Wakaf Tunai Pembangunan Pesantren Tahfizh Al Itqan Lantai 2 Jatirangga – Bekasi

Pada bulan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat Allah ini kami pengurus Yayasan Islam Attanmia mengajak bapak, ibu, saudara, saudari seiman dimana pun berada untuk sama – sama berpartisipasi dalam amal jariyah wakaf tunai pembangunan pesantren kami yang kami beri nama Al Itqan.

⚠ Pesantren ini didirikan untuk mengkader Dai dan Hafizh yang siap untuk menyampaikan ilmu yang telah dimilikinya di berbagai wilayah di tanah air, mengingat kebutuhan Dai, guru Al Quran, imam masjid dan mushalla, masih sangat tinggi maka kami berusaha untuk fokus dalam bidang kaderisasi ini, agar kebutuhan ummat kepada para guru dan imam lambat laun dapat terwujud meskipun pelan – pelan sesuai dengan kemampuan kami.

🥇 Tugas mulia ini tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik tanpa ada bantuan, sokongan dan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat muslim dimanapun mereka berada.

🧰 Dengan demikian kami mengajak bapak, ibu, saudara dan saudariku untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, bersama meraih keberkahan amal jariyah pahalanya mengalir hingga ke akhir masa.

✅ Atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan, Barakallahu fiekum.

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Ketua Yayasan Attanmia
Bukhari Abdul Muid

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
NB.
Mohon bantu share kepada teman, saudara, group, agar semakin banyak yang dapat ikut, raih pula pahala jariyah mengajak orang lain untuk kebaikan, Jazakumullah Khairan.

Situs Kampung Adat Tarung dan Prai Ijing di Sumba Barat

Puluhan rumah adat yang berderet masih asli terbilang magis, karena kepercayaan mereka menganggap roh leluhur mereka masih ada di sekitar mereka dan menjaga serta mengawasi mereka. Banyak juga dijumpai kubur batu ( megalitikum) yang sudah ratusan tahun berada di depan rumah-rumah di situs kampung adat desa ini. Secara turun temurun mereka menyakini bahwa kubur batu itu adalah leluhur nenek moyang mereka dan setiap yang mati akan di kuburkan satu lubang atau berdekatan berdasarkan keturunan leluhurnya.

Magis dan mengerikan bukan ? Sekali waktu perjalanan kami mendapati upacara adat kematian di kampung ternyata sangatlah sakral dan sarat akan ritual kurban penyembelihan hewan ternak seperti sapi, kerbau, kuda dan tak luput juga babi yang semuanya ditikam sambil diiringi dengan suara genderang musik-musik khas adat Sumba.

Bahkan ternak yang dihabiskan dalam acara kematian mencapai puluhan tergantung dengan adat dan garis keturunanya. Rumah adat Sumba terdiri atas tiga bagian, bagian tingkat pertama untuk hewan peliharaan, bagian tingkat kedua untuk penghuni rumah dan bagian ketiga, atap yang menjulang tinggi untuk menyimpan bahan makanan sekaligus tempat bersemayamnya Marapu yang dipercayai mereka.

Tanah Humba ( Tanah Asli ) masyarakat Sumba pada mulanya dibagi dalam empat golongan yaitu : imam (ratu,) bangsawan (Maramba), orang merdeka (Kabihu), dan hamba (Ata) namun dalam perkembangan golongan imam (ratu) disatukan dengan golongan bangsawan, sehingga hanya ada tiga golongan.
Masing-masing golongan dalam masyarakat Sumba memiliki gelar-gelar tertentu dan gelar tersebutlah yang menunjukan status sosialnya, serta masing-masing golongan memiliki tugas-tugas tersendiri, yakni:

1.   Para bangsawan memakai gelar Umbu atau Tamu Umbu (laki-laki) dan Rambu atau Tamu Rambu (perempuan), mereka mempunyai tugas dan kewajiban untuk melindungi dan memberi kesejahteraan terhadap warga kampungnya.

2.   Orang merdeka memakai gelarKabihu Bokulu (orang merdeka besar) dan Kabihu Kudu (orang merdeka kecil), mereka merupakan rekan kerja para bangsawan, penasihat bangsawan dan juga pemimpin perang.

3.   Hamba memiliki tugas melayani para bangsawan dan juga orang merdeka. Mereka biasa digelar dengan Ata Bokulu (hamba besar) dan Ata Kudu (hamba kecil).

Sumba memang unik dan magis dengan warisan budaya leluhurnya. Islam datang segala keramahan dan konsep rahmatalil’alamin sehingga dengan perlahan berjalan menelusuri lika-liku dakwah di Sumba yang begitu luas jelaslah sentuhan dakwah belum banyak menjangkau disetiap jengkal tanah Marapu ini.

