Desa Pejem menunggu bantuan Dai

Kamis 7 february Tanmia foundation mendapat kesempatan untuk bersilaturahim ke Dusun Pejem, Desa Gunung Pelawan, kecamatan Belinyu, Bangka belitung, perjalan cukup jauh dari Kota Pangkal Pinang, kira – kira 100 KM dari bandara Depati Amir berdiri, meski perjalanan terhambat sedikit dengan delay hampir satu jam lamanya, namun alhamdulillah perjalan lancar.

Tiba di kota Pangkal pinang langsung disambut oleh Ustadz Ali Muttaqin pendiri sekolah Islam Al Mansyur, lebih 10 tahun sudah beliau berkiprah di Bangka alhamdulillah sudah banyak kegiatan dakwah yang beliau jalankan, dari mendirikan SDIT Al Mansur, mendistribusikan dai, pesantren tahfizh masih dalam perencanaan, in syaa Allah akan berdiri di atas lahan 4000 M2, di dekat kota Pangkal Pinang.

Perjalanan ke Dusun Pejem kami diantar oleh beberapa orang ustadz dan Lazis Muhammadiyah yang diwakili oleh bapak Umar dani, beliau menemani perjalanan kami hingga ke lokasi, wilayah dusun Pejem memang lokasi terujung pulau bangka, masyarakat di wilayah ini masih ada sekitar 30 persen yang belum memiliki agama, masyarakat adat di dusun ini ada 2 suku, Lom dan Lah. Dari makna harfiyah dalam arti bahasa bangka kata “Lah” berarti sudah, dan “Lom” berarti Belum, maksudnya suku Lom adalah belum beriman (islam), dan Lah sudah beriman (islam).

Dahulunya masyarakat suku ini enggan untuk membaur dengan masyarakat yang sudah modern, seringnya mereka menutup diri layaknya suku Badui dalam di Jawa barat, namun sekarang mereka sudah membaur dengan masyarakat, mereka juga tidak memiliki pakaian adat, sehingga kita tidak lagi menemukanciri khas atau rumah adat mereka yang terbuat dari kayu dan atap dari daun nipah, meskipun masih terlihat satu dua rumah adat mereka di tengah dusun itu.

Gerakan dakwah di tempat ini terbilang sangat minim, karena posisinya yang cukup jauh dari pusat kota, namun alhamdulillah jalan hingga ke lokasi sangat bagus aspal halus sehingga tidak perlu hawatir soal hambatan di jalan menuju lokasi.

Di masjid dusun ini ada seorang Dai muda ustadz Ramdhani asal palembang yang sengaja diutus oleh kampus beliau di Palembang untuk berdakwah di dusun ini, alhamdulillah banyak kegiatan yang beliau tangani, dari mengajar santri TPQ, kajian bapak – bapak, kajian ibu – ibu, hingga pembinaan Muallaf dari suku Lom, perjuangan beliau di tempat ini terbilang besar, lokasinya yang sangat jauh dari kota sehingga sinyal handphone pun jadi barang amat langka di tempat ini, kehadiran beliau di tempat ini dirasakan oleh masyarakat sangat besar manfaat dan faedahnya.

Kami tiba di dusun Pejem jam 2 siang, kami temui ustadz ramdhani di rumah pak RT dusun tersebut, tempat beliau tinggal, alhamdulillah kami disambut dengan baik, rambutan khas dusun ini dan teh menjadi jamuan kami di tempat itu.

Dalam obrolan santai siang itu banyak masukan dan saran dari sang ustadz untuk Tanmia untuk program kegiatan dakwah dan sosial di masa yang akan datang, pada akhir pertemuan itu kami distribusikan Al Quran wakaf untuk masyarakat sekitar, mudah – mudahan menjadi amal jariyah buat kita semua. Aaminn ya rabbal alamin.

Perjuangan Anak-anak Sekolah di Pedalaman Ujung Kulon Menempuh Sekolah Idaman

Sejenak menelisik perjuangan yang ditempuh oleh anak-anak sekolah di perkampungan Rancecet Ranca Pinang Ujung Kulon serasa menggugah nurani untuk mengetuk rasa peduli.

Tak sedikit anak-anak di sana banyak yang terpaksa putus sekolah karena pelbagai alasan, dari soal akses hingga biaya. Banyak dari mereka memutuskan bekerja membantu berkebun orang tua di ladang ataupun di sawah. Padahal, usia mereka selayaknya masih di bangku sekolah. Mendapatkan pendidikan yang layak sangat lah berat, karena akses untuk menuju sekolah sangat sulit di lalui oleh kendaraan, hanya dengan cara berjalan kaki mereka menuju ke sekolah dengan melalui jalanan yang berlumpur.

Semua itu ternyata tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan ilmu, berangkat subuh pulang sore dengan membawa perbekalan nasi yang terselip di tas ranselnya sudah tidak menjadi persoalan bagi mereka yang penting masih bisa merasakan menuntut ilmu di sekolah dan mendapatkan bekal ilmu pengetahuan untuk asa cita harapan masa depan mereka layaknya anak-anak yang tinggal di perkotaan. Kondisi serba ala kadarnya sederhana tak mengurangi kegigihan dalam menuntut ilmu, dengan raut wajah yang ceria gembira selalu menghiasi suasana ketika sampai disekolah bertemu dengan guru teman-temannya.

Relawan Tanmia Foundation mencoba berbagi cerita bercengkerama dengan dua orang siswa Madrasah Ibtidaiyah Al Huda, bernama Eji Maulana dan Suher yang sekarang duduk di bangku kelas 6 dan kelas 5, setiap hari harus berangkat sekolah jam 6 pagi-pagi buta selepas subuh supaya sampai sekolah tepat waktu dengan jadwal masuk, mereka bercerita keluh kesahnya selama menempuh perjalanan menuju sekolah.

