minta pulang, sehingga murid-murid kadang termenung menanti kapan datangnya guru untuk mereka, begitu informasi yang kami dapatkan dari H Zainuddin, tokoh masyarakat dan Imam Masjid di sana.

 

Kondisi yang tak mendukung pun semakin lengkap apalagi Pulau yang dihuni puluhan KK yang hampir keseluruhannya adalah muslim ini belum menikmati manisnya Listrik dan segarnya Air Tawar bersih untuk keperluan sehari-hari. Untuk keperluan mandi pun mereka harus mencampur satu galon air tawar dengan satu galon air laut agar bisa digunakan, padahal satu galon air tawar itu harus mereka datangkan dari daratan pulau seberang dengan menempuh satu jam perjalanan bahkan bisa jadi lebih lama, tergantung cuaca gelombang dan angin di laut.

Kesulitan mendapatkan Listrik dan Air bersih serta belum tersedianya guru sekolah dan madrasah mereka menjadi hal yang sangat dinantikan bagi warga kampung pulau Kukusan.

Melihat kondisi ini maka yayasan islam Attanmia berencana untuk mengadakan Panel Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk kaum muslimin di pulau Kukusan ini, satu perangkat Panel Listrik Rp 9.000.000,- (sembilan juta rupiah), ini sudah lengkap dengan biaya pasang dan tehnisi di lapangan, sisa dana Panel Listrik tahun lalu masih ada 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah), bagi bapak dan ibu yang ingin ikut berpartisipasi dalam wakaf Panel Listrik kami persilahkan untuk mengirimkan dananya ke rekening yayasan kami di

Bank Syariah Mandiri 7117833447
a.n Yay. Islam Attanmia

Atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan wa Barakallahu fiekum.

Bukhari Abdul Muid
Ketua

Masjid Uswatun Karimah NTT kini telah “Bercahaya”

Masjid Uswatun Karimah desa Warsawe NTT telah bercahaya, sudah beberapa bulan Masjid ini sudah menikmati aliran listrik, bertahun – tahun mereka hidup dalam gelapnya malam yang menyelimuti mereka tanpa cahaya penerang yang mereka butuhkan, walau sekedar untuk shalat, sehingga anak – anak TPQ enggan datang ke masjid karena tidak ada lampu di sana.

Lampu penerang yang mereka miliki hanya lampu minyak tanah yang daya tahan dan cahayanya sangat terbatas, anak – anak yang pagi hari sekolah, pulang sekolah mereka harus membantu Orang tua mereka di sawah dan ladang mereka hingga sore hari menjelang magrib, kesempatan satu – satunya yang mereka miliki untuk belajar Al Qur’an hanya habis magrib hingga waktu shalat Isya, namun apa boleh buat magrib hari sudah gelap lampu belum ada di masjid untuk belajar Al Quran.

Namun Allah subhanahu wata’ala memberikan hadiah buat perjuangan dan ketabahan mereka melalui perantara tangan – tangan mulia donatur yang dengan suka cita memberikan donasi untuk mengadakan Panel Listrik tenaga surya yang disalurkan melalui Yayasan Islam Attanmia, Alhamdulillah kini panel Listrik tersebut sudah terpasang, masyarakat sekitar dan jamaah masjid sudah menikmati Listrik ini di masjid mereka.

Karena kini sudah ‘bercahaya’ maka jamaah dan anak – anak TPQ sudah sangat antusias datang ke masjid, ditambah di masjid tersebut ada pesantren anak – anak Yatim dan Dhuafa yang tinggal di sana setiap harinya, bahkan karena tempat ini sudah memiliki Listrik maka beberapa waktu lalu didaulat sebagai tuan rumah untuk pelaksanaan MTQ, lomba baca dan hafalan Al Quran.

Hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari Masjid, di tempat ini juga ada SMP Muhammadiyah Warsawe yang juga sudah terpasang Panel Listriknya Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan baik, kegiatan belajar dan mengajar juga berjalan dengan lancar, bahkan siswanya juga lebih semangat meskipun sekolahan mereka sangat sederhana, bagunan terbuat dari papan yang sudah mulai lapuk, lantainya tanah (belum di semen) apa lagi keramik, bangunan sudah agak miring layaknya seperti yang kita tonton dalam film Laskar Pelangi yang sempat heboh beberapa tahun lalu.