Dakwah membedah pulau Sumba penuh tantangan dan rintangan serta perjuangan lintas generasi. Apalagi di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi yang sudah ada turun temurun. Namun inilah tugas estafet dakwah Islam yang sebenarnya bahwa kelak cahaya dakwah akan bersinar terang benderang di tanah humba. Biidznillah Allahu Musta’an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

Rihlah santri tahfizh Tanmia, Membentuk pribadi kuat, cerdas, hebat dan beriman

Segala puji bagi Allah,shalawat serta salam semoga terlipah curahkan kepada kekasih sekalian Alam Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dengan izin Allah Ta’ala, Kamis 03 Januari 2019 // Serangkaian kegiatan Rihlah akhir semester ganjil, Ma’had Tahfizh Quran At tanmia , Alhamdulillah telah sukses diikuti oleh seluruh Santri yang berjumlah 72 peserta,beserta segenap pengurus dan guru di Ma’had Tahfizh Quran At tanmia

Berbeda pada tahun sebelumnya, kali ini kami memilih Wisata PELITA DESA yang berlokasi di Ci seeng-Bogor menjadi Objek Rihlah Semester ganjil ditahun ajaran 2018/2019 ini.

Kami memilih tempat ini sebagai wujud dari tema serta tujuan daripada Rihlah kali ini yaitu MEMBENTUK GENERASI SANTRI HEBAT, CERDAS, KUAT & BERIMAN. Dengan harapan selain pelajaran ruhaniyyah,agar para santri mendapatkan sebuah pelajaran fisik untuk memperkuat Jasmani sebagai wujud daripada pribadi muslim yang kuat dan hebat.

Tidak hanya itu, serangkaian kegiatan pun mulai dari tarik tambang, bakiak, menangkap ikan dikolam, masuk Goa, mengisi Air dll, memberikan pelajaran yang sangat penting tentang Kerja keras, kerja sama, kejujuran, kekompakan serta tidak mudah menyerah.

Dalam pendidikan al- Qur’an yang kami tanamkan, selain al Qur’an sebagai huruf-huruf yang mereka baca setiap saat, kami berharap mereka mampu menjadikan isi dan makna al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka kelak.

Nampaknya para santri begitu antusias dalam mengikuti acara demi acara dengan penuh keceriaan dan kegembiraan.

Kami bersyukur atas kelancaran kegiatan RIHLAH pada akhir tahun semester Ganjil 2018 ini , tak lupa kami haturkan terima kasih sebesar besarnya kepada para pengurus serta para Donatur yang telah ikut berpartisipasi melalui dukungan tenaga dan material sehingga acara Rihlah dapat berjalan dengan lancar.

Semoga Allah menjadikannya sebagai pinjaman terbaik disisinya dan membalasnya kelak dengan sebaik-balasan di yaumil akhir nanti.
Aaminn yaa Rabbal Aalamiin.

Tanmia, 06 januari 2019.

peduli lombok

2019 Tanmia Tetap Optimis Di Tengah Sisa-Sisa Kelelahan Ujian Bencana

Detik-detik penghujung tahun baru saja lewat. Kepedulian kita kembali diuji dan Kepekaan kita diasah lagi dengan adanya musibah tanah longsor yang menimpa saudara-saudara kita di Sukabumi. Gempa beruntun masih mengguncang Lombok. Tsunami dan Likuifaksi menenggelamkan Palu-Sigi-Donggala. Selat Sunda masih siaga setelah luluh lantak diterjang tsunami belum lama ini.

Musim hujan sudah turun tapi kondisi pengungsian di Donggala masih belum banyak berubah dan tidak sedikit huntara yang terendam banjir padahal belum dioperasikan. Baru-baru ini juga banjir bandang di Aceh Tenggara seolah tak memberi jeda kita untuk istirahat. Hingga akhirnya, berjatuhan korban pasca bencana. Ada yang meninggal dunia, ada yang luka-luka dan ada pula yang sampai saat ini masih terpisah dari keluarga.

Kerusakan bangunan, jalan dan pemukiman tidak bisa dielakkan. Belum lagi, trauma bencana masih menjadi yang menjadi momok yang menakutkan. Sekali lagi, kepedulian kita diuji. Kepekaan kita diasah lagi. Panggilan iman dalam jiwa kemanusiaan haruslah terus melambung tinggi memecah setiap pekikan terompet, dan letusan kembang api yang tinggi.

Harta materi seolah dibuang begitu saja tanpa arti lagi untuk pesta pora. Belum lagi padat sesaknya panggung biduan di pusat jalan-jalan ibukota dengan kendaraan roda empat dan roda dua inilah realita yang sangat ironis menyisakan keprihatinan.

Kondisi yang terus menyesakan dada menambah sederetan panjang luka nafas kemanusiaan ditengah musibah yang silih berganti.

Tanpa pamrih di awal tahun 2019 Tanmia Foundation masih berusaha memperbaiki semangat baru untuk terus membangun ummat dengan ikhtiar terbaik di tengah sisa kelelahan yang ada, ditengah sisa kehangatan akan tetesan musim hujan yang terus mengguyur deras dalam suasana kedinginan. Tantangan selalu hadir dalam setiap kebaikan tapi niat baik untuk terus berbuat atas dasar keimanan dan panggilan jiwa kemanusiaan harus tetap kokoh menebalkan iman keyakinan dan menumbuhkan harapan optimisme di dada.