“Kebiasaan sejak awal masuk sekolah setiap datangnya musim hujan tiba, sepatu di tenteng ditangan dan baju seragam sekolah di masukan ke dalam tas karena jalanan menuju sekolah penuh lumpur dan tidak ada tempat berteduh”, ungkap Eji yang akrab disapa kawan sebangkunya di sekolah.

kebiasaan mereka sudah menjadi kebiasaan setiap hari karena ada kekhawatiran sepatu dan baju seragam kotor selama menempuh perjalanan yang berlumpur, ketika mereka sudah sampai ke sekolah barulah mereka memakai baju seragam dan sepatu, begitu pula sepulangnya sekolah.

Baru sepekan ini relawan Tanmia Foundation berkunjung ke wilayah ini tak lain ialah menyapa dengan kepedulian dalam hal pendidikan. Ada kalanya relawan seperti kami datang meski tidak hanya untuk mengajar, tapi mencoba berbagi empati dengan kemampuan yang ada dan mengabarkan akan informasi keberadaan adanya sekolah yang masih eksis ditengah keterbatasan pedalaman”, tutur Azmi relawan Tanmia dilokasi.

Walhasil, ternyata mereka sedang membutuhkan donasi untuk membantu perlengkapan sekolah murid-murid peserta didiknya dan membangun ruang belajar yang layak. Para orang tua dan guru yang selalu memberi motivasi kepada anak anaknya terus didengungkan agar mereka tidak patah semangat, namun dikalangan para orang tua terkadang ada kekhawatiran terhadap anak anaknya dikala musim penghujan datang, basah kuyup sudah menjadi langganan mereka walau memakai payung, ada juga orang tua yang sengaja menunggu anaknya di di perjalanan karena ada kekhawatiran terhadap anak anaknya, namun semua itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menyekolahkan anak anaknya.

Setelah dibangunkan ruang belajar dengan tiga ruang kelas dengan ukuran satu ruang yang berukuran panjang 3 meter dan lebar 4 meter persegi alhamdulilah bisa sedikit membantu meringankan anak anak sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-huda yang berlokasi di kp Erjeruk desa Rancapinang kec Cimanggu kab Pandeglang Banten. Walaupun keadaan sekolah masih jauh dari kata layak, akan tetapi sedikit mengurangi kekhawatiran para orang tua.

Kebutuhan gedung sekolah, meja dan kursi sebanyak 40 unit menjadi kebutuhan yang sangat mendasar untuk tercapainya proses belajar mengajar yang nyaman.

“Banyak yang memilih putus sekolah karena memang kondisi sekolahnya begini ala kadarnya. Nah yang tersisa saja kami jaga biar tetap lanjut bersekolah. Saat ini kami sudah mulai membangun kelas baru 3 x 4 m yang sedikit layak buat mereka,” kata seorang pengajar, Ustadz Fatoni.

Kegiatan Tanmia Foundation dalam hal ini turut berbagi dan mengabarkan kondisi yang ada di lapangan. Berbagi empati membangun kepedulian untuk mengetuk uluran tangan para dermawan untuk turut membantu meringankan pendidikan bagi anak-anak didik di pedalaman layaknya mereka yang berada di perkotaan.

Relawan memang sesekali datang tanpa sepeser pun pamrih, meski harus berkendara atau berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk bertemu anak-anak tapi ironisnya belum membuka wacana pihak lain sekelas pemerintah untuk hadir memberikan perhatian. Inilah saatnya kita berperan dengan do’a dan tindakan nyata. Berbagi kebaikan itu membahagiakan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Ujung Kolon

Sumur Untuk Rumah Tahfidz Amanah di Tambu Donggala Membantu Pasokan Ketersediaan Air

(Jum’at 11/01/2019) Tanmia Foundation bersama warga dan pengurus Pesantren Rumah Tahfizh Amanah berhasil merehabilitasi fasilitas air yang sempat tersendat beberapa waktu lalu pasca bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala. Rumah cikal bakal pesantren ini berasal dari rumah milik warga yang diwakafkan di Tambu Balaesang Kabupaten Donggala yang memang sudah tidak dihuni lagi setelah bencana.

Dalam waktu dekat ini Pesantren Rumah Tahfizh Amanah siap dipakai kegiatan belajar mengajar dan segera menampung para santri calon penghafal Qur’an yang berada dikawasan terdampak langsung bencana di Kecamatan Balaesang dan Balaesang Tanjung.

“Air menjadi kebutuhan pokok dan mendesak bagi warga dan santri disini, sehingga perlu adanya sumur bor, sebelumnya sudah pernah dibuatkan sumur gali namun macet tertimbun setelah gempa. Sehingga kebutuhan air untuk sementara ini kami ambil dari tempat warga setempat atau menunggu pasokan air tangki yang dengan cara membeli atau dari relawan” kata Naim, selaku pengurus pesantren. Usaha memperbaiki sarana air dengan membuat sumur bor berikut tower penampung air diharapkan dapat membantu memecahkan masalah ketersediaan air.

“Rasa syukur kita haturkan kepada Allah beribu kali dan semoga amal jariyah senantiasa berkah mengalir disetiap tetesnya pada para muhsinin yang telah berkontribusi dalam proyek amal sholeh ini”,ungkap Ustad Ridwan selaku tokoh da’i setempat menyambut serah terima wakaf sumur dari Tanmia Foundation di lokasi pada Jum’at yang penuh barakah ini.

