Tagisan Abdullah bin Rawahah Sebelum Berangkat Jihad

Salah satu bentuk variasi dahwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah dengan berkirim surat dengan para tokoh masyarakat, pejabat hingga penguasa, baik di Jazirah atau pun di luar jazirah, bahkan hingga ke ethiopia di Afrika, Alexandria di Mesir, Kisra di Persia, surat biasanya berisi ajakan untuk masuk islam, keindahan ajaran islam, keagungan Al Quran dan bahkan ancaman atas perilaku zhalim para pemimpin kepada rakyatnya.

Surat selalu dihantarkan melalui jinjingan para utusan yang bertugas mengantarkan surat hingga ke tempat tujuan, pekerjaan mengantarkan surat adalah pekerjaan mulia, ia berarti utusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, namun tugas ini sering kali cukup berbahaya, karena ia masuk ke wilayah musuh dan seringkali masuk ke istana raja dengan pengawalan super ketat.

Kali ini surat dikirim kepada Raja Romawi untuk mengajak mereka masuk islam, kala itu orang – orang Romawi menguasai dan mengendalikan wilayah Syam, namun sang utusan membawa surat dari Rasulullah dijegat di tengah jalan oleh Syurahbil yang merupakan salah seorang antek raja romawi, tanpa perhintungan panjang Syurahbil membunuh utusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Berita syahidnya sang utusan begitu cepat sampai ke Madinah pusat kekuatan kaum muslimin, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merasa sangat terpukul dengan berita ini, membunuh utusan adalah perbuatan yang sangat keji di kala itu, bahkan ini merupakan anacaman sekaligus tantangan untuk berperang.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mempersiapkan pasukan yang cukup besar jumlahnya, dengan kekuatan 3000 pasukan siap tempur untuk menjemput kesyahidan, namun ternyata pasukan musuh jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah pasukan kaum muslimin, pasukan Romawi kala itu berjumlah 200.000 orang.

Sebelum berpisah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam para tentara diberikan nasehat – nasehat penting terkait adab dalam berjihad fie sabilillah, seperti jangan kamu berbuat zhalim, curang dalam pembagian harta rampasan perang, tidak boleh membunuh wanita dan anak – anak, orang yang sudah tua renta, para rahib yang beribadah di kuil dll.

Saat menentukan panglima perang pun tiba, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menetapkan Zaid bin Haritsah untuk memimpin perang, namun Rasulullah berkata lagi, bila Zaid wafat maka gantinya adalah Ja’far, bila Ja’far wafat maka Abdullah bin Rawahah yang memimpin perang.

Wasiat seperti ini seakan memberikan isyarat bahwa mereka bertiga akan syahid dalam perang ini, Abdullah bin Rawahah yang mendengar wasiat Rasulullah tersebut menagis, para sahabat bertanya mengapa engkau menangis wahai Abdullah?! Abdullah menjawab aku menangis bukan karena takut mati dan cinta dunia, namun aku teringat ayat yang pernah dibacakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadaku:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ۝ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا [مريم:71-72]

Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut. [QS Maryam: 71-72].

Syaikh ‘Abdul Muhsin (ulama besar Madinah) menyatakan bahwa penafsiran paling populer mengenai ayat di atas ada dua pendapat. Pertama, semua memasuki neraka, akan tetapi mereka (kaum Mukminin) tidak mengalami bahaya. Kedua, mereka semua melewati shirâth (jembatan) sesuai dengan kadar amal shalehnya. Jembatan ini terbentang di atas permukaan neraka Jahannam. Jadi, orang yang melewatinya dikatakan telah mendatangi neraka. Penafsiran ini dinukil Ibnu Katsîr rahimahullah dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu.

Ayat ini yang membuat sahabat Abdullah bin Rawahah menangis, mengingat betapa seram dan menakutkan pemandangan pada hari kiamat tersebut.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Orang-orang menyeberanginya sesuai dengan kadar amaliahnya (di dunia). Sebagian melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, secepat jalannya kuda terlatih maupun seperti kecepatan larinya hewan ternak. Sebagian (menyeberanginya) dengan berlarilari, berjalan dan merangkak. Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Masing-masing sesuai dengan ketakwaannya.

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan membiarkan orang-orang zhalim (yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan maksiat) di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.”

Semoga Allah ta’ala dengan rahmat dan kasih-Nya berkenan menyelamatkan kita sekalian dari neraka.

Para sahabat yang hadir dalam pelepasan tentara menuju Mu’tah ini memberikan motivasi kepada Abdullah “Abdullah in syaa Allah kamu akan selamat, membawa kemenangan dan Ghanimah (harta rampasan perang), lalu Abdullah berkata “adapun aku hanya berharap ampunan dari Allah, dan aku berharap mati syahid dalam pertempuran ini”.

Perang berlagsung begitu sengit, pasukan kaum muslimin yang hanya berjumlah 3000 orang mampu menghadapi pasukan Romawi 200.000, korban dari pihak Romawi tidak terhitung jumlahnya, namun dari pihak kaum muslimin hanya 12 orang saja, ke tiga komandan yang disebut Rasulullah semua menemui kesyahidan di Mu’tah, semoga Allah meridhai mereka dan menerima mereka sebagai Syuhada.