Awal tahun 2019 jelang sepekan beriringan dengan 100 hari pasca bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah Tanmia Foundation mendistribusikan logistik dan tandon air untuk pengungsi terdampak yang berada di Palu-Sigi-Donggala.

Selain itu sumur-sumur wakaf juga telah beroperasi di beberapa titik pengungsian sebagai sumber penyambung kehidupan para pengungsi.
“Alhamdulillaah distribusi logistik dan tandon penpung air dapat menyambung harapan dan menambah semangat kami untuk bangkit ditengah ketidakpastian suasana pasca bencana”, ungkap Taufik Abdullah salah seorang warga Lumbumpetigo Wani Tanantovea Donggala.

Empati kita terus digugah untuk tetap berbagi meringankan derita saudara seiman kita yang masih bersedih dirundung duka. Adakah dosa yang belum berhenti dengan taubat nasuha ? Atau inikah ujian untuk menguji keteguhan iman kita ?
Satu kata untuk kita terus bergerak dan berfikir demi menolong sesama atas keimanan dan kemanusiaan kendati awal tahun tiba ditengah hiruk pikuk, hingar bingar riuh gegap gempita datangnya tahun baru bergelora di penjuru Indonesia bahkan seantero dunia.

Hidup kita itu sebaiknya ibarat “bulan & matahari”—dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi.

Diterimakasihi atau tidak, ia tetap “berbagi”. Mari tetap berbagi dalam kebaikan kawan. Barakallahufiekum.

Relawan Tanmia
Ali Azmi

Saatnya Bangkit Bersama Umat Membangun Pedalaman Donggala

Menyatu dalam suasana pemulihan bencana ( recovery ) di daerah pedalaman bukan hal mudah bagi sebagian orang, terlebih bagaimana membayangkanya bila itu juga suasana pengungsian di wilayah terisolir. Inilah gambaran Balaesang Tanjung. Akan tetapi Balaesang Tanjung selalu menggelayutkan kebahagiaan bagi para relawan yang masih siap bertahan.

Tetap bertahan adalah pilihan agar bangkit, membangunkan kembali harapan dan menyemai semangat agar menyemarakkan ibadah dan bagaimana syi’ar Islam agar terasa di tengah-tengah umat yang jauh berada di pedalaman.

2 Desember 2018 ini bisa jadi menjadi hari paling haru bagi semua orang di semua penjuru nusantara, hari dimana semua umat islam bersatu padu, membuang ego demi menyatukan hati, menguatkan ukhwah, membela umat yang dinista terus berulang.

Kali ini jutaan manusia menyemut tanpa sekat memenuhi Monas dalam rangka menguatkan tauhid bersama elemen umat tapi hal demikian tidak untuk muslim pedalaman Donggala yang masih perlu banyak perhatian juga sarat dengan keterbatasan.

Akses jalan tanah bebatuan yang terjal bertebing dan sulit dijangkau menemani sepanjang perjalanan sampai lokasi Pomolulu Balaesang Tanjung. Disini untuk menemukan para juru dakwah adalah hal yang sangat langka.

Oleh karena itu, posko bersama relawan kemanusiaan Tambu bersama-sama tim da’i lokal berinisiatif terjun ke umat dalam rangka recovery di masa transisi. Harus ada yang siap dimasa-masa transisi ini berdakwah memenuhi panggilan umat di pelosok-pelosok.

Agar wilayah-wilayah yang masih memprihatinkan, dapat merasakan manisnya ibadah pasca bencana terjadi berangsur pulih.

Alhamdulillaah kegiatan pengajian Ahad untuk warga Dusun Mapaga Labean berjalan dengan lancar, sekitar 150 warga menghadirinya beserta anggota keluarga dan anak-anaknya.

Acara ini berhasil terselenggara atas gagasan tim relawan bersama pihak Dusun Delapan Mapaga Labean sejak beberapa hari sebelumnya.

“Kami atas nama warga dusun Mapaga sangat berterimakasih atas dilaksanakanya acara pengajian dan bantuan distribusi logistik untuk warga yang masih mengungsi di gunung”, tutur Bagus perangkat dusun setempat.

Sekitar 200 paket berhasil dibagikan untuk warga dusun Mapaga Labean yang terdampak bencana. “Mapaga adalah daerah pesisir yang pernah terjadi tsunami pada tahun 1968 yang menewaskan ratusan korban.

Hari-hari penat lelah berlalu dengan melihat ganti kebahagiaan terpancar dari raut muka para jamaah yang datang memenuhi mushola Al Ikhlas Kampung Nelayan Mapaga Labean.