Semoga semakin hari semakin baik, fasilitas Masjid, Pesantren dan Sekolah semakin hari semakin baik, sehingga lebih besar kemaslahatanya bagi ummat dan masyarakat di sana, pahala dan Amal Jariyah Semoga selalu mengalir kepada seluruh para donatur dan yang telah ikut terlibat dalam kegiatan ini, Aamiin ya rabbal alamin.

Kampong Pakis Legon

Taman Nasional Ujung julon, sekilas kata “Taman Nasional” terbayang di benak sebagian orang bahwa ia adalah taman yang di fahami kebanyakan orang, seperti Taman bunga nusantara Cibodas, Taman Mini dll, namun Taman Nasional Ujung kulon hanya sebatas Cagar Alam, wilayah yang dilindungi oleh pemerintah, hidup di dalamnya satwa dengan berbagai macam jenisnya, namun karena taman ini luasnya lebih dari 200.000 Hektar maka sangat sulit menemui hewan – hewan tersebut, apa lagi Badak bercula satu yag populasinya hanya 50-60 ekor saja tentu mencarinya seperti mencari jarum dalam jerami.

Tidak luput dari perhatian kami di ujung kulon, kampung Pakis Legon yang menjadi kampung terakhir dari wilayah pulau jawa yang paling ujung ini sebelum masuk ke cagar alam, terdapat di perbatasan itu beberapa petugas penjagaan yang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi, kedatangan kami disambut hangat oleh mereka, percakapan dan senda gurau pun mengalir dengan penuh kehangatan dari ke dua belah pihak, tidak berlama – lama dengan mereka hingga kami pun menghadiahkan Al Quran kepada mereka, mudah-mudahan menjadi teman mereka dalam kesunyian hutan itu.

Kampung pakis Legon ini adalah kampung yang paling jauh dari yang lainnya karena memang letaknya paling akhir, warga di sini baru bisa menikmati listrik satu tahun lalu, tepatnya 2017, saat kami melewati kampung ini terlihat babarapa ibu – ibu sedang asik duduk dan ngobrol sesama mereka, kami datang menemui mereka dan memberikan kepada mereka masing – masing Al Quran, buku Dzikri pagi dan petang serta buku panduan shalat, terlihat dari wajah mereka rasa senang dan gembira saat menerimanya.

Sesekali ada juga ibu – ibu yang menghampiri kami meminta Al Quran untuk anak mereka atau cucu mereka, alhamdulillah Al Quran wakaf ini sangat bermanfaat bagi mereka, sekaligus hal i i menu jukkan cahaya dan ghairah islam masih sangat kuat di sana.

Peran Dakwah Kang Dedi/ Ustadz Dedi di Ujung Kulon

Sepanjang pengamatan kami dalam perjalanan menuju Ujung Kulon memang suasana sangat terasa suasana desa atau pelosok lebih tepatnya, selain jalan yang masih jauh dari kata layak, nuansa rumah penduduk pun menggambarkan hal itu, sebagian masih menggunakan gedek (dinding bambu) dan atap daun Rumbia, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak.

Dari informasi yang kami dengar, kampung yang paling ujung pulau jawa itu baru merasakan nikmatnya listrik setahun yang lalu 2017, sebelum itu masyarakat menggunakan alat penerangan apa adanya yang mereka miliki.

Berkeliling di beberapa titik tujuan distribusi Al Quran kami ditemani Kang Dedi atau Ust Dedi, beliau yang menyambut kami saat datang ke Ujung Kulon di pendopo beliau yang sangat sederhana tepat waktu shalat Ashar, selepas Shalat Ashar kami berbincang dengan beliau dan rekan – rekan beliau, sambil menikmati secangkir kopi dan pisang goreng yang masih hangat buatan beliau, sambutan cukup hangat dan obrolan cukup cair dan menyenangkan hati, sehabis magrib kami disugui hidangan khas ujung kulon, Ikan bakar dan sambal khasnya, hidangan yang sangat istimewa, makan berjamaah di atas daun pisang bersama para pejuang dakwah di sana.

Beliau dahulunya adalah pemandu wisata untuk wilayah Ujung Kulon, bagi para pengunjung Lokal dan manca negara, pernah juga mendampingin para peneliti dari luar negeri, mereka bisa bertahan berhari – hari dalam hutan lebat ini, namun beberapa tahun belakangan hatinya mulai terpanggil untuk ikut andil dalam dunia Dakwah, sedikit demi sedikit beliau ikuti majlis ilmu untuk mencari bekal – bekal di medan dakwah, hingga akhirnya memutuskan untuk terjun secara totalitas dalam dakwah.