Mari menjadi bagian yang mengalirkan kebaikan untuk hidup yang lebih baik dan penuh berkah kebahagiaan yang hakiki.
Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Distribusi Bantuan Kemanusiaan Ke Posko-Posko Pengungsian Sumur Pandeglang

Estafet perjalanan tibalah di Sumur Pandeglang Banten. Usai distribusi bantuan ke Way Muli dan Pulau Sebuku – Pulau Sebesi Lampung Selatan tim Tanmia Foundation langsung terjun ke lokasi warga di pengungsian kampung Legon Sumber Jaya Sumur Pandeglang yang menjadi korban amukan tsunami pada 22/12/2018.

Akses ke Kecamatan Sumur dari jalur pesisir Tanjung Lesung yang sempat terputus sudah bisa dilewati setelah jembatan sementara dipasang sudah sepekan ini. Kecamatan Sumur Pandeglang merupakan salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.

Jalan ke lokasi lewat pesisir masih belum sepenuhnya lancar ada beberapa ruas yang harus bergantian karena sempit, kondisi jalan yang juga berlubang dan becek kubangan berlumpur menambah sederet kesulitan ke lokasi. Bahkan Januari ini sudah memasuki cuaca musim hujan yang cukup lebat sehingga menjadi kewasapadaan tersendiri bagi para relawan dan warga saat ini.

Distribusi Tanmia Foundation menuju Kampung Legon RT 16 yang berada di Desa Sumber Kecamatan Sumur. Sebanyak 90 KK terdampak dengan 30 KK kehilangan tempat tinggal menjadi sasaran distribusi paket logistik bantuan kemanusiaan Tanmia Foundation. Logistik bahan pokok, sarana kebersihan dan perlengkapan rumah tangga disiapkan untuk dibagikan melalui perangkat dusun setempat yang berkordinasi dg relawan Tanmia. Dusun Legon adalah salah satu dari sekian kampung yang terkena tsunami cukup parah di Kecamatan Sumur.

Lokasi pengungsian di wilayah ini masih menggunakan terpal seadanya selain itu juga terkendala kurangnya tenda untuk pengungsi yang sudah berkeluarga berjumlah banyak.

“Ada sekitar 30 KK rumah warga kami yang hanyut diterjang tsunami, sekarang tersebar tinggalnya, baik di tenda, di rumah kerabat dan berpindah ke luar daerah karena trauma” jelas Mang Edong warga Legon saat ditemui relawan dirumah anaknya. Mang Edong termasuk kehilangan rumahnya yang hanyut beserta isinya setelah digulung tsunami malam itu, kini ia menumpang sementara dirumah anaknya yang berada di tetangga kampung dusun sebelahnya.

Sebulan berjalan pasca bencana persediaan logistik termasuk over supply ke titik-titik tersebut, itu tak lain peran dan kerjasama berbagai pihak relawan dg pemerintah dapat berjalan baik dg masayarakat setempat.

Kendati demikian, selalu ada saja titik-titik lokasi yang minim diperhatikan dan terkadang akurasi yang kurang tepat sasaran prioritasnya.

Permasalahan dilokasi bencana memang kompleks, selain kebutuhan dasar yang terbatas juga dampak sosial yang ditimbulkan. Tak sedikit menjumpai anak-anak dibawah umur menjadi peminta-minta sepanjang jalanan menuju Kecamatan sumur padahal seharusnya ada tindakan arahan antisipasi sosial dampak sebelumnya.

Kini terlihat warga nelayan sekitar pesisir masih membersihkan puing-puing rumah dan memperbaiki kapal-kapalnya untuk bersiap berlayar melaut kembali. Pasca tsunami memang masih sepinya tingkat konsumsi ikan, ini sangat beralasan karena warga masih cemas dengan masih banyaknya puluhan orang yang dinyatakan hilang sampai saat ini belum ditemukan oleh BNPB diperkirakan bisa saja dilahap ikan-ikan dikedalaman laut.

Dari data yang dilansir BNPB hingga pertengahan Januari sebanyak 437 orang meninggal dunia dan puluhan lainya belum diketemukan setelah kejadian ini. Sementara kerugian ekonomi juga masih dalam pendataan dan diperkirakan hingga angka trilyunan rupiah.

Pantauan dari para relawan bahwasanya beberapa hari terakhir ini logistik ( Sembako ) terus berdatangan untuk dikirim ke posko-posko dapur umum yang berada di lokasi pengungsian.

Di samping itu, tenda darurat pengungsian, dapur umum, rumah sakit lapangan, serta tim medis juga terus dimaksimalkan untuk membantu para korban terdampak karena belum tersedianya hunian sementara.

Jumlah ini sangat mungkin bertambah seiring dengan proses evakuasi dan pendataan yang masih terus dilakukan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Tanmia Berbagi Qur’an Wakaf Untuk Semangat Santri Pesantren Pedalaman Lampung Tengah

Pesisir Rajabasa Kalianda Lampung Selatan mendadak menjadi trending topic global pasca terjadinya bencana tsunami pada 22/12/2018.

Selain dikenal menjadi daerah kawasan wisata pesisir yang elok Rajabasa pun ternyata memiliki gunung Rajabasa yang indah dan sayang bila dilewatkan.
Tanmia Foundation kembali menyebarkan al-Qur’an di wilayah pesisir Rajabasa ( 19/1/2019) untuk para korban tsunami juga untuk pesantren yang berada di pedalaman Lampung.

Pesantren Tahfizh Hidayatullah Bandar Jaya Kabupaten Lampung Tengah menjadi salah satu tujuan distribusi wakaf qur’an.

Sebanyak 50 eksemplar al-Qur’an diserahkan ke SMP Integral Lukman Al Hakim pondok pesantren Hidayatullah, Jalan Lintas Timur, Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah.