Bersama berbagi untuk korban bencana adalah bagian ikhtiar dan tugas para relawan dalam menyalurkan amanah dari para donatur. Lelah pun pasti terasa tapi janganlah menyerah karena kesabaranlah semua menjadi indah pada akhirnya. Momen doa bersama menyudahi acara sore ini sembari menanti senja syahdu di Mapaga Labean. Barakallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Santri Tanmia di Acara Profil Anak Hafizh SALAM TV

Jum’at, 02 November 2018 dalam rangka mengisi Acara Profil Anak Hafizh di salah satu stasiun TV Islam swasta, Al hamdulillah kali ini Mahad Tahfizh Quran Usia dini Attanmia berkesempatan ikut tampil dalam acara yang diselenggarakan oleh SALAM TV di Gedung BNI Syariah, Kuningan – Jakarta selatan pada hari tersebut.

Muhammad Rafif Al Faruq, salah seorang santri Ma’had Tahfizh Attanmia berkesempatan hadir memenuhi undangan SALAM TV sebagai salah satu nara sumber pada Acara Profil Anak Hafizh ditemani oleh salah satu guru/pengampu kelas Tahfizh, Ust Zainudin.

Sebagaimana keterangan dalam wawancara sekilas tersebut bahwa di usia 9 tahun Ananda Dengan Izin Allah telah menghafal kuang lebih 14 juz Al quran. Oh ya ananda juga telah selesai menghafal bait-bait matan Tuhfatul Athfal lhoh… yang merupakan salah satu karangan imam Qari besar dalam ilmu Tajwid,Syaikh Sulaiman Al-Jamzury Semoga Allah merahmati beliau

Anada juga berkesempatan untuk menjawab beberapa pertanyaan ayat suci Al quran dari Kak Rio untuk melanjutkan ayat-ayat yang ditanyakan dan dapat dijawab dengan baik dan lancar Alhamdulillah .

Kira-kira apa rahasia ananda bisa menghafal 14 juz diusia segitu yaa ??

Dengan bekal kesungguhan, ananda mengambil program Intensif ( mondok ) dan setiap harinya menghafal Al quran dengan metode Sabaq, Sabqi, dan Manzil !

Yaitu dengan metode banyak mengulang baik bacaan ataupun hafalan mencakup hafalan baru ataupun yang sudah dihafal, sehingga memudahkan Ananda untuk terus menghafal Al Qur’an kemudian mengatur waktu serta bimbingan dari pengampu dikelasnya.

dan Dengan izin Allah acara yang berlangsung dari pukul 08.30- 15.00 wib itupun selesai dengan lancar. Alhamdulillah.

Semoga Ananda serta perjuangannya dapat menjadi inspirasi dan motivasi teman-teman dan adik-adik penghafal lainnya, Aamiin yaa rabbal Aalamiin.

 

Sempurnakan Shalat Anda

Hudzaifah ibnu Alyaman adalah sahabat spesial, ia diberi amanah untuk menyimpan rahasia – rahasia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, banyak berita rahasia hanya ia yang tau, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hanya menceritakan kepada beliau dan tidak memberi tahu sahabat – sahabat yang lain.

Umar bin Khathab pernah meminta para sahabat untuk berandai – andai, di antara para sahabat ada yang berkata “seandainya rumah ini penuh dengan emas, maka aku akan sedekahkan semuanya di jalan Allah“ ada juga yang berkata “sendainya rumah ini berisi penuh mutiara maka semua akan aku belanjakan di jalan Allah”, Umar bin Khatab berkata “namun aku berandai bila satu rumah ini penuh dengan pemuda seperti Abdullah bin Rawahah, Muaz bin Jabal dan Khuzaifah ibnu Alyaman untuk aku beri tugas guna kemaslahatan kaum muslimin.

Umar bin Khathab melihat sosok Hudzaifah seorang yang sangat penting sehingga Rasulullah menjadikan beliau sebagai orang menyimpan rahasia – rahasia beliau tentang ummat ini, sehingga Umar bin Khathab bertanya kepada Hudzaifah “apakah namaku disebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bagian dari orang munafiq”?.

Hudzaifah menjawab tidak, namun setelah engkau aku tidak dapat menjamin seorang pun dari mereka.

Dalam satu kesempatan Hudzaifah melihat orang yang sedang shalat namun tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia berkata kepada orang itu “Shalat engkau tidak sah, bila engkau mati maka engkau mati bukan dalam agama fitrah (islam) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (Fathul baari, bab shalat).

Melihat orang yang gerakan shalatnya tidak sempurna mendapat perhatian yang besar dari sahabat Hudzaifah berarti masalah shalat yang ruku’ dan sujudnya tidak sempurna adalah masalah besar, bisa jadi orang yang shalat dengat cara seperti itu tidak mendapatkan pahalanya.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الرجل ليصلي ستين سنة وما تقبل الله له صلاة، لعله يتم الركوع ولا يتم السجود، ويتم السجود ولا يتم الركوع. فقد ذكره المنذري في الترغيب والترهيب، وقال: رواه أبو القاسم الأصبهاني، وينظر سنده ـ وحسنه الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda: Sesungguhnya ada orang yang melaksanakan shalat selama 60 tahun namun Allah tidak menerima shalatnya, bisa jadi ruku’nya sempurna namun ia tidak menyempurnakan sujud, atau bisa jadi sujudnya sempurna namun ruku’nya tidak sempurna. (Dinilai hasan oleh Albany).