Kegiatan beliau cukup nyata dalam dunia dakwah, beliau menjadi Dalil (penunjuk jalan) bagi para dai yang ingin berdakwah di Ujung Kulon, selain beliau adalah warga asli beliau juga dai, sehingga beliau siap mengantar hingga ke ujung pulau yang masih ada penghuninya.

Dari obrolan kami dengan beliau dalam 2 tahun terakhir sudah 150 Orang dapat kembali ke dalam ajaran islam yang lebih baik (taubat), rata – rata mereka para pejudi, pemabuk, dll.

Sebagian Al Quran yang tidak mampu kami bawa dengan kendaraan kami maka akan kami kirimkan ke alamat beliau kemudian beliau yang akan mendistribusikannya kepada jamaah yang belum mendapatkan mushaf Al Quran.

Semoga Allah menerima amalan ini, dan menerima seluruh amalan para Pewakaf yang ikut dalam program wakaf Al Quran Ujung Kulon ini, aamiin ya rabbal alamin.

Distribusi Al Quran Wakaf muslim Ujung Kulon

Selasa 17 April Sehabis shalat subuh tiga orang team tanmia dengan mengendarai mobil rental jenis SUV tancap gas menuju tol Jagorawi menghindari padatnya kendaraan menuju Jakarta, perjalanan kali ini cukup panjang, untuk menuju lokasi yang sudah kita rencanakan butuh waktu kurang lebih 10 jam.

Meskipun waktu pengumpulan Al Quran terbilang cukup singkat namun dengan izin Allah kemudian partisipasi para Pewakaf yang sangat antusias mengikuti program ini sehingga hanya dalam waktu 2 pekan target 1000 Al Quran alhamdulillah sudah terpenuhi, peserta wakaf (Pewakaf) yang ikut pada program ini lebih dari 100 orang.

Jalan menuju lokasi terbilang cukup berat, selain jauh kita akan menemui puluhan kilo meter jalan berlubang dan endapan air dengan diameter cukup lebar layaknya kubangan kerbau. Masyarakat kelihatannya sangat sabar menerima jalan dengan kondisi seperti itu, pasalnya sudah bertahun – tahun tidak ada perubahan.

Alhamdulillah mayoritas warga di ujung kulon adalah muslim, hal ini terlihat jelas banyak masjid kiri dan kanan jalan sangat mudah untuk ditemui, mata pencaharian masyarakat di sini kebanyakan hanya bertani dan nelayan, karena memang posisi perkampungan mereka di pesisir pantai.

Al Quran kami distribusikan kepada pribadi/ individu, pesantren dan majlelis taklim, mudah – mudahan ini menjadi bekal mereka untuk menghadapi bulan Ramadhan yang akan datang menghampiri kita satu bulan lagi.

Kami pengurus Yayasan Islam Attanmia menyampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya atas partisipasi dan doa dari bapak dan ibu sekalian, kami sampaikan Jazakumullah khairan.

Seminar kesehatan & Praktek pembuatan Sabun Herbal

Alhamdulillah ,puji syukur kepada Allah taala seluruh Santri mahad Tahfizh Qur’an At tanmia pada Jumat siang 23 Maret 2018 mengikuti seminar kesehatan yang disampaikan oleh :
Bunda Nurna Ummu abiyyah

Mudah2han memberikan pelajaran dan manfaat bagi Anak-anak kami sehingga mampu menjaga kebersihan hati dengan ilmunya dan kebersihan jiwa dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungannya.

MARI HIDUP SEHAT ,BERSIH, & INDAH…

Laporan Wakaf Buku untuk Dai (I) Pedalaman Indonesia Tahun 2019

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Alhamdulillah puji dan syukur hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepangkuan Nabi besar Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, kepada para sahabat, keluarga beserta pengikutnya hingga akhir zaman.

Awal february lalu kita telah membuka program wakaf buku referensi untuk Dai, tahap I (satu), paket yang berisi 8 Buku penting sebagai bekal dakwah, untuk mereka yang aktif berdakwah di daerah pedalaman indonesia, alhamdulillah program ini disambut baik oleh jamaah dari berbagai daerah.