Secara simbolis, al-Qur’an wakaf tersebut diserahkan oleh Tanmia Foundation langsung kepada pengasuh santri Pesantren Hidayatullah Ustadz Awaludin.

“Kami di sini sangat berterima kasih sekali, karena dengan adanya al-Qur’an tadi, semoga bermanfaatlah bagi kami,” ujar Awaludin kepada Tanmia Foundation usai acara serah terima.

Menurut Awaludin, al-Qur’an wakaf itu nantinya akan langsung digunakan dalam proses kegiatan belajar menghafal yang menjadi pokok kurikulum pesantren yang bermanfaat untuk kemajuan pesantren di tengah-tengah masyarakat Bandar Jaya Lampung Tengah.

“Ini kan al-Qur’an dan terjemahannya, mungkin nantinya para santri akan menggunakan ini (kalau) mau mengetahui artinya sebelum mereka terjun ke dakwah, atau mau kultum, jadi mereka mencari-cari dari terjemahnya tersebut. Biar mereka mengerti,” tambahnya.

Ustadz Khoirudin yang turut menemani tim Tanmia Foundation berkesempatan mengisi tausiyah dengan berharap, al-Qur’an tersebut bisa benar-benar difungsikan untuk proses kegiatan belajar dan penunjang dakwah.

“Program wakaf al-Qur’an untuk para korban langsung dan para korban terdampak akibat bencana tsunami Selat Sunda ini menjadi program yang merekatkan hati kepada umat ini, sehingga nantinya mereka bisa tergugah untuk membangun masyarakat yang Islam,” harap Khoirudin.

Pesantren Hidayatullah Lampung Tengah ini diberdiri sejak 2015 yang berada diatas tanah dan gedung wakaf dari seorang muhsinin yang letaknya ditengah rimba perkebunan kelapa sawit. Di pesantren ini sudah berlangsung kegiatan pendidikan SMP hingga SMK.

Di  Kompleks yang jauh dari jalan lintas timur trans sumatera ini memang masih rawan dari segi sikon keamanananya dari dulu. Setelah pesantren ini berdiri dan gencar berdakwah, situasi banyak berubah sehingga banyak orang menitipkan anak-anaknya untuk masuk pesantren.
Kali ini bukan sekedar bercerita tentang tsunami di pesisir Rajabasa Kalianda.

Melainkan melengkapi berbagi bercerita tentang perjalanan, silaturahim dan berbagi bersama para pegiat dakwah serta perjuangan para ustadz-ustadz yang bertahan di pedalaman yang semoga dalam rangka ketaatan dan membumikan qur’an serta mencari keridhaan-Nya semata. Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung

Panti Asuhan Dan Pesantren Yatim Nurul Islam Way Muli Perlu Dibela Dan Diperjuangkan

Kalianda – Panti asuhan dan pesantren yatim piatu Nurul Islam Way Muli juga menjadi saksi sisa-sisa keganasan tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12) malam itu. Masih terlihat berserak puing-puing di lingkungan pesantren yang berada di bibir pantai desa Sukaraja Kecamatan Rajabasa. Banyak lokal bangunan pesantren luluh lantak namun bersyukur alhamdulillaah tidak ada korban jiwa saat kejadian karena para santri pesantren sedang masa libur dan hanya ada beberapa pengasuh pesantren saja.

Pagar sepanjang belakang pesantren tumbang dan sebanyak 2 lokal asrama santri ukuran 22 m x 7 m dan dapur umum serta asrama ustadz hancur rusak berat. Hanya tertinggal sisa-sisa puing-puing bangunan dan beberapa benda berharga pun hanyut tak bisa diselamatkan. Kini Kondisi pesantren masih dalam tahap pembersihan dari puing-puing yang berserakan berikut juga sekitar rumah-rumah yang rusak, bangunan madrasah, masjid, dermaga dan fasilitas umum lainya yang menjadi milik tetangga pesantren juga tak luput hancur diterjang tsunami.

Pesantren Yatim Nurul Islam berdiri sejak 1993 dan terus berkembang dengan dukungan swadaya dari para donatur warga setempat sekalipun terkadang pasang surut. Panti asuhan sekaligus pesantren yatim ini termasuk pesantren tua ternama di Lampung Selatan sekalipun pihak pesantren mengakui belum adanya tata kelola sebagaimana layaknya sekolah pesantren modern ala perkotaan yang di-manage sedemikian rupa.

Itu tak lain adalah hasil jerih payah ikhtiar maksimal dan pasrah tawakkkal atas kegigihan dan keikhlasan pengasuh yang dapat mempertahankan santri dan laju pesantren sampai saat ini, terlebih kini dilanda bencana hebat sehingga situasi pesantren semakin sulit. “Ada sekitar 80 santri yang berasal dari sekitar Provinsi Lampung dan Bengkulu yang bertahan untuk menuntut ilmu ditahun ini”, tutur Ustadz Saifudin selaku pengasuh pesantren.

Malam tadi ( 20/01/2019) Tanmia Foundation menyerahkan bantuan langsung ke pesantren dengan sarat muatan logistik setelah sehari sebelumnya distribusi di pulau . Bantuan berupa 40 paket logistik sembako, 50 paket hijab pakaian santriwati,100 paket mushaf qur’an, beberapa perlengkapan asrama santri dan perlengkapan masjid pesantren lainya yang hancur di gulung gelombang tsunami.

Duka dan trauma juga masih dirasakan para santri usai masuk kembali ke pesantren yang belum lama ini beraktifitas normal kembali. Karena asrama yang rusak parah dan nyaris tak bisa dihuni lagi akhirnya sekarang santri masih menggunakan tenda darurat untuk tinggal mereka sementara waktu sampai dibangun kembali namun belum pasti waktu kapanya.
Namun, kondisi kehidupan masyarakat sejumlah desa di pesisir selatan Kabupaten Lampung Selatan itu mulai berangsur pulih, walaupun belum lagi normal seperti semula.