وعن أبي عبد الله الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا لا يتم ركوعه, وينقر في سجوده وهو يصلي فقال : ” لو مات هذا على حاله هذه مات على غير ملة محمد !

Dari Abu Abdillah Al Asy’ari ra ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujud seperti ayam mematuk makanan, lalu beliau bersabda: seandainya ia mati dalam kondisi seperti ini maka ia mati bukan dalam agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam. (Dinilai shahih oleh Albani).

يقول عمر بن الخطاب رضي الله عنه
إن الرجل ليشيب في الاسلام ولم يكمل لله ركعة واحدة , قيل : كيف يا أمير المؤمنين قال : لا يتم ركوعها ولا سجودها

Umar bin Khathab berkata: ada seseorang yang rambutnya sampai beruban di dalam islam, namun shalatnya satu rakaat pun tidak sempurna, para sahabat bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Amirul mukminin? Umar berkata : ia tidak sempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Melihat keterangan dari riwayat – riwayat yang telah kami kemukakan menunjukkan bahwasanya shalat dengan baik adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa dielakkan, karena itu menentukan kualitas shalat tersebut, maka sudah semestinya kita belajar gerakan dhalat dengan baik seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, seperti sabda beliau:

“Shalatlah seperti kalian melihat aku shalat”.

Mari kita sampaikan hadits – hadits ini dan ajarkan pada anak – keturunan kita shalat yang baik dan benar, dengan kualitas yang baik seperti yang diajarkan oleh beliau, bagi yang sudah baik mari kita tingkatkan, bagi yang belum mari kita sempurnakan, dimulai dengan belajar shalat lalu diamalkan dengan baik pula.

Jadilah Pemaaf

Dalam menjalani hidup sosial bermasyarakat, manusia tidak pernah lepas dari sebuah kesalahan, entah itu terhadap tetangga, kawan, ataupun rekan kerja. Kesalahan adalah suatu hal yang wajar ketika kita berinteraksi dengan sesama. Namun, ketika kita menyikapi kesalahan tersebut dengan tidak elegan, maka boleh jadi perkara kecil itu akan membesar dan menyulut permusuhan.

Jika suatu kesalahan disikapi dengan suatu proses saling maaf dan memaafkan, itulah sebenarnya yang luar biasa. Karena manusia sebagaimana disampaikan Nabi sghhallalahu alaihi wa sallam “Setiap anak Adam tidak luput dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR Tirmidzi).

Nabi memafkan perlakuan penduduk Bani Tsaqif di peristiwa Thaif, Abu Bakar memafkan Mistah bin utsasah di peristiwa hadits ifki (an-Nuur : 22), Bilal memaafkan Abu Dzar Al Ghifari setelah sebelumnya dipanggil dengan “ wahai anak perempuan hitam.” Jika Nabi kita mencontohkan kepada kita untuk memberi maaf, demikian pula sahabat-sahabat beliau juga memberi maaf atas perlakuan yang menyakiti mereka. Lantas contoh apalagi yang kita butuhkan agar kita mau belajar memaafkan kesalahan orang lain. Ya… belajarlah untuk bisa saling memaafkan, karena Allah saja selalu memaafkan kesalahan hambanya, kenapa kita tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain.

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An Nisa’: 110).

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan menyuruhlah kepada kebaikan, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” [Surat Al-A’raf: 199]

Sebagaimana dikutip dalam tafsir surat Ibnu Katsir dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Jadilah engkau pemaaf, yakni terhadap sikap dan perbuatan orang lain tanpa mengeluh. Hisyam ibnu Urwah telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa Allah Swt. telah memerintahkan Rasul-Nya agar bersifat memaaf terhadap akhlak dan perlakuan manusia (terhadap dirinya). Menurut riwayat yang lain, makna yang dimaksud ialah ‘bersikap lapang dadalah kamu dalam menghadapi akhlak mereka’.

3 Konsep Dan Resep Menjalani Hidup Yang Harmonis

Jadilah pemaaf. Ketika proses saling maaf dan memaafkan sudah menjadi habit (kebiasaan) dalam masyarakat, sungguh masyarakat tersebut akan menjadi suatu masyarakat yang harmonis, mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) menaungi mereka.

Menyeru kepada kebenaran. Di kala rasa dendam masih bersemayam dalam hati, maka pintu pintu-pintu kebaikan sedang tertutup rapat. Namun manakala ia mampu memafkan kemudian justeru berbuat baik disaat umumnya orang berbuat buruk karena telah disakiti, maka pintu kebaikan sedang terbuka di segala penjuru arah, setan melongo tidak bisa menggoda dan hawa nafsu menangis karena tidak dituruti keinginannya.