Hingga program ini di tutup tanggal 28 February 2018 lalu alhamdulillah telah terkumpul sebanyak 62 paket dari 100 paket yang direncanakan, dari 44 donatur yang ikut dalam program ini, tingkat keberhasilan program 62% dari 100% dari target awal.

In syaa Allah buku referensi Dai ini akan kita distribusikan bulan ini (maret) agar bisa menjadi bekal dakwah bagi mereka pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan setelahnya.

Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada para donatur serta anak keturunan mereka dan pahala jariyah kepada para donatur, atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan, wa barakallahu fiekum.

NB: Program wakaf buku untuk Dai di pedalaman tahap II (dua) in syaa Allah akan diberitakan kemudian.

Pengurus
Yayasan Islam Attanmia
Bukhari Abdul Muid,Lc

Distribusi buku Wakaf untuk Dai diresmikan di Dusun Sonyo, Kulonprogo

Bicara soal Dakwah di pedalaman Kulon Progo tentu biacara tentang ust Farozi, meski beliau baru tiga tahun berada di balik Gunung yang berbalut indahnya pepohonan dan udara segar itu namun peran beliau di sana cukuplah penting, beliau berasal dari lamongan, Jawa timur, bertugas tiga pekan di lokasi selanjutnya pekan terakhir beliau pulang ke lamongan, karena anak dan istri beliau tidak dibawa ke Kulonprogo.

Saat kami tiba pada malam hari di masjid tempat beliau bertugas, menjadi imam sekaligus guru bagi mereka, kami melihat beberapa orang bapak dan ibu serta anak – anak sedang asyik mengaji di hadapan guru mereka, dari informasi yang kami terima ternyata ibu-ibu yang belajar mengaji tersebut datang dari tempat yang cukup jauh dari tempat mereka tinggal, berjalan kaki di malam hari menelusuri bukit dan hutan, jalan setapak sudah menjadi amalan mereka setiap kali ingin belajar membaca kitab Allah itu.

Posisi rumah masyarakat yang berada di lereng dan lembah gunung membuat akses menuju masjid cukup sulit, hanya ada jalan setapak, sebagian masih menggunakan kerikil atau bahkan masih ada yang tanah biasa, namun semangat mereka untuk belajar islam sangat patut diacungi jempol, masjid yang mereka gunakan untuk shalat 5 waktu dan belajar mengaji berdiri di atas sebidang tanah milik sesepuh di sana yang beliau wakafkan kepada ummat islam, beliau juga sebagai kepala dusun di sana, saat itu beliau masih beragama budha, kasihan melihat orang islam tidak memiliki tempat ibadah beliau ikhlaskan tanahnya untuk dibangunkan masjid di atasnya, pembangunan masjid tersebut kemudian dibangun dengan dana swadaya masyarakat dan donatur dari berbagai daerah, barangkali ini adalah salah satu pintu hidayah dari Allah buat beliau, tidak lama setelah itu beliau pun mengikrarkan shayadat untuk berislam, karena posisi masjid tepat berada di hadapan rumah beliau maka apabila ada tamu dari luar daerah untuk tujuan dakwah, Mahasiswa, maka rumah beliau siap dijadikan sebagai tempat menginap.

Di tempat ini adalah pusat kegiatan dakwah pedalaman untuk wilayah kulon progo, untuk meresmikan program distribusi buku referensi untuk Dai maka pada malam itu juga kami lakukan serah terima satu paket buku untuk ust farosyid yang bertugas di sana, in syaa Allah nanti ada enam paket lagi yang akan dikirim ke wilayah pedalaman ini, semoga donatur yang telah itu berpartisipasi dalam program ini diberikan keberkahan pada harta dan keluarganya, program ini in syaa Allah akan berlangung hingga akhir February, Alhamdulillah hingga saat ini sudah terkumpul 50 paket dari 100 paket yang direncanakan, 50% dari target awal sudah dapat, semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk memenuhi hingga tercapai 100%, atas partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan.

Perjalanan Dakwah Tanmia di Hutan Gunung Kulonprogo Yogyakarta

Jam tiga dini hari 5 February 2018 kami bersiap dan melaju kendaraan menuju Kulonprogo, Wates, Yagyakarta, setelah menginap di salah satu basecamp kami di tambun, jalanan cukup sepi meski hujan rintik – rintik setia menemani kami hingga keluar toll cipali.