Saat berkeliling ke sejumlah desa terdampak tsunami di pesisir Lampung Selatan itu di Sukaraja, Way Muli dan Kunjir pada Sabtu sejak pagi hingga malam ( 20/1) terlihat warga umumnya telah normal perlahan dengan aktivitas keseharian mereka masing-masing .

Pinggiran pantai di sepanjang pesantren juga sangat indah dengan hamparan pasir dan batu karang, pepohonan kelapa yang bisa kita nikmati. Matahari yang terbit dan tenggelam juga menjadi pemandangan yang menawan bagi santri. Suasana malam pun kini berubah menjadi pemandangan lain yang menyisakan kesedihan ketika mengingatnya lagi. Memang kehidupan pesantren perlu dibela dan diperjuangkan terlebih setelah ditimpa musibah saat ini.

Niat untuk mengunjungi pesantren akhirmya terpenuhi biar pun malam sudah gelap karena niat kebaikan janganlah diurungkan. Semoga Allah ringankan. Aamiin

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung

Tanmia Foundation Berbagi Ceria Menghapus Trauma Anak-Anak SD Pulau Sebuku

SDN Pulau Sebuku adalah satu-satunya sekolah yang menjadi harapan anak-anak masyarakat pesisir di kampung pulau Sebuku Desa Tejang Sebesi Lampung Selatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sekolah dasar yang berada di bibir pantai pesisir ini mengawali kegiatan dengan membuka kelas kelompok belajar pada tahun 2011 untuk membantu tersedianya pendidikan bagi anak-anak pesisir dan menangani kendala putus sekolah yang saat itu masih sangat banyak di kawasan pulau Sebuku. Awal kegiatan belajarnya di gedung ala kadarnya yangbmulanya diinisiasi relawan lalu berdiri bangunan sederhana yang berfungsi sebagai sarana multifungsi bagi pengembangan pendidikan.

Sekolah ini setidaknya menjadi sarana untuk menjadikan anak-anak pesisir makin pintar. Sekolah ini juga baru diresmikan pemerintah pada tahun 2013 setelah dua tahun berjalan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan KBM normal menjadi setiap hari dari senin sampai Sabtu selalu full kegiatan. Kini jumlah murid dari tingkat kelas satu sampai dengan kelas enam berjumlah dua puluh tujuh siswa didik.

Sekolah ini di gagas oleh salah satu guru bernama Suhaimi bersama istrinya yang rela menetap di Pulau Sebuku. Suhaimi yang punya latar belakang pesantren Darussalam Bandar Lampung pada mulanya mengawali menjadi guru sejak tahun 1986.

Namun hal itu tak membuat semangat pengabdiannya luntur untuk mendidik anak pesisir menjadi lebih baik. Minimal memotivasi mereka supaya tetap lanjut sekolah. Bersama tiga guru hebat yang rela mengajar di pulau Sebuku adalah satu prestasi dan perjuangan yang tanpa tanda jasa.
Merelakan waktunya setiap hari demi pengabdiannya terhadap masa depan anak-anak pesisir di kawasan Pulau Sebuku.

Berkunjung ke sekolah menjumpai anak-anak pesisir adalah inspirasi dan motivasi yang tak pernah disesali sekalipun harus menerjang gelombang untuk meraihnya. Kedatangan relawan kali ini berbagi bantuan perlengkapan sekolah dan berbagi ceria untuk melupakan trauma bemcana setidaknya adalah bagian cerita menuju tangga kesuksesan agar anak-anak pesisir semakin semangat untuk mengejar impian mereka.

“Sayangnya terbatasnya waktu sehingga tidak bisa berlama-lama untuk mengisi keceriaan bersama anak-anak” ungkap relawan Tanmia yang berjumlah tiga personal menuju lokasi pesisir pulau Sebuku. Tak lupa mushaf dan Iqra juga disertakan untuk guru ngaji di sekolah karena sering kali minimnya mushaf dan iqra menjadi kendala anak-anak belajar mengaji ketika di sekolah.

“Alhamdulillaah dengan kedatangan relawan Tanmia Foundation membawa bantuan dan mushaf dapat membantu anak-anak mengaji dan untuk menambah ilmu lebih baik lagi”, jelas Suhaimi Kepala Sekolah SD Sebuku yang mengantar kami ke dermaga menjelang pamit meninggalkan sekolah.

Perlu diketahui Pulau Sebuku pernah hilang dari permukaan akibat letusan Krakatau yang dahsyat pada tahun 1883. Letusan yang sampai mengubah iklim dunia dengan awan dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Bagi siapa saja yang ingin berbagi Ilmu untuk sekolah di pulau pesisir pedalaman atau terkena bencana bisa hubungi Tanmia Foundation atau bisa langsung mendatangi langsung ke lokasi pulau Sebuku yang terletak di kawasan anak Krakatau Desa Tejang Sebesi Lampung Selatan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung

Distribusi Bantuan Ke Pulau Sebuku, Harus Berani Melewati Ombak Besar

Kalianda – Distribusi bantuan kemanusiaan Tanmia Foundation akhirnya diberangkatkan ke Pulau Sebuku Desa Tejang Sebesi Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Padahal beberapa hari sebelumya masih terkendala cuaca dan gelombang yang cukup tinggi. Namun menunggu bersabar seiring rasa keikhlasan telah menggerakan nurani kemanusiaan para relawan untuk bisa kapan saja bisa menyeberang. Akses yang terdekat untuk mengirim bantuan ke pulau Sebuku dan Sibesi ialah melalui dermaga Canti yang terletak di jalan Pesisir Sukabanjar Canti Kecamatan Rajabasa Kalianda Lampung Selatan.