Berpaling dari orang-orang bodoh. Umumnya tindakan orang bodoh itu lantaran tidak berfungsinya akal sehat, dan hawa nafsu yang mendominasi hati manusia. Maka jika ia telah disakiti , tidak membalas keburukan dengan keburukan malah justeru membalasnya dengan perbuatan baik, maka sungguh itu tanda dari kesempurnaan akal dan tanda kokohnya keimanan.

Ketika Allah SWT menurunkan pada Nabi-Nya SAW ayat ini “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh,” maka Rasulullah SAW mengatakan, “Apakah ini, wahai Jibril?” Ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu supaya memaafkan orang-orang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan menyambung orang-orang yang memutuskan perhubungan denganmu.”( Tafsir Ath-Thabari (VI/154) dan Ibnu Abi Hatim (V/1638).

Kekuatan itu ukurannya adalah pengendalian diri bukan pelampiasan ambisi pribadi. Jika kepuasan diri ia raih dengan cara menimpakan malapetaka pada orang yang tidak ia sukai maka itu pada hakikatnya adalah kelemahan diri. Karena kekuatan sejati dalam diri manusia adalah manakala ia sanggup memafkan saat ia mampu membalas.

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Bukanlah orang kuat yang selalu menang dalam, tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah

Sehingga ciri dari kuat sebenarnya adalah manakala ia lebih memilih memafkan ketimbang membalas

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“…yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di saat lapang maupun di saat sempit, menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS: Ali-Imran 134).

Orang yang didzalimi kemudian memakai haknya untuk membalas maka ia telah memakai fasilitas keadilan dalam syariat islam, namun manakala ia memafkan maka ia telah memilih transaksi yang jauh lebih menguntungkan dengan Allah ta’ala.

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim.” (QS: asy-Syura :40)

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Uqbah, bagaimana jika aku beritahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.  Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baghawi).

Maafkan kesalahan orang lain sebelum mereka meminta maaf , mudah-mudahan mereka juga memaafkan kesalahan kita yang belum kita mintakan maaf kepada mereka.

 

#Indahnyasalingmemaafkan

#ciriorangkuat

#selamatkandiridariprovokasisetan

 

TPQ Darurat Anak-Anak Korban Gempa di Lombok

Gempa beruntun yang mengguncang Pulau Lombok sejak 29 Juli lalu telah membuat ratusan korban jiwa dan ratusan ribu jiwa mengungsi. Selain itu, ribuan infrastruktur, termasuk bangunan sekolah dan madrasah rusak parah dan tidak bisa lagi difungsikan.

Sehingga mengaji dalam tenda darurat bukan hal asing bagi anak-anak di Lombok. Ini sudah 3 bulan berjalan pasca gempa bumi yang mengguncang Lombok sejak 29 Juli lalu.

Alhamdulillaah tim Tanmia Foundation mendistribusikan ratusan Iqro’ dan Al Qur’an untuk TPQ Buah Hati Gegutu Selaparang Mataram. TPQ darurat yang menggunakan tenda-tenda peleton darurat tetap seperti biasanya riang ramai dipenuhi anak-anak mengaji sejak sebelum ashar.

“Anak-anak mengaji disini terbagi dalam kelas Iqra, Qur’an dan Tahfizh”, tutur Ibu Patmi pengelola TPQ yang masih sibuk menyimak anak-anak hafalan.
Tanmia Foundation tidak henti-hentinya mengucapkan ribuan terimakasih kepada para masyarakat yang telah menyalurkan donasinya kepada kami, semoga Allah SWT membalas dengan berlipat ganda dan penuh keberkahan. Demi membantu saudara-saudari seiman kita di lombok yang saat ini masih membutuhkan uluran tangan kita. Bantuan kita bahagiakan mereka.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lombok – NTB

Tanpa Listrik Mereka Tetap Mengaji

Sampan kecil kami pun akhirnya bersandar di Pesisir Asahan, desa Batu Putih Kec Sekotong Kab. Lombok Barat. Tak disangka Pak Bahtiar kepala dusun Labuan Poh sedang menemani warga menunggu untuk menyambut kami.

Asahan belum banyak berubah seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya segelintir warga yang masih memiliki tenaga surya untuk dipakai bersama-sama. Seperti sebelumnya waktu siang kondisi listrik tetaplah padam. Listrik hanya menyala selama 2 jam saja disetiap rumah tiap malam. Hanya mushalla saja yang menyala ketika waktu shalat. Sehingga kegiatan belajar dan mengaji hanya ada diwaktu siang usai sekolah. Hanya satu sekolah tingkat dasar yang masih berdiri sampai sekarang dengan kondisi fisik serba minim adanya.