Berbekal informasi dari yayasan Baitul Maqdis jakarta, kami dihubungkan dengan seorang tokoh dakwah yang bertugas di Kulonprogo yogyakarta, dia adalah Ust Hariyono, tokoh sepuh yang sudah berusia 60 tahun lebih ini aktif berdakwah di kalangan masyarakat pegunungan yang mayoritas mereka adalah muallaf dari agama budha.

Jam 4 sore kami sampai di rumah beliau, setelah menikmati jamuan, mandi dan istirahat sejenak, habis shalat magrib kami jalan menuju lokasi, Meski usia beliau tidak lagi muda namun semangat dakwah dan perjuangannya layak membuat malu anak muda, jalan munuju lokasi Dusun Sonyo terbilang benar – benar tidak mudah.

Dari kota ke lokasi, jarak perjalanan kira-kira 20 KM dengan jalanan terjal, berbatuan dan lumpur, di samping kiri jalan adalah jurang dalam dan hutan lebat, ust Haryono mendapat jadwal 2 kali satu bulan ke tempat ini, beliau tergolong dai yang pantang menyerah, meski hujan lebat dan angin kencang tidak surut semangatnya berdakwah, dari pengakuan beliau beberapa kali terjatuh dari motornya di tengah hutan pada malam gelap gulita itu, namun hal itu tidak membuat dirinya jera.

Mudah – mudahan Allah menjaga beliau agar tetap istiqamah dalam dakwah, semoga Allah memberi keberkahan pada beliau dan keluarga beliau.

Dalam perjalanan ini yayasan islam Attanmia mendistribusikan Al Quran wakaf dari para jamaah sebanyak 400 exemplar, semoga Allah menerima amal tersebut dan menjadikannya sebagai amal jariyah bagi para pewakaf dan seluruh yang terlibat dalam pendistribusiannya. Aamiin yaa rabbal alamin.

PROGRAM WAKAF BUKU REFERENSI UNTUK KEGIATAN DAKWAH DA’I DI PEDALAMAN INDONESIA

Bekal ilmu pengetahuan islam dinilai sangat penting bagi

seorang dai yang bertugas di tengah masyarakatnya, mau tidak mau ia akan dijakan oleh masyarakat sebagai referensi dalam masalah agama meskipun tidak jarang urusan dunia pun tetap dijadikan sebagai tempat bertanya.

Latar belakang para dai tentu berbeda – beda, tergantung dari mana mereka melangkahkan kaki mereka ke medan dakwah, ada di antara mereka yang sudah di setting sejak awal sebagai calon muballigh atau ustadz, sehingga dari awal sudah disekolahkan di pesantren atau sekolah agama islam lainnya, ada juga di antara mereka yang awalnya adalah pengusaha atau tenaga profesional yang berkerja di perkantoran lalu hatinya terpanggil untuk dakwah, ia menggali ilmu islam semampunya lalu menyajikannya kepada ummat.

Tidak jarang pula kita temukan di tengah masyarakat seorang muallaf namun semangat dakwahnya sangat tinggi, bahkan sejak ber-islam ia sudah berazam ingin membela dan mendakwahkan islam.

Fenomena seperti ini sering kita temukan di tengah masyarakat, kalau mereka tinggal di perkotaan tentunya tidak terlalu sulit bagi mereka untuk mencari salah satu sumber mata air ilmu untuk ditimba dari seseorang yang dianggap cukup mumpuni dalam bidang ilmu syar’i, disamping mereka juga dapat membaca buku – buku islam, mendengarkan radio islam, mengunjungi website islam dll.

Namun ada satu kendala yang dianggap sangat signifikan dalam perjalanan dakwah yang dilakukan oleh seorang dai yang tinggal di pedalaman, yaitu minimnya buku – buku referensi yang bisa mereka gunakan sebagai bekal dakwah, adanya buku – buku referensi itu dirasakan sangat penting, sering kali bekal ilmu pengetahuan islam yang mereka miliki adalah yang dahulu pernah mereka pejari di madrasah atau pesantren, namun setelah itu tidak ada lagi tambahan pengehuan islam bagi mereka, sedangkan mereka dituntut untuk terus mengajar, menyampaikan ilmu dan berdakwah secara luas.