Bersama warga pesisir bantuan-bantuan dinaikan ke kapal untuk segera berlabuh kala cuaca sejenak membaik. Bantuan yang terdiri dari sembako logistik dan perlengkapan sekolah dimuat dalam kapal nelayan setempat.

“Warga pesisir Sebuku tetap melaut, mereka harus menerjang ombak yang tingginya kadang mencapai 2 meter hingga 3 meter diwaktu-waktu cuaca ekstrem sepanjang Januari sampai April ,” kata Suhaimi Kepala Sekolah SDN Sebuku di Dermaga Canti Sabtu (19/1/2019).

Puluhan anak-anak SD Pulau Sebuku dan beberapa guru ternyata sudah menunggu-nunggu kedatangan relawan datang. “Sebanyak 40 paket logistik yang berisi sembako ( beras, minyak goreng, susu ) dan 40 paket perlengkapan sekolah ( tas, alat tulis, buku, pakaian , hijab dan mukena ) siap dibagikan ke anak-anak dan guru yang mengabdi di pulau”, jelas Khoirudin relawan Tanmia Pulau Sebuku.

Selain itu distribusi bantuan sembako, wakaf qur’an dan karpet masjid juga ditujukan ke warga pulau Sebuku yang turut dievakuasi pasca tsunami pada tanggal 22 Desember 2019 seiring meningkatnya level status awas anak Krakatau yang dapat meletus sewaktu-waktu. Perjalanan diatas kapal nelayan selama 75 menit memang butuh keberanian dan kuatnya tekad untuk menerjang gulungan ombak, menghalau derasnya arus lautan, bukan sekedar hanya berani nekad asal-asalan. Perjalanan kemanusiaan luar biasa tak terlupakan.

Kini demi menyambung penghidupan tak sedikit warga pesisir mempertaruhkan nyawa demi mencari nafkah penghidupan ditengah gelombang yang menjulang tinggi dan ketidakpastian cuaca. Setiba dilokasi sekolah yang hanya berjarak ratusan meter saja dari pesisir seakan langsung ingin membawa suasana bermain balon bersama-sama anak-anak yang telah menunggu sejak pagi.

Dapat membuat suasana keceriaan setidaknya dapat menghapus rasa trauma anak-anak yang baru saja pulih sepulang dievakuasi sepekan terakhir ini.

Perjalanan ke Sebuku harus melewati ombak yg bergulung-gulung datang tiada henti. Tapi bersama doa, usaha dan tawakkal pasti akan menghantarkan siapapun yang pasrah dan yakin akan sampai ke indahnya tepian pesisir tujuan. Walhasil siapa yang berikhtiar untuk kebaikan pasti akan menjumpai rintangan dan yakinlah kemudahan akan selalu mengiringi siapapun yang ingin mencapai puncak amal kebaikan meringankan beban saudara dan umatnya. Dan menuai pahala yang mengalir sepanjang masa. Barakallaahu fiikum

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung

Tanmia Salurkan Bantuan Ke Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi Korban Terdampak Tsunami Selat Sunda

Tim Relawan Tanmia Foundation tiba di Way Urang Kalianda Lampung Selatan pada tengah malam kamis ( 17/01/2019 ) setelah menempuh perjalanan darat dari Cibinong Bogor sejak Rabu siang. Melewati penyeberangan Merak – Bakaheuni dalam suasana di tengah duka tragedi tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada 22 Desember 2018.

Bencana yang telah menelan ratusan korban baik di Pesisir Banten dan Lampung diperkirakan lebih dari 430 orang dinyatakan tewas dan ratusan lainya hilang sebagaimana dilansir oleh Data Humas BNPB.

Sisa-sisa terjangan keganasan tsunami Selat Sunda, masih terlihat sepanjang malam itu, masih terlihat di lingkungan pesisir Desa Way Muli, Way Muli Timur dan Desa Kunjir dan beberapa desa kawasan pesisir selatan Kabupaten Lampung Selatan.

Masa Tanggap darurat yang akan genap sebulan pada pekan ini masih menyisakan puing-puing bangunan yang berserak dimana-mana dan tak luput semua benda berharga nyaris hanyut tersapu tsunami. Hanya menyisakan material sampah di sekitar halaman rumah-rumah warga, termasuk bangunan sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas umum lain.

Gelombang tsunami yang datang tiba-tiba itu muncul menyapu pemukiman warga yang nyaris berjarak hanya beberapa meter saja dan diduga karena dipicu aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang menimbulkan longsor material dari gunung api di dalam laut itu”, tutur Sahrial perangkat desa Way Muli yang mengantar tim relawan ke lokasi.

Sahrial juga telah kehilangan tiga anggota kerabatnya yang hanyut terkena gelombang tsunami.
Sebagai bentuk keprihatinan Pemkab Lampung Selatan memperpanjang masa tanggap darurat penanganan bencana tsunami selama 14 hari. Perpanjangan masa tanggap darurat itu berlaku mulai Minggu (6/1/2019) hingga Sabtu (19/1/2019).

Kendati berakahir masa tanggap darurat namun duka masih terlihat dan dirasakan di raut muka para korban karena kehilangan ratusan jiwa maupun ratusan mereka yang terluka dan ribuan lainya yang hingga kini masih mengungsi karena rumah-rumah mereka hancur total, tak bisa dihuni lagi.