Berdampingan dengan Mushalla kecil yang masih berdiri untuk menegakan shalat jamaah di sanalah tujuan kami pertama datang untuk mendistribusikan Al Quran dan Iqra’ untuk mengaji.
Rumah Ibu Mulyati, Beliau adalah guru ngaji asal Gili Gede yang menjadi sosok pengajar TPQ Al Ikhlas Gili Asahan. Sudah belasan tahun mengajar anak-anak dengan panggilan keikhlasan. Kegiatan mengaji pun sudah biasa tanpa ada bantuan dana atau gaji, sehingga membuat heran dan haru ketika kami berkunjung ke rumah biliknya.

Tanpa pamrih untuk mengajarkan mengaji untuk anak-anak di pulau yang hanya berpenghuni belasan KK.

Syukur Alhamdulillah puluhan anak-anak tiap pulang sekolah tetap setia datang untuk mengaji ke rumahnya. Belajar mengajinya pun beragam dari latihan baca, tulis, praktek Wudhu’ dan Shalat serta hafalan do’a-do’a, surat-surat pendek Juz ‘Amma.

“Sebelum bapak saya meninggal, ia berpesan kepada saya untuk tetap mengajar anak-anak mengaji sesibuk apapun itu dan jangan sekali-kali meminta upah, In syaa Allah akan ada kemudahan jalan keluar dari Allah semua urusan hidupmu”, papar Ibu Mulyati kepada kami sembari pamit.

Gili Asahan adalah sebuah pulau kecil yang berada di ujung barat Lombok Barat. Perjalanan selama 2,5 Jam atau 80 Km bila ditempuh dari kota Mataram kemudian disambung dengan menggunakan sampan kecil selama 15 menit ke pulau tersebut.

Lokasinya yang cukup jauh memang jarang dikunjungi khalayak namun semangat gigihnya anak-anak yang mengaji di pelosok jauh itu telah menghapus lelah kami dan menjadi semangat pengobar Amal Shaleh yang transparan tak boleh surut mensyiarkan kalimat Allah dengan Qur’an yang penuh kemuliaan.

Sungguh ajaib… tanpa Listrik mereka tetap mengaji setiap pulang sekolah, di setiap huruf Qur’an yang mereka baca mengalir jariyah yang kelak menjadi penolong di akhirat In syaa Allah.

Ali Azmi
Rekawan Tanmia
Lombok – NTB

 

Pantai Talise Palu Dalam Kenangan

Ribuan manusia berhamburan ketika tsunami Palu menyapu pantai Talise yang tengah ramai perayaan festival Pesona Palu Nomoni 3. Acara yang dihadiri banyak warga Palu itu berganti jadi kedukaan mendalam setelah gempa Donggala berkekuatan M 7,7 skala richter yang disusul tsunami Palu.

Gegap gempita bising perayaan festival Palu Nomoni 3 memang sudah menyedot perhatian para warga lokal dan internasional yang jauh-jauh hari sudah diagendakan pemkot Palu. Perhelatan baru saja akan dimulai dijadwalkan pada 28 Sept – 3 Oktober 2018 tapi naasnya mendadak menjadi gemuruh tangisan duka dan lautan mayat yang berserakan di pesisir Talise.

Keindahan pesisir teluk Palu dari Silae-Talise-Tondo- Mamboro- hingga Wani Donggala sekejap lenyap setelah disapu tsunami. Gelombang tsunami diperkirakan hingga puluhan meter menurut hasil tim tsunami BMKG pada ( 16/10).

Sekalipun pusat gempa yang berada di Sirenja Donggala tapi justru membangkitkan gelombang tsunami yang menghantam pesisir kota Palu tanpa ampun. Palu lumpuh seketika, listrik padam dan menjadi kota mati sepekan itu. Tragisnya penjarahan sudah merebak dimana-mana disaat evakuasi mayat-mayat masih berlangsung hal yang sulit untuk dicegah dan berisiko.

Ekonomi pun sempat lumpuh tak sedikit kawasan pergudangan dan pusat perekonomian luluh lantak dan dijarah. Palu menjadi kenangan pilu bagi siapapun yang berada di tanah kaili kala itu.
Sepekan setelah kejadian Relawan tanmia Foundation bersama-sama relawan lainya sempat mencoba menyisir pesisir Talise hingga Wani Donggala walhasil, kuasa Allah benar-benar ditampakan pada hambaNya.

Masjid Apung Arkham Babu Rahman pantai Talise masih berdiri kokoh, namun disaat yang sama jembatan Ponulele icon kota Palu runtuh seketika hanya sisa-sisa kenangan di atas megahnya sepanjang 250 meter dan tinggi lengkung 20 meter. Kini sepanjang Talise menjadi pesisir kenangan cerita dan sejuta doa dan duka. Pesisir Pantai menjadi kembali ke sediakala asli sebelum pembangunan reklamasi pantai.