Saat kami ke pedalaman NTT beberapa waktu lalu keluhan semacam ini selalu disampaikan oleh para Dai dalam berbagai pertemuan kami dengan mereka, bahkan setelah kami sampai di Jakarta pun mereka masih menanyakan apakah ada bantuan buku referensi islam buat bekal Dakwah mereka? Buku – buku islam sangat sulit mereka dapatkan di sana, apalagi radio islam, bahkan sebagian wilayah mereka belum ada aliran listrik.

Menimbang kebutuhan para Dai yang sangat penting ini maka kami dari yayasan islam Attanmia berusaha untuk membantu mereka mendapatkan buku – buku islam sebagai bekal dakwah mereka dengan membuka paket bantuan (BRDP) “Buku referensi Dai pedalaman” satu paket berisi 8 judul buku yang sangat penting dan bermanfaat untuk bahan bacaan bagi mereka, dengan nilai total per paketnya Rp 1.000.000,- [Satu Juta Rupiah].

Buku – buku ini in syaa Allah hanya akan di distribusikan khusus kepada para Dai yang telah menyiapkan dirinya untuk berdakwah di Pelosok Pedalaman negeri ini, di wilayah NTT dan wilayah lainnya di Indonesia, sudah menjadi maklumat umum bahwasanya para Dai tersebut berdakwah tanpa ada Kafalah (bantuan materil) penyokong yang mereka terima, semoga sedikit bantuan buku referensi ini dapat membantu mereka dalam memperkaya khazanah ilmu mereka guna mencerdaskan ummat menujul izzul islam wal muslimin (kejayaan islam dan kaum muslimin).

Berikut ini judul – judul buku yang in syaa Allah akan kita berikan kepada para dai, antara lain adalah sebagai berikut:

No

Judul Buku

Penulis

Katagori

1

1100 Hadits Pilihan

DR Muhammad Faiz Al-Math

Hadits pilihan

2

Materi Pengajian Setahun

DR Rasyid Abdul Karim

Silabus Kajian

3

Mukhtashar Minhajul Qashidin

Ibnu Qudamah Al Maqdisi

Tazkiyatu Nafs

4

Syarah Umdatul Ahkam

Abdurahman bin Nashir Assa’dy

Hadits Hukum

5

Allu’lu’ wal Marjan

Muhammad Fuad Abdul Baqy

Hadits Pilihan

6

Sirah Nabawiyah

Shafiyurrahman Al Mubarakfury

Sirah Nabawiyah

7

Mihajul Muslim

Abu Bakar Jabir Al Jazairy

Fikih, Ahklaq dan Muamalat

8

Kitab Tauhid

DR Shalih Fauzan

Pelajaran Tauhid

Untuk tahap pertama ini kami berencana menyiapkan 100 paket bantuan buku referensi untuk para Dai yang bertugas di pedalaman, semoga Allah menjadikan ini sebagai salah satu jalan bagi kita untuk mendapatkan pahala Jariyah dan ampunan Allah, atas perhatian dan bantuannya kami sampaikan Barakallahu fiekum wa Jazakumullah khairan.

Informasi

www.tanmia.or.id

info@tanmia.or.id

085215100250

Bukhari Abdul Muid

Ketua Yayasan

Expedisi Dakwah Pulau Rinca, Warloka dan Kukusan, NTT

Senin pagi 4 desember 2017 habis shalat subuh saat burung – burung sedang asyik berkicau saling menyapa 4 orang team tanmia ditambah awak kapal 2 orang sudah sibuk mempersiapkan diri dan perbekalan yang mereka butuhkan untuk perjalanan ke wilayah kepulauan di sekitar Labuhan Bajo, Ratusan buku Iqraa dan Al Quran sudah disiapkan untuk dibagikan di wilayah kepulauan itu,  dari Labuhan Bajo cuaca terpantau cerah dengan sedikit angin pantai  pagi yang menghembus dengan lembut membelai menyejukkan hati.

Tujuan utama perjalanan kali ini adalah pulau Komodo yang berjarak kira – kira 4 jam dari Labuhan bajo dengan menaiki kapal perahu bot, namun baru sampai Pulau Padar angin mulai terasa menghembus agak kencang, ombak sudah pun mulai bergelombang menggulung, ini adalah sebagai tanda perjalanan kita sulit dan berbahaya ujar sang kapten kapal yang sudah kami daulat sebagai juru bicara dengan orang – orang yang ada di kepulauan, karena sang kapten juga seorang warga kepulauan sehingga masalah komunikasi in syaa Allah aman.