Trauma yang masih ada dialami para korban terdampak tsunami Selat Sunda itu pun belum sirna menghilang sekejap, masih membekas dalam ingatan, dan menggores perasaan mereka, terutama anak-anak yang melihat dan merasakan langsung bencana alam itu.
“Bersama anak-anak Way Muli tak lupa keasyikan bermain layang-layang pun menjadi kehangatan. Tak lupa relawan juga berbagi mushaf Qur’an dan Iqra’ sebagai upaya untuk dapat menghibur mereka untuk melupakan bencana yang pahit itu”, tutur Khoirudin relawan Tanmia yang ada di lokasi Way Muli.

Kedatangan Tim Relawan Tanmia Foundation diakhir masa tanggap darurat semoga belumlah terlambat, kondisi kehidupan masyarakat sejumlah desa di pesisir selatan Kabupaten Lampung Selatan itu baru – baru saja memulai lagi penghidupan baru untuk berangsur hidup normal seperti sediakala. Mereka membutuhkan waktu untuk berangsur pulih, walaupun belum lagi normal seperti semula.

Penetapan perpanjangan kedua status tanggap darurat bencana tsunami di Kabupaten Lamsel akan berakhir pada pekan ini 19/01/2019 sebagaimana ditandatangani Plt Bupati Lamsel Nanang Ermanto.

Kendati perpanjangan masa tanggap darurat akan berakhir namun ribuan orang masih mengungsi.
Cuaca yang terus berubah-ubah tak menentu menjadi kecemasan yang terus menghantui warga. Aktifitas aktif amuk erupsi anak Krakatau ini yang terus berlangsung sampai saat ini juga sewaktu-waktu bukan hanya dapat menghabisi kehidupan penghuni pesisir tapi penghuni pulau yang jaraknya hanya dua jam perjalanan dari Anak Gunung Krakatau tersebut. Pulau tersebut bernama Sebesi dan Pulau Sebuku. Sudah dua hari ini kami menunggu untuk dapat menyalurkan bantuan ke seluruh penduduk di pulau tersebut karena cuaca yang belum normal. Doakan perjalanan kami selamat dan dapat menjadi senyum bahagia mereka. Barakallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lampung

Sumur Untuk Rumah Tahfidz Amanah di Tambu Donggala Membantu Pasokan Ketersediaan Air

(Jum’at 11/01/2019) Tanmia Foundation bersama warga dan pengurus Pesantren Rumah Tahfizh Amanah berhasil merehabilitasi fasilitas air yang sempat tersendat beberapa waktu lalu pasca bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala. Rumah cikal bakal pesantren ini berasal dari rumah milik warga yang diwakafkan di Tambu Balaesang Kabupaten Donggala yang memang sudah tidak dihuni lagi setelah bencana.

Dalam waktu dekat ini Pesantren Rumah Tahfizh Amanah siap dipakai kegiatan belajar mengajar dan segera menampung para santri calon penghafal Qur’an yang berada dikawasan terdampak langsung bencana di Kecamatan Balaesang dan Balaesang Tanjung.

“Air menjadi kebutuhan pokok dan mendesak bagi warga dan santri disini, sehingga perlu adanya sumur bor, sebelumnya sudah pernah dibuatkan sumur gali namun macet tertimbun setelah gempa. Sehingga kebutuhan air untuk sementara ini kami ambil dari tempat warga setempat atau menunggu pasokan air tangki yang dengan cara membeli atau dari relawan” kata Naim, selaku pengurus pesantren. Usaha memperbaiki sarana air dengan membuat sumur bor berikut tower penampung air diharapkan dapat membantu memecahkan masalah ketersediaan air.

“Rasa syukur kita haturkan kepada Allah beribu kali dan semoga amal jariyah senantiasa berkah mengalir disetiap tetesnya pada para muhsinin yang telah berkontribusi dalam proyek amal sholeh ini”,ungkap Ustad Ridwan selaku tokoh da’i setempat menyambut serah terima wakaf sumur dari Tanmia Foundation di lokasi pada Jum’at yang penuh barakah ini.

Mari menjadi bagian yang mengalirkan kebaikan untuk hidup yang lebih baik dan penuh berkah kebahagiaan yang hakiki.
Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Tebar Al Quran untuk Korban Gempa di Pedalaman Dusun Geripak dan Sempeni Lombok

Suasana rinai gerimis mulai reda jelang malam yang perlahan tertutup gelap. Inilah suasana perjalanan di ujung kampung perbukitan Desa Mekar Sari Lombok Barat ( 9/1/2019). Misi mulia kali ini adalah masih dalam serangkaian distribusi wakaf Qur’an pasca gempa Lombok. Menurut surat edaran Gubernur Nusa Tenggara Barat bahwasanya masa tanggap recovery bencana Lombok akan berakhir sampai Februari 2019 ini, namun realitanya masih jauh panggang dari api realisasinya menurut informasi yang didapati di lapangan bencana.

Meski kondisi demikian Tanmia Foundation berikhtiar untuk terus memberikan peran dan sumbangsih dengan apa yang bisa dilakukan sampai saat ini.

Tujuan lokasi distribusi wakaf al-qur’an ialah berada di dusun Geripak Desa Glangsar dan Dusun Sempeni Desa Mekar Sari. Kedua daerah ini berada di Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat dengan lokasinya yang cukup tinggi dan terpencil. Hanya ada akses jalan setapak yang bisa dilalui kendaraan roda dua untuk menembus daerah ini. Jalannya pun hanya dicor beton sebagian ditambah lagi sempit dan harus saling mengalah berhenti bila berpapasan.

Walhasil mobil bantuan dan relawan harus berhenti setelah penghabisan batas ujung jalan beraspal, lalu masih berlanjut naik melewati jalanan tanah terjal, berliku, disisi kiri jalan jurang yang dalam.