Anjungan nusantara yang biasanya ramai untuk nongkrong-nongkrong kini hancur berantakan dengan sisa-sisa material yang masih berserakan. Pusat-pusat kuliner pesisir menjadi pemandangan onggokan sampah yang kini belum terurus. Terlalu banyak kisah yang harus kami ingat baik-baik untuk kelak kami ceritakan kembali ke anak cucu. Tentang persahabatan, optimisme, harapan dan nilai-nilai kemanusiaan yang selalu tumbuh karena rasa iman dan islam dihati.
Ini bukan kalimat perpisahan dari kami. Tapi inilah awal kebangkitan kami sebagai seorang muslim dan panggilan hati seorang relawan kemanusiaan untuk datang kembali lagi membersamai saudara-saudari seiman kami. Menyusun kembali rencana dan program untuk membangun kembali asa dan harapan yang sempat runtuh dan lumpuh akibat teguran ujian musibah.

Maafkan kami…meski hanya sedikit yang bisa kami lakukan, tapi yang sedikit ini, titipan amanah dari segenap dermawan yang sungguh luar biasa dan tidak bisa kami sebutkan satu per satu. Satu hati dan satu kata serta satu tindakan. Bantu mereka dengan Jiwa dan harta kedermawanan kita.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu

Ajaib, Kuasa Ilahi pada Keluarga Imam Ma’arif, Imam Masjid Al Furqan Petobo

Matahari tinggalah sesaat terbenam, jalan Biromaru sesak beriringan kendaraan berat menuju petobo atas.
Singgah sejenak di tenda pengungsi Petobo, bapak Ma’arif bersama istrinya ibu Mirna. Bercengkerama sejenak sembari mengantarkan perbekalan tenda yang masih reot seadanya meskipun sudah dua pekan mereka mengungsi sejak bencana 28/9/2018.

“Maaf jika berkenan antarkan Qur’an dan mukena untuk kami mengaji, karena semua perlengkapan shalat kami hanyut terbawa lumpur”, ucap Ibu Mirna sembari sembab berdiri disamping suaminya.

Malamnya itu juga kami terheran aneh, tersentuh hati akan ucapan keluarga itu di tengah perjalanan rombongan tim relawan pulang menuju posko Panti Asuhan Pombewe Sigi Biromaru.

Esok harinya kami , kami antarkan Qur’an dan sarung ke tendanya. Padahal Qur’an dan mukena sarung itu belum ada karena belum terbawa. Perangkat shalat adalah satu-satunya kebutuhan yang sering terlewatkan. Singkat cerita tanpa disangka,apa dikata menurut kerabatnya yang tak jauh dari tendanya disemak-semak kami terperanjat bila Bapak Ma’arif adalah imam di Masjid Al-Furqon RW 04 Petobo.

Ma’arif sekeluarga bersama istri, dan ketiga anaknya tak sedikitpun basah terkena terjangan lumpur, sehingga banyak tetangga-tetangga lainya yang merasa heran setelah mereka bersua esok paginya setelah gempa dan likuifaksi maghrib itu.

Perlahan ia bertutur cerita yang membuat kami sembab, ia terpisah dengan semua keluarganya dan qadarullah semua selamat dengan jalan perjuangan ajaib masing-masing saat guncangan dahsyat itu terjadi.

Sesaat adzan masih berkumandang, goncangan dahsyat itu menghentakan semua yang berada dalam masjid. Seketika itu juga Ma’arif terpontang-panting keluar meskipun pelan lambat karena kondisinya yang sudah mulai sakit-sakitan. Tanah mulai terbelah, tiang-tiang listrik sudah mulai berjatuhan. Ia menyaksikan rumah-rumah pun mulai ambruk bersamaan dg pepohonan yang tumbang dg kerasnya. Semua orang menyelamatkan diri masing-masing tanpa menghiraukan dg teriakan minta tolong disuasana yang mencekam itu.

Ia berfikir keluarganya sudah tidak ada yang selamat karena ia jauh dari rumah saat kejadian. Qadarullah jelang tengah malam bersaut teriakan saling memanggil akhirnya ia bertemu dg istri dan anak-anaknya dg selamat. Mereka yang selamat berkumpul dengan berbagai kondisi yang sangat kotor dan memilukan bahkan ada yang tanpa sehelai pakaian. Suasana risih sangat kotor, dibasah dg lumpur menjijikan. Dan Subhanallah terheran disaat warga yang lain bersusah payah, Ma’arif bersama keluarganya dalam kondisi biasa saja, kering dan tak tersentuh lumpur sama sekali hanya percikan langkah kaki biasa saja.

Kini Pak Ma’arif dan Ibu Mirna serta keluarganya mengungsi di Loru berbatasan Petobo bagian atas, sebuah padang luas yang hanya ditumbuhi semak. Perjuangan yang tak ternilai baginya dan siapapun yang mengambilnya untuk perbekalan keimanan sepanjang usia.

Mari bantu mereka dengan apa yang kita miliki. Menolong berbagi di dunia, Allah siapkan pahala dan balasan di akhirat.Aamiin In sya Allah

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Petobo – Palu