Tidak nekat menerobos terjangan ombak yang cukup besar itu sang kapten mengambil keputusan agar menunda perjalanan menuju Pulau Komodo, kapal langsung balik kanan menuju pulau Rinca, pulau yang dinilai relatif aman untuk perjalanan pagi itu.

Pulau Rinca juga terkenal dengan satwa Komodo-nya, karena Rinca juga taman nasional yang dijaga dan dirawat oleh pemerintah daerah, Taman Nasional Loh Buaya demikian nama wilayahnya, pohon pohon Bakau berdiri kokoh sebagai pembatas laut  untuk menjaga lebih dari 1300 Komodo, Komodo di wilayah ini terkenal lebih ganas, liar dan pasokan makanan buat mereka masih kurang biasanya hewan ini biasanya langganan makan rusa atau kerbau yang berhasil mereka taklukkan, namun tentunya kita berada pada lokasi aman sesuai petunjuk sang Ranger,  tidak setiap saat satwa ini berkeliaran, saat musim kawin antara juli- agustus bersembunyi di lobangnya masing masing.

Pulau Rinca dihuni oleh muslim 100%, dari Labuhan Bajo menuju tempat ini membutuhkan waktu tempuh 3 jam, di pulau ini team Tanmia membagikan 200 iqraa, AlQuran 150, jumlah ini dinilai masih sangat kurang dibandingkan dengan permintaan masyarakat dan jumlah penduduk muslim yang cukup ramai di sana.

Fasilitas kaum muslimin terbilang sangat minim tidak ada toilet bersih dan layak terlihat timba sumur mereka dari kaleng yang sudah berkarat, listrik belum masuk di wilayah ini, guru mengaji masih sangat sulit ditemui, fasilitas sekolah mereka juga masih jauh dari kata layak, perhatian buat mereka dari pemerintah juga terbilang masih sangat terbatas.

Tidak berlama – lama di Rinca kami putar haluan ke pulau Warloka, Warloka dari Labuhan Bajo membutuhkan waktu kira-kira 1 jam 30 menit, Warloka juga dihuni oleh banyak kaum muslimin, saat kapal bot kami menyandar di bibir pantai Warloka kami disambut dengan atraksi anak-anak Warloka yang sedang memanjat kapal yang bersandar di sana, dari atas kapal mereka melompat ke laut, ini adalah acara rutin mereka untuk melatih kemampuan renang dan keahlian untuk menyelamatkan diri saat kondisi laut berbahaya, di Pulau ini team Tanmia membagikan 110 buku Iqraa, 100 Al Quran, keluhan masyarakat di sana sama dengan pulau Rinca tidak ada guru ngaji yang bisa mengajari anak-anak mereka di sana, Listrik juga belum ada di wilayah ini.

Selesai kami membagikan Al Qur’an dan Buku Iqraa di Warloka, perjalanan selanjutnya adalah Pulau Kukusan, Warloka – Kukusan membutuhkan waktu 45 menit, tentunya dengan kondisi laut normal, tidak bergelombang tinggi. Pulau Kukusan terbilang hidup di sana sangat sulit, karena sumber air tawar tidak ada di sana, air tawar mereka tampung dari hujan bila ada hujan yang mengguyur wilayah mereka, air mereka ambil di Labuhan Bajo, sekedar ingin air tawar mereka harus melakukan perjalanan 45 menit dengan perahu bot, bila dapat air tawar mereka tidak mandi dengan air tawar itu 100%, namun mereka mencampurnya dengan air asin, seringnya perbandingannya adalah satu banding satu, satu timba air tawar dicampur dengan satu timba air asin, ini adalah air mandi mereka, karena air tawar sangat langka, mereka tidak bisa mandi setiap hari, apalagi sehari 3 kali mandi, namun mereka hanya bisa mandi 2 hari satu kali saja.

Di Pulau ini juga dihuni oleh mayoritas muslim, sama dengan pulau-pulau lainnya guru ngaji sangat langka di sana, ditambah dengan air tawar yang sulit didapat maka bertambah sulit pula menghadirkan para guru di sana, di pulau ini team kami membagikan Al Quran 150 buah,
Buku Iqraa juga 150 buah, ditambah hadiah kecil berupa kain sarung dan sorban buat tokoh agama dan Imam Masjid, wilayah ini juga tida ada listrik yang menerangi mereka di malam hari, masyarakat hanya menggunakan lampu teplok dengan bahan bakar minyak tanah.