Sebanyak 200 paket wakaf Al Qur’an dan Iqra’ dari Tanmia Foundation didistribusikan langsung ke santri TPQ dan para warga jama’ah yang memakmurkan masjid Nurul Jibal. Kendati mendiami daerah pedalaman di dataran tinggi perbukitan dusun ini juga tak luput dari goncangan gempa yang juga nyaris meluluh lantahkan sebagian besar rumah warga. Karena akses sulit inilah sehingga bantuan tidak banyak masuk ke wilayah ini, kecuali mendapati warga setempat untuk bisa sampai ke wilayah ini.

Sesampainya diatas, terlihat banyak rumah yang roboh. Mungkin karena posisi diatas perbukitan yang cukup miring. Atau mungkin juga karena konstruksi bangunan rumah yang sederhana.

“Ada 130-an KK beserta puluhan anak-anak usia sekolah yang tinggal tersebar mendiami rumah-rumah yang dikelilingi semak ditengah hutan perbukitan terjal”, tutur Usman Halim salah warga yang sudah puluhan tahun menjadi pengurus Masjid Nurul Jibal yang menerima rombongan kami.

Alhamdulillaah, akhirnya tibalah kami usai adzan waktu maghrib berkumandang dan shalat berjama’ah bersama warga setempat. Ungkapan syukur Alhamdulillaah terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam memberikan bantuan dan wakaf atas sebagian rizkinya untuk para korban gempa di Lombok. Seberapapun itu, sangat bermanfaat dan membawa raut senyum kebahagiaan bagi warga disini. Semoga Allah membalas dengan kebaikan dan keberkahan yang berlipat. Aamiin Barakallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lombok, NTB

peduli lombok

2019 Tanmia Tetap Optimis Di Tengah Sisa-Sisa Kelelahan Ujian Bencana

Detik-detik penghujung tahun baru saja lewat. Kepedulian kita kembali diuji dan Kepekaan kita diasah lagi dengan adanya musibah tanah longsor yang menimpa saudara-saudara kita di Sukabumi. Gempa beruntun masih mengguncang Lombok. Tsunami dan Likuifaksi menenggelamkan Palu-Sigi-Donggala. Selat Sunda masih siaga setelah luluh lantak diterjang tsunami belum lama ini.

Musim hujan sudah turun tapi kondisi pengungsian di Donggala masih belum banyak berubah dan tidak sedikit huntara yang terendam banjir padahal belum dioperasikan. Baru-baru ini juga banjir bandang di Aceh Tenggara seolah tak memberi jeda kita untuk istirahat. Hingga akhirnya, berjatuhan korban pasca bencana. Ada yang meninggal dunia, ada yang luka-luka dan ada pula yang sampai saat ini masih terpisah dari keluarga.

Kerusakan bangunan, jalan dan pemukiman tidak bisa dielakkan. Belum lagi, trauma bencana masih menjadi yang menjadi momok yang menakutkan. Sekali lagi, kepedulian kita diuji. Kepekaan kita diasah lagi. Panggilan iman dalam jiwa kemanusiaan haruslah terus melambung tinggi memecah setiap pekikan terompet, dan letusan kembang api yang tinggi.

Harta materi seolah dibuang begitu saja tanpa arti lagi untuk pesta pora. Belum lagi padat sesaknya panggung biduan di pusat jalan-jalan ibukota dengan kendaraan roda empat dan roda dua inilah realita yang sangat ironis menyisakan keprihatinan.

Kondisi yang terus menyesakan dada menambah sederetan panjang luka nafas kemanusiaan ditengah musibah yang silih berganti.

Tanpa pamrih di awal tahun 2019 Tanmia Foundation masih berusaha memperbaiki semangat baru untuk terus membangun ummat dengan ikhtiar terbaik di tengah sisa kelelahan yang ada, ditengah sisa kehangatan akan tetesan musim hujan yang terus mengguyur deras dalam suasana kedinginan. Tantangan selalu hadir dalam setiap kebaikan tapi niat baik untuk terus berbuat atas dasar keimanan dan panggilan jiwa kemanusiaan harus tetap kokoh menebalkan iman keyakinan dan menumbuhkan harapan optimisme di dada.

Awal tahun 2019 jelang sepekan beriringan dengan 100 hari pasca bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah Tanmia Foundation mendistribusikan logistik dan tandon air untuk pengungsi terdampak yang berada di Palu-Sigi-Donggala.

Selain itu sumur-sumur wakaf juga telah beroperasi di beberapa titik pengungsian sebagai sumber penyambung kehidupan para pengungsi.
“Alhamdulillaah distribusi logistik dan tandon penpung air dapat menyambung harapan dan menambah semangat kami untuk bangkit ditengah ketidakpastian suasana pasca bencana”, ungkap Taufik Abdullah salah seorang warga Lumbumpetigo Wani Tanantovea Donggala.

Empati kita terus digugah untuk tetap berbagi meringankan derita saudara seiman kita yang masih bersedih dirundung duka. Adakah dosa yang belum berhenti dengan taubat nasuha ? Atau inikah ujian untuk menguji keteguhan iman kita ?
Satu kata untuk kita terus bergerak dan berfikir demi menolong sesama atas keimanan dan kemanusiaan kendati awal tahun tiba ditengah hiruk pikuk, hingar bingar riuh gegap gempita datangnya tahun baru bergelora di penjuru Indonesia bahkan seantero dunia.

Hidup kita itu sebaiknya ibarat “bulan & matahari”—dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi.

Diterimakasihi atau tidak, ia tetap “berbagi”. Mari tetap berbagi dalam kebaikan kawan. Barakallahufiekum.

Relawan Tanmia
Ali Azmi

Kirim Email