Masuh ada banyak pulau yang belum kami singgahi, padahal sangat penting, diantaranya adalah pulau Mesah perjalanan 2 jam, dari Bajo, Pulau  Papagaran yang berjarak 2 setengah jam dari Labuhan Bajo,  dan Pulau Longos dari bibir pantainya pejalanan  masih 1 jam dengan menelusuri  jalan setapak baru bisa sampai di Longos perjampungan kaum muslimin, in syaa Allah pada kesempatan berikutnya team Tanmia akan menuju pulau – pulau itu untuk bersilaturahmi dan berbagi in syaa Allah.

 

 

Daurah Tanmia di Labuhan Bajo

Ragam kegiatan dan acara di Labuhan bajo membuat team tanmia menikmati perjalanan dakwah ini, sehingga team tidak merasa jenuh karenanya, di antara kegiatan yang dilaksanakan di Labuhan Bajo adalah Daurah Syar’iyah, semacam penataran guru dan dai dengan ilmu syar’i di sana.

Para peserta cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut yang kami laksanakan di Madrasah Islam Swasta (mis) desa Nggorang, Labuhan Bajo, kegiatan daurah ini membawa beberapa materi penting, seperti Tata Cara Shalat, Wudhu dan Thaharah, Fikih Dakwah tahap I, urgensi Tahfizh Al Quran untuk usia dini dan pemaparan metode baca Al Quran “tsaqifa” metode untuk orang tua atau dewasa.

Alhamdulillah kegiatan ini terhitung sukses dan in syaa Allah memberikan manfaat dan percerahan bagi dai – dai dan guru ngaji di berbagai wilayah.

Peserta Daurah datang dari tempat yang jauh, di antara mereka ada yang menempuh perjalanan hingga 6 jam untuk menuju lokasi daurah karena rumah mereka sangat jauh di dalam hutan yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan apapun termasuk sepeda motor, sehingga mereka harus berjalan kaki hingga 3 jam menelusuri bukit dan hutan agar dapat keluar ke jalan raya, yang kemudian dilanjutkan dengan menaiki kendaraan umum selama 3 jam menuju lokasi.

Peserta yang seperti ini ada beberapa orang, demi untuk menghadiri majlis ilmu dan menambah khazanah ilmu yang akan mereka tularkan kepada anak didik dan ummat yang mereka bina di kampung mereka masing – masing, mereka harus berkorban tenaga dan uang tentunya untuk menghadiri majlis tersebut.

Badan yang begitu lelah dan bahkan bau keringat belum lagi hilang dari badan mereka namun hal itu sirna saat mereka bisa hadir dalam majlis ilmu tersebut dan bertemu dengan dai – dai tanmia yang membimbing mereka, rasa bahagia terlihat jelas dari wajah dan sikap mereka, mereka menganggap kehadiran team tanmia adalah hiburan dan semangat baru bagi mereka, bahkan ada salah seorang peserta yang mengungkapkan isi hati mereka dengan mengatakan, “Ustadz hari ini kami dapat hiburan dan semangat baru dengan kehadiran para ustadz dari jakarta, kalau tidak kepala kami pusing menghadapi masalah di wilayah kami masing – masing” tentu dengan logat khas NTT yang masih sangat sulit untuk kami tirukan….

Harapan para dai dan guru ngaji di sana acara seperti ini tidak hanya sekali ini saja, namun hendaknya dilakukan dan di-program untuk adanya tahap lanjutan, agar mereka mendapatkan tambahan ilmu dan pengalaman serta keahlian baru sebagai bekal untuk kegiatan dakwah mereka di kampung halaman masing – masing, kami bisa memahami kebutuhan mereka kepada ilmu, namun kami hanya bisa mengatakan in syaa Allah kami akan datang lagi pada waktu yang tepat, kami berharap para guru dan dai di sana mendoakan kami agar Allah memberikan kemudahan kepada kami untuk mengadakan acara daurah jilid dua di sana dan dengan kehadiran guru dan dai yang lebih banyak serta pada tempat yang lebuh baik dan lebih luas.